<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-761503410559906563</id><updated>2012-02-16T20:19:56.634-08:00</updated><category term='Hadits'/><category term='Muslimah'/><category term='AqidaH'/><category term='Sipilis'/><category term='tips'/><category term='Adab dan Akhlak'/><category term='Syubhat'/><category term='Tazkiyatun Nafs'/><category term='Info'/><category term='Manhaj'/><category term='kisah'/><category term='Tarbiyah'/><category term='Tsaqafoh'/><category term='Syiah'/><category term='Buletin alFikrah'/><category term='Salaf'/><category term='Fiqhi'/><title type='text'>akh ali</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://alistiba.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/761503410559906563/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alistiba.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/761503410559906563/posts/default?start-index=101&amp;max-results=100'/><author><name>Abu abdirrahman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05301770063388687354</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/-1rkmfDMbj9g/TtiXyO-Rh_I/AAAAAAAAAoM/iPGpqXo-kow/s220/Ittiba%2527.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>135</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-761503410559906563.post-4891115145208360170</id><published>2012-01-19T01:58:00.000-08:00</published><updated>2012-01-19T01:59:51.433-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fiqhi'/><title type='text'>Hukum dan Amalan Khusus di Hari Jum'at</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-cKqLJqGK0Us/TxfoxrDBFbI/AAAAAAAAArM/S3ci1jtLn1Q/s1600/%25D8%25AA%25D8%25B9%25D8%25A9%25D8%25B8%25D8%25B4%25D9%2581.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="148" src="http://3.bp.blogspot.com/-cKqLJqGK0Us/TxfoxrDBFbI/AAAAAAAAArM/S3ci1jtLn1Q/s200/%25D8%25AA%25D8%25B9%25D8%25A9%25D8%25B8%25D8%25B4%25D9%2581.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: blue; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Oleh: Badrul Tamam&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hari Jum'at adalah hari yang paling mulia dan paling agung. Sebaik-baik hari yang disinari matahari. Allah telah mengistimewakan hari Jum'at dengan banyak keutamaan melalui beberapa kejadian besar, di mana pada hari itu bapak manusia (Adam 'alaihis salam) diciptakan, dimasukkan ke surga, dikeluarkan darinya, diampuni kesalahannya, dan pada hari itu juga dia diwafatkan untuk bertemu dengan Rabbnya, menikmati lagi kenikmatan yang abadi, dan kembali menempati kedudukan yang pernah ditinggalkannya. Bahkan hari kiamat juga akan terjadi pada hari Jum'at.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Allah telah menyediakan janji istimewa bagi hamba-Nya yang memuliakan hari tersebut berupa pahala yang besar, ampunan dosa, dan saat mustajab untuk terkabulnya doa. Karenanya, Allah mengistimewakannya dengan beberapa syi'ar, ibadah, serta hukum yang tidak didapatkan pada hari selainnya. Di antaranya adalah:&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;1. Tidak boleh menghususkan malam Jum’at untuk shalat khusus dan siang harinya untuk berpuasa.&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Diriwayatkan dari Abu Hurairah radliyallaahu 'anhu, bahwa Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam bersabda;&lt;/div&gt;&lt;div class="arabic" style="text-align: justify;"&gt;لَا تَخُصُّوا لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ بِقِيَامٍ مِنْ بَيْنِ اللَّيَالِي ، وَلَا تَخُصُّوا يَوْمَ الْجُمُعَةِ بِصِيَامٍ مِنْ بَيْنِ الْأَيَّامِ ، إلَّا أَنْ يَكُونَ فِي صَوْمٍ يَصُومُهُ أَحَدُكُمْ&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Janganlah menghususkan malam Jum’at untuk mengerjakan shalat dari malam-malam lainnya, dan janganlah menghususkan siang hari Jum’at untuk mengerjakan puasa dari hari-hari lainnya, kecuali bertepatan dengan puasa yang biasa dilakukan oleh salah seorang kalian.” (HR. Muslim, al-Nasai, al-Baihaqi, dan Ahmad)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;a. Shalat dan ibadah khusus di malam Jum'at&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hadits pertama menunjukkan haramnya mengistimewakan (menghususkan) malam Jum’at dengan melaksanakan ibadah tertentu, seperti shalat dan tilawah yang tidak biasa dilakukan pada hari-hari lain, kecuali ada dalil khusus yang memerintahkannya seperti membaca surat Al-Kahfi. Hadits tersebut juga menunjukkan tidak disyariatkannya shalat Raghaib pada malam Jum'at pertama dari bulan Rajab. Memang ada hadits yang menerangkannya, kalau saja hadits tersebut shahih maka bisa menjadi takhsis (pengecualian) dari keumuman tadi, namun para ulama menghukumi status hadits tersebut sebagai hadits maudlu' (palsu). (Baca: Keutamaan Bulan Rajab dalam Timbangan dan Keanehan yang Dibuat-buat Pada Bulan Rajab)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;b. Puasa khusus di hari Jum'at&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Berkaitan dengan larangan puasa khusus pada hari Jum'at dikuatkan dengan beberapa riwayat lain, di antaranya dari Abi Hurairah radliyallah 'anhu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:&lt;/div&gt;&lt;div class="arabic" style="text-align: justify;"&gt;يَصُومَنَّ أَحَدُكُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ ، إلَّا أَنْ يَصُومَ يَوْمًا قَبْلَهُ ، أَوْ يَوْمًا بَعْدَهُ&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;لَا &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Janganlah salah seorang kamu berpuasa pada hari Jum’at, kecuali dia juga berpuasa sehari sebelumnya atau sesudahnya." (Muttafaq ‘alaih)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jabir radliyallah 'anhu pernah ditanya; "Apakah Nabi shallallahu 'alaihi wasallam melarang tentang puasa hari Jum'at? Beliau menjawab, "ya." dalam riwayat lain terdapat tambahan, "Kecuali digandengan dengan puasa sehari sebelumnya atau sehari sesudahnya." (HR. Bukhari, Muslim, Ibnu Majah dan lainnya)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dari Juwairiyah binti al-Harits radliyallahu 'anha, bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pernah menemuinya pada hari Jum'at, sementara dia sedang berpuasa. Lalu Nabi bertanya padanya, "Apakah kamu berpuasa kemarin?" Dia menjawab, "Tidak." Beliau bertanya lagi, "Apakah kamu ingin berpuasa besok?" Dia menjawab, "Tidak." Maka Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda kepadanya, "Berbukalah (batalkan puasamu)!" (HR. Bukhari, Ahmad, dan Abdul Razaq dalam al-Mushannaf)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hadits ini menjelaskan bahwa maksud larangan adalah menghususkan berpuasa di hari Jum'at saja. Karenanya, apabila digandeng dengan puasa sehari sebelum atau sesudahnya tidak dilarang. Sementara hikmah larangan ini menjadi perbincangan para ulama. Sebagiannya menyebutkan, supaya seorang muslim memiliki tenaga lebih dan kuat melaksanakan berbagai ibadah yang disyariatkan di dalamnya sebagaimana tidak disyariatkannya puasa Arafah bagi Jama'ah haji yang sedang wukuf. Namun pendapat ini lemah, karena jika ini alasannya tentunya hukum larangannya tidak dinafikan ketika disambung puasa sehari sebelum atau sesudahnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Maksud larangan adalah menghususkan berpuasa di hari Jum'at saja. Karenanya, apabila digandeng dengan puasa sehari sebelum atau sesudahnya tidak dilarang. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pendapat lainnya, dikarenakan hari Jum'at adalah hari raya. Sedangkan hari raya tidak disyariatkan puasa. Dan sepertinya ini adalah pendapat yang lebih rajih berdasarkan riwayat Abdul Razaq dalam Mushannafnya dan Ibnu Hibban dalam Shahihnya dengan sanad yang hasan, dari Abi Al-Aubar; "Aku pernah duduk bersama Abu Hurairah radliyallah 'anhu, tiba-tiba datang seseorang dan berkata, "Sesungguhnya engkau melarang manusia berpuasa pada hari Jum'at!" Abu Hurairah menjawab, "Aku tidak melarang mereka berpuasa di hari Jum'at, tetapi aku mendengar Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Janganlah kalian berpuasa di hari Jum'at, karena hari Jum'at adalah hari raya kecuali engkau sambung dengan beberapa hari."&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;2.    Dianjurkan membaca surat Al-Sajdah dan Al-Insan pada shalat Shubuh hari Jum’at.&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&amp;nbsp;&lt;/b&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam Shahihain, dari Ibnu 'Abbas radliyallah 'anhuma, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam membaca dalam shalat Fajar (Shubuh) hari Jum'at: Aliif Laam Miim Tanziil (Surat al-Sajdah) pada rakaat pertama dan pada rakaat kedua membaca Surat al-Insan." (HR. Bukhari dan Muslim serta yang lainnya) &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hikmahnya, sebagaimana yang disebutkan Ibnu Taimiyah, bahwa kedua surat yang mulia ini mengandung perkara yang sudah dan akan terjadi pada hari Jum'at berupa penciptaan Adam dan disebutkan hari kiamat serta kejadian yang ada di dalamnya. (Zaadul Ma'ad :1/375)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bahwa kedua surat yang mulia ini mengandung perkara yang sudah dan akan terjadi pada hari Jum'at berupa penciptaan Adam dan disebutkan hari kiamat serta kejadian yang ada di dalamnya. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Catatan penting:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;a. Ada sebagian orang yang menyangka maksudnya adalah menghususkan shalat ini dengan sujud tambahan, yang diistilahkan dengan sujud Jum'at. Jika imam mereka tidak membaca surat ini, maka mereka akan membaca surat lain yang di dalamnya terdapat sujud sajdah. Ini adalah keliru, yang benar bahwa sujud ini dilakukan sebagai penyerta bukan sebagai tujuan sehingga seseorang sengaja untuk membacanya. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;b. Tidak dianjurkan membaca ayat sajdah lainnya, berdasarkan kesepakatan para imam. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Karenanya, jika ditakutkan orang-orang jahil akan menyangka bahwa membaca ayat sajdah adalah wajib atau shalat Shubuh semakin afdhal dengan melakukan sujud tilawah, maka imam dianjurkan agar tidak kontinyu membacanya (membiasakannya/terus-menerus melaksanakannya). Ini merupakan pendapat Imam Ahmad, Ibnu Taimiyah, dan muridnya Ibnul Qayyim dalam Zaadul Ma'ad :1/375.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jika ditakutkan orang-orang jahil akan menyangka bahwa membaca ayat sajdah adalah wajib atau shalat Shubuh semakin afdhal dengan melakukan sujud tilawah, maka imam dianjurkan agar tidak kontinyu membacanya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;3.    Dianjurkan membaca surat Al-Kahfi pada malam Jum'at dan siangnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-im3kJbhc1eQ/TxfpLCWxUAI/AAAAAAAAArU/AWtxJPBX0GM/s1600/images.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://4.bp.blogspot.com/-im3kJbhc1eQ/TxfpLCWxUAI/AAAAAAAAArU/AWtxJPBX0GM/s1600/images.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;Dari Abu Sa'id al-Khudri radliyallahu 'anhu, dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: &lt;/div&gt;&lt;div class="arabic" style="text-align: justify;"&gt;مَنْ َقَرَأَ سُوْرَةَ الْكَهْفِ لَيْلَةَ الْجُمْعَةِ أَضَاءَ لَهُ مِنَ النُّوْرِ فِيْمَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْبَيْتِ الْعَتِيْقِ&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Barangsiapa membaca surat al-Kahfi pada malam Jum’at, maka dipancarkan untuknya Allah Subhanahu wa Ta'ala akan menyinarinya dengan cahaya antara dia dan Baitul 'atiq." (Sunan Ad-Darimi, no. 3273. Juga diriwayatkan al-Nasai dan Al-Hakim serta dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami' al-Shaghir, no. 736) &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam riwayat lain, "Barangsiapa membaca surat Al-Kahfi pada malam Jum’at, akan dipancarkan cahaya untuknya di antara dua Jum'at." (HR. Al-Hakim: 2/368 dan Al-Baihaqi: 3/249)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Imam Al-Syafi'i rahimahullah dalam Al-Umm menyatakan bahwa membaca surat Al-Kahfi bisa dilakukan pada malam Jum'at dan siangnya berdasarkan riwayat tentangnya. (Al-Umm, Imam al-Syafi'i: 1/237).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;4.    Dianjurkan memperbanyak shalawat kepada Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam pada malam jum'at dan siang harinya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Diriwayatkan dari Aus bin Aus radliyallah 'anhu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:&lt;/div&gt;&lt;div class="arabic" style="text-align: justify;"&gt;إِنَّ مِنْ أَفْضَلِ أَيَّامِكُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فِيهِ خُلِقَ آدَمُ وَفِيهِ قُبِضَ وَفِيهِ النَّفْخَةُ وَفِيهِ الصَّعْقَةُ فَأَكْثِرُوا عَلَيَّ مِنْ الصَّلَاةِ فِيهِ فَإِنَّ صَلَاتَكُمْ مَعْرُوضَةٌ عَلَيَّ&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Sesungguhnya di antara hari kalian yang paling afdhal adalah hari Jum'at. Pada hari itu Adam diciptakan dan diwafatkan, dan pada hari itu juga ditiup sangkakala dan akan terjadi kematian seluruh makhluk. Oleh karena itu perbanyaklah shalawat di hari Jum'at, karena shalawat akan disampaikan kepadaku."&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Para shahabat berkata: "Ya Rasulallah, bagaimana shalawat kami atasmu akan disampaikan padamu sedangkan kelak engkau telah lebur dengan tanah?"&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: "Sesungguhnya Allah mengharamkan bumi memakan jasad para Nabi." (HR. Abu Dawud, Nasai, Ibnu Majah, Ahmad, dan al Hakim dengan sanad yang shahih)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hal ini juga didasarkan pada hadits Anas bin Malik, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda; &lt;/div&gt;&lt;div class="arabic" style="text-align: justify;"&gt;أَكْثِرُوا الصَّلاَةَ عَلَىَّ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَلَيْلَةَ الْجُمُعَةِ فَمَنْ صَلَّى عَلَىَّ صَلاَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ عَشْرًا&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Perbanyaklah shalawat kepadaku pada pada hari Jum'at dan malam Jum'at. Barangsiapa yang bershalawat kepadaku satu kalim niscaya Allah bershalwat kepada sepuluh kali." (HR. al Baihaqi dalam Sunan Kubranya dan dinytakan oleh Syaikh al Albani dalam ash Shahihah, sanadnya shalih). &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Imam Syafi'i rahimahullah  menyatakan bahwa beliau menyukai untuk membaca shalawat kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam kapan saja, sedangkan pada hari Jum'at dan malamnya sangat disukai oleh beliau. (Al-Umm, Imam Syafi'i: 1/237)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;5. Diharamkan safar pada hari Jum'at ketika sudah masuk waktunya bagi orang yang punya kewajiban melaksanakan Jum'atan, berdasarkan pendapat yang paling rajih. (Baca: Hukum Bersafar Pada Hari Jum'at)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;6. Diharamkan melakukan jual beli pada hari Jum'at saat muadzin mengumandangkan adzan dan ketika Imam naik di atas mimbar, berdasarkan firman Allah Ta'ala:&lt;/div&gt;&lt;div class="arabic" style="text-align: justify;"&gt;يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat pada hari Jumat, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui." (QS. Al-Jumu'ah: 9)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jika adzan lebih dari satu, maka jual beli tidak diharamkan kecuali pada adzan saat naiknya imam ke atas mimbar, karena adzan inilah yang diberlakukan pada masa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Karenanya ini yang dijadikan patokan, bukan adzan selainnya. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Haramnya jual ini hanya berlaku bagi orang yang wajib melaksanakan jum'atan. Maka jika dua orang anak kecil atau dua orang wanita atau dua orang musafir melakukan jual beli diperbolehkan, tidak berdosa. Namun, jika salah satunya orang yang wajib melaksanakan jum'atan keduanya berdosa karena saling tolong menolong dalam dosa.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jika adzan lebih dari satu, maka jual beli tidak diharamkan kecuali pada adzan saat naiknya imam ke atas mimbar, . .&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;7. Memperbanyak doa dengan harapan bertepatan dengan waktu mustajab&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Diriwayatkan oleh Abu Hurairah radliyallah 'anhu, dia bercerita: "Abu Qasim (Rasululah) shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: &lt;/div&gt;&lt;div class="arabic" style="text-align: justify;"&gt;إِنَّ فِي الْجُمُعَةِ لَسَاعَةً لَا يُوَافِقُهَا مُسْلِمٌ قَائِمٌ يُصَلِّي يَسْأَلُ اللَّهَ خَيْرًا إِلَّا أَعْطَاهُ إِيَّاهُ&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Sesungguhnya pada hari Jum'at itu terdapat satu waktu yang tidaklah seorang hamba muslim berdiri berdoa memohon kebaikan kepada Allah bertepatan pada saat itu, melainkan Dia akan mengabulkannya." Lalu beliau mengisyaratkan dengan tangannya, yang kami pahami, untuk menunjukkan masanya yang tidak lama (sangat singkat)." (Muttafaq 'Alaih)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Abu Burdah bin Abi Musa al-'Asy'ari bercerita: "Abdullah bin Umar pernah berkata kepadaku: 'apakah engkau pernah mendengar ayahmu menyampaikan hadits dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengenai satu waktu yang terdapat pada hari Jum'at?' Aku (Abu Burdah) menjawab, "Ya, aku pernah mendengarnya berkata, aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:&lt;/div&gt;&lt;div class="arabic" style="text-align: justify;"&gt;هِيَ مَا بَيْنَ أَنْ يَجْلِسَ الْإِمَامُ إِلَى أَنْ تُقْضَى الصَّلَاةُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Saat itu berlangsung antara duduknya imam sampai selesainya shalat." (HR. Muslim)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Imam ash Shan'ani rahimahullah dalam Subul as Salam, menyebutkan keberadaannya terkadang di awal, tengah, atau di akhir. Misalnya diawali sejak dimulainya khutbah dan habis ketika selesainya shalat. (Subul as Salam: II/101)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;8. Lebih khusus lagi, memperbanyak doa pada penghujung hari Jum’at, yakni setelah shalat Ashar menurut pendapat yang lebih rajah. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Para ulama salaf berbeda pendapat mengenai waktu mustajab di hari Jum'at. Bahkan Ibnul Hajar dalam Fath al Baari (II/416-421) menyebutkan ada 43 pendapat di antara para ulama mengenai suatu waktu yang terdapat pada hari Jum'at itu. Selanjutnya beliau menjelaskan, mayoritas ulama, seperti Imam Ahmad dan lainnya, mentarjih bahwa waktu tersebut terdapat pada akhir waktu dari hari Jum'at. Di akhir ucapannya, Ibnul Hajar cenderung kepada pendapat Ibnul Qayim, yaitu pengabulan doa itu diharapkan juga  pada saat shalat. Sehingga kedua waktu tersebut merupakan waktu ijabah (pengabulan) doa, meskipun saat yang khusus itu ada di ujung hari setelah shalat shalat 'Ashar. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Imam al Khaththabi rahimahullah, yang disebutkan dalam Fath al Baari, juga menyimpulkan waktu istijabah tersebut ada dua: Pertama, pada waktu shalat. Kedua, satu waktu di sore hari ketika matahari mulai merendah untuk tenggelam.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Imam al Khaththabi menyimpulkan waktu istijabah tersebut ada dua: Pertama, pada waktu shalat. Kedua, satu waktu di sore hari ketika matahari mulai merendah untuk tenggelam.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sementara hadits yang menunjukkan waktu tersebut berada di penghujung hari cukup banyak. Di antaranya hadits Jabir bin Abdillah radliyallah 'anhu, dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda:&lt;/div&gt;&lt;div class="arabic" style="text-align: justify;"&gt;يَوْمُ الْجُمُعَةِ اثْنَتَا عَشْرَةَ سَاعَةً لَا يُوجَدُ فِيهَا عَبْدٌ مُسْلِمٌ يَسْأَلُ اللَّهَ شَيْئًا إِلَّا آتَاهُ إِيَّاهُ فَالْتَمِسُوهَا آخِرَ سَاعَةٍ بَعْدَ الْعَصْرِ&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Hari Jum'at terdiri dari 12 waktu, di dalamnya terdapat satu waktu yang tidaklah seorang muslim pada saat itu memohon sesuatu kepada Allah, melainkan Dia akan mengabulkan permintaannya. Oleh karena itu, carilah saat tersebut pada akhir waktu setelah 'Ashar." (HR. Al Nasai dan Abu Dawud. Disahihkan oleh Ibnul Hajar dalam al Fath dan dishahihkan juga oleh al Albani rahimahullah dalam Shahih an Nasai dan Shahih Abu Dawud)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hadits Abdullah bin Salam, dia bercerita: "Aku berkata, 'sesungguhnya kami mendapatkan di dalam Kitabullah bahwa pada hari Jum'at terdapat satu saat yang tidaklah seorang hamba mukmin bertepatan dengannya lalu berdoa memohon sesuatu kepada Allah, melainkan akan dipenuhi permintaannya.' &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;alu Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengisyaratkan dengan tangannya bahwa itu hanya sebagian saat. Kemudian Abdullah bin Salam bertanya; 'Kapan saat itu berlangsung?' beliau shallallahu 'alaihi wasallam menjawab, "Saat itu berlangsung pada akhir waktu siang." Setelah itu  Abdullah bertanya lagi, 'Bukankah saat itu bukan waktu shalat?' Beliau menjawab, &lt;/div&gt;&lt;div class="arabic" style="text-align: justify;"&gt;بَلَى إِنَّ الْعَبْدَ الْمُؤْمِنَ إِذَا صَلَّى ثُمَّ جَلَسَ لَا يَحْبِسُهُ إِلَّا الصَّلَاةُ فَهُوَ فِي الصَّلَاةِ&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Benar, sesungguhnya seorang hamba mukmin jika mengerjakan shalat kemudian duduk, tidak menahannya kecuali shalat, melainkan dia berada di dalam shalat." (HR. Ibnu Majah. Syaikh al Albani menilainya hasan shahih). &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Juga berdasarkan hadits Anas bin Malik, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:&lt;/div&gt;&lt;div class="arabic" style="text-align: justify;"&gt;الْتَمِسُوا السَّاعَةَ الَّتِي تُرْجَى فِي يَوْمِ الْجُمُعَةِ بَعْدَ الْعَصْرِ إِلَى غَيْبُوبَةِ الشَّمْسِ&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Carilah saat yang sangat diharapkan pada hari Jum'at, yaitu setelah 'Ashar sampai tenggelamnya matahari." (HR. at Tirmidzi; dinilai Hasan oleh al Albani di dalam Shahih at Tirmidzi dan Shahihh at Targhib)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Al-Hafidz Ibnul Hajar rahimahullah berkata: "Diriwayatkan Sa'id bin Mansur dengan sanad shahih kepada Abu Salamah bin Abdirrahman, ada beberapa orang dari sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam berkumpul lalu saling menyebut satu saat yang terdapat pada hari Jum'at. Kemudian mereka berpisah tanpa berbeda pendapat bahwa saat tersebut berlangsung pada akhir waktu dari hari Jum'at." (Fath al Baari :II/421 dan Zaad al Ma'ad oleh Ibnul Qayim I:391).&lt;br /&gt;Sumbar : &lt;a href="http://www.voa-islam.com/" target="_blank"&gt;http://www.voa-islam.com &lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/761503410559906563-4891115145208360170?l=alistiba.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://alistiba.blogspot.com/feeds/4891115145208360170/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://alistiba.blogspot.com/2012/01/hukum-dan-amalan-khusus-di-hari-jumat.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/761503410559906563/posts/default/4891115145208360170'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/761503410559906563/posts/default/4891115145208360170'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alistiba.blogspot.com/2012/01/hukum-dan-amalan-khusus-di-hari-jumat.html' title='Hukum dan Amalan Khusus di Hari Jum&apos;at'/><author><name>Abu abdirrahman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05301770063388687354</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/-1rkmfDMbj9g/TtiXyO-Rh_I/AAAAAAAAAoM/iPGpqXo-kow/s220/Ittiba%2527.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-cKqLJqGK0Us/TxfoxrDBFbI/AAAAAAAAArM/S3ci1jtLn1Q/s72-c/%25D8%25AA%25D8%25B9%25D8%25A9%25D8%25B8%25D8%25B4%25D9%2581.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-761503410559906563.post-5070011715883892736</id><published>2012-01-16T19:24:00.000-08:00</published><updated>2012-01-16T19:24:45.284-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Muslimah'/><title type='text'>Atas Nama HAM, Izinkan Kami Berhijab!</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-i-0dblSC4jU/TxTpvUZXEXI/AAAAAAAAArA/PGdxnLqH7-g/s1600/Muslimah.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="187" src="http://2.bp.blogspot.com/-i-0dblSC4jU/TxTpvUZXEXI/AAAAAAAAArA/PGdxnLqH7-g/s200/Muslimah.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;By: Yulianna PS&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Penulis Cerpen “Hidayah Pelipur Cinta”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Judul artikel ini gambaran dari generasi yang sakit akibat ulah manusia perusak moral yang melumuri zaman dengan kenistaan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pada zaman dahulu, wanita Indonesia identik dengan sifat malu. Mereka malu memakai busana minim dan malu berinteraksi dengan kaum Adam yang bukan mahram. Kaum hawa masa lalu bersikap sesuai etika ketimuran, yang menjaga sikap terhadap laki-laki, bukan karena jaim alias jaga imej, tetapi karena memang ada rasa malu menyelinap di dalam diri mereka.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hari ini, manusia telah mengubah zaman, di mana para wanita dijadikan sebuah boneka. “Atas nama HAM, izinkan saya pamer aurat,” begitulah gambaran yang tepat aspirasi para wanita kebanyakan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Atas nama kebebasan, wanita Indonesia tidak malu-malu melucuti busana di tempat umum agar disebut modern seperti wanita barat. Melalui dunia hiburan, propaganda barat telah sukses memalingkan muslimah Indonesia berkiblat kepada jurang kehancuran.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Barat berhasil menipu dunia, utamanya Indonesia. Di negara barat dan kroni-kroninya, wanita yang berani –maaf– telanjang di dunia akting merupakan kebanggaan, kategori wanita seperti ini bagi mereka layak menerima penghargaan bergengsi. Ironinya, Indonesia merupakan negara yang latah mengikuti budaya mereka. Budaya yang menjauhkan muslimah dari agamanya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Atas nama HAM, izinkan saya pamer aurat.” Pesan inilah yang membuat undang-undang pornografi dan pornoaksi mandul di negara kita. Walaupun jutaan umat mendukung, tidak akan aspirasi ini menjadi kenyataan. Faktanya dunia hiburan berupa media cetak dan elektronik semakin liar dan berani mengekspos aksi rendahan wanita.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pelecehan terhadap wanita dengan kedok seni, mendorong wanita bangga memamerkan aurat. Aksi seronok yang pantas dilakukan wanita tuna susila, kini telah di lakukan oleh wanita penjaja akting. Generasi muda menjadi korban, ikut-ikutan bertindak seperti wanita penjaja akting, rusaklah negara, akibat tidak mampu mendidik wanita.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Islam Memuliakan Wanita&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Islam sangat menghargai wanita, menjaga agar martabat wanita terangkat, bukan rendah layaknya sampah, atau menjadi boneka para manusia rakus. Apa artinya sebuah pamor, jika di dalamnya memaksa wanita merusak derajat dan martabatnya di hadapan masyarakat luas. Apa pula artinya ketenaran, jika di dalamnya menyuruh wanita bertindak melanggar norma-norma agama.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bahagialah para wanita muslimah, ketika anak-anak, dalam lindungan keluarga, ketika beranjak dewasa atau baligh, diperintahkan menutup aurat, sebagai bentuk ketakwaan pada Allah sang Maha Pencipta. Dalam hijab, bukan hanya sekedar menutup aurat, tetapi merupakan cirri khas muslimah yang mudah terdeteksi identitas kemuslimahannya, hal ini sesuai firman Allah dalam surat Al-Ahzab ayat 59:&lt;/div&gt;&lt;div class="arabic" style="text-align: justify;"&gt;يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُل لِّأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِن جَلَابِيبِهِنَّ ۚ ذَٰلِكَ أَدْنَىٰ أَن يُعْرَ‌فْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ ۗ وَكَانَ اللَّـهُ غَفُورً‌ا رَّ‌حِيمًا ﴿٥٩﴾&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Hai Nabi, katakanlah pada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun dan Maha Penyayang.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ketika telah beranjak dewasa dan hendak menikah, wanita islam diperbolehkan memilih tanpa paksaan, mereka diperlakukan istimewa, dipilihkan lelaki baik yang menjaga kehormatan. Ia juga mempunyai hak meminta mahar (mas kawin) dan boleh membelanjakannya sesuka hati. Sungguh menyenangkan menjadi muslimah, ia tidak takut kekurangan cinta dan kasih sayang. Ia adalah saudara bagi muslim yang lainnya, sehingga jika ada gangguan dari orang jahil, maka kehormatannya wajib dibela.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ketika telah menjadi seorang Ibu, kemuliaan wanita bertambah. Ia menjadi pembuka ridha surga Allah bagi anak-anaknya. Doa bagi anaknya tidak meleset. Islam memudahkan wanita yang berstatus Ibu, ia berhak mendapat nafkah dari suami. Dan baginya tidak ada kewajiban bersusah payah mencari makan. Baginya merupakan kehormatan, ketika kewajiban di dalam rumah diserukan, dengan tetap di dalam rumah akan terhindar dari sifat buruk berupa gossip, ghibah, foya-foya, dan sifat rendah yang mendatangkan madharat lainnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kemuliaan lainnya, semakin lanjut usia mereka semakin dihormati, semakin besar pula hak mereka dan semakin berlomba-lomba anak-anak dan kerabat dekatnya untuk berbuat yang terbaik kepada mereka, karena mereka telah selesai melakukan tugasnya, dan yang tersisa adalah kewajiban anak-anak, cucu, keluarga dan masyarakat terhadap mereka.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Akhirnya, mewakili suara hati muslimah, penulis ingin mengatakan, ‘atas nama HAM, izinkan kami para wanita menutup aurat secara rapat’, atas nama HAM, jangan ganggu para muslimah dengan tuduhan miring yang mengait-ngaitkan dengan julukan teroris. Atas nama HAM, izinkan muslimah mendapatkan kebebasan berpakaian syar’i sesuai aturan syariat. [voa-islam.com]&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/761503410559906563-5070011715883892736?l=alistiba.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://alistiba.blogspot.com/feeds/5070011715883892736/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://alistiba.blogspot.com/2012/01/atas-nama-ham-izinkan-kami-berhijab.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/761503410559906563/posts/default/5070011715883892736'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/761503410559906563/posts/default/5070011715883892736'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alistiba.blogspot.com/2012/01/atas-nama-ham-izinkan-kami-berhijab.html' title='Atas Nama HAM, Izinkan Kami Berhijab!'/><author><name>Abu abdirrahman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05301770063388687354</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/-1rkmfDMbj9g/TtiXyO-Rh_I/AAAAAAAAAoM/iPGpqXo-kow/s220/Ittiba%2527.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-i-0dblSC4jU/TxTpvUZXEXI/AAAAAAAAArA/PGdxnLqH7-g/s72-c/Muslimah.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-761503410559906563.post-2179752884495262449</id><published>2011-12-27T22:45:00.000-08:00</published><updated>2011-12-27T22:45:01.548-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='AqidaH'/><title type='text'>Mengapa mesti tidak berTahun Baru?</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-_6uZXZiDn3U/Tvq6bqQYrRI/AAAAAAAAAqs/4jP2WL79fgk/s1600/2012.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="239" src="http://4.bp.blogspot.com/-_6uZXZiDn3U/Tvq6bqQYrRI/AAAAAAAAAqs/4jP2WL79fgk/s320/2012.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Alhamdulillah. Segala puji hanya milik Allah, Rabb yang memberikan hidayah demi hidayah. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka hingga akhir zaman. Manusia di berbagai negeri sangat antusias menyambut perhelatan yang hanya setahun sekali ini. Hingga walaupun sampai lembur pun, mereka dengan rela dan sabar menunggu pergantian tahun. Namun bagaimanakah pandangan Islam -agama yang hanif- mengenai perayaan tersebut? Apakah mengikuti dan merayakannya diperbolehkan? Semoga artikel yang singkat ini bisa menjawabnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: red; text-align: justify;"&gt;&lt;u&gt;&lt;b&gt;Sejarah Tahun Baru Masehi&lt;/b&gt;&lt;/u&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tahun Baru pertama kali dirayakan pada tanggal 1 Januari 45 SM (sebelum masehi). Tidak lama setelah Julius Caesar dinobatkan sebagai kaisar Roma, ia memutuskan untuk mengganti penanggalan tradisional Romawi yang telah diciptakan sejak abad ketujuh SM. Dalam mendesain kalender baru ini, Julius Caesar dibantu oleh Sosigenes, seorang ahli astronomi dari Iskandariyah, yang menyarankan agar penanggalan baru itu dibuat dengan mengikuti revolusi matahari, sebagaimana yang dilakukan orang-orang Mesir. Satu tahun dalam penanggalan baru itu dihitung sebanyak 365 seperempat hari dan Caesar menambahkan 67 hari pada tahun 45 SM sehingga tahun 46 SM dimulai pada 1 Januari. Caesar juga memerintahkan agar setiap empat tahun, satu hari ditambahkan kepada bulan Februari, yang secara teoritis bisa menghindari penyimpangan dalam kalender baru ini. Tidak lama sebelum Caesar terbunuh di tahun 44 SM, dia mengubah nama bulan Quintilis dengan namanya, yaitu Julius atau Juli. Kemudian, nama bulan Sextilis diganti dengan nama pengganti Julius Caesar, Kaisar Augustus, menjadi bulan Agustus.[1]&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dari sini kita dapat menyaksikan bahwa perayaan tahun baru dimulai dari orang-orang kafir dan sama sekali bukan dari Islam. Perayaan tahun baru ini terjadi pada pergantian tahun kalender Gregorian yang sejak dulu telah dirayakan oleh orang-orang kafir.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Berikut adalah beberapa kerusakan akibat seorang muslim merayakan tahun baru.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: red; text-align: justify;"&gt;Kerusakan Pertama: Merayakan Tahun Baru Berarti Merayakan ‘Ied (Perayaan) yang Haram&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Perlu diketahui bahwa perayaan (‘ied) kaum muslimin ada dua yaitu ‘Idul Fithri dan ‘Idul Adha. Anas bin Malik mengatakan,&lt;/div&gt;&lt;div class="arabic" style="text-align: justify;"&gt;كَانَ لِأَهْلِ الْجَاهِلِيَّةِ يَوْمَانِ فِي كُلِّ سَنَةٍ يَلْعَبُونَ فِيهِمَا فَلَمَّا قَدِمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ قَالَ كَانَ لَكُمْ يَوْمَانِ تَلْعَبُونَ فِيهِمَا وَقَدْ أَبْدَلَكُمْ اللَّهُ بِهِمَا خَيْرًا مِنْهُمَا يَوْمَ الْفِطْرِ وَيَوْمَ الْأَضْحَى&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Orang-orang Jahiliyah dahulu memiliki dua hari (hari Nairuz dan Mihrojan) di setiap tahun yang mereka senang-senang ketika itu. Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba di Madinah, beliau mengatakan, ‘Dulu kalian memiliki dua hari untuk senang-senang di dalamnya. Sekarang Allah telah menggantikan bagi kalian dua hari yang lebih baik yaitu hari Idul Fithri dan Idul Adha.’”[2]&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Namun setelah itu muncul berbagai perayaan (‘ied) di tengah kaum muslimin. Ada perayaan yang dimaksudkan untuk ibadah atau sekedar meniru-niru orang kafir. Di antara perayaan yang kami maksudkan di sini adalah perayaan tahun baru Masehi. Perayaan semacam ini berarti di luar perayaan yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam maksudkan sebagai perayaan yang lebih baik yang Allah ganti. Karena perayaan kaum muslimin hanyalah dua yang dikatakan baik yaitu Idul Fithri dan Idul Adha.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Perhatikan penjelasan Al Lajnah Ad Da-imah lil Buhuts ‘Ilmiyyah wal Ifta’, komisi fatwa di Saudi Arabia berikut ini:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Al Lajnah Ad Da-imah mengatakan,&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;blockquote class="tr_bq"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Yang disebut ‘ied atau hari perayaan secara istilah adalah semua bentuk perkumpulan yang berulang secara periodik boleh jadi tahunan, bulanan, mingguan atau semisalnya. Jadi dalam ied terkumpul beberapa hal:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Hari yang berulang semisal idul fitri dan hari Jumat.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Berkumpulnya banyak orang pada hari tersebut.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Berbagai aktivitas yang dilakukan pada hari itu baik berupa ritual ibadah ataupun non ibadah.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hukum ied (perayaan) terbagi menjadi dua:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;1. Ied yang tujuannya adalah beribadah, mendekatkan diri kepada Allah dan mengagungkan hari tersebut dalam rangka mendapat pahala, atau&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;2. Ied yang mengandung unsur menyerupai orang-orang jahiliah atau golongan-golongan orang kafir yang lain maka hukumnya adalah bid’ah yang terlarang karena tercakup dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="arabic" style="text-align: justify;"&gt;مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Barang siapa yang mengada-adakan amal dalam agama kami ini padahal bukanlah bagian dari agama maka amal tersebut tertolak.” (HR. Bukhari dan Muslim)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Misalnya adalah peringatan maulid nabi, hari ibu dan hari kemerdekaan. Peringatan maulid nabi itu terlarang karena hal itu termasuk mengada-adakan ritual yang tidak pernah Allah izinkan di samping menyerupai orang-orang Nasrani dan golongan orang kafir yang lain. Sedangkan hari ibu dan hari kemerdekaan terlarang karena menyerupai orang kafir.”[3] -Demikian penjelasan Lajnah-&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Begitu pula perayaan tahun baru termasuk perayaan yang terlarang karena menyerupai perayaan orang kafir.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: red; text-align: justify;"&gt;Kerusakan Kedua: Merayakan Tahun Baru Berarti Tasyabbuh (Meniru-niru) Orang Kafir&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Merayakan tahun baru termasuk meniru-niru orang kafir. Dan sejak dulu Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah mewanti-wanti bahwa umat ini memang akan mengikuti jejak orang Persia, Romawi, Yahudi dan Nashrani. Kaum muslimin mengikuti mereka baik dalam berpakaian atau pun berhari raya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="arabic" style="text-align: justify;"&gt;« لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَأْخُذَ أُمَّتِى بِأَخْذِ الْقُرُونِ قَبْلَهَا ، شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ » . فَقِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ كَفَارِسَ وَالرُّومِ . فَقَالَ « وَمَنِ النَّاسُ إِلاَّ أُولَئِكَ »&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Kiamat tidak akan terjadi hingga umatku mengikuti jalan generasi sebelumnya sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta.” Lalu ada yang menanyakan pada Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, “Apakah mereka itu mengikuti seperti Persia dan Romawi?” Beliau menjawab, “Selain mereka, lantas siapa lagi?“[4]&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dari Abu Sa’id Al Khudri, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="arabic" style="text-align: justify;"&gt;لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ دَخَلُوا فِى جُحْرِ ضَبٍّ لاَتَّبَعْتُمُوهُمْ . قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ آلْيَهُودَ وَالنَّصَارَى قَالَ فَمَنْ&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Sungguh kalian akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta sampai jika orang-orang yang kalian ikuti itu masuk ke lubang dhob (yang penuh lika-liku, pen), pasti kalian pun akan mengikutinya.” Kami (para sahabat) berkata, “Wahai Rasulullah, Apakah yang diikuti itu adalah Yahudi dan Nashrani?” Beliau menjawab, “Lantas siapa lagi?” [5]&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;An Nawawi -rahimahullah- ketika menjelaskan hadits di atas menjelaskan, “Yang dimaksud dengan syibr (sejengkal) dan dziro’ (hasta) serta lubang dhob (lubang hewan tanah yang penuh lika-liku), adalah permisalan bahwa tingkah laku kaum muslimin sangat mirip sekali dengan tingkah Yahudi dan Nashroni. Yaitu kaum muslimin mencocoki mereka dalam kemaksiatan dan berbagai penyimpangan, bukan dalam hal kekufuran. Perkataan beliau ini adalah suatu mukjizat bagi beliau karena apa yang beliau katakan telah terjadi saat-saat ini.”[6]&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Lihatlah apa yang dikatakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Apa yang beliau katakan memang benar-benar terjadi saat ini. Berbagai model pakaian orang barat diikuti oleh kaum muslimin, sampai pun yang setengah telanjang. Begitu pula berbagai perayaan pun diikuti, termasuk pula perayaan tahun baru ini.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ingatlah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam secara tegas telah melarang kita meniru-niru orang kafir (tasyabbuh).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Beliau bersabda,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="arabic" style="text-align: justify;"&gt;مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” [7]&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Menyerupai orang kafir (tasyabbuh) ini terjadi dalam hal pakaian, penampilan dan kebiasaan. Tasyabbuh di sini diharamkan berdasarkan dalil Al Qur’an, As Sunnah dan kesepakatan para ulama (ijma’).[8]&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: red; text-align: justify;"&gt;Kerusakan Ketiga: Merekayasa Amalan yang Tanpa Tuntunan di Malam Tahun Baru&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kita sudah ketahui bahwa perayaan tahun baru ini berasal dari orang kafir dan merupakan tradisi mereka. Namun sayangnya di antara orang-orang jahil ada yang mensyari’atkan amalan-amalan tertentu pada malam pergantian tahun. “Daripada waktu kaum muslimin sia-sia, mending malam tahun baru kita isi dengan dzikir berjama’ah di masjid. Itu tentu lebih manfaat daripada menunggu pergantian tahun tanpa ada manfaatnya”, demikian ungkapan sebagian orang. Ini sungguh aneh. Pensyariatan semacam ini berarti melakukan suatu amalan yang tanpa tuntunan. Perayaan tahun baru sendiri adalah bukan perayaan atau ritual kaum muslimin, lantas kenapa harus disyari’atkan amalan tertentu ketika itu? Apalagi menunggu pergantian tahun pun akan mengakibatkan meninggalkan berbagai kewajiban sebagaimana nanti akan kami utarakan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jika ada yang mengatakan, “Daripada menunggu tahun baru diisi dengan hal yang tidak bermanfaat, mending diisi dengan dzikir. Yang penting kan niat kita baik.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Maka cukup kami sanggah niat baik semacam ini dengan perkataan Ibnu Mas’ud ketika dia melihat orang-orang yang berdzikir, namun tidak sesuai tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Orang yang melakukan dzikir yang tidak ada tuntunannya ini mengatakan pada Ibnu Mas’ud,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="arabic" style="text-align: justify;"&gt;وَاللَّهِ يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ مَا أَرَدْنَا إِلاَّ الْخَيْرَ.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Demi Allah, wahai Abu ‘Abdurrahman (Ibnu Mas’ud), kami tidaklah menginginkan selain kebaikan.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ibnu Mas’ud lantas berkata,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="arabic" style="text-align: justify;"&gt;وَكَمْ مِنْ مُرِيدٍ لِلْخَيْرِ لَنْ يُصِيبَهُ&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Betapa banyak orang yang menginginkan kebaikan, namun mereka tidak mendapatkannya.” [9]&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jadi dalam melakukan suatu amalan, niat baik semata tidaklah cukup. Kita harus juga mengikuti contoh dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, baru amalan tersebut bisa diterima di sisi Allah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: red; text-align: justify;"&gt;Kerusakan Keempat: Terjerumus dalam Keharaman dengan Mengucapkan Selamat Tahun Baru&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kita telah ketahui bersama bahwa tahun baru adalah syiar orang kafir dan bukanlah syiar kaum muslimin. Jadi, tidak pantas seorang muslim memberi selamat dalam syiar orang kafir seperti ini. Bahkan hal ini tidak dibolehkan berdasarkan kesepakatan para ulama (ijma’).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ibnul Qoyyim dalam Ahkam Ahli Dzimmah mengatakan, “Adapun memberi ucapan selamat pada syi’ar-syi’ar kekufuran yang khusus bagi orang-orang kafir (seperti mengucapkan selamat natal, pen) adalah sesuatu yang diharamkan berdasarkan ijma’ (kesepakatan) para ulama. Contohnya adalah memberi ucapan selamat pada hari raya dan puasa mereka seperti mengatakan, ‘Semoga hari ini adalah hari yang berkah bagimu’, atau dengan ucapan selamat pada hari besar mereka dan semacamnya.” Kalau memang orang yang mengucapkan hal ini bisa selamat dari kekafiran, namun dia tidak akan lolos dari perkara yang diharamkan. Ucapan selamat hari raya seperti ini pada mereka sama saja dengan kita mengucapkan selamat atas sujud yang mereka lakukan pada salib, bahkan perbuatan seperti ini lebih besar dosanya di sisi Allah. Ucapan selamat semacam ini lebih dibenci oleh Allah dibanding seseorang memberi ucapan selamat pada orang yang minum minuman keras, membunuh jiwa, berzina, atau ucapan selamat pada maksiat lainnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Banyak orang yang kurang paham agama terjatuh dalam hal tersebut. Orang-orang semacam ini tidak mengetahui kejelekan dari amalan yang mereka perbuat. Oleh karena itu, barangsiapa memberi ucapan selamat pada seseorang yang berbuat maksiat, bid’ah atau kekufuran, maka dia pantas mendapatkan kebencian dan murka Allah Ta’ala.”[10]&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: red; text-align: justify;"&gt;Kerusakan Kelima: Meninggalkan Perkara Wajib yaitu Shalat Lima Waktu&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Betapa banyak kita saksikan, karena begadang semalam suntuk untuk menunggu detik-detik pergantian tahun, bahkan begadang seperti ini diteruskan lagi hingga jam 1, jam 2 malam atau bahkan hingga pagi hari, kebanyakan orang yang begadang seperti ini luput dari shalat Shubuh yang kita sudah sepakat tentang wajibnya. Di antara mereka ada yang tidak mengerjakan shalat Shubuh sama sekali karena sudah kelelahan di pagi hari. Akhirnya, mereka tidur hingga pertengahan siang dan berlalulah kewajiban tadi tanpa ditunaikan sama sekali. Na’udzu billahi min dzalik.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ketahuilah bahwa meninggalkan satu saja dari shalat lima waktu bukanlah perkara sepele. Bahkan meningalkannya para ulama sepakat bahwa itu termasuk dosa besar.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ibnul Qoyyim -rahimahullah- mengatakan, “Kaum muslimin tidaklah berselisih pendapat (sepakat) bahwa meninggalkan shalat wajib (shalat lima waktu) dengan sengaja termasuk dosa besar yang paling besar dan dosanya lebih besar dari dosa membunuh, merampas harta orang lain, zina, mencuri, dan minum minuman keras. Orang yang meninggalkannya akan mendapat hukuman dan kemurkaan Allah serta mendapatkan kehinaan di dunia dan akhirat.”[11]&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Adz Dzahabi –rahimahullah- juga mengatakan, “Orang yang mengakhirkan shalat hingga keluar waktunya termasuk pelaku dosa besar. Dan yang meninggalkan shalat -yaitu satu shalat saja- dianggap seperti orang yang berzina dan mencuri. Karena meninggalkan shalat atau luput darinya termasuk dosa besar. Oleh karena itu, orang yang meninggalkannya sampai berkali-kali termasuk pelaku dosa besar sampai dia bertaubat. Sesungguhnya orang yang meninggalkan shalat termasuk orang yang merugi, celaka dan termasuk orang mujrim (yang berbuat dosa).”[12]&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mengancam dengan kekafiran bagi orang yang sengaja meninggalkan shalat lima waktu. Buraidah bin Al Hushoib Al Aslamiy berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="arabic" style="text-align: justify;"&gt;الْعَهْدُ الَّذِى بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمُ الصَّلاَةُ فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Perjanjian antara kami dan mereka (orang kafir) adalah shalat. Barangsiapa meninggalkannya maka dia telah kafir.”[13] Oleh karenanya, seorang muslim tidak sepantasnya merayakan tahun baru sehingga membuat dirinya terjerumus dalam dosa besar.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dengan merayakan tahun baru, seseorang dapat pula terluput dari amalan yang utama yaitu shalat malam. Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="arabic" style="text-align: justify;"&gt;أَفْضَلُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلَاةُ اللَّيْلِ&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Sebaik-baik shalat setelah shalat wajib adalah shalat malam.”[14] Shalat malam adalah sebaik-baik shalat dan shalat yang biasa digemari oleh orang-orang sholih. Seseorang pun bisa mendapatkan keutamaan karena bertemu dengan waktu yang mustajab untuk berdo’a yaitu ketika sepertiga malam terakhir. Sungguh sia-sia jika seseorang mendapati malam tersebut namun ia menyia-nyiakannya. Melalaikan shalat malam disebabkan mengikuti budaya orang barat, sungguh adalah kerugian yang sangat besar.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: red; text-align: justify;"&gt;Kerusakan Keenam: Begadang Tanpa Ada Hajat&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Begadang tanpa ada kepentingan yang syar’i dibenci oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Termasuk di sini adalah menunggu detik-detik pergantian tahun yang tidak ada manfaatnya sama sekali. Diriwayatkan dari Abi Barzah, beliau berkata,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="arabic" style="text-align: justify;"&gt;أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ يَكْرَهُ النَّوْمَ قَبْلَ الْعِشَاءِ وَالْحَدِيثَ بَعْدَهَا&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membenci tidur sebelum shalat ‘Isya dan ngobrol-ngobrol setelahnya.”[15]&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ibnu Baththol menjelaskan, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak suka begadang setelah shalat ‘Isya karena beliau sangat ingin melaksanakan shalat malam dan khawatir jika sampai luput dari shalat shubuh berjama’ah. ‘Umar bin Al Khottob sampai-sampai pernah memukul orang yang begadang setelah shalat Isya, beliau mengatakan, “Apakah kalian sekarang begadang di awal malam, nanti di akhir malam tertidur lelap?!”[16] Apalagi dengan begadang, ini sampai melalaikan dari sesuatu yang lebih wajib (yaitu shalat Shubuh)?!&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: red; text-align: justify;"&gt;Kerusakan Ketujuh: Terjerumus dalam Zina&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jika kita lihat pada tingkah laku muda-mudi saat ini, perayaan tahun baru pada mereka tidaklah lepas dari ikhtilath (campur baur antara pria dan wanita) dan berkholwat (berdua-duan), bahkan mungkin lebih parah dari itu yaitu sampai terjerumus dalam zina dengan kemaluan. Inilah yang sering terjadi di malam tersebut dengan menerjang berbagai larangan Allah dalam bergaul dengan lawan jenis. Inilah yang terjadi di malam pergantian tahun dan ini riil terjadi di kalangan muda-mudi. Padahal dengan melakukan seperti pandangan, tangan dan bahkan kemaluan telah berzina. Ini berarti melakukan suatu yang haram.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="arabic" style="text-align: justify;"&gt;كُتِبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ نَصِيبُهُ مِنَ الزِّنَى مُدْرِكٌ ذَلِكَ لاَ مَحَالَةَ فَالْعَيْنَانِ زِنَاهُمَا النَّظَرُ وَالأُذُنَانِ زِنَاهُمَا الاِسْتِمَاعُ وَاللِّسَانُ زِنَاهُ الْكَلاَمُ وَالْيَدُ زِنَاهَا الْبَطْشُ وَالرِّجْلُ زِنَاهَا الْخُطَا وَالْقَلْبُ يَهْوَى وَيَتَمَنَّى وَيُصَدِّقُ ذَلِكَ الْفَرْجُ وَيُكَذِّبُهُ&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Setiap anak Adam telah ditakdirkan bagian untuk berzina dan ini suatu yang pasti terjadi, tidak bisa tidak. Zina kedua mata adalah dengan melihat. Zina kedua telinga dengan mendengar. Zina lisan adalah dengan berbicara. Zina tangan adalah dengan meraba (menyentuh). Zina kaki adalah dengan melangkah. Zina hati adalah dengan menginginkan dan berangan-angan. Lalu kemaluanlah yang nanti akan membenarkan atau mengingkari yang demikian.”[17]&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: red; text-align: justify;"&gt;Kerusakan Kedelapan: Mengganggu Kaum Muslimin&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Merayakan tahun baru banyak diramaikan dengan suara mercon, petasan, terompet atau suara bising lainnya. Ketahuilah ini semua adalah suatu kemungkaran karena mengganggu muslim lainnya, bahkan sangat mengganggu orang-orang yang butuh istirahat seperti orang yang lagi sakit. Padahal mengganggu muslim lainnya adalah terlarang sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="arabic" style="text-align: justify;"&gt;الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Seorang muslim adalah seseorang yang lisan dan tangannya tidak mengganggu orang lain.”[18]&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ibnu Baththol mengatakan, “Yang dimaksud dengan hadits ini adalah dorongan agar seorang muslim tidak menyakiti kaum muslimin lainnya dengan lisan, tangan dan seluruh bentuk menyakiti lainnya. Al Hasan Al Bashri mengatakan, “Orang yang baik adalah orang yang tidak menyakiti walaupun itu hanya menyakiti seekor semut”.”[19] Perhatikanlah perkataan yang sangat bagus dari Al Hasan Al Basri. Seekor semut yang kecil saja dilarang disakiti, lantas bagaimana dengan manusia yang punya akal dan perasaan disakiti dengan suara bising atau mungkin lebih dari itu?!&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: red; text-align: justify;"&gt;Kerusakan Kesembilan: Meniru Perbuatan Setan dengan Melakukan Pemborosan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Perayaan malam tahun baru adalah pemborosan besar-besaran hanya dalam waktu satu malam. Jika kita perkirakan setiap orang menghabiskan uang pada malam tahun baru sebesar Rp.1000 untuk membeli mercon dan segala hal yang memeriahkan perayaan tersebut, lalu yang merayakan tahun baru sekitar 10 juta penduduk Indonesia, maka hitunglah berapa jumlah uang yang dihambur-hamburkan dalam waktu semalam? Itu baru perkiraan setiap orang menghabiskan Rp. 1000, bagaimana jika lebih dari itu?! Masya Allah sangat banyak sekali jumlah uang yang dibuang sia-sia. Itulah harta yang dihamburkan sia-sia dalam waktu semalam untuk membeli petasan, kembang api, mercon, atau untuk menyelenggarakan pentas musik, dsb. Padahal Allah Ta’ala telah berfirman,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="arabic" style="text-align: justify;"&gt;وَلا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan.” (Qs. Al Isro’: 26-27)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ibnu Katsir mengatakan, “Allah ingin membuat manusia menjauh sikap boros dengan mengatakan: “Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan.” Dikatakan demikian karena orang yang bersikap boros menyerupai setan dalam hal ini.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ibnu Mas’ud dan Ibnu ‘Abbas mengatakan, “Tabdzir (pemborosan) adalah menginfakkan sesuatu bukan pada jalan yang benar.” Mujahid mengatakan, “Seandainya seseorang menginfakkan seluruh hartanya dalam jalan yang benar, itu bukanlah tabdzir (pemborosan). Namun jika seseorang menginfakkan satu mud saja (ukuran telapak tangan) pada jalan yang keliru, itulah yang dinamakan tabdzir (pemborosan).” Qotadah mengatakan, “Yang namanya tabdzir (pemborosan) adalah mengeluarkan nafkah dalam berbuat maksiat pada Allah, pada jalan yang keliru dan pada jalan untuk berbuat kerusakan.”[20]&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: red; text-align: justify;"&gt;Kerusakan Kesepuluh: Menyia-nyiakan Waktu yang Begitu Berharga&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Merayakan tahun baru termasuk membuang-buang waktu. Padahal waktu sangatlah kita butuhkan untuk hal yang bermanfaat dan bukan untuk hal yang sia-sia. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberi nasehat mengenai tanda kebaikan Islam seseorang,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="arabic" style="text-align: justify;"&gt;مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيهِ&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Di antara tanda kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat baginya.” [21]&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ingatlah bahwa membuang-buang waktu itu hampir sama dengan kematian yaitu sama-sama memiliki sesuatu yang hilang. Namun sebenarnya membuang-buang waktu masih lebih jelek dari kematian.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Semoga kita merenungkan perkataan Ibnul Qoyyim, “(Ketahuilah bahwa) menyia-nyiakan waktu lebih jelek dari kematian. Menyia-nyiakan waktu akan memutuskanmu (membuatmu lalai) dari Allah dan negeri akhirat. Sedangkan kematian hanyalah memutuskanmu dari dunia dan penghuninya.”[22]&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Seharusnya seseorang bersyukur kepada Allah dengan nikmat waktu yang telah Dia berikan. Mensyukuri nikmat waktu bukanlah dengan merayakan tahun baru. Namun mensyukuri nikmat waktu adalah dengan melakukan ketaatan dan ibadah kepada Allah. Itulah hakekat syukur yang sebenarnya. Orang-orang yang menyia-nyiakan nikmat waktu seperti inilah yang Allah cela. Allah Ta’ala berfirman,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="arabic" style="text-align: justify;"&gt;أَوَلَمْ نُعَمِّرْكُم مَّا يَتَذَكَّرُ فِيهِ مَن تَذَكَّرَ وَجَاءكُمُ النَّذِيرُ&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Dan apakah Kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berfikir bagi orang yang mau berfikir, dan (apakah tidak) datang kepada kamu pemberi peringatan?” (Qs. Fathir: 37). Qotadah mengatakan, “Beramallah karena umur yang panjang itu akan sebagai dalil yang bisa menjatuhkanmu. Marilah kita berlindung kepada Allah dari menyia-nyiakan umur yang panjang untuk hal yang sia-sia.”[23]&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Inilah di antara beberapa kerusakan dalam perayaan tahun baru. Sebenarnya masih banyak kerusakan lainnya yang tidak bisa kami sebutkan satu per satu dalam tulisan ini karena saking banyaknya. Seorang muslim tentu akan berpikir seribu kali sebelum melangkah karena sia-sianya merayakan tahun baru. Jika ingin menjadi baik di tahun mendatang bukanlah dengan merayakannya. Seseorang menjadi baik tentulah dengan banyak bersyukur atas nikmat waktu yang Allah berikan. Bersyukur yang sebenarnya adalah dengan melakukan ketaatan kepada Allah, bukan dengan berbuat maksiat dan bukan dengan membuang-buang waktu dengan sia-sia. Lalu yang harus kita pikirkan lagi adalah apakah hari ini kita lebih baik dari hari kemarin? Pikirkanlah apakah hari ini iman kita sudah semakin meningkat ataukah semakin anjlok! Itulah yang harus direnungkan seorang muslim setiap kali bergulirnya waktu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ya Allah, perbaikilah keadaan umat Islam saat ini. Perbaikilah keadaan saudara-saudara kami yang jauh dari aqidah Islam. Berilah petunjuk pada mereka agar mengenal agama Islam ini dengan benar.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakkal dan hanya kepada-Nya-lah aku kembali.” (Qs. Hud: 88)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihat. Wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Disempurnakan atas nikmat Allah di Pangukan-Sleman, 12 Muharram 1431 H&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sumber : &lt;a href="http://www.muslim.or.id/"&gt;www.muslim.or.id&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;................................................... &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;[1] Sumber bacaan: http://id.wikipedia.org/wiki/Tahun_baru&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;[2] HR. An Nasa-i no. 1556. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;[3] Fatawa Al Lajnah Ad Da-imah lil Buhuts ‘Ilmiyyah wal Ifta‘, 3/88-89, Fatwa no. 9403, Mawqi’ Al Ifta’.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;[4] HR. Bukhari no. 7319, dari Abu Hurairah.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;[5] HR. Muslim no. 2669, dari Abu Sa’id Al Khudri.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;[6] Al Minhaj Syarh Shohih Muslim, Abu Zakariya Yahya bin Syarf An Nawawi, 16/220, Dar Ihya’ At Turots Al ‘Arobiy, cetakan kedua, 1392.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;[7] HR. Ahmad dan Abu Daud. Syaikhul Islam dalam Iqtidho‘ (1/269) mengatakan bahwa sanad hadits ini jayid/bagus. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shohih sebagaimana dalam Irwa’ul Gholil no. 1269.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;[8] Lihat penukilan ijma’ (kesepakatan ulama) yang disampaikan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Iqtidho’ Ash Shirotil Mustaqim, 1/363, Wazarotu Asy Syu-un Al Islamiyah, cetakan ketujuh, tahun 1417 H.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;[9] HR. Ad Darimi. Dikatakan oleh Husain Salim Asad bahwa sanad hadits ini jayid (bagus).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;[10] Ahkam Ahli Dzimmah, Ibnu Qayyim Al Jauziyah, 1/441, Dar Ibnu Hazm, cetakan pertama, tahun 1418 H.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;[11] Ash Sholah wa Hukmu Tarikiha, hal. 7, Dar Al Imam Ahmad&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;[12] Al Kaba’ir, hal. 26-27, Darul Kutub Al ‘Ilmiyyah.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;[13] HR. Ahmad, Tirmidzi, An Nasa’i, Ibnu Majah. Dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani. Lihat Misykatul Mashobih no. 574&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;[14] HR. Muslim no. 1163&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;[15] HR. Bukhari no. 568&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;[16] Syarh Al Bukhari, Ibnu Baththol, 3/278, Asy Syamilah.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;[17] HR. Muslim no. 6925&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;[18] HR. Bukhari no. 10 dan Muslim no. 41&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;[19] Syarh Al Bukhari, Ibnu Baththol, 1/38, Asy Syamilah&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;[20] Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 5/69, pada tafsir surat Al Isro’ ayat 26-27&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;[21] HR. Tirmidzi. Syaikh Al Albani dalam Shohih wa Dho’if  Sunan Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini shohih.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;[22] Al Fawa’id, hal. 33&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;[23] Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 6/553, pada tafsir surat Fathir ayat 37.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/761503410559906563-2179752884495262449?l=alistiba.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://alistiba.blogspot.com/feeds/2179752884495262449/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://alistiba.blogspot.com/2011/12/mengapa-mesti-tidak-bertahun-baru.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/761503410559906563/posts/default/2179752884495262449'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/761503410559906563/posts/default/2179752884495262449'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alistiba.blogspot.com/2011/12/mengapa-mesti-tidak-bertahun-baru.html' title='Mengapa mesti tidak berTahun Baru?'/><author><name>Abu abdirrahman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05301770063388687354</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/-1rkmfDMbj9g/TtiXyO-Rh_I/AAAAAAAAAoM/iPGpqXo-kow/s220/Ittiba%2527.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-_6uZXZiDn3U/Tvq6bqQYrRI/AAAAAAAAAqs/4jP2WL79fgk/s72-c/2012.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-761503410559906563.post-8589055430877639434</id><published>2011-12-23T02:06:00.000-08:00</published><updated>2011-12-23T07:14:44.787-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='AqidaH'/><title type='text'>Selamat Natal, kenapa dilarang?</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-jN4t_4M_Low/TvSavOyTsQI/AAAAAAAAAqg/CuMrDnYuJgY/s1600/%25D8%25A7%25D9%2584%25D8%25A5%25D8%25B3%25D9%2584%25D8%25A7%25D9%2585.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://1.bp.blogspot.com/-jN4t_4M_Low/TvSavOyTsQI/AAAAAAAAAqg/CuMrDnYuJgY/s1600/%25D8%25A7%25D9%2584%25D8%25A5%25D8%25B3%25D9%2584%25D8%25A7%25D9%2585.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;Bagaimana menurut anda jika ada seseorang yang mengucapkan selamat kepada seorang Pencuri, yg seakan-akan berkata, "Selamat anda Telah mencuri”?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Saya yakin dengan akal yang jernih kita akan mengatakan bahwa itu merupakan perbuatan yang Konyol, dan tak bisa diterima, karena tak mungkin kita mengucapkan  selamat kepada orang yang melakukan kemungkaran, maksiat &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Nah, kalau demikian halnya, maka perbuatan atau maksiat yang lebih besar dan lebih berbahaya dari itu (mencuri), lebih pantas lagi bagi  kita untuk tidak mengucapkan salam kepada pelakunya, dan apakah ada maksiat yang lebih besar dosanya di sisi Allah Subhana wata’ala selain menyekutukan-Nya?, menjadikan sesuatu sekutu baginya? &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;dan apakah bukan perbuatan yang sangat konyol mengucapkan selamat terhadap orang-orang yang telah menjadikan Allah  Subhana wata’ala, Tsalitsu tsalatsa (menjadikan-Nya salah satu dari tiga tuhan) sebagaimana aqidah Trinitas yang mereka yakini?!&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Maka pantaskah kita mengucapkan selamat kepada orang-orang yang merayakan hari kelahiran Tuhan (masa tuhan dilahirkan?) yang seolah-olah kita mengatakan,  “Selamat Telah menyekutukan Allah?!” Na’udzu billah min Dzalik.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Maka berikut kami ingin menukil beberapa Fatwa Ulama tentang Hukum Ucapan selamat hari Natal.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Fatwa Haramnya Ucapan Selamat Natal&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Fatwa MUI tentang haramnya mengikuti upacara natal, ringkasnya sebagai berikut:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bahwa ummat Islam tidak boleh mencampuradukkan aqidah dan peribadatan agamanya dengan aqidah dan peribadatan agama lain berdasarkan :&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;1. Al Qur`an surat Al-Kafirun ayat 1-6.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;2. Al Qur`an surat Al Baqarah ayat 42&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Memutuskan &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Memfatwakan &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;• Perayaan Natal di Indonesia meskipun tujuannya merayakan dan menghormati Nabi Isa AS, akan tetapi Natal itu tidak dapat dipisahkan dari soal-soal yang diterangkan diatas. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;• Mengikuti upacara Natal bersama bagi ummat Islam hukumnya haram. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;• Agar ummat Islam tidak terjerumus kepada syubhat dan larangan Allah SWT dianjurkan untuk tidak mengikuti kegiatan-kegiatan Natal. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jakarta, 1 Jumadil Awal 1401 H &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;7 Maret 1981 Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ketua – Sekretaris&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;K.H.M SYUKRI. G - Drs. H. MAS`UDI &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;(ringkasan dari FATWA MAJELIS ULAMA INDONESIA TENTANG PERAYAAN NATAL BERSAMA Source: http://www.mui.or.id/mui_in/fatwa.php?id=71).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Fatwa yang langsung berkaitan dengan mengucapkan selamat natal, telah jelas difatwakan haramnya oleh Syaikh Utsaimin rahimahullah Ta’ala, sebagai berikut:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Fatwa Syeikh ‘Utsaimin Tentang Hukum Ucapan Happy Christmas [Selamat Natal]&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pertanyaan:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Syaikh Muhammad bin Shalih al-’Utsaimin -rahimahullah-ditanya : &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bagaimana hukum mengucapkan “Happy Christmas” (Selamat Natal) kepada orang- orang Kafir?  Bagaimana pula memberikan jawaban kepada mereka bila mereka mengucapkannya kepada kita?  Apakah boleh pergi ke tempat-tempat pesta yang mengadakan acara seperti ini?  Apakah seseorang berdosa, bila melakukan sesuatu dari yang disebutkan tadi tanpa sengaja (maksud yang sebenarnya) namun dia melakukannya hanya untuk berbasa-basi, malu, nggak enak perasaan atau sebab- sebab lainnya?  Apakah boleh menyerupai mereka di dalam hal itu?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jawaban:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Mengucapkan “Happy Christmas” (Selamat Natal) atau perayaan keagamaan mereka lainnya kepada orang-orang Kafir adalah haram hukumnya menurut kesepakatan para ulama (ijma’).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hal ini sebagaimana dinukil dari Ibn al-Qayyim rahimahullah di dalam kitabnya “Ahkâm Ahl adz-Dzimmah”, beliau berkata,”Adapun mengucapkan selamat berkenaan dengan syi’ar-syi’ar kekufuran yang khusus bagi mereka adalah haram menurut kesepakatan para ulama, seperti mengucapkan selamat terhadap Hari-Hari besar mereka dan puasa mereka, sembari mengucapkan,’Semoga Hari raya anda diberkahi’ atau anda yang diberikan ucapan selamat berkenaan dengan perayaan hari besarnya itu dan semisalnya.  Perbuatan ini, kalaupun orang yang mengucapkannya dapat lolos dari kekufuran, maka dia tidak akan lolos dari melakukan hal-hal yang diharamkan.  Ucapan semacam ini setara dengan ucapannya terhadap perbuatan sujud terhadap Salib bahkan lebih besar dari itu dosanya di sisi Allah. Dan itu lebih amat dimurkai dibanding memberikan selamat atas minum-minum khamar, membunuh jiwa, melakukan perzinaan dan sebagainya.  Banyak sekali orang yang tidak sedikitpun tersisa kadar keimanannya, yang terjatuh ke dalam hal itu sementara dia tidak sadar betapa buruk perbuatannya tersebut.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jadi, barangsiapa yang mengucapkan selamat kepada seorang hamba karena melakukan suatu maksiat, bid’ah atau kekufuran, maka berarti dia telah menghadapi kemurkaan Allah dan Kemarahan-Nya.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Mengenai kenapa Ibn al-Qayyim sampai menyatakan bahwa mengucapkan selamat kepada orang-orang Kafir berkenaan dengan perayaan hari-hari besar keagamaan mereka haram dan posisinya demikian, karena hal itu mengandung persetujuan terhadap syi’ar-syi’ar kekufuran yang mereka lakukan dan meridhai hal itu dilakukan mereka sekalipun dirinya sendiri tidak rela terhadap kekufuran itu, akan tetapi adalah HARAM bagi seorang Muslim meridhai syi’ar-syi’ar kekufuran atau mengucapkan selamat kepada orang lain berkenaan dengannya, karena Allah Ta’ala tidak meridhai hal itu,sebagaimana dalam firman-Nya,&lt;/div&gt;&lt;div class="arabic" style="text-align: justify;"&gt;إِنْ تَكْفُرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنْكُمْ وَلَا يَرْضَى لِعِبَادِهِ الْكُفْرَ وَإِنْ تَشْكُرُوا يَرْضَهُ لَكُمْ &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Jika kamu kafir maka sesungguhnya Allah tidak memerlukan (iman)mu dan Dia tidak meridhai kekafiran bagi hamba-Nya; dan jika kamu bersyukur, niscaya Dia meridhai bagimu kesyukuranmu itu.”[Az-Zumar:7]&lt;/div&gt;&lt;div class="arabic" style="text-align: justify;"&gt;الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Artinya : Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu dan telah Ku- cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agamamu.”[Al- Ma‘idah :3] Jadi, mengucapkan selamat kepada mereka berkenaan dengan hal itu adalah haram, baik mereka itu rekan-rekan satu pekerjaan dengan seseorang (Muslim) ataupun tidak. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bila mereka mengucapkan selamat berkenaan dengan hari-hari besar mereka kepada kita, maka kita tidak boleh menjawabnya karena hari-hari besar itu bukanlah hari-hari besar kita.  Juga karena ia adalah hari besar yang tidak diridhai Allah Ta’ala; baik disebabkan perbuatan mengada-ada ataupun disyari’atkan di dalam agama mereka, akan tetapi hal itu semua telah dihapus oleh Dienul Islam yang dengannya Nabi Muhammad Shallallâhu ‘alaihi Wa Sallam diutus Allah kepada seluruh makhluk.  Allah Ta’ala berfirman, &lt;/div&gt;&lt;div class="arabic" style="text-align: justify;"&gt;وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ)85(&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Barangsiapa mencari agama selain dari agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia diakhirat termasuk orang-orang yang rugi.” [ Ali ‘Imran/3 :85] Karena itu, hukum bagi seorang Muslim yang memenuhi undangan mereka berkenaan dengan hal itu adalah HARAM, karena lebih besar dosanya ketimbang mengucapkan selamat kepada mereka berkenaan dengannya.  Memenuhi undangan tersebut mengandung makna ikut berpartisipasi bersama mereka di dalamnya.Demikian pula, haram hukumnya bagi kaum Muslimin menyerupai orang-orang Kafir, seperti mengadakan pesta-pesta berkenaan dengan hari besar mereka tersebut, saling berbagi hadiah, membagi-bagikan manisan, hidangan makanan, meliburkan pekerjaan dan semisalnya.Hal ini berdasarkan sabda Nabi Shallallâhu ‘alaihi Wa Sallam,&lt;/div&gt;&lt;div class="arabic" style="text-align: justify;"&gt;مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.”[ Hadits Riwayat Abu Daud).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Syaikhul Islam, Ibn Taimiyah berkata di dalam kitabnya Iqtidhâ‘ ash-Shirâth al-Mustaqîm, Mukhâlafah Ashhâb al-Jahîm.”Menyerupai mereka di dalam sebagian hari-hari besar mereka mengandung konsekuensi timbulnya rasa senang di hati mereka atas kebatilan yang mereka lakukan, dan barangkali hal itu membuat mereka antusias untuk mencari-cari kesempatan (dalam kesempitan) dan menghinakan kaum lemah (iman).”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dan barangsiapa yang melakukan sesuatu dari hal itu, maka dia telah berdosa, baik melakukannya karena basa-basi, ingin mendapatkan simpati, rasa malu atau sebab- sebab lainnya, karena ia termasuk bentuk peremehan terhadap Dienullah dan merupakan sebab hati orang-orang kafir menjadi kuat dan bangga terhadap agama mereka.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kepada Allah kita memohon agar memuliakan kaum Muslimin dengan diennya, menganugerahkan kemantapan hati dan memberikan pertolongan kepada Muslimin terhadap musuh-musuh mereka, sesungguhnya Dia Maha Kuat lagi Maha Perkasa.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;[Sumber: Majmû’ Fatâwa Fadhîlah asy-Syaikh Muhammad bin Shâlih al-’Utsaimîn, Jilid.III,h.44-46,no.403]. (kasus-kasus di Indonesia, lihat di buku Hartono Ahmad Jaiz, Bunga Rampai Penyimpangan Agama di Indonesia, Pustaka Al-Kautsar, Jakarta, 2007). &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;(nahimunkar.com)&lt;sup&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=761503410559906563#2"&gt;[1]&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt;.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Teks fatwa selengkapnya: &lt;a href="http://www.saaid.net/mktarat/aayadalkoffar/18.htm"&gt;http://www.saaid.net/mktarat/aayadalkoffar/18.htm&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;blockquote class="tr_bq" style="background-color: #cccccc;"&gt;&lt;div class="arabic"&gt;&lt;sup&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=761503410559906563#2"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/div&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;adapun ketika kita mendapatkan ada di antara Ulama Kontemporer memfatwakan yang sebaliknya (membolehkan hal demikian) maka dapat disimak penjelasannya di sini: &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://www.voa-islam.com/islamia/tsaqofah/2011/12/23/17155/bantahan-terhadap-fatwa-qardhawi-yang-bolehkan-ucapan-selamat-natal/"&gt;http://www.voa-islam.com/islamia/tsaqofah/2011/12/23/17155/bantahan-terhadap-fatwa-qardhawi-yang-bolehkan-ucapan-selamat-natal/&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="footnote"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=761503410559906563" name="1"&gt;[1]&lt;/a&gt;.&lt;a href="http://nahimunkar.com/4005/fatwa-haramnya-ucapan-selamat-natal/" target="_blank"&gt;http://nahimunkar.com/4005/fatwa-haramnya-ucapan-selamat-natal/ &lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/761503410559906563-8589055430877639434?l=alistiba.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://alistiba.blogspot.com/feeds/8589055430877639434/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://alistiba.blogspot.com/2011/12/selamat-hari-natal.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/761503410559906563/posts/default/8589055430877639434'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/761503410559906563/posts/default/8589055430877639434'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alistiba.blogspot.com/2011/12/selamat-hari-natal.html' title='Selamat Natal, kenapa dilarang?'/><author><name>Abu abdirrahman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05301770063388687354</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/-1rkmfDMbj9g/TtiXyO-Rh_I/AAAAAAAAAoM/iPGpqXo-kow/s220/Ittiba%2527.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-jN4t_4M_Low/TvSavOyTsQI/AAAAAAAAAqg/CuMrDnYuJgY/s72-c/%25D8%25A7%25D9%2584%25D8%25A5%25D8%25B3%25D9%2584%25D8%25A7%25D9%2585.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-761503410559906563.post-6233313521209537458</id><published>2011-12-19T07:06:00.000-08:00</published><updated>2011-12-19T15:17:50.018-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Syubhat'/><title type='text'>Syubhat Hadits Tidak Pernah Ditulis Pada Masa Nabi</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-a-wCLpqsDr8/Tu9S7eMB5lI/AAAAAAAAAqI/AyjQsj-Bz3I/s1600/%25D8%25AA%25D8%25AF%25D9%2588%25D9%258A%25D9%2586.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://1.bp.blogspot.com/-a-wCLpqsDr8/Tu9S7eMB5lI/AAAAAAAAAqI/AyjQsj-Bz3I/s1600/%25D8%25AA%25D8%25AF%25D9%2588%25D9%258A%25D9%2586.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sebelum itu, perlu diketahui bahwa ada tiga kata yang memiliki makna serupa, namun berbeda penggunaannya dalam prosesnya, yakni Kitabah, Tadwin, dan Tashnif. Ketiga kata tersebut mirip maknanya dalam bahasa arab, namun memiliki perbedaan yang cukup signifikan dari prosesnya. Kata kitabah bermakna menulis, penulisan di sini memiliki makna yang mutlak, yaitu mencatat hadits-hadits yang didengar dari Rasulullah di pelepah kurma atau di kulit binatang dan lain sebagainya, dan proses kitabah hadits jenis ini telah ada sejak zaman Rasulullah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Adapun tadwin as-sunnah, maka bermakna proses pengumpulan hadits dan pembukuannnya dalam satu kitab. Proses ini dilakukan pada zaman khalifah Umar bin Abdil ‘Aziz [wafat tahun 101 H], yang mana beliau memerintahkan para ulama dibawah komando Ibnu Syihab az-Zuhri [wafat tahun 124/125 H] untuk mengumpulkan shahifah [lembaran] yang berisi hadits lalu dibukukan, proses ini disebut Tadwinus Sunnah atau Kodifikasi Sunnah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Adapun kata Tashnif, maka ini adalah pengembangan dari proses tadwin, maknanya adalah membukukan hadits dan mengumpulkannya sesuai dengan bab-nya, misalnya Kitabuz Zuhud karya Abdullah bin Mubarak [wafat 181 H], buku ini mengumpulkan hadits-hadits tentang zuhud saja atau Shahih Bukhari karya Imam al-Bukhari [wafat 256 H], buku ini mengumpulkan hadits sesuai dengan bab-nya, misalnya kitabul iman, maka akan mengumpulkan hadits-hadits tentang iman dalam satu bab, kitabul ‘Ilmi, maka akan mengumpulkan hadits-hadits tentang ilmu dalam bab ini dan seterusnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Proses Tashnif ini mencapai puncaknya pada masa Imam empat madzhab, dan masa ditulisnya Kutubus Sittah. Hendaknya orang yang mengklaim bahwa hadits tidak ditulis kecuali pada zaman Imam empat madzhab atau pada zaman Imam Bukhari dan lain sebagainya, memahami hal ini.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Nah, Kali ini kita akan menjawab beberapa syubhat yang dilontarkan oleh para orientalis yang menyatakan bahwa hadits yang ada di masa sekarang ini adalah tidak pernah ditulis pada masa Nabi &lt;sup&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=761503410559906563#1"&gt;[1]&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Mereka juga mengatakan bahwa tidak ada satu pun Hadits yang otentik dari Nabi shalallahu ’alaihi wa sallam, khususnya Hadits-hadits yang berkaitan dengan hukum Islam.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dari sinilah kemudian para orientalis mengepakkan sayapnya dengan cara mempengaruhi para cendekiawan muslim untuk merusak dan membuat tasykik atau keragu-raguan dalam ajaran Islam. Para penganut inkarus sunnah/penolak sunnah pun mengikuti langkah mereka. Mereka berpendapat bahwa Hadits tidak ditulis pada masa Nabi shalallahu ’alaihi wa sallam. Diantara argumen-argumen yang digunakan adalah Nabi shalallahu ’alaihi wa sallam melarang para Sahabat untuk menulis Hadits. Para Sahabat sendiri juga tidak mau menulis Hadits, bahkan diantara mereka ada yang membakar naskah-naskah Hadits seperti yang dilakukan oleh Abu Bakar As-Siddiq Radiallahu ‘Anhu. Umar bin Khattab Radiallahu ‘Anhu  juga pernah menginstruksikan para petugas beliau untuk membakar naskah-naskah Hadits. Semua itu membuktikan bahwa Islam tidak memerlukan Hadits.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jawaban dari syubhat ini adalah, bahwasanya mereka para orientalis hanya menyodorkan hadits-hadits yang melarang penulisan Hadits saja. Mereka tidak pernah menyebut Hadits-hadits yang menyuruh para Sahabat untuk menulis Hadits. Mereka juga tidak pernah meneliti keabsahan hadits-hadits yang melarang penulisan Hadits tersebut, meskipun hal ini wajar-wajar saja karena umumnya mereka itu bukan Ahlul Hadits. Namun demikian, apabila mereka mau meneliti keabsahan Hadits-hadits tersebut serta membandingkannya dengan Hadits yang lain yang justru mengizinkan, bahkan memerintahkan para Sahabat untuk menulis Hadits, maka pendirian mereka tentu akan menjadi lain. Apalagi Hadits-hadits jenis kedua yang mengizinkan ini jumlahnya lebih banyak daripada hadits-hadits jenis pertama.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Al-Khattib Al Baghdadi adalah orang yang paling banyak melakukan kajian terhadap Hadits-hadits tentang penulisan Hadits pada masa Nabi shalallahu ’alaihi wa sallam. Bukunya yang berjudul Taqyid al-ilm adalah buku yang paling bagus yang membahas masalah tersebut, dan sampai sekarang belum ada buku lain yang mengungguli buku Al-Baghdadi itu. Al-Baghdadi menuturkan, ada tiga buah Hadits yang melarang penulisan Hadits, masing-masing diriwayatkan oleh Abu Sa’id Al-Khudri, Abu Hurairah, dan Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhum. Dari ketiga jalur ini, yang dapat dipertanggungjawabkan keabsahannya hanyalah satu saja, yaitu Hadits yang berasal dari Abu Sa’id Al Khudri radhiyallahu ‘anhu. Yaitu Hadits yang berbunyi, &lt;/div&gt;&lt;div class="arabic" style="text-align: justify;"&gt;لاَ تَكْتُبُوْا عَنِّيْ غَيْرَ اْلقُرْآنِ وَمَنْ كَتَبَ عَنِّيْ غَيْرَ القُرْآنِ فَلْيَمْحُوْه&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Janganlah kalian menulis sesuatu dari padaku. Siapa yang menulis dari padaku selain Al-Qur’an, hendaklah ia menghapusnya”. Sementara dua buah Hadits yang lain tidak Shahih.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Namun larangan hanya bersifat temporer dan tidak permanen, hal ini disebabkan dua hal pokok berikut ini:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;1. Kuatnya kemampuan kabilah arab dalam menghafal, pasalnya mayoritas dari mereka  buta huruf [tidak bisa membaca dan menulis] &lt;sup&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=761503410559906563#2"&gt;[2]&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt;, maka mereka cenderung mengandalkan daya ingat dalam berinteraksi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;2. Kekhawatiran Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wasallam- akan bercampurnya al-qur’an dan hadits sehingga sulit untuk dibedakan&lt;sup&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=761503410559906563#3"&gt;[3]&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt;, dan larangan ini tidak berlaku bagi sahabat yang mampu membedakan antara keduanya, misalnya dengan memisahkan antara catatan yang berisi ayat-ayat al-qur’an dan catatan yang memuat hadits-hadits Nabi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pada masa yang sama, terdapat pula delapan Hadits yang mengizinkan, bahkan menyuruh para Sahabat untuk menulis Hadits. Antara lain pada waktu pembebasan kota Makkah, Nabi shalallahu ’alaihi wa sallam berpidato di hadapan umat Islam. Ketika itu ada seorang dari Yaman yang bernama Abu Syah minta kepada Nabi shalallahu ’alaihi wa sallam agar dituliskan pidato itu kepadanya. Nabi shalallahu ’alaihi wa sallam kemudian menyuruh para Sahabat, &lt;/div&gt;&lt;div class="arabic" style="text-align: justify;"&gt;اُكْتُبُوْا لِأَبِيْ شَاهْ&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Tuliskanlah untuk Abu Syah”. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kemudian sabda Rasulullah kepada Abdullah bin Amr bin Ash: &lt;/div&gt;&lt;div class="arabic" style="text-align: justify;"&gt;اُكْتُبْ فَوَالَّذِيْ نَفْسِيْ بِيَدِهِ مَا خَرَجَ مِنَ فِي إِلاَّ اْلحَقُّ&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Artinya: Tulislah, (karena) demi Dzat yang jiwaku berada ditangannya [Allah], tidaklah keluar dari lisanku kecuali kebenaran.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hadits-hadits yang memerintahkan penulisan Hadits ini secara umum juga dinilai Shahih. Karenanya, kini terdapat dua versi Hadits, yang satu melarang penulisan Hadits, dan yang kedua menyuruh penulisan Hadits. Dua versi Hadits ini tidak mungkin ditinggalkan semuanya, atau salah satunya, karena keduanya sama-sama kuat kualitasnya. Maka para ulama menempuh metode jamak, yaitu menggabungkan kedua versi Hadits tersebut dengan alternatif-alternatif sebagai berikut:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pertama, larangan penulisan Hadits itu dihapus dengan Hadits-hadits yang mengizinkan atau menyuruh penulisan Hadits. Kedua, larangan penulisan Hadits itu berlaku apabila hal itu dilakukan dalam satu lembar kertas bersama Al-Qur’an, karena bila ini terjadi dikhawatirkan al-Qur’an akan tercampur dengan Hadits.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dengan demikian argumen yang menyatakan bahwa Hadits tidak pernah ditulis di masa Nabi shalallahu ’alaihi wa sallam. karena terdapat Hadits yang melarangnya tidak dapat dibenarkan secara ilmiyah. Justru sebaliknya, Nabi shalallahu ’alaihi wa sallam pernah mengizinkan bahkan menyuruh para Sahabat untuk menulis Hadits.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Argumen lain yang menunjukkan tidak adanya kepenulisan Hadits di masa Nabi shalallahu ’alaihi wa sallam. adalah umat Islam pada zaman Nabi shalallahu ’alaihi wa sallam adalah buta huruf, tidak dapat membaca dan menulis. Hal ini berdasarkan Hadits Nabi shalallahu ’alaihi wa sallam, “Kami adalah umat yang Ummi (buta huruf), tidak dapat menulis dan menghitung. Satu bulan adalah sekian, sekian”.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hadits ini memang shahih, diriwayatkan oleh Imam Bukhari. Tetapi apakah ia harus dipahami secara harfiyah seperti itu? Sebagai umat secara umum memang benar dapat disebut buta huruf, namun secara individual apakah semua orang buta huruf? Bukankah diantara mereka banyak yang pandai membaca dan menulis? Bukankah diantara mereka ada yang mendapat predikat sebagai penulis-penulis wahyu? Apabila Hadits itu dipahami secara harfiyah, maka bagaimana mereka menulis Al-Qur’an? Bagaimana pula Nabi shalallahu ’alaihi wa sallam mengirimkan surat kepada raja-raja di sekitar Arab untuk menyeru mereka masuk Islam?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Oleh karena itu, Hadits tersebut harus diartikan bahwa mayoritas umat Islam pada waktu itu masih buta huruf. Sementara sebagian kecil dari mereka dapat membaca dan menulis, dan jumlah ini sudah cukup untuk memenuhi keperluan mereka.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Adalagi argumen yang mereka lontarkan untuk mengingkari kepenulisan Hadits di masa Nabi shalallahu ’alaihi wa sallam yaitu Hadits Nabi shalallahu ’alaihi wa sallam disebarkan dari generasi ke generasi melalui lisan. Sebagai bukti adalah, pertama: Imam Malik berkata, “Orang yang pertama kali menulis Hadits adalah Imam az-Zuhri”, dan yang kedua, para ahlul Hadits dalam menyebarkan Hadits selalu memakai ungkapan akhbarona yang artinya telah menghabarkan kepada kami.. dan yang semisal. Semua itu membuktikan bahwa Hadits tidak pernah ditulis pada masa Nabi shalallahu ’alaihi wa sallam dan baru ditulis pada abad kedua hijriah. Oleh karena itu, keabsahannya diragukan, dan karenanya tidak dapat dijadikan sebagai sumber ajaran Islam.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tampaknya mereka tidak banyak menengok sejarah para Sahabat, sebab tidak kurang dari lima puluh dua Sahabat memiliki tulisan-tulisan Hadits dari Nabi shalallahu ’alaihi wa sallam. Ini berarti Hadits sudah ditulis oleh para Sahabat jauh sebelum masa az-Zuhri. Karenanya, ungkapan Imam Malik bahwa orang yang pertama kali menulis Hadits itu adalah az-Zuhri, perlu diluruskan pengertiannya menjadi orang yang pertama kali mengumpulkan tulisan-tulisan Hadits adalah az-Zuhri.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tentang istilah-istilah akhbarona dan lain-lain yang dipakai oleh ahli-ahli hadits dalam mengajarkan dan meriwayatkan Hadits, maka hal itu tidak semata-mata menunjukkan penyebaran Hadits secara lisan, melainkan juga menunjukkan adanya penyebaran Hadits secara tulisan berdasarkan kitab atau catatan-catatan Hadits.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Demikianlah argumen-argumen kelompok penolak Sunnah yang ingin menunjukkan bahwa Hadits tidak pernah ditulis di masa Nabi shalallahu ’alaihi wa sallam sehingga tidak bisa dijadikan sumber ajaran Islam. Satu per satu alasan mereka gugur karena setelah diteliti dan ternyata tidak bisa dibuktikan secara ilmiyah. Oleh karena itu, pemikiran untuk menolak keabsahan Hadits sebagai sumber ajaran Islam yang dibangun dari argumen-argumen tersebut dengan sendirinya telah runtuh.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Semoga Alloh Subhanahu wa Ta’ala menambah kecintaan kita kepada hadits-hadits Rosululloh shalallahu ’alaihi wa sallam, mempelajarinya kemudian mengamalkannya dalam kehidupan dengan penuh keikhlasan dan keistiqomahan. Wallohu a’lam…..&lt;sup&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=761503410559906563#3"&gt;[4]&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="footnote" style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=761503410559906563&amp;amp;postID=6233313521209537458&amp;amp;from=pencil" name="1"&gt;[1]&lt;/a&gt; http://markazassunnah.wordpress.com/2011/07/18/tarikh-penulisan-%E2%80%98ulumul-hadits-bagian-kedua/&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=761503410559906563&amp;amp;postID=6233313521209537458&amp;amp;from=pencil" name="2"&gt;[2]&lt;/a&gt;Tuhfatul Ahwadzi, karya Muhammad bin Abdirrahman al-Mubarakfuri -rahimahullah-, muqaddimah hal. 73.&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=761503410559906563&amp;amp;postID=6233313521209537458&amp;amp;from=pencil" name="3"&gt;[3]&lt;/a&gt;Silahkan merujuk kitab Miftahus Sunnah, karya Muhammad bin Abdil ‘Aziz al-Khulii, hal. 16.&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=761503410559906563&amp;amp;postID=6233313521209537458&amp;amp;from=pencil" name="4"&gt;[4]&lt;/a&gt;http://blog.fajrifm.com&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/761503410559906563-6233313521209537458?l=alistiba.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://alistiba.blogspot.com/feeds/6233313521209537458/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://alistiba.blogspot.com/2011/12/syubhat-hadits-tidak-pernah-ditulis.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/761503410559906563/posts/default/6233313521209537458'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/761503410559906563/posts/default/6233313521209537458'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alistiba.blogspot.com/2011/12/syubhat-hadits-tidak-pernah-ditulis.html' title='Syubhat Hadits Tidak Pernah Ditulis Pada Masa Nabi'/><author><name>Abu abdirrahman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05301770063388687354</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/-1rkmfDMbj9g/TtiXyO-Rh_I/AAAAAAAAAoM/iPGpqXo-kow/s220/Ittiba%2527.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-a-wCLpqsDr8/Tu9S7eMB5lI/AAAAAAAAAqI/AyjQsj-Bz3I/s72-c/%25D8%25AA%25D8%25AF%25D9%2588%25D9%258A%25D9%2586.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-761503410559906563.post-1799364161063881092</id><published>2011-12-17T15:43:00.000-08:00</published><updated>2011-12-19T05:33:14.391-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Manhaj'/><title type='text'>Ketahuilah, Cadar, Celana gantung dan Jenggot bukan Ciri-ciri Teroris!!!</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ketahuilah wahai kaum muslimin, memakai cadar bagi wanita muslimah, mengangkat celana hingga tidak menutupi mata kaki dan membiarkan jenggot tumbuh bagi seorang laki-laki muslim adalah bagian dari ajaran agama dan tidak ada hubungannya sama sekali dengan terorisme, sebagaimana yang akan kami jelaskan bukti-buktinya &lt;i&gt;-insya  Allah-&lt;/i&gt; dari Al-Qur’an dan As-Sunnah serta penjelasan para ulama  umat.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Benar bahwa sebagian teroris juga mengamalkan ajaran-ajaran agama ini, namun apakah setiap yang mengamalkannya dituduh teroris? Kalau begitu, bersiaplah menjadi bangsa yang teramat dangkal pemahamannya. Maka inilah keterangan ringkas yang &lt;i&gt;insya  Allah&lt;/i&gt; dapat meluruskan kesalahpahaman.&lt;span id="more-2474"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="wp-caption alignleft" style="width: 80px;"&gt;&lt;div class="wp-caption-text"&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;h3 style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://nasihatonline.files.wordpress.com/2010/07/cadar2.jpg" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img alt="" height="116" src="http://nasihatonline.files.wordpress.com/2010/07/cadar2.jpg?w=70&amp;amp;h=116&amp;amp;h=116" title="cadar2" width="70" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Pertama&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;:  Dasar syari’at menggunakan cadar bagi wanita muslimah&lt;/b&gt;&lt;b&gt; &lt;/b&gt;&lt;/h3&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div class="arabic"&gt;يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang mukmin, hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (&lt;b&gt;Al-Ahzab:  59&lt;/b&gt;)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Perhatikanlah, ayat ini memerintahkan  para wanita untuk menutup seluruh tubuh mereka tanpa kecuali. &lt;b&gt;Al-Imam  As-Suyuthi&lt;/b&gt; &lt;i&gt;rahimahullah&lt;/i&gt; berkata, “Ayat hijab ini berlaku bagi seluruh wanita, di dalam ayat ini terdapat dalil kewajiban menutup kepala dan wajah bagi wanita.” (Lihat &lt;b&gt;&lt;i&gt;Hirasatul  Fadhilah&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;, hlm. 51 karya &lt;b&gt;Asy-Syaikh Bakr bin  Abdullah Abu Zaid&lt;/b&gt; &lt;i&gt;rahimahullah&lt;/i&gt;)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Juga firman Allah Ta’ala:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div class="arabic"&gt;وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى  جُيُوبِهِنَّ &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Dan hendaklah mereka menutupkan kain  kudung (sampai) ke dadanya.” (An-Nur: 31)&lt;b&gt; &lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Ummul Mukminin Aisyah&lt;/b&gt; &lt;i&gt;radhiyallahu’anha&lt;/i&gt; berkata, “Semoga Allah Ta’ala merahmati para wanita generasi awal kaum Anshar. Ketika Allah Ta’ala menurunkan ayat, “Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung (sampai) ke dadanya.” (An-Nur: 31), maka mereka langsung memotong-motong kain mereka dan ber&lt;i&gt;ikhtimar&lt;/i&gt; (menutup  wajah) dengannya.” (&lt;b&gt;HR. Al-Bukhari&lt;/b&gt;, no. 4480)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Al-Hafiz Ibnu Hajar&lt;/b&gt; &lt;i&gt;rahimahullah&lt;/i&gt; menerangkan makna ber&lt;i&gt;ikhtimar&lt;/i&gt; dalam hadits di atas adalah,  “Para wanita sahabat Anshar menutup wajah mereka.” (&lt;b&gt;Fathul Bari&lt;/b&gt;,  8/490)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="wp-caption alignleft" style="width: 114px;"&gt;&lt;div class="wp-caption-text"&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;h3 style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Kedua&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;:  Dasar kewajiban mengangkat celana hingga tidak menutupi mata kaki bagi  laki-laki muslim&lt;/b&gt;&lt;b&gt; &lt;/b&gt;&lt;/h3&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://nasihatonline.files.wordpress.com/2010/07/isbal2.jpg" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img alt="" height="89" src="http://nasihatonline.files.wordpress.com/2010/07/isbal2.jpg?w=104&amp;amp;h=89&amp;amp;h=89" title="isbal2" width="104" /&gt;&lt;/a&gt;Banyak sekali dalil yang melarang isbal (memanjangkan pakaian sampai menutupi mata kaki bagi laki-laki). Diantaranya sabda Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam dalam hadits &lt;b&gt;Abu  Hurairah&lt;/b&gt; &lt;i&gt;radhiyallahu’anhu&lt;/i&gt;:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div class="arabic"&gt;ما أسفل من الكعبين من الإزار ففي النار&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Bagian kain sarung yang terletak di  bawah kedua mata kaki maka tempatnya neraka.” (&lt;b&gt;HR. Al-Bukhari&lt;/b&gt;,  no. 5450)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Juga sabda Nabi shallallahu’alaihi wa  sallam dalam hadits &lt;b&gt;Abu Dzar&lt;/b&gt; &lt;i&gt;radhiyallahu’anhu&lt;/i&gt;:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div class="arabic"&gt;ثَلاَثَةٌ لاَ يُكَلِّمُهُمُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلاَ يَنْظُرُ إِلَيْهِمْ وَلاَ يُزَكِّيهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ قَالَ فَقَرَأَهَا رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ثَلاَثَ مِرَارٍ قَالَ أَبُو ذَرٍّ خَابُوا وَخَسِرُوا مَنْ هُمْ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ الْمُسْبِلُ وَالْمَنَّانُ وَالْمُنَفِّقُ سِلْعَتَهُ بِالْحَلِفِ الْكَاذِبِ&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Ada tiga golongan yang tidak akan diajak bicara oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala di hari kiamat. Tidak dilihat (dengan pandangan rahmat), tidak disucikan dan akan mendapatkan azab yang pedih (dikatakan sebanyak tiga kali). Berkata Abu Dzar, “Mereka telah celaka dan merugi, siapa mereka itu wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “Mereka adalah seorang yang memanjangkan pakaiannya sampai menutupi mata kaki,&amp;nbsp; seorang pengungkit pemberian dan seorang yang menjual barang dagangannya dengan sumpah palsu.” (&lt;b&gt;HR.  Muslim&lt;/b&gt;, no. 306)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="wp-caption alignleft" style="width: 120px;"&gt;&lt;div class="wp-caption-text"&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;h3 style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Ketiga&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;:  Dasar kewajiban membiarkan jenggot tumbuh bagi laki-laki muslim&lt;/b&gt;&lt;b&gt; &lt;/b&gt;&lt;/h3&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://nasihatonline.files.wordpress.com/2010/07/jenggot2.jpg" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img alt="" height="80" src="http://nasihatonline.files.wordpress.com/2010/07/jenggot2.jpg?w=110&amp;amp;h=80&amp;amp;h=80" title="jenggot2" width="110" /&gt;&lt;/a&gt;Dalam hadits &lt;b&gt;Abdullah bin Umar&lt;/b&gt; &lt;i&gt;radhiyallahu’anhuma&lt;/i&gt;, Nabi shallallahu’alaihi wa sallam  bersabda:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div class="arabic"&gt;خالفوا المشركين وفروا اللحى وأحفوا  الشوارب&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Berbedalah dengan orang-orang musyrik;  biarkan jenggot tumbuh lebat dan potonglah kumis.” (HR. Al-Bukhari, no.  5553)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Juga dalam hadits &lt;b&gt;Abdullah bin  Umar&lt;/b&gt; &lt;i&gt;radhiyallahu’anhuma&lt;/i&gt;, Nabi shallallahu’alaihi wa  sallam bersabda:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div class="arabic"&gt;أحفوا الشوارب وأعفوا اللحى &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Potonglah kumis dan biarkanlah  jenggot.” (&lt;b&gt;HR. Muslim&lt;/b&gt;, no. 623)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dan masih banyak hadits lain yang menunjukkan perintah Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam untuk membiarkan jenggot tumbuh, sedangkan “perintah” hukum asalnya adalah “wajib” sepanjang tidak ada dalil yang “memalingkannya” dari hukum asal.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Demikianlah penjelasan ringkas dari kami, semoga setelah mengetahui ini kaum muslimin lebih berhati-hati lagi dalam menyikapi orang-orang yang mengamalkan sejumlah kewajiban di atas. Tentu sangat tidak bijaksana apabila kita mengeneralisir setiap orang yang tampak kesungguhannya dalam menjalankan agama sebagai teroris atau bagian dari jaringan teroris.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Peringatan:&lt;/b&gt; Ketahuilah wahai kaum muslimin, minimal ada dua resiko berbahaya apabila seorang mencela dan membenci satu kewajiban agama atau mencela dan membenci orang-orang yang mengamalkannya:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Pertama&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;:&lt;/i&gt; Berbuat zalim kepada wali-wali Allah, sebab wali-wali Allah yang hakiki adalah orang-orang yang senantiasa menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, baik perintah itu wajib maupun sunnah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Allah Ta’ala berfirman:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div class="arabic"&gt;أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا  خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا  يَتَّقُونَ&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa.” (&lt;b&gt;Yunus: 62-63&lt;/b&gt;)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jangan sampai kita berbuat dua kesalahan sekaligus; tidak mengamalkan kewajiban dari Allah Ta’ala, masih ditambah lagi dengan perbuatan zalim kepada orang-orang yang mengamalkan kewajiban tersebut.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Barangsiapa yang memusuhi wali Allah,  dia akan mendapatkan kemurkaan Allah ‘Azza wa Jalla. Dalam hadits &lt;b&gt;Abu  Hurairah&lt;/b&gt; &lt;i&gt;radhiyallahu’anhu&lt;/i&gt;, Rasulullah  shallallahu‘alaihi wa sallam bersabda:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div class="arabic"&gt;إِنَّ اللَّهَ قَالَ مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا وَإِنْ سَأَلَنِي لَأُعْطِيَنَّهُ وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِي لَأُعِيذَنَّهُ &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman, “Barangsiapa yang memusuhi wali-Ku maka Aku umumkan perang terhadapnya. Tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih aku cintai daripada amal yang Aku wajibkan kepadanya. Dan senantiasa hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan amal-amal sunnah sampai Aku mencintainya. Apabila Aku sudah mencintainya maka Akulah pendengarannya yang dia gunakan untuk mendengar, Akulah pandangannya yang dia gunakan untuk melihat, Akulah tangannya yang dia gunakan untuk berbuat, Akulah kakinya yang dia gunakan untuk melangkah. Kalau dia meminta kepada-Ku pasti akan Aku beri. Dan kalau dia meminta perlindungan kepada-Ku pasti akan Aku lindungi”.” (HR. Bukhari, no. 6137)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Faidah&lt;/b&gt;:  Para ulama menjelaskan bahwa makna, “&lt;i&gt;Akulah pendengarannya yang dia gunakan untuk mendengar, Akulah pandangannya yang dia gunakan untuk melihat, Akulah tangannya yang dia gunakan untuk berbuat, Akulah kakinya yang dia gunakan untuk melangkah”&lt;/i&gt; adalah hidayah dari Allah Ta’ala kepada wali-Nya sehingga ia tidak mendengar kecuali yang diridhai Allah, tidak melihat kepada apa yang diharamkan Allah, dan tidak menggunakan kaki dan tangannya kecuali untuk melakukan kebaikan (lihat &lt;b&gt;Syarhul  Arba’in An-Nawawiyah&lt;/b&gt;, hadits ke-38 oleh &lt;b&gt;Asy-Syaikh  Al-’Utsaimin&lt;/b&gt; &lt;i&gt;rahimahullah&lt;/i&gt;).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Kedua&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;:&lt;/i&gt; Perbuatan tersebut bisa menyebabkan kekafiran, sebab mencela dan mengolok-olok ajaran agama atau mengolok-olok orang-orang yang menjalankannya&amp;nbsp; (karena mereka mengamalkan ajaran agama) termasuk kekafiran kepada Allah Ta’ala.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul  Wahhab&lt;/b&gt; &lt;i&gt;rahimahullah&lt;/i&gt; berkata, “Barangsiapa yang mengolok-olok satu bagian dari ajaran Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam, atau mengolok-olok pahalanya maupun siksanya maka dia telah kafir.” (&lt;b&gt;Nawaqidul Islam&lt;/b&gt;, ke-6)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Berdasarkan firman Allah Ta’ala:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div class="arabic"&gt;وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ قُلْ أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ لَا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan menjawab, “Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja”. Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?” Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman.” (&lt;b&gt;At-Taubah: 65-66&lt;/b&gt;)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Demikian pula, membenci satu bagian dari syari’at Allah Jalla wa ‘Ala, baik yang wajib maupun yang sunnah, atau membenci pelakunya (disebabkan karena syari’at yang dia amalkan) merupakan kekafiran kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul  Wahhab&lt;/b&gt; &lt;i&gt;rahimahullah&lt;/i&gt; berkata, “Barangsiapa membenci suatu ajaran yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam walaupun dia mengamalkannya, maka dia telah kafir.” (&lt;b&gt;Nawaqidul  Islam&lt;/b&gt;, ke-5)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Berdasarkan firman Allah Subhanahu wa  Ta’ala:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div class="arabic"&gt;ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ كَرِهُوا مَا أَنْزَلَ  اللَّهُ فَأَحْبَطَ أَعْمَالَهُمْ &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Demikianlah (mereka kafir) karena mereka benci kepada apa yang diturunkan Allah, lalu Allah menghapuskan amalan-amalan mereka.” (&lt;b&gt;Muhammad: 9&lt;/b&gt;)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Maka berhati-hatilah wahai kaum Muslimin  dari kemurkaan Allah ‘Azza wa Jalla.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kemudian kepada Ikhwan dan Akhwat yang telah diberikan hidayah oleh Allah Ta’ala untuk dapat menjalankan kewajiban-kewajiban di atas, hendaklah kalian bersabar dan tetap &lt;i&gt;tsabat&lt;/i&gt; (kokoh) di atas sunnah, karena memang demikianlah konsekuensi keimanan,  mesti ada ujian yang menyertainya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dan wajib bagi kalian untuk senantiasa menuntut ilmu agama dan menjelaskan kepada umat dengan hikmah dan lemah lembut disertai &lt;i&gt;hujjah&lt;/i&gt; (argumen) yang kuat agar terbuka hati  mereka &lt;i&gt;-insya Allah-&lt;/i&gt; untuk menerima kebenaran berlandaskan  Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan pemahaman &lt;i&gt;salaful ummah&lt;/i&gt;, bukan  pemahaman teroris.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Wallahul Musta’an.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sumber : http://abangdani.wordpress.com&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/761503410559906563-1799364161063881092?l=alistiba.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://alistiba.blogspot.com/feeds/1799364161063881092/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://alistiba.blogspot.com/2011/12/ketahuilah-cadar-celana-ngatung-dan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/761503410559906563/posts/default/1799364161063881092'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/761503410559906563/posts/default/1799364161063881092'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alistiba.blogspot.com/2011/12/ketahuilah-cadar-celana-ngatung-dan.html' title='Ketahuilah, Cadar, Celana gantung dan Jenggot bukan Ciri-ciri Teroris!!!'/><author><name>Abu abdirrahman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05301770063388687354</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/-1rkmfDMbj9g/TtiXyO-Rh_I/AAAAAAAAAoM/iPGpqXo-kow/s220/Ittiba%2527.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-761503410559906563.post-4396642562273672741</id><published>2011-12-14T11:18:00.000-08:00</published><updated>2011-12-14T11:18:52.303-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='AqidaH'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Syiah'/><title type='text'>Bahaya Syiah</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-kXI-ULiqWuo/Tujz5Te3QlI/AAAAAAAAAp8/GysXUY4ehwM/s1600/Bahaya+syiah.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="227" src="http://4.bp.blogspot.com/-kXI-ULiqWuo/Tujz5Te3QlI/AAAAAAAAAp8/GysXUY4ehwM/s400/Bahaya+syiah.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Melihat begitu bahayanya Syiah yang bisa memepengaruhi ukhuwah Islamiyah khususnya di Indonesia, dan masih kurangnya pemahaman sebagian besar umat ini terhadap Firqoh sesat ini, maka berikut kami kutipkan artikel dari &lt;a href="http://muslim.or.id/"&gt;muslim.or.id&lt;/a&gt; tentang bahaya Syiah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Selamat menyimak&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Mayoritas kaum muslimin menilai bahwa menentukan sikap terhadap  Syi’ah adalah sesuatu yang sulit dan membingungkan. Kesulitan ini  terpulang kepada banyak hal. Di antaranya karena kurangnya informasi  tentang Syi’ah. Syi’ah menurut mayoritas kaum muslimin adalah eksistensi  yang tidak jelas. Tidak diketahui apa hakikatnya, bagaimana ia  berkembang, tidak melihat bagaimana masa lalunya, dan tidak dapat  diprediksi bagaimana di kemudian hari. Berangkat dari sini, sangat  banyak di antara kaum muslimin yang meyakini Syi’ah tak lain hanyalah  salah satu mazhab Islam, seperti mazhab Syafi’i, Maliki dan sejenisnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span id="more-654"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;blockquote class="tr_bq"&gt; &lt;i&gt;&lt;span style="background-color: #f4cccc;"&gt;Ia tidak memandang bahwa perbedaan antara Sunnah dan Syi’ah bukan pada  masalah furu’ (parsial) saja, akan tetapi banyak juga menyinggung  masalah ushul (fundamental).&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote style="background-color: #f4cccc;"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;Hal lain yang menyulitkan untuk menentukan sikap terhadap Syi’ah  adalah; bahwa mayoritas kaum muslimin tidak bersikap realistis dan  praktis. Mereka sekedar berangan-angan dan berharap tanpa mengkaji…&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dengan bahasa yang sok logis, sebagian kaum muslimin mengatakan: &lt;em&gt;“Lho,  mengapa harus terjadi perselisihan? Ayolah kita duduk bersama dan  melupakan perselisihan di antara kita… yang Sunni meletakkan tangannya  di atas yang Syi’i dan berjalan sama-sama. Toh kita semua juga beriman  kepada Allah, Rasul-Nya dan hari kiamat?”&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Orang ini lalai bahwa masalah yang sesungguhnya jauh lebih rumit dari ini…&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sebagai contoh, orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir namun  menghalalkan khamr (miras) atau zina misalnya, hukumnya kafir.  Menghalalkan maksudnya memandang bahwa hal tersebut boleh-boleh saja,  dan mengingkari pengharamannya dalam Al Qur’an atau Sunnah Nabi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Nah berangkat dari asumsi ini, kita akan melihat hal-hal yang sangat  berbahaya dalam sejarah kaum Syi’ah, yang mengharuskan para ulama Islam  untuk merenung kembali dan menentukan sudut pandang Islam terhadap  bid’ah-bid’ah kaum Syi’ah yang demikian besar.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hal lain yang turut merumitkan masalah ini adalah; banyaknya luka  Islam di mayoritas negeri kaum muslimin, di samping banyaknya yang  memusuhi mereka dari kalangan Yahudi, Nasrani, kaum salibis, komunis,  Hindu dan sebagainya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dari sini, sebagian mereka yang ‘intelek’ memandang agar kita jangan  membuka front permusuhan baru. Hal ini bisa saja dibenarkan jika front  tersebut mulanya tertutup lalu kita berusaha membukanya. Namun jika  sejak semula telah terbuka lebar dan serangan mereka datang siang dan  malam, maka mendiamkan hal tersebut berarti suatu kehinaan…&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kita tidak perlu lagi mengulang pertanyaan yang sering dilontarkan kebanyakan orang: &lt;em&gt;&amp;nbsp;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;“Apakah mereka (Syi’ah) lebih berbahaya dari Yahudi?”&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sebab hakikat dari pertanyaan ini adalah untuk membungkam lisan  mereka yang sadar akan penderitaan umat, sekaligus membikin kikuk mereka  yang berusaha menjaga dan melindungi kaum muslimin.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Saya akan menyanggah mereka dan mengatakan kepada mereka: &lt;em&gt;“Memang  apa salahnya kalau umat Islam menghadapi dua bahaya yang mengintai  secara bersamaan? Apakah muslimin Ahlussunnah yang mencari-cari alasan  untuk menyerang Syi’ah, ataukah realita di lapangan membuktikan berulang  kali bahwa merekalah yang memulai serangan?”&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kita menyaksikan gencarnya serangan Syi’ah terhadap umat Islam, dan  saya rasa realita kita saat ini tak jauh berbeda dengan masa lampau.  Bahkan saya bersaksi bahwa sejarah akan mengulangi dirinya, dan generasi  muda akan mewarisi dendam kesumat nenek moyang mereka.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tak ada kebaikan sedikit pun yang bisa diharapkan dari kelompok yang  menganggap bahwa 99% sahabat Nabi adalah bejat, mengingat hal itu  merupakan pengingkaran yang nyata akan sabda Rasulullah &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; :&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;“Sebaik-baik generasi adalah generasiku.”&lt;/em&gt; (HR. Bukhari no 3451 dan Muslim no 2533)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Bukhari, Muslim dan yang lainnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Realita Syi’ah –dari dulu sampai sekarang- adalah amat sangat menyakitkan…&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Mari kita tengok kembali beberapa masalah yang akan menjadikan visi  kita lebih jelas, sehingga dapat membantu kita untuk menentukan sikap  paling tepat yang mesti kita ambil terhadap Syi’ah; lalu kita tahu:  lebih baik bicara ataukah diam saja!&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;PERTAMA: &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Semua orang tahu bahwa sikap Syi’ah terhadap para sahabat Nabi &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; mulai dari Abu Bakar Ash Shiddiq, Umar Al Faruq, Utsman Dzin Nuurain, lalu isteri-isteri Nabi &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; terutama Aisyah &lt;em&gt;radhiallahu ‘anha&lt;/em&gt;  hingga para sahabat secara umum, sebagaimana yang dinyatakan  terang-terangan oleh referensi dan narasumber mereka yang telah mereka  yakini; adalah bahwa para sahabat tadi adalah orang-orang fasik dan  murtad. Mayoritas mereka telah sesat dan berusaha menyembunyikan serta  menyelewengkan ajaran Islam.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dari sini apakah kita harus mengawasi dan diam saja ‘demi menghindari fitnah’?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Fitnah apakah yang lebih besar dari pada menuduh generasi teladan sebagai masyarakat ‘bejat dan pendusta’?!?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Marilah kita merenungi sama-sama perkataan bijak salah seorang sahabat yang bernama Jabir bin Abdillah &lt;em&gt;radhiallahu ‘anhu&lt;/em&gt;:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“إذا لَعَنَ آخرُ هذه الأمَّة أوَّلها، فَمَنْ كان عنده علمٌ فليظْهره،  فإنَّ كاتم ذلك ككاتم ما أُنزل على محمدٍ صلى الله عليه وسلم”.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;“Bila umat Islam di akhir zaman mulai melaknat pendahulunya, maka  siapa saja yang berilmu hendaklah menunjukkan ilmunya. Bila ia  menyembunyikan, maka ia seperti yang menyembunyikan ajaran Muhammad &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt;.”&lt;/i&gt; (Nisbat riwayat ini kepada Nabi sanadnya dha’if, namun riwayat ini adalah dari perkataan Jabir bin Abdillah)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bisakah Anda menangkap kedalaman makna ucapan ini?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hujatan terhadap generasi sahabat bukan sekedar hujatan terhadap  mereka yang telah tiada… tidak juga seperti ucapan sebagian orang bahwa:  “Hujatan tersebut tidak berbahaya bagi para sahabat, karena mereka  telah masuk Surga meski Syi’ah tidak suka.” Akan tetapi bahaya besar di  balik ucapan ini ialah karena hujatan terhadap para sahabat pada  hakikatnya adalah hujatan terhadap Islam secara langsung. Sebab kita  tidak mendapatkan ajaran Islam kecuali melalui para sahabat &lt;em&gt;radhiyallahu ‘anhum&lt;/em&gt;.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kalau berbagai hujatan yang menimbulkan keraguan akan akhlak, niat,  dan perbuatan para sahabat dibiarkan; lantas agama model apa yang akan  kita anut?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hilanglah agama kita kalau kita terima semua itu… hilanglah hadits-hadits Rasulullah &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; dan ajaran beliau.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Justeru kita bertanya kepada &lt;a href="http://muslim.or.id/manhaj-salaf/awas-syiah-mengancam-kita.html" title="Awas ancaman Syiah"&gt;Syi’ah&lt;/a&gt;:&lt;/strong&gt;  “Al Qur’an apa yang kalian baca sekarang? Bukankah yang menyampaikannya  adalah mayoritas sahabat yang kalian hujat? Bukankah yang berjasa  mengumpulkannya adalah Abu Bakar Ash Shiddiq &lt;em&gt;radhiallahu ‘anhu&lt;/em&gt;,  yang kalian anggap berbuat licik untuk menjadi khalifah? Lantas mengapa  ia tidak merubah-rubah Al Qur’an sebagaimana merubah-rubah Sunnah  menurut tuduhan kalian?”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Rasulullah &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; bersabda dalam sebuah hadits:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“عَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ المهديين مِنْ بَعْدِي”.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;“Kalian wajib berpegang teguh pada Sunnahku dan Sunnahnya Khulafa’ur Rasyidin yang telah mendapat hidayah sepeninggalku.”&lt;/em&gt; (HR. Tirmidzi no 2676, Ibnu Majah no 42 dan Ahmad no 17184)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jadi, Sunnah Khulafa’ur Rasyidien adalah bagian tak terpisahkan dari  agama Islam. Hukum dan sikap yang diputuskan oleh Abu Bakar, Umar,  Utsman dan Ali adalah hujjah (dalil) bagi setiap muslim, kapan, di mana  pun, dan sampai hari kiamat… lantas bagaimana mungkin hujatan terhadap  mereka kita biarkan?!&lt;br /&gt;Sebab itulah, ulama-ulama kita yang mulia demikian berang bila mendengar  ada orang yang berani menghujat sahabat. Imam Ahmad bin Hambal  misalnya, beliau pernah mengatakan:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;إذا رأيت أحدًا يذكر أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم بسوءٍ، فاتهمه على الإسلام&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Kalau engkau mendapati seseorang berani menyebut para sahabat dengan tidak baik, maka tuduhlah dia sebagai musuh Islam.” (&lt;em&gt;Ash Sharimul Maslul ‘ala Syaatimir Rasul&lt;/em&gt; 3/1058 oleh Ibnu Taimiyyah)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Al Qadhi Abu Ya’la (salah seorang fuqaha mazhab Hambali) mengatakan:  “Para fuqaha sepakat bahwa orang yang mencaci-maki para sahabat tak  lepas dari dua kondisi: kalau dia menghalalkan hal tersebut maka  dianggap kafir, namun jika tidak menghalalkannya maka dianggap fasik  (bejat)” (Ibid, 3/1061)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Abu Zur’ah Ar Razi (salah seorang pakar hadits yang wafat th 264 H) mengatakan:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“إذا رأيتَ الرجلَ ينتقص من أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم، فاعلم أنّه زنديق”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Kalau engkau mendapati seseorang mengkritik sahabat Nabi saw, maka ketahuilah bahwa dia itu Zindiq (munafik).” (&lt;em&gt;Al Kifayah fi ‘Ilmir Riwayah&lt;/em&gt; hal 49 oleh Al Khatib Al Baghdadi)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sedangkan Ibnu Taimiyyah berkata: “Barang siapa menganggap bahwa para sahabat telah murtad sepeninggal Rasulullah &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam &lt;/em&gt;kecuali  segelintir orang yang jumlahnya tak sampai belasan orang, atau  menganggap fasik (bejat) mayoritas sahabat; maka orang ini kekafirannya  tidak diragukan lagi.” (&lt;em&gt;Ash Sharimul Maslul&lt;/em&gt; 3/1110 oleh Ibnu Taimiyyah)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sikap yang keras terhadap para penghujat sahabat ini, tak lain adalah  karena para sahabatlah yang menyampaikan agama ini kepada kita. Kalau  salah seorang dari sahabat dihujat, berarti Islam jadi meragukan.  Mengingat banyaknya pujian yang Allah berikan kepada mereka dalam Al  Qur’an, maupun dalam Sunnah Nabi-Nya, jelaslah bahwa orang yang  menghujat para sahabat berarti mendustakan ayat-ayat dan hadits yang  cukup banyak tadi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Mungkin ada yang berkata: &lt;em&gt;“Lho, kami tidak pernah mendengar si Fulan dan si Fulan yang Syi’ah itu menghujat para sahabat?”&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Kepada mereka, kami ingin agar memperhatikan poin-poin berikut:&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pertama: Kaum Syi’ah Itsna Asyariyah pada dasarnya meyakini bahwa  para sahabat telah bersekongkol melawan Ali bin Abi Thalib, Ahlul Bait,  dan Imam-imam yang diyakini oleh mereka. Intinya, tidak ada seorang  Syi’i pun (baik di Iran, Irak, maupun Lebanon) melainkan ia meyakini  kefasikan para sahabat. Sebab jika mereka menganggap para sahabat adalah  orang shalih, hancurlah rukun iman mereka sebagai Syi’ah. Jadi, telah  menjadi suatu keniscayaan pabila setiap orang &lt;a href="http://muslim.or.id/manhaj-salaf/awas-syiah-mengancam-kita.html" title="Awas ancaman Syiah"&gt;Syi’ah&lt;/a&gt;  baik pejabat, ulama, maupun rakyat jelata untuk bersikap tidak hormat  kepada para sahabat, dan tidak menerima agama yang mereka bawa dalam  bentuk apa pun.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kedua: Tokoh-tokoh Syi’ah senantiasa mengelak untuk menampakkan  kebencian mereka kepada para sahabat, meski terkadang nampak juga dalam  sebagian statemen atau perilaku mereka, sebagaimana firman Allah:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;لَتَعْرِفَنَّهُمْ فِي لَحْنِ الْقَوْلِ&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;“Dan kamu benar-benar akan mengenal mereka dari kiasan-kiasan perkataan mereka.”&lt;/em&gt; (Qs Muhammad: 30)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Banyak di antara kita yang menyaksikan debat antara DR. Yusuf Al  Qardhawi dengan Rafsanjani (mantan presiden Iran) di TV Al Jazeera. Kita  sama-sama menyaksikan bagaiman Rafsanjani selalu mengelak dari setiap  usaha DR. Qardhawi agar ia menyebut sahabat dan ummahatul mukminin  (isteri-isteri Nabi) dengan baik.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dan ketika Khamenei (pemimpin Revolusi Iran sekarang) ditanya tentang  hukum mencaci-maki para sahabat, dia tidak mengatakan bahwa hal itu  keliru atau haram. Namun ia menjawab secara dusta dengan berkata: “Semua  perkataan yang mengakibatkan perpecahan di antara kaum muslimin pasti  diharamkan dalam syari’at.” Intinya, haramnya mencaci-maki sahabat  menurutnya ialah karena hal itu menimbulkan perselisihan di antara kaum  muslimin, bukan karena haram menurut syari’at, sebagaimana yang dilansir  oleh koran Al Ahraam Mesir tanggal 23 November 2006.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ketiga: Kita harus waspasa terhadap akidah ‘taqiyyah’ (bermuka dua)  yang menurut syi’ah adalah sembilan persepuluh dari agama mereka.  Artinya, mereka biasa mengatakan perkataan yang bertentangan dengan  keyakinan mereka selama mereka belum berkuasa. Namun setelah berkuasa  mereka akan menampakkan jati dirinya terang-terangan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam sejarah Syi’ah, kita menyaksikan bahwa tatkala mereka menguasai  beberapa wilayah Daulah Abbasiyah yang Sunni di Irak, Mesir, Afrika  Utara (Maghrib) dan semisalnya; mereka langsung terang-terangan  menghujat para sahabat, dan menjadikan hal itu sebagai pokok agama  mereka.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jadi, jelaslah bagi kita dari sini akan pentingnya menjelaskan  hakikat Syi’ah terhadap para sahabat yang mulia. Kalau tidak, maka orang  yang menyembunyikan kebenaran ini ibarat syaithan yang bisu, dan sikap  ini akan mengakibatkan kehancuran Islam…&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;KEDUA:&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Bahaya Doktrinasi Syi’ah di Dunia Islam…. tidak diragukan lagi bahwa doktrinasi Syi’ah (&lt;em&gt;tasyayyu’&lt;/em&gt;)  demikian gencar dilakukan di berbagai negara Islam. Ia tidak hanya  marak di tempat asalnya seperti Iran, Irak dan Lebanon, namun kini  berlangsung sangat kuat di Bahrain, Emirat Arab, Suriah, Yordania, Saudi  Arabia, Mesir, Afghanistan, Pakistan dan negara-negara muslim lainnya…  (Termasuk Indonesia yang dalam lima tahun terakhir meningkat secara  drastis, lewat tokoh-tokoh mereka macam &lt;strong&gt;Jalaluddin Rakhmat&lt;/strong&gt;, &lt;strong&gt;Quraish Shihab&lt;/strong&gt; dan sebagainya. Bahkan menurut pengamatan sebagian pihak, jumlah murid Kang Jalal mencapai lebih dari 10 juta! –pent)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Parahnya lagi, banyak orang yang menganut pemikiran-pemikiran Syi’ah  tanpa mengira bahwa mereka adalah Syi’ah. Bahkan setelah menulis  beberapa artikel ini, kami –yaitu Dr. Raghib Sirjani- mendapat banyak  e-mail yang penulisnya mengaku Sunni, namun isinya penuh dengan  pemikiran dan gaya Syi’ah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kita juga tidak menutup mata akan perang global yang ditujukan kepada  para sahabat lewat media massa (Yakni media massa di Mesir tempat  penulis tinggal -pent) dan saluran-saluran televisi di negeri-negeri  Sunni. Yang paling masyhur ialah hujatan salah satu koran Mesir terhadap  Siti Aisyah &lt;em&gt;radhiallahu ‘anha&lt;/em&gt; beberapa hari terakhir. Demikian pula perang yang dilancarkan terhadap &lt;em&gt;Shahih Bukhari&lt;/em&gt;, termasuk acara televisi yang dibawakan oleh wartawan terkenal dan selalu mengkritik para sahabat dalam setiap episode.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Masalah semakin rumit dan tidak bisa didiamkan, mengingat adanya &lt;strong&gt;perkawinan silang antara manhaj (metode) Syi’ah dengan Tasawuf&lt;/strong&gt;, dengan klaim bahwa keduanya mencintai Ahlul bait.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dan kita semua tahu bahwa faham tasawuf demikian merebak di banyak  negara di dunia. Dan faham ini telah terjangkiti virus bid’ah, khurafat  dan kemunkaran yang demikian banyak, dan bertemu dengan Syi’ah dalam hal  mengultuskan Ahlul bait. Dari sini, penyebaran Syi’ah sangat mudah  ditebak seiring dengan menyebarnya tarekat-tarekat Sufi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;KETIGA:&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Kondisi di Irak demikian mencekam. Pembunuhan muslimin Ahlussunnah  tersebab identitas mereka adalah fenomena biasa yang sering terjadi.  Sekjen ulama Ahlussunnah di Irak yang bernama Harits Adh Dhaary  menyebutkan bahwa ada lebih dari 100 ribu muslim Sunni yang tewas di  tangan Syi’ah sejak th 2003 hingga 2006. Ditambah proses deportasi yang  terus menerus di beberapa lokasi demi mempermudah kekuasaan Syi’ah di  sana. Dan mayoritas mereka yang dideportasi (diusir) keluar dari Irak  adalah Ahlussunnah; dan ini menyebabkan perubahan susunan masyarakat  yang sangat berbahaya akibatnya nanti.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Pertanyaannya sekarang:&lt;/strong&gt; “Apakah fitnah yang timbul  ketika membahas masalah Syi’ah lebih berbahaya dari fitnah terbunuhnya  sekian banyak warga Ahlussunnah tadi? Lantas sampai kapan masalah ini  harus didiamkan? Padahal semua orang tahu betapa solidnya dukungan Iran  dalam pembersihan mereka yang beridentitas Sunni?”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;KEEMPAT:&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Ambisi Iran terhadap Irak demikian besar, bahkan hal nampak nyata.  Mengingat kedua negara sebelumnya pernah terlibat perang sengit selama 8  tahun penuh, dan sekarang jalannya terbuka lebar bagi Iran. Apalagi  Irak memiliki nilai religius penting bagi kaum Syi’ah, mengingat adanya  wilayah-wilayah suci di sana, termasuk enam makam Imam Syi’ah. Di Najaf  terdapat makam Ali bin Abi Thalib, lalu di Karbala’ terdapat kuburan  Husein, dan di Baghdad terdapat makam Musa Al Kadhim dan Muhammad Al  Jawwad, tepatnya di wilayah Al Kadhimiyyah. Sedangkan di Samarra  terdapat makam Muhammad Al Hadi dan Hasan Al ‘Askari; dan masih banyak  kuburan-kuburan palsu lain yang diklaim sebagai kuburan para Nabi  seperti Adam, Nuh, Hud dan Shalih di Najaf; namun semuanya &lt;strong&gt;palsu&lt;/strong&gt;.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Selain Ambisi Iran terhadap Irak yang sangat berbahaya, Amerika juga  mendukung terwujudnya ambisi tersebut. Kita semua menyaksikan bagaimana  pemerintahan Syi’ah bentukan Amerika di Irak. &lt;strong&gt;Sandiwara saling  tuduh antara Amerika dan Iran sudah tidak mempan lagi sekarang, sebab  tidak pernah terlintas dalam benak Amerika untuk menyerang Iran sama  sekali&lt;/strong&gt;, akan tetapi yang sangat mencemaskan bukanlah ambisi  untuk menguasai minyak atau kekayaan Irak saja, bukan pula sekedar  memperluas kekuasaan Syi’ah; namun parahnya mereka menjadikan kebrutalan  dan sadisme tersebut sebagai bagian dari agama mereka. Sebab Syi’ah  menuduh para sahabat dan pengikut mereka dari kalangan Ahlussunnah  sebagai musuh-musuh Ahlulbait dan menjulukinya dengan &lt;em&gt;naashibah&lt;/em&gt; atau &lt;em&gt;nawaashib&lt;/em&gt;. Padahal kita lebih menghargai Ahlulbait daripada mereka.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Mereka lalu mengeluarkan vonis-vonis mengerikan atas tuduhan  tersebut. Misalnya Khumaini yang mengatakan: “Pendapat yang lebih kuat  ialah memasukkan nawashib sebagai ahlul harbi (lawan perang), yang  hartanya halal di mana pun didapati, dan dengan cara apa pun.” (&lt;em&gt;Tahrirul Wasilah&lt;/em&gt; 1/352 oleh Al Khumaini)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Lalu tatkala imam mereka yang bernama Muhammad Shadiq Ar Ruhani  ditanya tentang hukum orang yang mengingkari keimaman dua belas imam,  dia mengatakan sesuatu yang sangat aneh: “Sesungguhnya imamah (jabatan  imam) lebih tinggi dari nubuwah (kenabian) dan kesempurnaan agama ini  ialah dengan menjadikan Amirul mukminin &lt;em&gt;alaihissalam&lt;/em&gt; sebagai imam; Allah ta’ala berfirman: &lt;em&gt;alyauma akmaltu lakum dienakum&lt;/em&gt;  (pada hari ini telah kusempurnakan bagimu agamamu). Maka siapa yang  tidak mempercayai keimaman dua belas imam niscaya ia akan mati dalam  kekafiran” (Lihat fatwa ini dalam link berikut:  www.imamrohani.com/fatwa-ar/viewtopic.php)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Khumaini dalam bukunya &lt;em&gt;Al Hukumatul Islamiyyah&lt;/em&gt; mengatakan  bahwa para imam akan mencapai kedudukan yang tidak pernah dicapai oleh  malaikat terdekat maupun rasul sekalipun. Karenanya, tidak mengakui  keimaman menurut mereka lebih berat dari pada tidak mengakui kenabian,  dan inilah tafsiran atas pengkafiran Syi’ah atas Ahlussunnah, yang  diikuti dengan penghalalan darah mereka di Irak dan negeri-negeri  lainnya. Oleh karena itu, Irak harus dimasukkan dalam kekuasaan mereka  karena banyaknya tempat-tempat ‘suci’ mereka yang masih dikuasai oleh  orang-orang yang mereka anggap kafir.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;KELIMA:&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Ancaman langsung tak berhenti di Irak saja, namun ambisi mereka terus  meningkat untuk menguasai daerah sekitarnya. Mereka menganggap Bahrain  sebagai bagian dari Iran, sebagaimana pernyataan kepala pemeriksa umum  Ali Akbar Nathiq Nuri di kantor pemimpin revolusi saat peringatan 30  tahun revolusi Iran. Ia mengatakan: “Bahrain pada dasarnya adalah  propinsi Iran yang keempat belas, yang diwakili oleh seorang legislatif  di majelis permusyawaratan Iran.” (Lihat situs al jazirah berikut:  www.aljazeera.net/NR/exeres/684338CB-837A-4879-8C7A-1A1B995DD286.htm)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kita juga tahu bahwa Iran menduduki tiga pulau milik Emirat Arab di  teluk Arab, dan jumlah mereka makin bertambah di Emirat hingga nisbahnya  mencapai 15% dari total jumlah penduduk, dan menguasai pusat-pusat  perdagangan terutama di Dubai.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Demikian pula kondisinya di Arab Saudi yang tidak statis; sebab sejak  revolusi Iran tahun 1979, berbagai gangguan stabilitas terjadi berulang  kali di Arab Saudi. Bahkan itu terjadi langsung setelah revolusi Iran,  dengan munculnya demonstrasi Syi’ah di Qathif dan Saihat (dua wilayah  Saudi), yang paling gencar di antaranya adalah tanggal 19 November 1979.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Masalah pun kadang semakin parah hingga berubah menjadi tindak  anarkhis dan kejahatan di Baitullah Makkah. Sebagaimana yang terjadi  pada musim haji tahun 1987 dan 1989. Bahkan pasca jatuhnya pemerintahan  Saddam Husein, sekitar 450 tokoh Syi’ah di Saudi mengajukan proposal  kepada putera mahkota ketika itu, yaitu Pangeran Abdullah dan meminta  agar diberi jabatan-jabatan tinggi di dewan parlemen, jalur diplomasi,  badan militer dan keamanan, serta menambah jumlah mereka di majelis  syuro.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bahkan Ali Syamkhani, yang merupakan penasehat tertinggi masalah  militer bagi pimpinan umum revolusi Iran mengatakan, bahwa bila Amerika  menyerang proyek nuklir Iran, maka Iran tidak sekedar membalas dengan  menyerang fasilitas milik Amerika di teluk, namun akan menggunakan  rudal-rudal balistiknya untuk menyerang target-target strategisnya di  teluk Arab. Pernyataan ini dilansir oleh majalah Times Inggris pada hari  Ahad 10 November 2007.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Inikah semuanya?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tidak… namun masih banyak sekali hal-hal yang belum kami sebutkan.&lt;br /&gt;Dalam tulisan ini kami baru menyebutkan lima poin yang menjelaskan  bahaya Syi’ah dan gentingnya masalah ini. Dan masih ada lima poin lagi  yang tak kalah penting yang akan saya sampaikan dalam tulisan berikutnya  atas izin Allah. Dan setelah itu kami akan paparkan metode paling tepat  untuk mengatasi kondisi yang sangat berbahaya ini.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Masalah Syi’ah bukanlah catatan kaki dalam sejarah umat Islam, hingga  pantas untuk ditinggalkan atau ditunda… namun ia merupakan masalah yang  menduduki prioritas utama bagi umat Islam.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kita semua mengetahui bagaimana Palestina dibebaskan dari tangan kaum Salibis lewat tangan Shalahuddien; dan &lt;strong&gt;itu tidak terjadi kecuali setelah beliau membebaskan Mesir dari kekuasaan Syi’ah Ubeidiyyah&lt;/strong&gt;. &lt;strong&gt;Dan  ketika itu Shalahuddien tidak mengatakan bahwa perang salib harus lebih  diprioritaskan daripada menyingkirkan kekuasaan Syi’ah dari Mesir. Hal  itu karena beliau yakin bahwa kaum muslimin tidak akan mendapat  pertolongan kecuali bila akidah mereka bersih dan tentara mereka ikhlas.&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Shalahuddien juga tidak memaksa rakyat Mesir untuk berperang  bersamanya demi target utamanya (yaitu pembebasan Palestina), kecuali  setelah membebaskan mereka dari belenggu-belenggu Syi’ah Ubeidiyyah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Apa yang kami sebutkan tentang Mesir di masa Shalahuddien sama dengan  yang kami sebutkan tentang Irak sekarang, demikian pula dengan setiap  negara yang terancam oleh Syi’ah… dan kita harus mengambil pelajaran  dari sejarah!&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Semoga Allah memuliakan Islam dan kaum muslimin…&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;***&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sumber: &lt;a href="http://muslim.or.id/manhaj-salaf/awas-syiah-mengancam-kita.html" title="Awas ancaman Syiah"&gt;www.muslim.or.id&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/761503410559906563-4396642562273672741?l=alistiba.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://alistiba.blogspot.com/feeds/4396642562273672741/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://alistiba.blogspot.com/2011/12/bahaya-syiah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/761503410559906563/posts/default/4396642562273672741'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/761503410559906563/posts/default/4396642562273672741'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alistiba.blogspot.com/2011/12/bahaya-syiah.html' title='Bahaya Syiah'/><author><name>Abu abdirrahman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05301770063388687354</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/-1rkmfDMbj9g/TtiXyO-Rh_I/AAAAAAAAAoM/iPGpqXo-kow/s220/Ittiba%2527.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-kXI-ULiqWuo/Tujz5Te3QlI/AAAAAAAAAp8/GysXUY4ehwM/s72-c/Bahaya+syiah.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-761503410559906563.post-7212303831332335104</id><published>2011-12-09T19:39:00.000-08:00</published><updated>2011-12-10T05:18:45.960-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Info'/><title type='text'>ber-Internet Sehat</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-UNSp_U7vRIk/TuLT_psYAqI/AAAAAAAAApk/y9gqG0Wg-_8/s1600/internet.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="http://1.bp.blogspot.com/-UNSp_U7vRIk/TuLT_psYAqI/AAAAAAAAApk/y9gqG0Wg-_8/s200/internet.jpg" width="198" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Internet, bagaikan pedang bermata dua, kalau tidak berhati-hati, maka bisa mencelakakan diri kita, atau orang lain. Kita harus membentengi diri dengan ilmu yang cukup, yang kokoh, karena fitnah/godaan internet begitu besar, dan tidak sedikit orang yang mempunyai bekal ilmu agama yang cukup pun, bisa terperosok di dalamnya… Oleh karena itu saya mencoba memberikan trik-trik berinternet secara sehat, dan diharapkan bisa membawa manfaat,..&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;ol style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;Perlu diingat !!!  Allah Maha Mengetahui apa yang kita lakukan, jangan menyangka apa yang kita lakukan tidak diawasi, akan tetapi ada Rabb yang tidak pernah tidur, tidak pernah lalai dalam mengawasi segala gerak-gerik makhluknya,.. Dengan menanamkan rasa selalu merasa diawasi oleh Allah, maka sikap yang timbul adalah berusaha sekuat tenaga untuk tidak membuka atau membaca sesuatu yang bisa mendatangkan murka Allah.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Rencanakan terlebih dahulu, apa yang ingin anda cari di internet, jangan merencanakannya setelah berada di warnet, atau setelah berada di depan internet, apalagi berusaha mencari dengan menggunakan mesin pencari, dalam kondisi kita tidak tahu, apa sih sebenarnya yang kita cari di internet itu, sebab itu bisa menyebabkan kita menjadi tidak fokus kepada awal dari tujuan kita membuka internet, Jadi…. rencanakan dahulu, apa yang ingin anda perlukan dari internet tersebut, kan bisa ngirit juga jika kita membukanya di warnet.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Jangan sekali-kali membuka situs-situs yang merusak moral kita, merusak moral bangsa, yang mengumbar aurat wanita, dan menyebabkan hidup kita sengsara, hingga menjerumuskan kita ke jurang neraka…&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Sekali lagi!!! point ke 1 wajib selalu melekat di hati para pengguna internet…&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Jika kita memiliki Website / Blog, janganlah kita menjadi penyebab para pengunjung website / blog kita ikut terjerumus ke dalam murka Allah, oleh karena itu saya akan memberikan trik-trik bagi pemilik Website / Blog, yaitu :&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;* Tidak menampilkan sesuatu yang menjadikan murka Allah, di antaranya adalah :&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;ol style="background-color: #eeeeee; color: blue; text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;&lt;b style="color: red;"&gt;Memposting artikel yang mengajak pembacanya melakukan perbuatan kesyirikan,&lt;/b&gt; ini bahaya paling besar.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;b style="color: red;"&gt;Memasang gambar-gambar makhluk bernyawa,&lt;/b&gt; terlebih yang dipasang adalah gambar wanita, baik yang terbuka auratnya ataupun tidak.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Bagi wanita yang memiliki blog / website, &lt;span style="color: red;"&gt;j&lt;/span&gt;&lt;b style="color: red;"&gt;anganlah memajang foto anda untuk dinikmati oleh semua orang,&lt;/b&gt; ingatlah wahai wanita, dirimu hanya boleh dinikmati oleh suamimu saja, bukan diumbar di  internet, untuk dinikmati oleh berjuta-juta pasang mata, Apakah sebegitu rendah harga dirimu, rela dipandang, dinikmatin, apalagi anda rela memamerkan auratmu yang terlarang?&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Bagi laki-laki yang memiliki blog / website, janganlah menjadikan gambar wanita untuk menarik pengunjung, &lt;b&gt;janganlah anda menambah dosa anda semakin menumpuk,&lt;/b&gt; seiring dengan banyaknya pengunjung yang mampir di blog/website yang engkau buat, apalagi jika apa yang engkau pasang itu di copy oleh yang lain, kemudian dipasang di blog /website mereka, tentu ini hanya memperbesar dosa yang engkau pikul, tidakkah ini anda pahami?&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;b style="color: red;"&gt;Janganlah memposting tulisan-tulisan berbau pornografi,&lt;/b&gt; yang bisa membangkitkan syahwat para pembacanya.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;Lebih baik tidak menghidupkan/menonaktifkan Avatar&lt;/span&gt; &lt;/b&gt;di kolom komentar jika ada yang memberikan komentar diblog anda, karena tidak semua avatar para pengunjung yang memberikan komentar adalah gambar yang sesuai dengan syar’i, terkadang gambar avatar pengunjung yang memberikan komentar adalah gambar makhluk bernyawa, gambar wanita, gambar yang merusak moral umat islam.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Bagi yang mempunyai avatar, janganlah menjadikan avatar kita itu adalah foto kita sendiri, atau gambar makhluk bernyawa lainnya, terlebih lagi adalah gambar yang porno, atau gambar-gambar yang membuat rusak moral orang yang membacanya.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Bagi para wanita pemilik blog, &lt;b&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;janganlah memakai avatar foto dirinya sendiri,atau menggunakan foto wanita lainnya,&lt;/span&gt; &lt;/b&gt;ingat… kecantikanmu hanya untuk suamimu saja, bukan untuk diumbar ke semua orang, janganlah jadi wanita yang rela dirinya dinikmatin oleh semua orang, ingat…. semakin banyak yang menikmati gambar-gambarmu, atau foto-fotomu, maka dosamu juga semakin banyak.. seiring dengan jumlah orang yang melihat gambarmu, sehingga banyak pembaca yang terfitnah… sadarilah wahai para wanita…&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;b style="color: red;"&gt;Janganlah memposting tulisan-tulisan berbau profokasi,&lt;/b&gt; menjelek-jelekkan penguasa, menjelek-jelekkan orang lain yang sebenarnya tidak layak untuk disebarkan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;b style="color: red;"&gt;Tidak memposting lirik-lirik lagu,&lt;/b&gt; atau postingan yang berhubungan dengan dunia musik, selebritis, gosip, karena semuanya terlarang dalam agama Islam.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Janganlah memposting tulisan-tulisan yang berisi &lt;b&gt;tentang berita-berita dusta, &lt;/b&gt;tulisan yang membuat resah para pembacanya.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Janganlah memposting tulisan-tulisan yang isinya adalah &lt;b style="color: red;"&gt;berita gosip,&lt;/b&gt; karena itu termasuk ghibah yang terlarang.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Buat pegangan, pertimbangkan apa yang ingin anda posting, apakah itu suatu yang bisa menimbulkan murka Allah, ataukah yang mendatangkan keridhaan Allah, karena efeknya bagi kita itu seperti MLM, bisa dosa kita berlipat-lipat terus seiring dengan jumlah yang mengunjungi website/blog kita, atau pahala kita bertambah sesuai dengan pengunjung yang mengunjungi blog kita.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: #eeeeee; color: red; text-align: center;"&gt;SELAMAT BERINTERNET DENGAN SEHAT…..&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: #eeeeee; color: red; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="background-color: #eeeeee; color: red;"&gt;KALAU MEMANG TERLALU BANYAK POSTINGAN KITA YANG MELANGGAR SYAR’I, DAN KITA TIDAK INGIN MERUBAHNYA, KEMUDIAN  KITA TIDAK INGIN MENAMBAH BESAR PERTANGGUNGJAWABAN KITA KELAK DI HARI PEMBALASAN, MAKA LEBIH BAIK TUTUP SAJA BLOG TERSEBUT…&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span style="background-color: white; color: red;"&gt;Sumber : http://aslibumiayu.wordpress.com&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/761503410559906563-7212303831332335104?l=alistiba.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://alistiba.blogspot.com/feeds/7212303831332335104/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://alistiba.blogspot.com/2011/12/bahaya-internet.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/761503410559906563/posts/default/7212303831332335104'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/761503410559906563/posts/default/7212303831332335104'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alistiba.blogspot.com/2011/12/bahaya-internet.html' title='ber-Internet Sehat'/><author><name>Abu abdirrahman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05301770063388687354</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/-1rkmfDMbj9g/TtiXyO-Rh_I/AAAAAAAAAoM/iPGpqXo-kow/s220/Ittiba%2527.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-UNSp_U7vRIk/TuLT_psYAqI/AAAAAAAAApk/y9gqG0Wg-_8/s72-c/internet.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-761503410559906563.post-5334954220782540753</id><published>2011-12-02T06:12:00.000-08:00</published><updated>2011-12-02T16:15:36.490-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Syiah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Syubhat'/><title type='text'>Pembunuhan Husain bin Ali bin Abu Thalib</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-gg10_GFoEF4/TtjiR7Hd--I/AAAAAAAAApA/x-0sB81sZZk/s1600/%25D8%25A7%25D9%2584%25D8%25B1%25D8%25A7%25D9%2581%25D8%25B6%25D8%25A9.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="150" src="http://2.bp.blogspot.com/-gg10_GFoEF4/TtjiR7Hd--I/AAAAAAAAApA/x-0sB81sZZk/s200/%25D8%25A7%25D9%2584%25D8%25B1%25D8%25A7%25D9%2581%25D8%25B6%25D8%25A9.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;Banyak sekali bertebaran kisah-kisah tentang terbunuhnya Husain dari berbagai sumber terutama dari kalangan Syiah. Pada kesempatan kami memposting artikel yang bersumber dari beberapa tulisan yang telah ada dengan mendasarkan pendapat-pendapat Ibnu Taimiyah dan juga Muridnya ibnu Katsir dalam kitabnya Al bidayah Wannihayah disertai sumber-sumber otentik dari hadits-hadits dan atsar yang telah sah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;Isyarat akan terbunuhnya Husain&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jauh hari sebelum Husain terbunuh, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bercerita Kepada Ali bin Abi Thalib  bahwa Husain akan wafat dalam keadaan terbunuh. Adz-Dzahabi rahimahullah membawakan dari  dari ‘Ali, ia berkata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika kedua mata beliau bercucuran air mata, lalu beliau bersabda: “Jibril baru saja datang, ia menceritakan kepadaku bahwa Husain kelak akan mati dibunuh. Kemudian Jibril berkata: “Apakah engkau ingin aku ciumkan kepadamu bau tanahnya?”. Aku menjawab: “Ya. Jibril lalu menjulurkan tangannya, ia menggenggam tanah satu genggaman. Lalu ia memberikannya kepadaku. Sehingga karena itulah aku tidak kuasa menahan air mataku”.[1]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;Kronologi terbunuhnya Husain Radiyallahu anhu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Mu’awiyah Radhiyallahu ‘anhu resmi menjadi khalifah, maka Mu’awiyah Radhiyallahu ‘anhu juga sangat memuliakannya, bahkan sangat memperhatikan kehidupan Husain Radhiyallahu ‘anhu dan saudaranya, sehingga sering memberikan hadiah kepada keduanya. Tetapi, ketika Yazid bin Mu’awiyah diangkat sebagai khalifah, Husain Radhiyallahu ‘anhu bersama Ibnu Zubair Radhiyallahu ‘anhu termasuk yang tidak mau berbai’at. Bahkan penolakan itu terjadi sebelum Mu’awiyah Radhiyallahu ‘anhu wafat ketika Yazid sudah ditetapkan sebagai calon khalifah pengganti Mu’awiyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, beliau berdua keluar dari Madinah dan lari menuju Mekah. Kemudian keduanya menetap di Makkah. Ibnu Zubair Radhiyallahu ‘anhu menetap di tempat shalatnya di dekat Ka’bah, sedangkan Husain Radhiyallahu ‘anhu di tempat yang lebih terbuka karena di kelilingi banyak orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, banyak surat yang datang kepada Husain Radhiyallahu ‘anhu dari penduduk Irak membujuk beliau supaya memimpin mereka. Menurut isi surat, mereka siap membai’at Husain Radhiyallahu ‘anhu.dan surat-surat itu diantaranya juga berisi pernyataan gembira atas kematian Muawiyah Radhiyallahuanhu.[2]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kita ketahui penduduk Irak bahkan hinggan saat ini memang banyak diwarnai oleh pemikiran Rafidah (syiah) dan khawarij&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak cukup dengan surat saja, mereka terkadang mendatangi Husain radhiyallahu ‘anhu di Makkah, mengajak Beliau radhiyallahu ‘anhu berangkat ke Kufah dan berjanji akan menyediakan pasukan[3]. Para Sahabat seperti Ibnu Abbâs radhiyallahu ‘anhuma kerap kali menasehati Husain radhiyallahu ‘anhu agar tidak memenuhi keinginan mereka, karena ayah Husain radhiyallahu ‘anhu, Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, dibunuh di Kufah dan Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu khawatir mereka membunuh Husain radhiyallahu ‘anhu juga disana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat hendak berangkat dari Mekah menuju Irak, di negeri tempat beliau terbunuh, Husain Radhiyallahu ‘anhu meminta nasehat kepada Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, Ibnu ‘Abbâs Radhiyallahu ‘anhma berkata: “Kalaulah tidak dipandang tidak pantas, tentu aku kalungkan tanganku pada kepalamu (maksudnya hendak mencegah kepergiannya)”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka Husain Radhiyallahu ‘anhu menjawab: “Sungguh jika aku terbunuh di tempat demikian dan demikian, tentu lebih aku sukai daripada aku mengorbankan kemuliaan negeri Mekah ini” [4]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Husain Radhiyallahu ‘anhu akhirnya tetap berangkat menuju Irak setelah sebelumnya mengutus Muslim bin ‘Aqil bin Abi Thalib ke Irak untuk mengadakan penyelidikan, dan akhirnya mendapat berita bahwa beliau harus segera ke Irak.[5]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, ketika Ibnu ‘Umar Radhiyallahu ‘anhuma tiba di Madinah, beliau mendengar berita bahwa Husain sedang menuju ke Irak. Mengingat betapa bahayanya Irak bagi Husain Radhiyallahu ‘anhuma, maka Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhuma pun menyusulnya untuk menyarankan agar Husain mengurungkan niatnya. Tetapi, karena harapan-harapan yang diberikan oleh orang-orang Irak, maka Husain tetap pada pendiriannya untuk berangkat ke Irak. Maka Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhuma pun dengan berat hati melepaskannya setelah sebelumnya memeluk Husain Radhiyallahu ‘anhu dan mengucapkan kata perpisahan. Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhuma berkata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku titipkan engkau kepada Allah dari kejahatan seorang pembunuh”.[6]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah, akhirnya Husain bin ‘Ali Radhiyallahu ‘anhuma tetap berangkat ke Irak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian riwayat menyatakan bahwa Beliau radhiyallahu ‘anhu mengambil keputusan ini karena belum mendengar kabar tentang sepupunya, Muslim bin ‘Aqil, yang telah dibunuh disana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, berangkatlah Husain radhiyallahu ‘anhu bersama keluarga menuju Kufah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara di pihak yang lain, ‘Ubaidullah bin Ziyâd diutus oleh Yazid bin Muawiyah untuk mengatasi pergolakan di Irak. Akhirnya, ‘Ubaidullah dengan pasukannya berhadapan dengan Husain radhiyallahu ‘anhu bersama keluarganya yang sedang dalam perjalanan menuju Irak. Pergolakan ini sendiri dipicu oleh orang-orang yang ingin memanfaatkan Husain radhiyallahu ‘anhu. Dua pasukan yang sangat tidak imbang ini bertemu, sementara orang-orang Irak yang (telah) membujuk Husain radhiyallahu ‘anhu, dan berjanji akan membantu dan menyiapkan pasukan justru melarikan diri meninggalkan Husain radhiyallahu ‘anhu dan keluarganya berhadapan dengan pasukan ‘Ubaidullah. Sampai akhirnya, terbunuhlah Husain radhiyallahu ‘anhu sebagai orang yang terzhalimi dan sebagai syahid. Kepalanya dipenggal lalu dibawa ke hadapan ‘Ubaidullah bin Ziyâd dan kepala itu diletakkan di bejana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;Dalam tragedi mengenaskan ini, di antara Ahlul Bait yang gugur bersama Al Husain adalah putera Ali bin Abi Thalib lainnya; Abu Bakar bin Ali, Umar bin Ali, dan Utsman bin Ali.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian pula putera Al Hasan, Abu Bakar bin Al Hasan. Namun anehnya, ketika Anda mendengar kaset-kaset, ataupun membaca buku-buku Syiah yang menceritakan kisah pembunuhan Al Husain , nama keempat Ahlul Bait tersebut tidak pernah diungkit. Tentu saja, agar orang tidak berkata bahwa Ali memberi nama anak-anak beliau dengan nama-nama sahabat Rasulullah ; Abu Bakar, Umar, dan ‘Utsman. Tiga nama yang paling dibenci orang-orang Syiah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemana perginya para pengirim ratusan surat itu? Mana 12.000 orang yang katanya akan berbaiat rela mati bersama Al Husain ?&lt;br /&gt;Mereka tidak memberikan pertolongan kepada Muslim bin Uqail, utusan Al Husain yang beliau utus dari Makkah ke Kufah. Tidak pula berperang membantu Al Husain melawan pasukan Ibnu Ziyad. Maka tak heran jika sekarang orang-orang Syiah meratap dan menyiksa diri mereka setiap 10 Muharram, sebagai bentuk penyesalan dan permohonan ampun atas dosa-dosa para pendahulu mereka terhadap Al Husain .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak mengherankan kalau Ibnu Umar menyalahkan penduduk irak sebagai pembunuh Husain dalam sebuah atsar yang diriwayatkan Oleh Al Imam Al bukhari haditss no. 3470&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="arabic"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;‏ ‏ ‏عن ‏ ‏ابن أبي نعم ‏ ‏قال كنت شاهدا ‏ ‏لابن عمر ‏ ‏وسأله رجل عن دم  البعوض فقال : ممن أنت ؟ فقال : من ‏ ‏أهل ‏ ‏‏العراق ، ‏قال انظروا إلى  هذا يسألني عن دم البعوض وقد قتلوا ابن النبي ‏ ‏صلى الله عليه وسلم ،‏  ‏وسمعت النبي ‏ ‏صلى الله عليه وسلم ‏ ‏يقول ‏ ‏هما ريحانتاي من الدنيا &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; ‏ Dari ibnu Abi Nuaim, dia berkata:” saya menyaksikan Abdullan bin Umar ketika ditanya oleh seseorang tentang darah nyamuk, Maka ibnu umar bertanya: “engkau darimana? Dia menjawab:”dari irak, Maka ibnu Umar berkata:”Lihatlah orang ini! Dia bertanya kepadaku tentang darah nyamuk padahal mereka telah membunuh cucu Rasulullah Shallalahu Alaihi Wasallam, Aku telah mendengar Rasullullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:”mereka berdua adalah Bunga rahanku didunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;Kisah Kepala Husain&lt;/span&gt;&lt;br style="color: blue;" /&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Riwayat yang paling shahih tentang kepala Husain telah dibawakan oleh Imam al-Bukhâri, nomor 3748:&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="arabic" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ الْحُسَيْنِ بْنِ إِبْرَاهِيمَ قَالَ حَدَّثَنِي  حُسَيْنُ بْنُ مُحَمَّدٍ حَدَّثَنَا جَرِيرٌ عَنْ مُحَمَّدٍ عَنْ أَنَسِ  بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أُتِيَ عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ زِيَادٍ  بِرَأْسِ الْحُسَيْنِ فَجُعِلَ فِي طَسْتٍ فَجَعَلَ يَنْكُتُ وَقَالَ فِي  حُسْنِهِ شَيْئًا فَقَالَ أَنَسٌ كَانَ أَشْبَهَهُمْ بِرَسُولِ اللَّهِ  صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَكَانَ مَخْضُوبًا بِالْوَسْمَةِ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; “Aku diberitahu oleh Muhammad bin Husain bin Ibrâhîm, dia mengatakan; aku diberitahu oleh Husain bin Muhammad, kami diberitahu oleh Jarîr dari Muhammad dari Anas bin Mâlik radhiyallahu ‘anhu, dia mengatakan; ‘Kepala Husain dibawa dan didatangkan kepada ‘Ubaidullah bin Ziyâd. Kepala itu ditaruh di bejana. Lalu ‘Ubaidullah bin Ziyâd menusuk-nusuk (dengan pedangnya) seraya berkomentar sedikit tentang ketampanan Husain. Anas radhiyallahu ‘anhu mengatakan; ‘Diantara Ahlul-Bait, Husain adalah orang yang paling mirip dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.’ Saat itu, Husain radhiyallahu ‘anhu disemir rambutnya dengan wasmah (tumbuhan, sejenis pacar yang condong ke warna hitam).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu ‘Ubaidullah yang durhaka ini kemudian menusuk-nusuk hidung, mulut dan gigi Husain radhiyallahu ‘anhu, padahal disitu ada Anas bin Mâlik, Zaid bin Arqam dan Abu Barzah al-Aslami radhiyallahu ‘anhuma. Anas radhiyallahu ‘anhu mengatakan; “Singkirkan pedangmu dari mulut itu, karena aku pernah melihat mulut Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mencium mulut itu!” Mendengarnya, orang durhaka ini mengatakan; “Seandainya saya tidak melihatmu sudah tua renta yang akalnya sudah rusak, maka pasti kepalamu saya penggal.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam riwayat at-Tirmidzi dan Ibnu Hibbân dari Hafshah binti Sirîn dari Anas radhiyallahu ‘anhu dinyatakan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lalu ‘Ubaidullah mulai menusukkan pedangnya ke hidung Husain radhiyallahu ‘anhu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam riwayat ath-Thabrâni rahimahullah dari hadits Zaid bin Arqam radhiyallahu ‘anhu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lalu dia mulai menusukkan pedang yang di tangannya ke mata dan hidung Husain radhiyallahu ‘anhu. Aku (Zaid bin Arqam) mengatakan; ‘Angkat pedangmu, sungguh aku pernah melihat mulut Rasulullah (mencium) tempat itu.’”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demkian juga riwayat yang disampaikan lewat jalur Anas bin Mâlik radhiyallahu ‘anhu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku (Anas bin Malik) mengatakan kepadanya; ‘Sungguh aku telah melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mencium tempat dimana engkau menaruh pedangmu itu.’ Lalu Ubaidullah mengangkat pedangnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sini, kita mengetahui betapa banyak riwayat palsu tentang peristiwa ini yang menyatakan bahwa kepala Husain radhiyallahu ‘anhu diarak sampai diletakkan di depan Yazid rahimahullah. Para wanita dari keluarga Husain radhiyallahu ‘anhu dikelilingkan ke seluruh negeri dengan kendaaraan tanpa pelana, ditawan dan dirampas. Semua ini merupakan kepalsuan yang dibuat Rafidhah (Syiah). Karena Yazid rahimahullah saat itu sedang berada di Syam, sementara kejadian memilukan tersebut berlangsung di Irak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikhul-Islam ibnu Taimiyyah rahimahullah mengatakan;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Al-Husain terbunuh di Karbala di dekat Eufrat dan jasadnya dikubur di tempat terbunuhnya, sedangkan kepalanya dikirim ke hadapan Ubaidillah bin Ziyad di Kufah.&lt;br /&gt;Demikianlah yang diriwayatkan oleh Bukhari dalam Shahihnya dan dari para imam yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun tentang dibawanya kepala beliau kepada Yazid telah diriwayatkan dalam beberapa jalan yang munqathi’ (terputus) dan tidak benar sedikitpun tentangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan dalam riwayat-riwayat tersebut tampak sesuatu yang menunjukkan kedustaan dan pengada-adaan. Disebutkan padanya bahwa Yazid menusuk gigi taringnya dengan besi dan sebagian para shahabat yang hadir seperti Anas bin Malik, Abi Barzah dan lain-lain mengingkarinya. (tidak suka, red)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini adalah pengaburan, karena sesungguhnya yang menusuk dengan besi adalah ‘Ubaidilah bin Ziyad. Demikian pula dalam kitab-kitab shahih dan musnad, bahwasanya mereka menempatkan Yazid di tempat ‘Ubaidilah bin Ziyad. Adapun ‘Ubaidillah, tidak diragukan lagi bahwa dialah yang memerintahkan untuk membunuhnya (Husain) dan membawa kepalanya ke hadapan dirinya. Dan akhirnya Ibnu Ziyad pun dibunuh karena itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan lebih jelas lagi bahwasanya para shahabat yang tersebut tadi seperti Anas dan Abi Barzah tidak berada di Syam, melainkan berada di Iraq ketika itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya para pendusta adalah orang-orang jahil (bodoh), tidak mengerti apa-apa yang menunjukkan kedustaan mereka.”[7]&lt;br /&gt;Adapun tempat yang selama ini dianggap sebagai kuburan Husain atau kuburan kepala Husain di Syam, di Asqalan, di Mesir atau di tempat lain, maka itu adalah dusta, tidak ada bukti sama sekali. Karena semua ulama dan sejarawan yang dapat dipercaya tidak pernah memberikan kesaksian tentang hal itu. Bahkan mereka menyebutkan bahwa kepala Husain dibawa ke Madinah dan dikuburkan di sebelah kuburan Hasan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun yang dirajihkan oleh para ulama tentang kepala Al-Husain bin Ali radhiyallahu ‘anhuma adalah sebagaimana yang disebutkan oleh az- Zubair bin Bukar dalam kitabnya Ansab Quraisy dan beliau adalah seorang yang paling ‘alim dan paling tsiqah dalam masalah ini (tentang keturunan Quraisy). Dia menyebutkan bahwa kepala Al-Husain dibawa ke Madinah An-Nabawiyah dan dikuburkan di sana. Hal ini yang paling cocok, karena di sana ada kuburan saudaranya Al-Hasan, paman ayahnya Al-Abbas dan anak Ali dan yang seperti mereka.[8]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;Komentar Ibnu Taimiyah Tentang pembunuhan Husain&lt;/span&gt;&lt;br style="color: red;" /&gt;&lt;span style="color: red;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;blockquote class="tr_bq"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="color: red;"&gt; “Ketika Husain bin ‘Ali Radhiyallahu ‘anhuma terbunuh pada hari ‘Asyura, yang dilakukan oleh sekelompok orang zhalim yang melampaui batas, dan dengan demikian berarti Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memuliakan Husain Radhiyallahu ‘anhuma untuk memperoleh kematian sebagai syahid, sebagaimana Allah Azza wa Jalla juga telah memuliakan Ahlu Baitnya yang lain dengan mati syahid, seperti halnya Allah Azza wa Jalla telah memuliakan Hamzah, Ja’far, ayahnya yaitu ‘Ali dan lain-lain dengan mati syahid. Dan mati syahid inilah salah satu cara Allah Azza wa Jalla untuk meninggikan kedudukan serta derajat Husain Radhiyallahu ‘anhuma. Maka, ketika itulah sesungguhnya Husain Radhiyallahu ‘anhuma dan saudaranya, yaitu Hasan Radhiyallahu ‘anhuma menjadi pemuka para pemuda Ahli sorga.” [9]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="color: red;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br style="color: red;" /&gt;&lt;span style="color: red;"&gt; &lt;span style="color: blue;"&gt;Kesyahidan Husain menurut Syaikhul Islam&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br style="color: red;" /&gt;&lt;span style="color: red;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;blockquote class="tr_bq"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="color: red;"&gt; “Husain Radhiyallahu ‘anhuma telah dimuliakan Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan mati syahid pada hari (‘Asyura) ini. Dengan peristiwa ini, Allah Azza wa Jalla juga berarti telah menghinakan pembunuhnya serta orang-orang yang membatu pembunuhan terhadapnya atau orang-orang yang senang dengan pembunuhan itu. Husain Radhiyallahu ‘anhuma memiliki contoh yang baik dari para syuhada yang mendahuluinya. Sesungguhnya Husain Radhiyallahu ‘anhuma dan saudaranya (yaitu Hasan) Radhiyallahu ‘anhuma merupakan dua orang pemuka dari para pemuda Ahli sorga. Keduanya merupakan orang-orang yang dibesarkan dalam suasana kejayaan Islam, mereka berdua tidak sempat mendapatkan keutamaan berhijrah, berjihad dan bersabar menghadapi beratnya gangguan orang kafir sebagaimana dialami oleh para Ahli Baitnya yang lain. Karena itulah, Allah Azza wa Jalla memuliakan keduanya dengan mati syahid sebagai penyempurna bagi kemuliaannya dan sebagai pengangkatan bagi derajatnya agar semakin tinggi. Pembunuhan terhadap Husain Radhiyallahu ‘anhuma ini merupakan musibah besar. Dan Allah Azza wa Jalla mensyari’atkan agar hamba-Nya ber-istirja’ (mengucapkan innâ lillâh wa innâ ilaihi raji’ûn) ketika mendapatkan musibah dengan firman-Nya:&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="color: red;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="color: red;"&gt; “Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan:”Innâ lillâh wa innâ ilaihi râji’ûn “. Mereka itulah yang mendapatkan keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Rabbnya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” [al-Baqarah/2:155-157][10]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Semoga Kita dapat mengambil Pelajaran dari kisah ini.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;ِAdapun Syi’ah dalam menyambut bulan Muharram menjadikan hari Asyuro (10 Muharram) sebagai hari berkabung, bersedih, meratap dan menyakiti badan. Mereka melakukan hal itu untuk memperingati hari terbunuhnya Husain bin Abi Thalib Rodhiallohu ‘anhu. Pada hari tersebut mereka berkabung, bersedih, menangis dan meratap bersama disertai menampar-nampar pipi (atau menyakiti anggota badan lainnya), merobek-robek pakaian dan meneriakan ucapan-ucapan berlebih-lebihan kepada Husain bin Ali bin Abi Thalib Rodhiallohu anhu . Padahal Alloh Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya telah memerintahkan untuk bersabar, mencari pahala dan mengembalikan diri (kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala) dari setiap musibah yang menimpa. Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman:&lt;br /&gt;“Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, ‘Innaa Lillahi wa innaa ilaihi raaji’uun’. Mereka itulah yang mendapatkan keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk” [Al-Baqarah (2) : 155-157]&lt;br /&gt;Rasululloh melarang perbuatan-perbuatan diatas;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="arabic" style="text-align: justify;"&gt;&lt;div class="arabic"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;عَنْ  عَبْدِ اللَّهِ بن مسعود رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ النَّبِيُّ  صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : (لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَطَمَ  الْخُدُودَ وَشَقَّ الْجُيُوبَ وَدَعَا بِدَعْوَى الْجَاهِلِيَّةِ)  &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Dari Abdullah bin Mas'ud RAdialahu 'Anhu berkata: Rasulullah Sallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; “Bukan golongan kami orang yang memukuli pipi, merobek pakaian, dan berdo’a dengan do’a jahiliyah.” [HR. Bukhari dalam shahihnya, kitab al-Janā’iz, hadits no. 1294]. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Dan lebih buruk pula, cerita kematian Husein pun telah mereka palsukan. Padahal mereka sendirilah yang membunuhnya. Hati-hati jangan tertipu..!! &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Di dalam Islam, Asyura' tidak diisi dengan kesedihan dan penyiksaan diri (seperti syiah), tidak diisi dengan pesta dan berhias diri dan tidak diisi dengan ritual di tempat-tempat keramat atau yang dianggap suci untuk tolak bala' (Kejawen) bahkan tidak diisi dengan berkumpul-kumpul. Namun yang ada hanyalah puasa Asyura' sebagaimana Rasululloh berpuasa pada hari itu, bahkan menganjurkannya kepada para shahabatnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Jangan sampai seorang muslim mudah terbawa oleh budaya atau ritual agama lain dalam menjalankan ibadah pada Alloh Subhanahu wa Ta’ala Ajaran yang dibawa Rasululloh telah jelas dan sempurna tidak layak bagi kita untuk menambah atau menguranginya. Karena sebaik-baik pedoman adalah kitabulloh dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk beliau, yang tidak ada keselamatan kecuali dengan berpegang kepada keduanya dengan mengikuti pemahaman para sahabat, tabi'in dan penerus mereka yang setia berpegang kepada sunnahnya dan meniti jalannya. Adapun hal-hal baru dalam masalah agama adalah sesat sedangkan kesesatan itu akan menghantarkan ke neraka, wal'iyadzubillah.(11)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Semoga bermanfaat.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; --------------------------&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; [1] Siyar A’lâm Nubalâ (III/288-289). Pentahqiq kitab ini (Muhammad Na’im al-‘Arqasusy dan Ma’mûn Shagharjiy) mengatakan, hadits itu dan yang senada diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Thabrani dan lain-lain, sedangkan para perawinya oleh al-Haitsami dikatakan sebagai para perawi yang tsiqah.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; [2] Al-Bidâyah wan Nihâyah (VIII/150)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; [3] Mereka (penduduk irak) mengatakan telah menyediakan 12000 pasukan untuk mengamankan kedatangan Husain, Namun hingga Husain dipenggal kepalanya, tak ada satupun yang muncul.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; [4] Siyar A’lâm Nubalâ (III/292). Pentahqiq kitab ini (Muhammad Na’im al-‘Arqasusy dan Ma’mûn Shagharji) mengatakan, riwayat ini diriwayatkan oleh ath-Thabrâni, sedangkan para perawinya oleh al-Haitsami dikatakan sebagai para perawi yang dipakai dalam kitab Shahîh.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; [5] al-Bidâyah wan Nihâyah (VIII/153 dst)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; [6] Siyar A’lâm Nubalâ (III/292)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; [7] Majmû’ Fatâwa, ( IV/ 507)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; [8] Majmû’ Fatâwa (XXVII/465)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; [9] Majmû’ Fatâwa (XXV/302)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; [10] Majmû’ Fatâwa (IV/511)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; (11) http://www.syiahindonesia.com &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Suber : http://syaikhulislam.wordpress.com&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/761503410559906563-5334954220782540753?l=alistiba.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://alistiba.blogspot.com/feeds/5334954220782540753/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://alistiba.blogspot.com/2011/12/pembunuhan-husain-bin-ali-bin-abu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/761503410559906563/posts/default/5334954220782540753'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/761503410559906563/posts/default/5334954220782540753'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alistiba.blogspot.com/2011/12/pembunuhan-husain-bin-ali-bin-abu.html' title='Pembunuhan Husain bin Ali bin Abu Thalib'/><author><name>Abu abdirrahman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05301770063388687354</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/-1rkmfDMbj9g/TtiXyO-Rh_I/AAAAAAAAAoM/iPGpqXo-kow/s220/Ittiba%2527.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-gg10_GFoEF4/TtjiR7Hd--I/AAAAAAAAApA/x-0sB81sZZk/s72-c/%25D8%25A7%25D9%2584%25D8%25B1%25D8%25A7%25D9%2581%25D8%25B6%25D8%25A9.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-761503410559906563.post-5752201234711583040</id><published>2011-11-28T07:07:00.000-08:00</published><updated>2011-12-02T01:33:39.467-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fiqhi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hadits'/><title type='text'>Keutamaan Puasa Hari Asyuro</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-4uKcHagdZzE/TtOjNNZn36I/AAAAAAAAAn4/EhadftIbcc8/s1600/fadhlu+asyuro.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="170" src="http://2.bp.blogspot.com/-4uKcHagdZzE/TtOjNNZn36I/AAAAAAAAAn4/EhadftIbcc8/s400/fadhlu+asyuro.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Oleh: Asy Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;[Di dalam kitab beliau Riyadhus Shalihin, Al-Imam An-Nawawi -rahimahullah- membawakan tiga buah hadits yang berkenaan dengan puasa sunnah pada bulan Muharram, yaitu puasa hari Asyura / Asyuro (10 Muharram) dan Tasu’a (9 Muharram)]&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br style="color: blue;" /&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt; Hadits yang Pertama&lt;/span&gt;&lt;br style="color: blue;" /&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="arabic" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنهُ أَنَّ رَسُوْلَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّم صَامَ يَوْمَ عَاشُورَاء وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ. مُتَّفّقٌ عَلَيهِ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Dari Ibnu Abbas -radhiyallahu ‘anhuma-, “Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berpuasa pada hari ‘Asyura dan memerintahkan untuk berpuasa padanya”. (Muttafaqun ‘Alaihi).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt; Hadits yang Kedua&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="arabic" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;عَنْ أَبِيْ قُتاَدَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُوْلَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّم سُئِلَ عَنْ صِيَامِ يَوْمَ عاَشُوْرَاء فَقاَلَ: ((يُكَفِّرُ السَّنَةَ الماَضِيَةَ)) رَوَاهُ مُسلِمٌ. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Dari Abu Qatadah -radhiyallahu ‘anhu-, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya tentang puasa hari ‘Asyura. Beliau menjawab, “(Puasa tersebut) Menghapuskan dosa satu tahun yang lalu”. (HR. Muslim)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt; Hadits yang Ketiga&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="arabic" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;وَعَنْ ابْنِ عَبّاَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُماَ قاَلَ، قاَلَ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّم: ((لَئِنْ بَقَيْتُ إِلَى قاَبِلِ لَأَصُوْمَنَّ التَاسِعَ)) رَوَاهُ مُسلِمٌ  &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Dari Ibnu Abbas -radhiyallahu ‘anhuma- beliau berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Apabila (usia)ku sampai tahun depan, maka aku akan berpuasa pada (hari) kesembilan” (HR. Muslim)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya tentang puasa pada hari ‘Asyura, beliau menjawab, ‘Menghapuskan dosa setahun yang lalu’, ini pahalanya lebih sedikit daripada puasa Arafah (yakni menghapuskan dosa setahun sebelum serta sesudahnya –pent). Bersamaan dengan hal tersebut, selayaknya seorang berpuasa ‘Asyura (10 Muharram) disertai dengan (sebelumnya, ed.) Tasu’a (9 Muharram). Hal ini karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Apabila (usia)ku sampai tahun depan, maka aku akan berpuasa pada yang kesembilan’, maksudnya berpuasa pula pada hari Tasu’a.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;span style="color: blue;"&gt;Penjelasan&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan untuk berpuasa pada hari sebelum maupun setelah ‘Asyura [1] dalam rangka menyelisihi orang-orang Yahudi karena hari ‘Asyura –yaitu 10 Muharram- adalah hari di mana Allah selamatkan Musa dan kaumnya, dan menenggelamkan Fir’aun dan para pengikutnya. Dahulu orang-orang Yahudi berpuasa pada hari tersebut sebagai syukur mereka kepada Allah atas nikmat yang agung tersebut. Allah telah memenangkan tentara-tentaranya dan mengalahkan tentara-tentara syaithan, menyelamatkan Musa dan kaumnya serta membinasakan Fir’aun dan para pengikutnya. Ini merupakan nikmat yang besar.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Oleh karena itu, setelah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tinggal di Madinah, beliau melihat bahwa orang-orang Yahudi berpuasa pada hari ‘Asyura [2]. Beliau pun bertanya kepada mereka tentang hal tersebut. Maka orang-orang Yahudi tersebut menjawab, “Hari ini adalah hari di mana Allah telah menyelamatkan Musa dan kaumnya, serta celakanya Fir’aun serta pengikutnya. Maka dari itu kami berpuasa sebagai rasa syukur kepada Allah”. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata, “Kami lebih berhak terhadap Musa daripada kalian”.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Kenapa Rasulullah mengucapkan hal tersebut? Karena Nabi dan orang–orang yang bersama beliau adalah orang-orang yang lebih berhak terhadap para nabi yang terdahulu. Allah berfirman,&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="arabic" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;إِنَّ أَوْلَى النَّاسِ بِإِبْرَاهِيمَ لَلَّذِينَ اتَّبَعُوهُ وَهَذَا النَّبِيُّ وَالَّذِينَ آَمَنُوا وَاللَّهُ وَلِيُّ الْمُؤْمِنِينَ &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;“Sesungguhnya orang yang paling berhak dengan Ibrahim adalah orang-orang yang mengikutinya dan nabi ini (Muhammad), serta orang-orang yang beriman, dan Allah-lah pelindung semua orang-orang yang beriman”. (Ali Imran: 68)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah orang yang paling berhak terhadap Nabi Musa daripada orang-orang Yahudi tersebut, dikarenakan mereka kafir terhadap Nabi Musa, Nabi Isa dan Muhammad. Maka beliau shallallahu ‘alaihi wasallam berpuasa ‘Asyura dan memerintahkan manusia untuk berpuasa pula pada hari tersebut. Beliau juga memerintahkan untuk menyelisihi Yahudi yang hanya berpuasa pada hari ‘Asyura, dengan berpuasa pada hari kesembilan atau hari kesebelas beriringan dengan puasa pada hari kesepuluh (’Asyura), atau ketiga-tiganya. [3]&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Oleh karena itu sebagian ulama seperti Ibnul Qayyim dan yang selain beliau menyebutkan bahwa puasa ‘Asyura terbagi menjadi tiga keadaan:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; 1. Berpuasa pada hari ‘Asyura dan Tasu’ah (9 Muharram), ini yang paling afdhal.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; 2. Berpuasa pada hari ‘Asyura dan tanggal 11 Muharram, ini kurang pahalanya daripada yang pertama. [4]&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; 3. Berpuasa pada hari ‘Asyura saja, sebagian ulama memakruhkannya karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan untuk menyelisihi Yahudi, namun sebagian ulama yang lain memberi keringanan (tidak menganggapnya makhruh). [5]&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Wallahu a’lam bish shawab.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; (Sumber: Syarh Riyadhis Shalihin karya Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin terbitan Darus Salam – Mesir, diterjemahkan Abu Umar Urwah Al-Bankawy, muraja’ah dan catatan kaki: Al-Ustadz Abu Abdillah Muhammad Rifai)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; CATATAN KAKI:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; [1] Adapun hadits yang menyebutkan perintah untuk berpuasa setelahnya (11 Asyura’) adalah dha’if (lemah). Hadits tersebut berbunyi:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="arabic" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;صُوْمًوْا يَوْمَ عَاشُوْرَاء وَ خَالِفُوْا فِيْهِ اليَهُوْدِ صُوْمُوْا قَبْلَهُ يَوْمًا أَوْ بَعْدًهُ يَوْمًا&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;“Puasalah kalian hari ‘Asyura dan selisihilah orang-orang yahudi padanya (maka) puasalah sehari sebelumnya dan sehari setelahnya. (HR. Ahmad dan Al Baihaqy. Didhaifkan oleh As Syaikh Al-Albany di Dha’iful Jami’ hadits no. 3506)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Dan berkata As Syaikh Al Albany – Rahimahullah- di Silsilah Ad Dha’ifah Wal Maudhu’ah IX/288 No. Hadits 4297: Penyebutan sehari setelahnya (hari ke sebelas. pent) adalah mungkar, menyelisihi hadits Ibnu Abbas yang shahih dengan lafadz:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="arabic" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;“لَئِنْ بَقَيْتُ إِلَى قاَبِلِ لَأَصُوْمَنَّ التَاسِعَ” .  &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;“Jika aku hidup sampai tahun depan tentu aku akan puasa hari kesembilan”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Lihat juga kitab Zaadul Ma’ad 2/66 cet. Muassasah Ar-Risalah Th. 1423 H. dengan tahqiq Syu’aib Al Arnauth dan Abdul Qadir Al Arna’uth.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="arabic" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;لَئِنْ بَقَيْتُ لَآمُرَنَّ بِصِيَامِ يَوْمٍ قَبْلَهُ أَوْ يَوْمٍ بَعْدَهُ . يوم عاشوراء.-&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;“Kalau aku masih hidup niscaya aku perintahkan puasa sehari sebelumnya (hari Asyura) atau sehari sesudahnya” ((HR. Al Baihaqy, Berkata Al Albany di As-Silsilah Ad-Dha’ifah Wal Maudhu’ah IX/288 No. Hadits 4297: Ini adalah hadits mungkar dengan lafadz lengkap tersebut.))&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; [2] Padanya terdapat dalil yang menunjukkan bahwa penetapan waktu pada umat terdahulu pun menggunakan bulan-bulan qamariyyah (Muharram s/d Dzulhijjah, Pent.) bukan dengan bulan-bulan ala Eropa (Jan s/d Des). Karena Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam mengabarkan bahwa hari ke sepuluh dari Muharram adalah hari di mana Allah membinasakan Fir’aun dan pengikutnya dan menyelamatkan Musa dan pengikutnya. (Syarhul Mumthi’ VI.)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; [3] Untuk puasa di hari kesebelas haditsnya adalah dha’if (lihat no. 1) maka – Wallaahu a’lam – cukup puasa hari ke 9 bersama hari ke 10 (ini yang afdhal) atau ke 10 saja.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Asy-Syaikh Salim Bin Ied Al Hilaly mengatakan bahwa, “Sebagian ahlu ilmu berpendapat bahwa menyelisihi orang Yahudi terjadi dengan puasa sebelumnya atau sesudahnya. Mereka berdalil dengan hadits yang diriwayatkan dari Rasulullah Shalallahu’alaihi Wasallam,&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="arabic" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;صُوْمًوْا يَوْمَ عَاشُوْرَاء وَ خَالِفُوْا فِيْهِ اليَهُوْدِ صُوْمُوْا قَبْلَهُ يَوْمًا أَوْ بَعْدًهُ يَوْمًا &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;“Puasalah kalian hari ‘Asyura dan selisihilah orang-orang Yahudi padanya (maka) puasalah sehari sebelumnya atau sehari setelahnya”.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Ini adalah pendapat yang lemah, karena bersandar dengan hadits yang lemah tersebut yang pada sanadnya terdapat Ibnu Abi Laila dan ia adalah jelek hafalannya.” (Bahjatun Nadhirin Syarah Riyadhus Shalihin II/385. cet. IV. Th. 1423 H Dar Ibnu Jauzi)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; [4] (lihat no. 3)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; [5] Asy-Syaikh Muhammad Bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah mengatakan,&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="arabic" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;وَالراَّجِحُ أَنَّهُ لاَ يُكْرَهُ إِفْرَادُ عاَشُوْرَاء&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Dan yang rajih adalah bahwa tidak dimakruhkan berpuasa ‘Asyura saja. (Syarhul Mumthi’ VI)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Wallaahu a’lam.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/761503410559906563-5752201234711583040?l=alistiba.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://alistiba.blogspot.com/feeds/5752201234711583040/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://alistiba.blogspot.com/2011/11/oleh-asy-syaikh-muhammad-bin-shalih-al_28.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/761503410559906563/posts/default/5752201234711583040'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/761503410559906563/posts/default/5752201234711583040'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alistiba.blogspot.com/2011/11/oleh-asy-syaikh-muhammad-bin-shalih-al_28.html' title='Keutamaan Puasa Hari Asyuro'/><author><name>Abu abdirrahman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05301770063388687354</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/-1rkmfDMbj9g/TtiXyO-Rh_I/AAAAAAAAAoM/iPGpqXo-kow/s220/Ittiba%2527.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-4uKcHagdZzE/TtOjNNZn36I/AAAAAAAAAn4/EhadftIbcc8/s72-c/fadhlu+asyuro.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-761503410559906563.post-4760822493995046373</id><published>2011-11-26T22:30:00.000-08:00</published><updated>2011-12-02T05:39:06.718-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tsaqafoh'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Manhaj'/><title type='text'>Fatwa Ulama tentang Ucapan Selamat Tahun Baru Hijriyah</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-rOrsgqUAkf4/TtHY9F2-giI/AAAAAAAAAm0/ggFTCNNLmEs/s1600/1%2BMuharram.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="175" src="http://2.bp.blogspot.com/-rOrsgqUAkf4/TtHY9F2-giI/AAAAAAAAAm0/ggFTCNNLmEs/s200/1%2BMuharram.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad kepada keluarganya, para sahabatnya dan yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari kiamat. Amma ba’du:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Para pembaca yang dirahmati Allah,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bawah ini kami mengutip beberapa fatwa ulama besar dalam seputar tahun baru:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt; 1. &lt;a href="http://ahlulhadist.wordpress.com/2007/09/26/syaikh-abdul-aziz-bin-abdullah-bin-baz/" target="_blank"&gt;Syaikh Abdul Aziz Bin Abdullah Bin Baz rahimahullah&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Bin Baz pernah ditanya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami pada permulaan tahun baru hijriyah, dan sebagian orang saling bertukar ucapan selamat tahun baru hijriyah, mereka mengucapkan: (setiap tahun semoga kalian dalam kebaikan), maka apa hukum syar’i terkait ucapan selamat ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Bin Baz menjawab sbb:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ucapan  selamat tahun baru hijriyah kami tidak mengetahui dasarnya dari para Salafus Shalih, dan saya tidak mengetahui satupun dalil dari sunnah maupun Kitabullah yang menunjukkan pensyariatannya, tetapi siapa saja yang memulaimu dengan ucapan itu maka tidak mengapa kamu menjawabnya seperti itu, jika dia mengatakan: setiap tahun semoga anda dalam kebaikan maka tidak mengapa kamu menjawabnya semoga anda seperti itu kami memohon kepada Allah bagi kami dan bagimu setiap kebaikan atau semacamnya, adapun memulainya maka saya tidak mengetahui dasarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt; 2. &lt;a href="http://ahlulhadist.wordpress.com/2007/09/26/syaikh-muhammad-bin-shalih-al-utsaimin/" target="_blank"&gt;Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan 1:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Utsaimin pernah ditanya mengenai ucapan selamat tahun baru hijriyah dengan pertanyaan sbb:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh yang mulia, apa hukum mengucapkan selamat tahun baru hijriyah? Dan apa kewajiban kita kepada orang yang mengucapkan selamat tahun baru hijriyah kepada kita?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Utsaimin menjawab sbb:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika seseorang mengucapkan selamat kepadamu maka jawablah, tapi jangan kamu memulainya. Inilah pendapat yang benar dalam masalah ini. Seandainya seseorang mengucapkan mengucapkan selamat tahun baru kepadamu, maka jawablah: semoga Allah menyampaikan selamat kebaikan untukmu dan menjadikannya tahun kebaikan dan keberkahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi ingat, jangan kamu memulainya karena saya tidak mengetahui adanya riwayat dari para Salafus Shalih bahwa mereka dahulu mengucapkan selamat tahun baru hijriyah. Bahkan para Salaf belum menjadikan bulan Muharram sebagai awal tahun baru kecuali pada masa khilafah Umar bin Khatthab radhiyallahu anhu. (dikutip dari pertemuan bulanan ke-44 di akhir tahun 1417 H).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan 2:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Utsaimin juga pernah ditanya: Syaikh yang mulia, apa pendapat anda mengenai tukar menukar ucapan selamat pada awal tahun baru hijriyah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka Syaikh Utsaimin menjawab sbb:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku  berpendapat bahwa memulai ucapan selamat pada awal tahun baru hijriyah tidak mengapa, namun tidak disyariatkan. Artinya, kami tidak menyatakan sunnahnya saling menyampaikan ucapan selamat tahun baru hijriyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi jika mereka melakukannya tidak mengapa, namun sepatutnya juga apabila dia mengucapkan selamat tahun baru dengan memohon kepada Allah supaya menjadikannya sebagai tahun kebaikan dan keberkahan, lalu orang lain menjawabnya. Inilah pendapat kami dalam masalah ini yang merupakan perkara kebiasaan dan bukan termasuk perkara ibadah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Disampaikan pada pertemuan terbuka ke-93 hari Kamis, 25 bulan Dzulhijjah tahun 1415H).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan 3:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada kesempatan lainnya, beliau juga pernah ditanya: Apakah boleh mengucapkan selamat awal tahun baru?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka beliau menjawab: Ucapan selamat atas kedatangan tahun baru hijriyah tidak ada dasarnya dari perbuatan para Salafus Shalih. Maka kamu jangan memulainya, tetapi jika seseorang mengucapkan selamat kepadamu jawablah, karena ini sudah menjadi kebiasaan di tengah-tengah manusia, meskipun fenomena ini sekarang berkurang, karena sebagian orang sudah memahaminya, alhamdulillah. Padahal sebelumnya mereka saling bertukar kartu ucapan selamat tahun baru hijriyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan 4:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan lainnya kepada Syaikh Utsaimin: Apa bunyi ucapan yang saling disampaikan manusia?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau menjawab: yaitu mereka mengucapkan selamat atas datannya tahun baru, dan kami memohon kepada Allah mengampuni yang telah berlalu pada tahun kemarin, dan supaya memberikan pertolongan kepadamu untuk menghadapi masa depan atau semacam itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan 5:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Utsaimin ditanya: Apakah diucapkan “Setiap tahun semoga kalian dalam kebaikan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau menjawab: Tidak, setiap tahun semoga kalian dalam kebaikan tidak diucapkan dalam Idul Adha maupun Idul Fitri atau di tahun baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Disampaikan pada pertemuan terbuka ke-202 pada hari Kamis, 6 Muharram tahun 1420H).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. &lt;a href="http://ahlulhadist.wordpress.com/2007/09/26/syaikh-shalih-ibn-fauzan-ibn-abdullah-ibn-fauzan/" target="_blank"&gt;Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdillah Al-Fauzan hafizhahullah&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau pernah ditanya: Syaikh yang mulia semoga Allah memberikan anda taufik. Kebanyakan manusia saling mengucapan selamat tahun baru hijriyah. Apa hukum ucapan selamat tahun baru hijriyah, misalnya: ‘Semoga menjadi tahun bahagia,’ atau ucapan: ‘Semoga kalian setiap tahun dalam kebaikan.’ Apakah ucapan ini disyariatkan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh menjawab sbb:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Ini adalah bid’ah. Ini bid’ah dan menyerupai ucapan selamat orang-orang Kristen dengan tahun baru Masehi, dan ini sesuatu yang tidak pernah dilakukan para Salaf. Selain itu, tahun baru hijriyah adalah istilah para shahabat radhiyallahu anhum untuk penanggalan muamalat saja. Mereka tidak menganggapnya sebagai hari raya dan mereka mengucapkan selamat atasnya karena ini tidak ada dasarnya. Para shahabat menjadikan tahun hijriyah untuk penanggalan muamalat dan mengatur muamalat saja”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Syaikh Abdul Karim Al-Khidhir&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Doa kepada sesama muslim dengan doa umum yang lafalnya tidak diyakini sebagai ibadah dalam beberapa peringatan seperti hari-hari raya tidak mengapa, apalagi apabila maksud dari ucapan selamat ini untuk menumbuhkan kasih sayang, menampakkan kegembiraan dan keceriaan pada wajah muslim lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Ahmad rahimahullah berkata: “Aku tidak memulai ucapan selamat, tapi jika seseorang memulai dengan ucapan selamat maka aku suka menjawabnya karena menjawab ucapan selamat itu wajib. Adapun memulai ucapan selamat tidak ada sunnah yang diperintahkan dan juga bukan termasuk perkara yang dilarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KESIMPULAN:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. &lt;span style="color: purple;"&gt;Dari beberapa fatwa di atas dapat dipahami bahwa sebagian ulama besar membolehkan menjawab ucapan selamat saja tidak untuk memulainya, namun tidak menganggapnya perkara bid’ah yang besar karena itu adalah adat kebiasaan, bukan diyakini sebagai ibadah yang disyariatkan.&lt;/span&gt;&lt;br style="color: purple;" /&gt;&lt;span style="color: purple;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br style="color: purple;" /&gt;&lt;span style="color: purple;"&gt; 2. Sebaiknya kita menjelaskan kepada umat bahwa hal itu tidak ada dasarnya sehingga mereka tidak berlebih-lebihan dalam ucapan selamat tahun baru hijriyah. Karena hal itu dikhawatirkan bisa terjatuh dalam perkara bid’ah dan menyerupai kaum Nasrani sebagaimana fatwa Syaikh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah.&lt;/span&gt;&lt;br style="color: purple;" /&gt;&lt;span style="color: purple;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br style="color: purple;" /&gt;&lt;span style="color: purple;"&gt; 3. Kita tidak disyariatkan untuk merayakan tahun baru hijriyah seperti perayaan hari raya (ied), karena perayaan sebagai bentuk ibadah dan ibadah sifatnya tauqifiyah. Wallahu a’lam bis-shawab. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sumber : voa-islam.com &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/761503410559906563-4760822493995046373?l=alistiba.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://alistiba.blogspot.com/feeds/4760822493995046373/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://alistiba.blogspot.com/2011/11/fatwa-ulama-tentang-ucapan-selamat.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/761503410559906563/posts/default/4760822493995046373'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/761503410559906563/posts/default/4760822493995046373'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alistiba.blogspot.com/2011/11/fatwa-ulama-tentang-ucapan-selamat.html' title='Fatwa Ulama tentang Ucapan Selamat Tahun Baru Hijriyah'/><author><name>Abu abdirrahman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05301770063388687354</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/-1rkmfDMbj9g/TtiXyO-Rh_I/AAAAAAAAAoM/iPGpqXo-kow/s220/Ittiba%2527.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-rOrsgqUAkf4/TtHY9F2-giI/AAAAAAAAAm0/ggFTCNNLmEs/s72-c/1%2BMuharram.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-761503410559906563.post-3192425403807254015</id><published>2011-11-26T06:58:00.000-08:00</published><updated>2011-11-26T21:25:54.877-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tsaqafoh'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Manhaj'/><title type='text'>Kekeliruan dalam Menyambut Awal Tahun Baru Hijriyah</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-oQeoKPZtm30/TtEEYJB0DrI/AAAAAAAAAmo/O7K16Tcj9BI/s1600/Muharram2.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="283" src="http://2.bp.blogspot.com/-oQeoKPZtm30/TtEEYJB0DrI/AAAAAAAAAmo/O7K16Tcj9BI/s400/Muharram2.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Saudaraku sekalian yang dirahmati Allah Azza wa Jalla, kita telah memasuki tanggal 1 Muharram 1433 H. Seperti kita ketahui bahwa perhitungan awal tahun hijriyah dimulai dari hijrahnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Lalu bagaimanakah pandangan Islam mengenai awal tahun yang dimulai dengan bulan Muharram? Ketahuilah bulan Muharram adalah bulan yang teramat mulia, yang mungkin banyak di antara kita tidak mengetahuinya. Namun banyak di antara kaum muslimin yang salah kaprah dalam menyambut bulan Muharram atau awal tahun. Silakan simak pembahasan berikut.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;Bulan Muharram Termasuk Bulan Haram&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Dalam agama ini, bulan Muharram (dikenal oleh orang Jawa dengan bulan Suro), merupakan salah satu di antara empat bulan yang dinamakan bulan haram. Lihatlah firman Allah Ta’ala berikut.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="arabic" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;”Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram (suci). Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu.” (QS. At Taubah: 36)&lt;br /&gt;Ibnu Rajab mengatakan, ”Allah Ta’ala menjelaskan bahwa sejak penciptaan langit dan bumi, penciptaan malam dan siang, keduanya akan berputar di orbitnya. Allah pun menciptakan matahari, bulan dan bintang lalu menjadikan matahari dan bulan berputar pada orbitnya. Dari situ muncullah cahaya matahari dan juga rembulan. Sejak itu, Allah menjadikan satu tahun menjadi dua belas bulan sesuai dengan munculnya hilal. Satu tahun dalam syariat Islam dihitung berdasarkan perputaran dan munculnya bulan, bukan dihitung berdasarkan perputaran matahari sebagaimana yang dilakukan oleh Ahli Kitab.”[1]&lt;br /&gt;Lalu apa saja empat bulan suci tersebut? Dari Abu Bakroh, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="arabic" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;الزَّمَانُ قَدِ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ ، السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا ، مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ، ثَلاَثَةٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ ، وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِى بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;”Setahun berputar sebagaimana keadaannya sejak Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun itu ada dua belas bulan. Di antaranya ada empat bulan haram (suci). Tiga bulannya berturut-turut yaitu Dzulqo’dah, Dzulhijjah dan Muharram. (Satu bulan lagi adalah) Rajab Mudhor yang terletak antara Jumadil (akhir) dan Sya’ban.”[2]&lt;br /&gt;Jadi empat bulan suci yang dimaksud adalah (1) Dzulqa’dah; (2) Dzulhijjah; (3) Muharram; dan (4) Rajab.  Oleh karena itu bulan Muharram termasuk bulan haram.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;Di Balik Bulan Haram&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Lalu kenapa bulan-bulan tersebut disebut bulan haram? Al Qodhi Abu Ya’la rahimahullah mengatakan, ”Dinamakan bulan haram karena dua makna.&lt;br /&gt;Pertama, pada bulan tersebut diharamkan berbagai pembunuhan. Orang-orang Jahiliyyah pun meyakini demikian.&lt;br /&gt;Kedua, pada bulan tersebut larangan untuk melakukan perbuatan haram lebih ditekankan daripada bulan yang lainnya karena mulianya bulan tersebut. Demikian pula pada saat itu sangatlah baik untuk melakukan amalan ketaatan.”[3]&lt;br /&gt;Karena pada saat itu adalah waktu sangat baik untuk melakukan amalan ketaatan, sampai-sampai para salaf sangat suka untuk melakukan puasa pada bulan haram. Sufyan Ats Tsauri mengatakan, ”Pada bulan-bulan haram, aku sangat senang berpuasa di dalamnya.”&lt;br /&gt;Ibnu ’Abbas mengatakan, ”Allah mengkhususkan empat bulan tersebut sebagai bulan haram, dianggap sebagai bulan suci, melakukan maksiat pada bulan tersebut dosanya akan lebih besar, dan amalan sholeh yang dilakukan akan menuai pahala yang lebih banyak.”[4]&lt;br /&gt;Bulan Muharram adalah Syahrullah (Bulan Allah)&lt;br /&gt;Suri tauladan dan panutan kita, Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="arabic" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ وَأَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلاَةُ اللَّيْلِ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;”Puasa yang paling utama setelah (puasa) Ramadhan adalah puasa pada syahrullah (bulan Allah) yaitu Muharram. Sementara shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah shalat malam.”[5]&lt;br /&gt;Bulan Muharram betul-betul istimewa karena disebut syahrullah yaitu bulan Allah, dengan disandarkan pada lafazh jalalah Allah. Karena disandarkannya bulan ini pada lafazh jalalah Allah, inilah yang menunjukkan keagungan dan keistimewaannya.[6]&lt;br /&gt;Perkataan yang sangat bagus dari As Zamakhsyari, kami nukil dari Faidhul Qadir (2/53), beliau rahimahullah mengatakan, ”Bulan Muharram ini disebut syahrullah (bulan Allah), disandarkan pada lafazh jalalah ’Allah’ untuk menunjukkan mulia dan agungnya bulan tersebut, sebagaimana pula kita menyebut ’Baitullah’ (rumah Allah) atau ’Alullah’ (keluarga Allah) ketika menyebut Quraisy. Penyandaran yang khusus di sini dan tidak kita temui pada bulan-bulan lainnya, ini menunjukkan adanya keutamaan pada bulan tersebut. Bulan Muharram inilah yang menggunakan nama Islami. Nama bulan ini sebelumnya adalah Shafar Al Awwal. Bulan lainnya masih menggunakan nama Jahiliyah, sedangkan bulan inilah yang memakai nama islami dan disebut Muharram. Bulan ini adalah seutama-utamanya bulan untuk berpuasa penuh setelah bulan Ramadhan. Adapun melakukan puasa tathowwu’ (puasa sunnah) pada sebagian bulan, maka itu masih lebih utama daripada melakukan puasa sunnah pada sebagian hari seperti pada hari Arofah dan 10 Muharram. Inilah yang disebutkan oleh Ibnu Rojab. Bulan Muharram memiliki keistimewaan demikian karena bulan ini adalah bulan pertama dalam setahun dan pembuka tahun.”[7]&lt;br /&gt;Al Hafizh Abul Fadhl Al ’Iraqiy mengatakan dalam Syarh Tirmidzi, ”Apa hikmah bulan Muharram disebut dengan syahrullah (bulan Allah), padahal semua bulan adalah milik Allah?”&lt;br /&gt;Beliau rahimahullah menjawab, ”Disebut demikian karena di bulan Muharram ini diharamkan pembunuhan. Juga bulan Muharram adalah bulan pertama dalam setahun. Bulan ini disandarkan pada Allah (sehingga disebut syahrullah atau bulan Allah, pen) untuk menunjukkan istimewanya bulan ini. Dan Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam sendiri tidak pernah menyandarkan bulan lain pada Allah Ta’ala kecuali bulan Allah (yaitu Muharram).[8]&lt;br /&gt;Dengan melihat penjelasan Az Zamakhsyari dan Abul Fadhl Al ’Iraqiy di atas, jelaslah bahwa bulan Muharram adalah bulan yang sangat utama dan istimewa.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;b&gt;&lt;br style="color: red;" /&gt;&lt;span style="color: red;"&gt; Menyambut Tahun Baru Hijriyah&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Dalam menghadapi tahun baru hijriyah atau bulan Muharram, sebagian kaum muslimin salah dalam menyikapinya. Bila tahun baru Masehi disambut begitu megah dan meriah, maka mengapa kita selaku umat Islam tidak menyambut tahun baru Islam semeriah tahun baru masehi dengan perayaan atau pun amalan?&lt;br /&gt;Satu hal yang mesti diingat bahwa sudah semestinya kita mencukupkan diri dengan ajaran Nabi dan para sahabatnya. Jika mereka tidak melakukan amalan tertentu dalam menyambut tahun baru Hijriyah, maka sudah seharusnya kita pun mengikuti mereka dalam hal ini. Bukankah para ulama Ahlus Sunnah seringkali menguatarakan sebuah kalimat,&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="arabic" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;لَوْ كَانَ خَيرْاً لَسَبَقُوْنَا إِلَيْهِ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;“Seandainya amalan tersebut baik, tentu mereka (para sahabat) sudah mendahului kita melakukannya.”[9]&lt;br /&gt;Inilah perkataan para ulama pada setiap amalan atau perbuatan yang tidak pernah dilakukan oleh para sahabat. Mereka menggolongkan perbuatan semacam ini sebagai bid’ah. Karena para sahabat tidaklah melihat suatu kebaikan kecuali mereka akan segera melakukannya.[10]&lt;br /&gt;Sejauh yang kami tahu, tidak ada amalan tertentu yang dikhususkan untuk menyambut tahun baru hijriyah. Dan kadang amalan yang dilakukan oleh sebagian kaum muslimin dalam menyambut tahun baru Hijriyah adalah amalan yang tidak ada tuntunannya karena sama sekali tidak berdasarkan dalil atau jika ada dalil, dalilnya pun lemah.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;Amalan Keliru dalam Menyambut Awal Tahun Hijriyah&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;1. Do’a awal dan akhir tahun&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Amalan seperti ini sebenarnya tidak ada tuntunannya sama sekali. Amalan ini tidak pernah dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, para sahabat, tabi’in dan ulama-ulama besar lainnya. Amalan ini juga tidak kita temui pada kitab-kitab hadits atau musnad. Bahkan amalan do’a ini hanyalah karangan para ahli ibadah yang tidak mengerti hadits.&lt;br /&gt;Yang lebih parah lagi, fadhilah atau keutamaan do’a ini sebenarnya tidak berasal dari wahyu sama sekali, bahkan yang membuat-buat hadits tersebut telah berdusta atas nama Allah dan Rasul-Nya. Jadi mana mungkin amalan seperti ini diamalkan.[11]&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt; 2. Puasa awal dan akhir tahun&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sebagian orang ada yang mengkhsuskan puasa dalam di akhir bulan Dzulhijah dan awal tahun Hijriyah. Inilah puasa yang dikenal dengan puasa awal dan akhir tahun. Dalil yang digunakan adalah berikut ini.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="arabic" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;مَنْ صَامَ آخِرَ يَوْمٍ مِنْ ذِي الحِجَّةِ ، وَأَوَّلِ يَوْمٍ مِنَ المُحَرَّمِ فَقَدْ خَتَمَ السَّنَةَ المَاضِيَةَ بِصَوْمٍ ، وَافْتَتَحَ السَّنَةُ المُسْتَقْبِلَةُ بِصَوْمٍ ، جَعَلَ اللهُ لَهُ كَفَارَةٌ خَمْسِيْنَ سَنَةً &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;“Barang siapa yang berpuasa sehari pada akhir dari bulan Dzuhijjah dan puasa sehari pada awal dari bulan Muharrom, maka ia sungguh-sungguh telah menutup tahun yang lalu dengan puasa dan membuka tahun yang akan datang dengan puasa. Dan Allah ta’ala menjadikan kafarat/tertutup dosanya selama 50 tahun.”&lt;br /&gt;Lalu bagaimana penilaian ulama pakar hadits mengenai riwayat di atas:&lt;br /&gt;1. Adz Dzahabi dalam Tartib Al Maudhu’at (181)  mengatakan bahwa Al Juwaibari dan gurunya –Wahb bin Wahb- yang meriwayatkan hadits ini termasuk pemalsu hadits.&lt;br /&gt;2. Asy Syaukani dalam Al Fawa-id Al Majmu’ah (96) mengatan bahwa ada dua perawi yang pendusta yang meriwayatkan hadits ini.&lt;br /&gt;3. Ibnul Jauzi dalam Mawdhu’at (2/566) mengatakan bahwa Al Juwaibari dan Wahb yang meriwayatkan hadits ini adalah seorang pendusta dan pemalsu hadits.[12]&lt;br /&gt;Kesimpulannya hadits yang menceritakan keutamaan puasa awal dan akhir tahun adalah hadits yang lemah yang tidak bisa dijadikan dalil dalam amalan. Sehingga tidak perlu mengkhususkan puasa pada awal dan akhir tahun karena haditsnya jelas-jelas lemah.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt; 3. Memeriahkan Tahun Baru Hijriyah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Merayakan tahun baru hijriyah dengan pesta kembang api, mengkhususkan dzikir jama’i, mengkhususkan shalat tasbih, mengkhususkan pengajian tertentu dalam rangka memperingati tahun baru hijriyah, menyalakan lilin, atau  membuat pesta makan, jelas adalah sesuatu yang tidak ada tuntunannya. Karena penyambutan tahun hijriyah semacam ini tidak pernah dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakr, ‘Umar, ‘Utsman, ‘Ali, para sahabat lainnya, para tabi’in dan para ulama sesudahnya. Yang memeriahkan tahun baru hijriyah sebenarnya hanya ingin menandingi tahun baru masehi yang dirayakan oleh Nashrani. Padahal perbuatan semacam ini jelas-jelas telah menyerupai mereka (orang kafir). Secara gamblang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="arabic" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;”Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka”[13]&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;Penutup&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Menyambut tahun baru hijriyah bukanlah dengan memperingatinya dan memeriahkannya. Namun yang harus kita ingat adalah dengan bertambahnya waktu, maka semakin dekat pula kematian.&lt;br /&gt;Sungguh hidup di dunia hanyalah sesaat dan semakin bertambahnya waktu kematian pun semakin dekat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="arabic" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;مَا لِى وَمَا لِلدُّنْيَا مَا أَنَا فِى الدُّنْيَا إِلاَّ كَرَاكِبٍ اسْتَظَلَّ تَحْتَ شَجَرَةٍ ثُمَّ رَاحَ وَتَرَكَهَا&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;“Aku tidaklah mencintai dunia dan tidak pula mengharap-harap darinya. Adapun aku tinggal di dunia tidak lain seperti pengendara yang berteduh di bawah pohon dan beristirahat, lalu meninggalkannya.”[14]&lt;br /&gt;Hasan Al Bashri mengatakan, “Wahai manusia, sesungguhnya kalian hanya memiliki beberapa hari. Tatkala satu hari hilang, akan hilang pula sebagian darimu.”[15]&lt;br /&gt;Semoga Allah memberi kekuatan di tengah keterasingan. Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna.&lt;br /&gt;Diselesaikan di wisma MTI , Pogung Kidul – Jogja , 30 Dzulhijah 1430 H.&lt;br /&gt;—&lt;br /&gt;Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;________________________________________&lt;br /&gt;[1] Latho-if Al Ma’arif, Ibnu Rajab Al Hambali, hal. 217, Tahqiq: Yasin Muhammad As  Sawas, Dar Ibnu Katsir, cetakan kelima, 1420 H.&lt;br /&gt;[2] HR. Bukhari no. 3197 dan Muslim no. 1679&lt;br /&gt;[3] Lihat Zaadul Masiir, Ibnul Jauziy, tafsir surat At Taubah ayat 36, 3/173, Mawqi’ At Tafasir.&lt;br /&gt;[4] Kedua perkataan ini dinukil dari Latho-if Al Ma’arif, Ibnu Rajab Al Hambali.&lt;br /&gt;[5] HR. Muslim no. 2812&lt;br /&gt;[6] Lihat Tuhfatul  Ahwadzi, Al Mubarakfuri, 3/368, Darul Kutub Al ‘Ilmiyyah.&lt;br /&gt;[7] Lihat Faidul Qodir, Al Munawi, 2/53, Mawqi’ Ya’sub.&lt;br /&gt;[8] Syarh Suyuthi li Sunan An Nasa’i, Abul Fadhl As Suyuthi, 3/206, Al Maktab Al Mathbu’at Al Islami, cetakan kedua, tahun 1406 H.&lt;br /&gt;[9] Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu Katsir, tafsir surat Al Ahqof: 11, 7/278-279, Dar Thoyibah, cetakan kedua, tahun 1420 H.&lt;br /&gt;[10] Idem&lt;br /&gt;[11] Lihat Majalah Qiblati edisi 4/III.&lt;br /&gt;[12] Hasil penelusuran di http://dorar.net&lt;br /&gt;[13] HR. Ahmad dan Abu Daud. Syaikhul Islam dalam Iqtidho’ (1/269) mengatakan bahwa sanad hadits ini jayid/bagus. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shohih sebagaimana dalam Irwa’ul Gholil no. 1269&lt;br /&gt;[14] HR. Tirmidzi no. 2551. Dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani dalam Shohih wa Dho’if Sunan At Tirmidzi&lt;br /&gt;[15] Hilyatul Awliya’, 2/148, Darul Kutub Al ‘Arobi.&lt;br /&gt;Sumber : www.muslim.or.id&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/761503410559906563-3192425403807254015?l=alistiba.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://alistiba.blogspot.com/feeds/3192425403807254015/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://alistiba.blogspot.com/2011/11/kekeliruan-dalam-menyambut-awal-tahun_5931.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/761503410559906563/posts/default/3192425403807254015'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/761503410559906563/posts/default/3192425403807254015'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alistiba.blogspot.com/2011/11/kekeliruan-dalam-menyambut-awal-tahun_5931.html' title='Kekeliruan dalam Menyambut Awal Tahun Baru Hijriyah'/><author><name>Abu abdirrahman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05301770063388687354</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/-1rkmfDMbj9g/TtiXyO-Rh_I/AAAAAAAAAoM/iPGpqXo-kow/s220/Ittiba%2527.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-oQeoKPZtm30/TtEEYJB0DrI/AAAAAAAAAmo/O7K16Tcj9BI/s72-c/Muharram2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-761503410559906563.post-1340972964954054923</id><published>2011-11-21T06:32:00.000-08:00</published><updated>2011-11-24T14:23:50.709-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tazkiyatun Nafs'/><title type='text'>Maksiat Menggelapkan Hati</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-TqN5tTukq-8/Ts7DynUqeWI/AAAAAAAAAlM/9dgi0ccDKnw/s1600/%25D9%2582%25D8%25B3%25D9%2588%25D8%25A9+%25D8%25A7%25D9%2584%25D9%2582%25D9%2584%25D8%25A8.bmp" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="281" src="http://4.bp.blogspot.com/-TqN5tTukq-8/Ts7DynUqeWI/AAAAAAAAAlM/9dgi0ccDKnw/s400/%25D9%2582%25D8%25B3%25D9%2588%25D8%25A9+%25D8%25A7%25D9%2584%25D9%2582%25D9%2584%25D8%25A8.bmp" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Setiap hari tidak bosan-bosannya kita melakukan maksiat. Aurat terus diumbar, tanpa pernah sadar untuk mengenakan jilbab dan menutup aurat yang sempurna. Shalat 5 waktu yang sudah diketahui wajibnya seringkali ditinggalkan tanpa pernah ada rasa bersalah. Padahal meninggalkannya termasuk dosa besar yang lebih besar dari dosa zina. Saudara muslim jadi incaran untuk dijadikan bahan gunjingan (alias “ghibah”). Padahal sebagaimana daging saudaranya haram dimakan, begitu pula dengan kehormatannya, haram untuk dijelek-jelekkan di saat ia tidak mengetahuinya. Gambar porno jadi bahan tontonan setiap kali browsing di dunia maya. Tidak hanya itu, yang lebih parah, kita selalu jadi budak dunia, sehingga ramalan primbon tidak bisa dilepas, ngalap berkah di kubur-kubur wali atau habib jadi rutinitas, dan jimat pun sebagai penglaris dan pemikat untuk mudah dapatkan dunia. Hati ini pun tak pernah kunjung sadar. Tidak bosan-bosannya maksiat terus diterjang, detik demi detik, di saat pergantian malam dan siang. Padahal pengaruh maksiat pada hati sungguh amat luar biasa. Bahkan bisa memadamkan cahaya hati. Inilah yang patut direnungkan saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat yang patut jadi renungan di malam ini adalah firman Allah Ta’ala,&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="arabic" style="text-align: right;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;“Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka.” (QS. Al Muthoffifin: 14)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makna ayat di atas diterangkan dalam hadits berikut.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="arabic"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِى قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ وَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ وَهُوَ الرَّانُ الَّذِى ذَكَرَ اللَّهُ ( كَلاَّ بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ) &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abu Hurairah, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Seorang hamba apabila melakukan suatu kesalahan, maka dititikkan dalam hatinya sebuah titik hitam. Apabila ia meninggalkannya dan meminta ampun serta bertaubat, hatinya dibersihkan. Apabila ia kembali (berbuat maksiat), maka ditambahkan titik hitam tersebut hingga menutupi hatinya. Itulah yang diistilahkan “ar raan” yang Allah sebutkan dalam firman-Nya (yang artinya), ‘Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka’.”[1]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al Hasan Al Bashri rahimahullah mengatakan, “Yang dimaksudkan dalam ayat tersebut adalah dosa di atas tumpukan dosa sehingga bisa membuat hati itu gelap dan lama kelamaan pun mati.” Demikian pula yang dikatakan oleh Mujahid, Qotadah, Ibnu Zaid dan selainnya.[2]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mujahid rahimahullah mengatakan, “Hati itu seperti telapak tangan. Awalnya ia dalam keadaan terbuka dan jika berbuat dosa, maka telapak tangan tersebut akan tergenggam. Jika berbuat dosa, maka jari-jemari perlahan-lahan akan menutup telapak tangan tersebut. Jika ia berbuat dosa lagi, maka jari lainnya akan menutup telapak tangan tadi. Akhirnya seluruh telapak tangan tadi tertutupi oleh jari-jemari.”[3]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis Al Jalalain rahimahumallah menafsirkan, “Hati mereka tertutupi oleh “ar raan” seperti karat karena maksiat yang mereka perbuat.”[4]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Taimiyah rahimahullah menyebutkan perkataan Hudzaifah dalam fatawanya. Hudzaifah berkata, “Iman membuat hati nampak putih bersih. Jika seorang hamba bertambah imannya, hatinya akan semakin putih. Jika kalian membelah hati orang beriman, kalian akan melihatnya putih bercahaya. Sedangkan kemunafikan membuat hati tampak hitam kelam. Jika seorang hamba bertambah kemunafikannya, hatinya pun akan semakin gelap. Jika kalian membelah hati orang munafik, maka kalian akan melihatnya hitam mencekam.”[5]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Qayyim Al Jauziyah rahimahullah mengatakan, “Jika dosa semakin bertambah, maka itu akan menutupi hati pemiliknya. Sebagaimana sebagian salaf mengatakan mengenai surat Al Muthoffifin ayat 14, “Yang dimaksud adalah dosa yang menumpuk di atas dosa.”[6]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah di antara dampak bahaya maksiat bagi hati. Setiap maksiat membuat hati tertutup noda hitam dan lama kelamaan hati tersebut jadi tertutup. Jika hati itu tertutup, apakah mampu ia menerima seberkas cahaya kebenaran? Sungguh sangat tidak mungkin. Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Jika hati sudah semakin gelap, maka amat sulit untuk mengenal petunjuk kebenaran.”[7]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbanyaklah taubat dan istighfar, itulah yang akan menghilangkan gelapnya hati dan membuat hati semakin bercahaya sehingga mudah menerima petunjuk atau kebenaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah, tunjukkanlah hati kami ini agar selalu taat pada-Mu dan berusaha menjauhi setiap maksiat yang benar-benar telah Engkau larang, apalagi dosa syirik dan kekufuran. Amin Yaa Mujibbas Saailin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disusun di malam hari, 7 Syawal 1431 H (15/09/2010) di Panggang – Gunung Kidul&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel www.muslim.or.id&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;------------------------------------ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[1] HR. At Tirmidzi no. 3334, Ibnu Majah no. 4244, Ibnu Hibban (7/27) dan Ahmad (2/297). At Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[2] Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu Katsir, Muassasah Al Qurthubah, 14/268.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[3] Fathul Qodir, Asy Syaukani, Mawqi’ At Tafasir, 7/442.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[4] Tafsir Al Jalalain, Al Mahalli dan As Suyuthi, Mawqi’ At Tafasir, 12/360&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[5] Majmu’ Al Fatawa, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Darul Wafa’, cetakan ketiga, 1426, 15/283&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[6] Ad Daa’ wad Dawaa’, Ibnu Qayyim Al Jauziyah, Darul Kutub Al ‘Ilmiyyah, hal. 70.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[7] Ad Daa’ wad Dawaa’, hal. 107.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/761503410559906563-1340972964954054923?l=alistiba.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://alistiba.blogspot.com/feeds/1340972964954054923/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://alistiba.blogspot.com/2011/11/maksiat-menggelapkan-hati_6781.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/761503410559906563/posts/default/1340972964954054923'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/761503410559906563/posts/default/1340972964954054923'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alistiba.blogspot.com/2011/11/maksiat-menggelapkan-hati_6781.html' title='Maksiat Menggelapkan Hati'/><author><name>Abu abdirrahman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05301770063388687354</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/-1rkmfDMbj9g/TtiXyO-Rh_I/AAAAAAAAAoM/iPGpqXo-kow/s220/Ittiba%2527.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-TqN5tTukq-8/Ts7DynUqeWI/AAAAAAAAAlM/9dgi0ccDKnw/s72-c/%25D9%2582%25D8%25B3%25D9%2588%25D8%25A9+%25D8%25A7%25D9%2584%25D9%2582%25D9%2584%25D8%25A8.bmp' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-761503410559906563.post-1737567546183668992</id><published>2011-11-19T07:36:00.000-08:00</published><updated>2011-12-10T21:42:47.706-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tazkiyatun Nafs'/><title type='text'>Tujuan Hidup</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: justify;" trbidi="on"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-NxD4DkZoVl0/TsfMuqacoDI/AAAAAAAAAiw/YuSimOx0U8A/s1600/tujuan+hidup.gif" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="180" src="http://4.bp.blogspot.com/-NxD4DkZoVl0/TsfMuqacoDI/AAAAAAAAAiw/YuSimOx0U8A/s320/tujuan+hidup.gif" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Pada kesempatan kali ini kami akan lanjutkan postingan dari Buku 'Untuk mu yang Berjiwa Hanif'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="color: blue;"&gt;&lt;u&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;Tujuan Hidup&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;/div&gt;Rasanya semua orang sepakat dengan tujuan hidup yaitu mencari dan menggapai kebahagiaan. Semua manusia ingin hidupnya bahagia, dan semua tahu bahwa untuk mencapai kebahagiaan itu perlu pengorbanan. Hanya saja, manusia banyak salah mencari jalan kebahagiaan, banyak yang memilih sebuah jalan hidup yang Ia sangka di sana ada pantai kebahagiaan, padahal itu adalah jurang kebinasaan, itu hanya sebatas fatamorgana kebahagiaan, bukan kebahagiaan yang hakiki. Celakanya lagi, semakin dilalui jalan fatamorgana tersebut semakin jauh pula Ia dari jalan kebahagiaán hakiki, kecuali Ia surut kembali ke pangkal jalan.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Banyak orang menyangka kebahagiaan ada pada harta, karenanya ia berupaya&lt;br /&gt;mencari sumber sumbernya dengan berletih dan berpeluh. Setelah Ia peroleh&lt;br /&gt;harta tersebut, hatinya tetap gundah dan perasaan masih gelisah!! Ada saja&lt;br /&gt;yang membuat hati itu gelisah, kadang-kadang munculnya dari anak-anaknya,&lt;br /&gt;kadang-kadang dari istrinya atau tidak jarang juga datang dari usaha itu&lt;br /&gt;sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak pula yang nenyangka bahwa pangkat dan kekuasaan adalah kebahagiaan. Ketika dilihat mereka yang berkuasa dan bertahta, secara lahir mereka begitu tampak bahagia hidupnya! Pergi dijemput pulang diantar, ketika ia berkehendak tinggal memesan, perintahnya tidak ada yang menghalangi!! Akan tetapi setelah diselidiki lebih mendalam, kita masuk menembus dinding&lt;br /&gt;istananya, akan terdengar keluh kesahnya, dalam harta yang banyak itu terdapat jiwa yang rapuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi apa kebahagiaan yang sebenarnya ? Apa kebahagiaan sejati yang seharusnya dicari oleh manusia ? Siapa yang sebenarnya orang yang berbahagia? Apa sarana untuk mencapainya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia diciptakan oleh Allah Azza wa Jalla, bukan mereka yang menciptakan&lt;br /&gt;diri mereka, tentu yang paling tahu tentang seluk-beluk manusia termasuk tentang sebab bahagia atau sebab sengsara adalah Dia Allah subhanahu wa ta‘ala bukan manusia. Sama halnya dengan sebuah produk, sekiranya hendak mengetahui hakikat produk tersebut tentu ditanyakan kepada pembuatnya, bukan kepada produk itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah berfirman;&lt;br /&gt;“Apakah Allah yang menciptakan itu tidak mengetahui (yang kamu lahirkan atau&lt;br /&gt;rahasiakan)? Dan Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui”. (QS. al-Mulk:14)&lt;br /&gt;Ketika Al-Qur’an ditadabburi dan syariat Islam dikaji, maka kita dapat menyimpulkan bahwa kebahagiaan yang hakiki adalah dengan mengaplikasikan penghambaan diri kepada Allah Azza Wa Jalla. Orang yang bahagia adalah orang yang telah berhasil menjadi hamba Allah Azza Wa Jalla. Sarana kebahagiaan adalah semua sarana yang telah disediakan olehNya dalam meniti jalan penghambaan diri kepada Allah.&lt;br /&gt;Karena penghambaan diri inilah sebab diciptakannya manusia dan jin..karena ubudiah kepada Allah ditegakkannya langit dan dibentangkannya bumi... karena penghambaan inilah diturunkannya kitab dan diutusnya rasul...&lt;br /&gt;Allah berfirman;&lt;br /&gt;“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepadaKu”. (QS.az-Zariat: 56)&lt;br /&gt;Orang yang berpaling dari penghambaan diri ini dialah orang yang sengsara, Allah berfirman;&lt;br /&gt;“Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta”. (QS. Thaha:124)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Untuk Kami beri cobaan kepada mereka dan barang-siapa yang berpaling dari peringatan Tuhannya, niscaya akan dimasukkan-Nya ke dalam azab yang amat berat”. (QS. al-Jin:17)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Subhanahu wa ta’ala telah menentukan taqdir semua makhluk dan tidak ada yang dapat merubah taqdir selainNya. Allah Azza Wa Jalla tentukan kebaikan dan keburukan, kebahagiaan dan kesengsaraan, kaya dan miskin, laki-laki dan perempuan. Manusia tidak bisa melawannya, sekiranya Allah telah menentukan kemiskinan pada seseorang, maka tidak ada yang dapat mengkayakannya, ketika Allah telah menentukan kepadanya kesengsaraan, maka tidak ada satupun yang dapat membahagiakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalaulah begitu, kemana manusia hendak lari?! Kemana manusia hendak berteduh dan bernaung dari taqdir yang Ia tidak memiliki daya dan upaya untuk merubahnya kecuali atas izinNya?! Kemana manusia hendak bersandar dari sesuatu urusan yang tidak di tangannya?!&lt;br /&gt;Manusia yang berakal tentu akan bernaung kepada Zat yang telah mentaqdirkan segala sesuatu, dalam naungan-Nya Ia akan merasakan ketenangan, dalam menyandarkan diri kepadaNya, akan ia peroleh kebahagiaan, dalam ke-pasrahan diri kepadaNya akan sirna segala kecemasan dan kesedihan.&lt;br /&gt;Bagaimana ia tidak bahagia, bukankah Jejak jejak kasih sayang Allah begitu tampak dalam taqdir kehidupannya?! Bagaimana ía tidak tenang, bukankah semua taqdir yang ía suka atau yang ía benci, merupakan sarana untuk menggapai ridho dan cintaNya?&lt;br /&gt;Dari mana kesedihan masuk ke dalam dirinya atau rasa takut menyelimutinya, karena sebelumnya ia telah diajarkan tentang cara menghadapinya, bersabar ketika sengsara dan beryukur ketika bahagia, sehingga sengsaranya tidak membawa kepada keputusasaan dan senangnya tidak membawanya kepada kesombongan dan kecongkakan.&lt;br /&gt;Syaikhul Islam Ibnu Taymiah rohimahullah ta’ala menguñgkapkan hakikat tersebut yang berlaku pada dirinya, beliau berkata,&lt;br /&gt;“Apa yang dapat dilakukan oleh musuh-musuhku ?! Surga ada di dadaku, kemanapun dan dimanapun aku, Ia tetap bersamaku!! Sekiranya mereka memenjarakanku, maka penjara bagiku adalah kholwat. Sekiranya mereka mengusirku, usiran itu bagiku menjadi tamasya. Sekiranya mereka membunuhku, terbunuhnya diriku adalah syahid di jalan Allah Subhanahu wa ta’ala”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam sebagai manusia yang paling sempurna ubudiahnya kepada Allah, ketika Allah telah mentaqdirkan sesuatu yang berat dalam dakwah beliau, yaitu dua orang yang selama ini sebagai pembela dan penopang dakwah beliau, Khadijah Radliallahu anha istri beliau dan Abu Thalib paman beliau, telah meninggal dunia. Membuat kaum Quraisy meningkatkan permusuhan mereka kepada beliau dan memberi ultimatum untuk menghentikan dakwah beliau, bahkan telah berani pula mengusir beliau dari Mekkah.&lt;br /&gt;Berangkatlah beliau ke Thaif, berharap pembelaan dan bantuan. Kiranya bukan&lt;br /&gt;pembelaan yang beliau dapat dan bukan bantuan yang beliau peroleh, tapi&lt;br /&gt;malah cacian dan cemoohan, bahkan usiran oleh anak-anak dan wanita-wanita di&lt;br /&gt;sana, sedangkan beliau seorang utusan Allah Azza wa Jalla, Allah yang memiliki langit dan bumi.&lt;br /&gt;Mereka telah melukai melempar beliau dengan batu hingga luka kaki beliau,&lt;br /&gt;sebagaimana sebelumnya mereka telah melukal hati dan perasaannya. Belum sampai di situ malaikat gunung Akhsyabain meminta izin kepadanya untuk menimpakan gunung tersebut kepada mereka, sebagai tanda bahwa beliau bukan sendirian.&lt;br /&gt;Bertambah sedih beliau, karena yang beliau inginkan bukanlah balas dendam&lt;br /&gt;atau kepuasan diri, yang beliau inginkan hanya menampakkan bukti penghambaan diri kepadaNya, hal itu nampak betul dari doa beliau panjatkan kepadaNya,&lt;br /&gt;“Ya Allah Azza wa Jalla kepadaMulah daku keluhkan lemahnya kekuatanku,&lt;br /&gt;sedikitnya hilafku, hinanya diriku di mata manusia. Wahai Zat yang paling&lt;br /&gt;Pemurah ! Engkaulah Rabb orang-orang yang lemah, dan Engkaulah Rabbku!&lt;br /&gt;Kepada siapa Engkau hendak titipkan diriku?! Apakah kepada orang yang jauh&lt;br /&gt;yang tidak peduli dengan diriku atau engkau hendak serahkan perkara diriku&lt;br /&gt;kepada musuh?!&lt;br /&gt;Meskipun begitu, selagi Engkau tidak murka kepadaku, aku tidakpeduli!! Akan&lt;br /&gt;tetapi pengampunanMu lebih luas bagiku, aku berlindung dengan cahaya&lt;br /&gt;wajahMu -yang telah menerangi semua kegelapan, dengannya berjalan perkara&lt;br /&gt;dunia dan akhirat- dan turunnya murkaMu kepadaku atau jatuh kepadaku&lt;br /&gt;kebencianMu, hanya kepadaMu pengaduanku sampai Engkau ridho, dan tidak ada daya dan upaya kecuali denganMu “.&lt;br /&gt;Al-Quran menyebutkan bahwa orang berbahagia adalah orang yang menjalankan&lt;br /&gt;perintah Allah azza wa Jalla, Allah berfirman,&lt;br /&gt;“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang&lt;br /&gt;yang khusyu’ dalam sholatnya. Dan orang-orang yang menjauhkan diri dari&lt;br /&gt;(perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna. Dan orang-orang yang&lt;br /&gt;menunaikan zakat. Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya. Kecuali&lt;br /&gt;terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barangsiapa mencari yang di balik itu, maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya. Dan orang-orang yang memelihara sholatnya“. (QS. al-Mukminun:1 -9)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman : ,&lt;br /&gt;“Alif laam miin. Kitab (Al Quran) inii tidak ada keraguan padanya; petunjuk&lt;br /&gt;bagi mereka yang bertaqwa, (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib,&lt;br /&gt;yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami&lt;br /&gt;anugerahkan kepada mereka. Dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al Quran)&lt;br /&gt;yang telah diturunkan kepadamu dan kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat. Mereka Itulah yang tercipta mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung”. (QS. aI-Baqarah:1 -5)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya Allah Azza wa Jalla menyebutkan bahwa orang yang melanggar&lt;br /&gt;perintahNya atau merekalah orang yang merugi, Allah Azza wa Jalla berfirman, :&lt;br /&gt;“Katakanlah: "Cukuplah Allah menjadi saksi antaraku dan antaramu. Dia&lt;br /&gt;mengetahui apa yang di langit dan di bumi.Dan orang-orang yang percaya&lt;br /&gt;kepada yang batil dan ingkar kepada Allah, mereka itulah orang-orang yang&lt;br /&gt;merugi”. (QS. al-An kabut: 52)&lt;br /&gt;“(yaitu) orang-orang yang melanggar perjanjian Allah sesudah perjanjian itu teguh, dan memutuskan apa yang diperintahkan Allah (kepada mereka) untuk menghubungkannya dan membuat kerusakan di muka bumi. Mereka itulah orang-orang yang rugi”. (QS. al-Baqarah :27)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/761503410559906563-1737567546183668992?l=alistiba.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://alistiba.blogspot.com/feeds/1737567546183668992/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://alistiba.blogspot.com/2011/11/tujuan-hidup_19.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/761503410559906563/posts/default/1737567546183668992'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/761503410559906563/posts/default/1737567546183668992'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alistiba.blogspot.com/2011/11/tujuan-hidup_19.html' title='Tujuan Hidup'/><author><name>Abu abdirrahman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05301770063388687354</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/-1rkmfDMbj9g/TtiXyO-Rh_I/AAAAAAAAAoM/iPGpqXo-kow/s220/Ittiba%2527.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-NxD4DkZoVl0/TsfMuqacoDI/AAAAAAAAAiw/YuSimOx0U8A/s72-c/tujuan+hidup.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-761503410559906563.post-6575682777063692041</id><published>2011-11-18T16:16:00.000-08:00</published><updated>2011-11-18T16:30:21.695-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kisah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tarbiyah'/><title type='text'>Kisah Seorang Yang Meninggalkan Rokok</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-wlUy_0VdGYU/Tsb1Me_WqZI/AAAAAAAAAio/f5VxO3d-RAA/s1600/stop+rokok.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://3.bp.blogspot.com/-wlUy_0VdGYU/Tsb1Me_WqZI/AAAAAAAAAio/f5VxO3d-RAA/s1600/stop+rokok.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dikisahkan oleh Syaikh Dr. Muhammad al-‘Arifi&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Aku pernah diundang di malam Ramadhan dua tahun yang lalu untuk menjadi pembicara dalam satu siaran live di salah satu siaran televisi. Siaran kala itu berkisar tentang ibadah pada bulan Ramadhan. Siaran itu dilakukan di Makkah al-Mukarramah pada satu kamar di salah satu hotel yang bisa melongok di atas Masjidil al-Haram.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kala itu, kami berbicara tentang Ramadhan. Para pemirsa televisi bisa melihat dari sela-sela jendela kamar di belakang kami pemandangan orang-orang yang umrah dan thawaf secara langsung.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Kala itu pemandangannya sungguh mengagumkan dan mengharukan, membuat pembicaraan pun semakin berkesan. Hingga pembawa acara menjadi lembut hatinya, dan menangis di tengah halaqah itu. Sungguh suasana itu adalah suasana keimanan, dan tidak merusak suasana itu kecuali salah satu kameramen. Dia memegang kamera dengan satu tangan, dan tangan yang kedua memegang “Tuhan Sembilan Senti” menurut istilah Penyair Taufik Ismail, yaitu rokok. Seakan-akan tidak ada satu waktu yang tersia-siakan dari malam bulan Ramadhan kecuali dia kenyangkan paru-parunya dengan asap rokok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini banyak menggangguku. Penghisap rokok itu benar-benar mencekikku, tetapi harus bersabar, karena itu adalah siaran langsung, dan tidak ada alasan, kecuali terpaksa melaluinya. Berlalulah satu jam penuh, dan berakhirlah kajian itu dengan salam.&lt;br /&gt;Kameramen itu pun mendatangiku –sementara rokok masih ada di tangannya- sembari dia mengucapkan terima kasih dan memuji. Maka kukeraskan genggaman tanganku dan kukatakan, ‘Anda juga, saya berterima kasih atas keikutsertaan Anda dalam menyuting acara keagamaan ini. Saya memiliki satu kalimat, barangkali Anda mau menerimanya.’&lt;br /&gt;Dia pun menjawab, ‘Silahkan… silahkan.”&lt;br /&gt;Kukatakan, ‘Rokok dan siga…” (maksudku sigaret), namun dia memutus pembicaraanku seraya berkata, ‘Jangan menasihatiku… demi Allah, tidak ada faidahnya wahai syaikh.’&lt;br /&gt;Kukatakan, ‘Baik, dengarkan saya… Anda tahu bahwa rokok haram, dan Allah berfirman…’&lt;br /&gt;Dia pun memotong pembicaraanku sekali lagi, ‘Wahai Syaikh, janganlah menyia-nyiakan waktu Anda… saya telah merokok selama 40 tahun… rokok telah mengalir dalam urat nadi saya… tidak ada faidah… selain Anda lebih pandai lagi..!!&lt;br /&gt;Kukatakan, ‘Apa yang ada faidahnya?’&lt;br /&gt;Dia pun merasa tidak enak dariku lalu berkata, ‘Do’akanlah saya… do’akanlah saya.’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka akupun memegang tangannya seraya berkata, ‘Mari bersama saya..’&lt;br /&gt;Kukatakan, ‘Mari kita melihat kepada Ka’bah.’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka kamipun berdiri di sisi jendela yang bisa melongok di atas al-Haram. Dan ternyata setiap jengkal dipenuhi dengan manusia. Antara yang ruku’, sujud, yang sedang umrah, dan sedang menangis. Sungguh pemandangan yang sangat mengesankan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kukatakan, ‘Apakah Anda melihat mereka?’ Dia menjawab, ‘Ya.’ Kukatakan, ‘Mereka datang dari setiap tempat, yang putih, yang hitam… orang Arab dan ‘ajam… yang kaya dan miskin… semuanya berdo’a kepada Allah agar menerima ibadah mereka dan mengampuni mereka…’&lt;br /&gt;Dia menjawab, ‘Benar… benar…’&lt;br /&gt;Kukatakan, ‘Tidakkah Anda menginginkan Allah memberikan kepada Anda apa yang Dia berikan kepada mereka?’&lt;br /&gt;Dia menjawab, ‘Ya… tentu saja.’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kukatakan, ‘Angkatlah tangan Anda, saya akan berdo’a untuk Anda… dan aminilah do’a saya.’ Akupun mengangkat kedua tanganku lalu kukatakan, ‘Ya Allah, ampunilah dia…’&lt;br /&gt;Dia berkata, ‘Aamiin.’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berdo’a, ‘Ya Allah, angkatlah derajatnya, dan kumpulkanlah dia bersama dengan orang-orang yang dikasihinya di dalam sorga… ya Allah…’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan tidak henti-hentinya aku berdo’a hingga hatinya lembut dan menangis… seraya mengulang-ulang, ‘Aamiin… aamiin…’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tatkala aku ingin menutup do’a kukatakan, ‘Ya Allah, jika dia meninggalkan rokok, maka kabulkanlah do’a ini, jika tidak, maka haramkan dia atas terkabulnya do’a ini.’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka pecahlah tangisan laki-laki tersebut, sembari menutupi wajahnya dengan kedua tangannya dan keluar dari kamar tersebut.&lt;br /&gt;Berbulan-bulan telah berlalu, akupun diundang lagi di studio televisi tersebut untuk melakukan siaran langsung.&lt;br /&gt;Saat aku masuk ke bangunan tersebut, tiba-tiba ada seorang laki-laki yang tampak taat beragama menemuiku, kemudian dia mengucapkan salam dengan hangat, lalu mencium kepalaku, dan merendah meraih kedua tanganku untuk menciumnya, dan sungguh dia sangat terkesan.&lt;br /&gt;Kukatakan kepadanya, ‘Mudah-mudahan Allah mensyukuri kelembutan dan adab Anda… saya sungguh menghargai kecintaan Anda… akan tetapi maaf, saya belum mengenal Anda…’&lt;br /&gt;Maka dia berkata, ‘Apakah Anda masih ingat dengan kameramen yang telah Anda nasihati untuk meninggalkan rokok dua tahun yang lalu.’&lt;br /&gt;Kujawab, ‘Ya…’&lt;br /&gt;Dia berkata, ‘Sayalah dia… demi Allah wahai syaikh… sesungguhnya aku tidak pernah meletakkan rokok di mulutku sejak saat itu.’ Alhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.(AR)*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: http://qiblati.com/selamat-tinggal-rokok.html&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/761503410559906563-6575682777063692041?l=alistiba.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://alistiba.blogspot.com/feeds/6575682777063692041/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://alistiba.blogspot.com/2011/11/kisah-seorang-yang-meninggalkan-rokok.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/761503410559906563/posts/default/6575682777063692041'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/761503410559906563/posts/default/6575682777063692041'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alistiba.blogspot.com/2011/11/kisah-seorang-yang-meninggalkan-rokok.html' title='Kisah Seorang Yang Meninggalkan Rokok'/><author><name>Abu abdirrahman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05301770063388687354</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/-1rkmfDMbj9g/TtiXyO-Rh_I/AAAAAAAAAoM/iPGpqXo-kow/s220/Ittiba%2527.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-wlUy_0VdGYU/Tsb1Me_WqZI/AAAAAAAAAio/f5VxO3d-RAA/s72-c/stop+rokok.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-761503410559906563.post-8929450179751628340</id><published>2011-11-18T06:19:00.000-08:00</published><updated>2011-11-24T14:28:35.431-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tazkiyatun Nafs'/><title type='text'>Menangis Karena Takut kepada Allah</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-o5OnBbXhp9s/TsZpIyp79pI/AAAAAAAAAiU/MXd_IrKviyc/s1600/tangisan.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://1.bp.blogspot.com/-o5OnBbXhp9s/TsZpIyp79pI/AAAAAAAAAiU/MXd_IrKviyc/s400/tangisan.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Menangis Hanya Karena Allah (&lt;a href="http://alqiyamah.wordpress.com/"&gt;http://alqiyamah.wordpress.com/&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sufyan berkata: “Menangis itu ada 10 macam, yakni 9 karena selain Allah dan satu karena Allah. Bila menangis karena Allah itu datang sekali dalam setahun, maka itu sudah terbilang banyak.” [Hilyatul Auliya' 7/11]&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;Anjuran Menangis Karena Allah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Qasamah bin Zuhair berkata, “Abu Musa pernah berkhotbah di kota Bashrah. Ia berkata, “Wahai manusia, menangislah. Jika kalian tidak bisa menangis, maka berusahalah untuk menangis. Karena penghuni Neraka akan menangis dengan mengeluarkan air mata sampai habis. Kemudian mereka akan menangis dengan mengeluarkan air mata darah. Bahkan seandainya di situ dilepaskan beberapa perahu, pastilah akan bisa berjalan.” [Hilyatul Auliya' 1/261]&lt;br /&gt;&lt;br style="color: blue;" /&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt; &lt;b&gt;Keutamaan Menangis Karena Allah&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ka’bul Ahbar berkata, “Sungguh, aku lebih suka menangis karena Allah, lalu air mataku mengalir diatas pipiku, daripada bersedekah dengan emas seberat timbanganku.” [Hilyatul Auliya' 5/366]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buah Dari Menangis Karena Allah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wuhaib bin Ward berkata, “Yahya bin Zakariya ‘alaihis salam memiliki dua garis dipipinya akibat menangis.” Kemudian ayahnya, Zakariya ‘alaihis salam berkata, “Sungguh, aku hanya meminta kepada Allah seorang anak yang bisa menjadi penyejuk mataku.” Yahya ‘alaihis salam berkata, “Ayah, sesungguhnya Jibril ‘alaihis salam memberitahuku bahwa diantara Surga dan Neraka ada sebuah gurun yang hanya bisa dilalui oleh orang yang rajin menangis.” [Hilyatul Auliya' 8/149]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Macam-Macam Tangisan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yazid bin Maisaroh berkata, “Tangisan itu berasal dari tujuh hal: gembira, sedih, cemas, sakit, riya’, syukur, dan tangisan karena takut kepada Allah. Inilah tangisan yang tetesan air matanya bisa memadamkan api sebesat gunung.” [Hilyatul Auliya' 5/235]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara Mengundang Tangisan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shalih al-Murri berkata, “Tangisan itu bisa diundang dengan cara memikirkan dosa, jika direspons positif oleh hati. Jika tidak, maka alihkan kepada kengerian dan kedahsyatan hari Kiamat, jika direspons positif. Jika tidak, maka tawarkanlah kepadanya untuk berguling-guling di antara nampan-nampan api (Neraka).” Kemudian ia pun menangis dan pingsan. Dan orang-orang pun berteriak histeris. [Hilyatul Auliya' 6/167]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-Orang Shalih Terdahulu Yang Menangis Karena Takut Kepada Allah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Abdussalam (mantan budak Maslamah bin Abdul Malik) berkata, “Umar bin Abdul Aziz pernah menangis, lalu Fathimah ikut menangis. Namun mereka tidak tahu apa yang membuat mereka menangis. Ketika mereka selesai menangis, Fathimah bertanya, “Ya Amirul Mukminin, mengapa anda menangis?” Umar menjawab, “Fathimah, aku teringat hari dimana manusia dipisahkan dari hadapan Allah; satu kelompok di dalam Surga dan kelompok lainnya di dalam Neraka.” Kemudian ia berteriak dan pingsan. [Hilyatul Auliya' 5/269]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Apabila Umar bin Abdul Aziz mendengar pembicaraan tentang kematian, maka tubuhnya menggelepar seperti burung dan menangis sampai air matanya mengalir di jenggotnya.” [Hilyatul Auliya' 3/316]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Hani’ (mantan budak Utsman bin Affan) berkata, “Apabila Utsman bin Affan berdiri di atas kuburan, ia menangis hingga jenggotnya basa oleh air mata.” [Hilyatul Auliya' 1/61]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Malik bin Anas berkata, “Muhammad bin Munkadir adalah penghulu para pembaca. Hampir setiap kali ada orang yang bertanya kepadanya tentang hadits, ia selalu menangis.” [Hilyatul Auliya' 2/147]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Abu Ayyub al-A’raj berkata, “Sa’id bin Jubair selalu menangis di malang hari sampai rabun.” [Hilyatul Auliya' 4/272]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Sa’id bin Jubair berkata, “Aku tidak pernah melihat orang yang lebih perhatian terhadap kemuliaan Baitullah ini daripada orang Bashrah. Pada suatu malam aku pernah melihat seorang wanita muda bergelayutan pada tirai Ka’bah. Ia memanjarkan doa, menangis dan menghiba sampai meninggal dunia.” [Hilyatul Auliya' 4/276]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Ali bin Abdillah berkata, Kami pernah bersama Yahya bin Sa’id al-Qaththan. Ketika ia keluar dari masjid, kami pun keluar bersamanya. Tatkala tiba di pintu rumahnya ia berdiri, dan kami pun berdiri. Lalu ia berkata kepada seorang pria, “Bacalah!” Pria itu pun membaca surat ad-Dukhan. Ketika ia mulai membaca aku melihat Yahya bin Sa’id berubah, hingga ketika sampai pada ayat,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya hari keputusan itu adalah waktu yang dijanjikan bagi mereka semuanya.” [QS.ad Dukhan:40]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba Yahya menjerit dan pingsan. Ia baru siuman setelah sekian lama. Kemudian kami menemuinya. Ternyata ia tengah tertidur di atas pembaringannya serayas membaca, “Sesungguhnya hari keputusan itu adalah waktu yang dijanjikan bagi mereka semuanya.” [QS.ad Dukhan:40]. Maka keadaan itu terus berlangsung sampai ia meninggal dunia. [Hilyatul Auliya' 8/383]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Disalin dari 1000 Hikmah Ulama Salaf, Bab.Menangis Karena Allah, Hal. 335 dst, Penerbit Elba.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/761503410559906563-8929450179751628340?l=alistiba.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://alistiba.blogspot.com/feeds/8929450179751628340/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://alistiba.blogspot.com/2011/11/menangis-karena-takut-kepada-allah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/761503410559906563/posts/default/8929450179751628340'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/761503410559906563/posts/default/8929450179751628340'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alistiba.blogspot.com/2011/11/menangis-karena-takut-kepada-allah.html' title='Menangis Karena Takut kepada Allah'/><author><name>Abu abdirrahman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05301770063388687354</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/-1rkmfDMbj9g/TtiXyO-Rh_I/AAAAAAAAAoM/iPGpqXo-kow/s220/Ittiba%2527.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-o5OnBbXhp9s/TsZpIyp79pI/AAAAAAAAAiU/MXd_IrKviyc/s72-c/tangisan.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-761503410559906563.post-7533519820449217463</id><published>2011-11-16T01:37:00.000-08:00</published><updated>2011-11-16T01:52:10.326-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kisah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Syubhat'/><title type='text'>Kisah Palsu: Umar رَضي الله عنه Menghukum Cambuk Anaknya Hingga Wafat</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Al Kisah (*)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Diriwayatkan dari Mujahid, beliau berkata, “Pada suatu ketika di majelisnya Ibnu Abbas, orang-orang menyebut-nyebut keutamaan Abu Bakar kemudian Umar. Tatkala Ibnu Abbas mendengarnya tiba-tiba beliau menangis pilu sampai pingsan. Saat sadar beliau berkata, “Semoga Allah merahmati seseorang yang celaan orang lain tidak menyurutkannya dari jalan Allah. Semoga Allah merahmati seseorang yang membaca al Qur'an lalu mengamalkannya serta menegakkan hukum Allah sebagaimana Dia perintahkan. Tidak ada yang dapat mempengaruhinya baik kerabat maupun orang jauh. Saya pernah melihat Umar menghukum cambuk putranya sendiri sampai wafat. Kemudian beliau menangis dan orang di sekeliling beliau pun ikut menangis. Kami pun berkata, “Wahai ponakan Rasulullah, jika kamu tidak keberatan, ceritakanlah kepada kami kejadian itu.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Abbas pun mengabulkan permintaan mereka, yang ringkas ceritanya adalah berikut ini:&lt;br /&gt;Suatu ketika saya berada di masjid Nabawi, saai itu Umar sedang menyampaikan ceramah kepada manusia. Tiba-tiba ada seorang wanita yang datang langsung maju menghadap Umar lalu berkata, “Assalamu'alaikum wahai Amirul Mukminin.” Umar pun menjawab salamnya lalu berkata, “Wahai hamba Allah, apakah engkau mempunyai keperluan denganku?” dia menjawab, “Ya, sebuah keperluan yang sangat penting. Ambillah anakmu ini wahai Amirul Mukminin, karena engkau lebih berhak dari padaku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wanita itu membuka apa yang dia bawa, ternyata isinya seorang anak dalam gendongannya. Umar pun berkata, “Saya tidak mengenalmu, lalu bagaimana mungkin bayi ini adalah anakku?” Wanita itu pun menangis lalu berkata, “Wahai Amirul Mukminin, memang bukan anakmu secara langsung, tapi ini anak dari anakmu.” Umar menyela, “Anakku yang mana?” Wanita itu menjawab, “Abu Syahmah.””Anak itu hasil hubungan halal atau haram?” lanjut Umar. Wanita itu pun menjawab, “Halal dariku, namun haram darinya.” Bagaimana bisa begitu?” Kata Umar. Wanita itu menjawab, “Dengarkanlah ceritaku wahai Amirul Mukminin.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pada suatu hari saya lewat di kebun bani Najjar untuk menyelesaikan sebuah keperluanku, tiba-tiba ada yang berteriak dari belakang, ternyata dia adalah anakmu Abu Syahmah, dia mabuk karena barusan minum khomr pada sebuah acara sembelihan seorang Yahudi. Dia langsung menyeretku ke kebun dan sayapun pingsan, akhirnya dia memperkosaku. Akhirnya sayapun hamil dan melahirkan, dan inilah anak itu wahai Amirul Mukminin.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mendengar cerita tersebut, Umar segera mengumpulkan kaum Muhajirin dan Anshor dan meminta mereka untuk menunggu sampai ada keputusan darinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umar pun menuju rumah putranya Abu Syahmah. Sambil bersumpah atas nama Allah. Umar menanyakan kebenaran cerita wanita tersebut. Ternyata anaknya mengakui itu semua. Umar pun menyeretnya ke masjid. Abu Syahmah berkata, “Ayah, jangan hukum saya di depan umum, habisilah saya di sini saja.” Maka Umar membaca firman Allah Ta'ala (yang artinya):&lt;br /&gt;“Dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan dari orang-orang yang beriman.” [QS.an-Nur: 2]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesampainya di areal masjid, Umar pun melaksanakan hukum cambuk untuk anaknya, dan yang melaksanakan hukuman itu adalah budak beliau bernama Aflah. Para Sahabat lainnya pun menangis histeris, meminta kepada Umar agar tidak menyempurnakan hukuman sekaligus. Ibunya pun menangis meminta maaf kepada Umar, dan akan menebus setiap kali cambukan dengan melaksanakan haji. Namun beliau tak bergeming. Sehingga tatkala lengkap seratus cambukan, Abu Syahmah pun meninggal dunia. Umar pun meletakkan jenazahnya di pangkuan beliau seraya berkata, “Wahai anakku, Semoga Allah menghapus dosa-dosamu, siapakah orang yang tidak dikasihi oleh bapak dan keluarganya?” Melihat peristiwa itu manusia pun kembali menangis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Empat puluh hari setelah kejadian tersebut, Hudzaifah bin Yaman datang kepada Umar bercerita, “Semalam saya mimpi bertemu dengan Rasulullah, di dekatnya ada seorang pemuda yang mengenakan dua baju indah berwarna hijau. Rasulullah bersabda, “Sampaikan salamku kepada Umar, katakan kepadanya, “Demikianlah Allah memerintahkannya untuk membaca al-Qur'an dan menegakkan hukum-Nya.” Lalu pemuda itu berkata, “Sampaikan salam kepada ayahku, semoga Allah mensucikannya sebagaimana dia mensucikan saya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Takhrij Kisah&lt;br /&gt;Kisah ini diriwayatkan oleh Imam Ibnul Jauzi rahimahullah dalam al-Maudhu'at: 3/269 Beliau berkata, “Telah diceritakan kepadaku dari Syirowaih bin Syahroyar, telah memberitahukan kepadaku Abul Hasan bin Bukair, telah memberitahukan kepadaku Abdurrahman bin Muhammad an-Naisaburi, telah memberitahukan kepadaku Abdul Karim bin Abul Qosim bin Balawaih, telah menceritakan kepadaku Ibrahim bin Muhammad, telah menceritakan kepadaku Ahmad bin Muhammad bin Isa, telah menceritakan kepadaku Abu Hudzaifah dari Syibl dari Mujahid dari Ibnu Abbas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Derajat Kisah&lt;br /&gt;Kisah ini PALSU. Diriwayatkan dari tiga jalan, namun semuanya tidak bisa menyelamatkannya dari derajat kepalsuan, minimalnya sangat lemah. Hal ini bisa di tinjau dari dua sisi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama: Sisi Sanad&lt;br /&gt;Kisah ini dalam sanadnya terdapat orang-orang yang tidak dikenal dan munkar. Imam Ibnul Jauzi rahimahullah berkata, “Ini adalah hadits palsu, pada sanadnya terdapat orang-orang yang tidak dikenal. Imam ad-Daruquthni rahimahullah berkata, “Hadits Mujahid dari Ibnu Abbas tentang hukuman bagi Abu Syahmah tidak shohih.” [al-Maudhu'at: 3/274]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang sanad lainnya yang diriwayatkan dari jalan Sa'id bin Masruq dari Umar, Imam Ibnul Jauzi rahimahullah berkata, “Ini adalah hadits palsu, dibuat-buat oleh para tukang cerita.” [al-Maudhu'at: 3/269]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sanad ketiga hadits ini dari jalan Shofwan dari Umar. Dikatakan oleh Imam Ibnul Jauzi rahimahullah, “Shofwan perowi kisah ini dari Umar, antara dia dengan Umar terdapat banyak rowi. Yang tertuduh memalsukan hadits ini adalah orang-orang yang berada di awal sanad. Tidak terlalu penting bagi kita untuk menyebutkan kecacatan para perowinya, karena seandainya pun mereka tsiqoh, namun dengan jalur kisah ini dapat diketahui bahwa kisah ini dihembuskan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab, karena banyak hal-hal yang tidak mungkin dilakukan oleh para Sahabat.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua: Sisi Matan&lt;br /&gt;Sedangkan kalau ditinjau dari sisi matan kisah ini, maka akan kita temukan banyak kejanggalan yang memperkuat kepalsuan kisah ini. Namun perlu diketahui bahwa kisah yang diuraikan di atas merupakan ringkasan, adapun kisah selengkapnya sangat panjang. Diceritakan dalah kisah itu bagaimana Umar radhiyallahu 'anhu bersumpah pada anaknya agar mengaku. Dalam setiap cambukan Abu Syahmah selalu berucap selalu berucap sesuatu dan dijawab Umar radhiyallahu 'anhu. Para Sahabat minta agar tidak disempurnakan hukuman. Ibunda Abu Syahmah minta agar tidak dilanjutkan dan sebagai tebusannya dia akan berhaji untuk setiap kali cambukan. Ini semua menunjukkan kepalsuannya, karena bagi yang sedikit mencium hukum syar'i tidak akan mengatakan hal seperti itu. Lalu bagaimana dengan para Sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karenanya Imam Ibnul Jauzi rahimahullah berkata, “Ini adalah hadits palsu, bagaimana periwayatannya dan dari jalur mana? Kisah ini dipalsukan oleh para tukang cerita untuk membuat orang-orang awam dan para wanita menangis. Mereka (para pemalsunya) benar-benar keterlaluan dalam membuatnya, mereka menyandarkan kepada Umar dan para sahabat sesuatu yang tidak pantas mereka lakukan. Kata-kata dalam kisah ini jelek, hal ini menunjukkan akan kepalsuannya serta jauhnya dari hukum-hukum syar'i. Juga menunjukkan bahwa pemalsunya sama sekali tidak faham terhadap hukum syar'i. Pemalsunya terlalu tergesa-gesa saat menuduh anak Umar minum khomr pada acara sembelihan Yahudi, lalu menisbatkan kepada Umar bahwa beliau bersumpah agar anaknya mengaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana mungkin Umar bersumpah atas nama Allah azza wa jalla saat bertanya kepada anaknya, “Apakah engkau berzina?” ini tidak layak dilakukan oleh Umar. Dan alangkah jeleknya apa yang mereka buat-buat berupa ucapan Abu Syahmah dalam setiap cambukan. Ini semua semakin menunjukkan pemalsunya orang bodoh. Dikisahkan bahwa Abu Syahmah meminta air, lalu Umar radhiyallahu 'anhu tidak memberinya, ini sangat jelek. Para Sahabat minta agar hukumannya ditunda atau tidak disempurnakan serta ibu Abu Syahmah akan berhaji sebagai tebusan setiap kali cambukan. Ini semua sesuatu yang tidak mungkin dilakukan oleh para Sahabat.” [al-Maudhu'at: 3/274]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komentar Para Ulama&lt;br /&gt;Disebabkan beberapa hal di atas, maka para ulama pakar hadits menganggap bahwa hadits ini palsu. Di antara mereka yaitu:&lt;br /&gt;1. Imam Ibnu 'Aroq rahimahullah dalam Tahzihusy Syar`iah: 2/220. Beliau berkata, “Kisah ini dibuat-buat oleh para tukang cerita.”&lt;br /&gt;2. Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah dalam al-Ishobah: 7/210/10112. Beliau berkata, “Abu Syahmah putra Umar bin Khaththab, disebutkan dalam sebuah kisah yang sangat lemah bahwa dia dihukum cambuk sampai mati oleh bapaknya sendiri karena berzina.”&lt;br /&gt;3. Imam asy-Syaukani rahimahullah dalam al-Fawa'id al Majmu'ah hal.203 berkata, “Hadits tentang Umar mencambuk putranya yang bernama Abu Syahmah, ini hadits palsu.”&lt;br /&gt;4. Imam Ibnu Jauzi rahimahullah sebagaimana keterangan di atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wallahu a'lam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Disarikan dari Tahdzorud Da'iyah minal Qoshosh al Wahiyah oleh Syaikh Ali bin Ibrahim al-Hasyisy hal.443-450)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: diketik ulang (dgn segala kekurangannya) dari Majalah al-Furqon Edisi 4 Tahun kesembilan, Dzulqo'dah 1430/ Okt-Nov 2009, Hal.59-61&lt;br /&gt;(*)http://alqiyamah.wordpress.com&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/761503410559906563-7533519820449217463?l=alistiba.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://alistiba.blogspot.com/feeds/7533519820449217463/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://alistiba.blogspot.com/2011/11/kisah-palsu-umar-radhiyallahu-anhu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/761503410559906563/posts/default/7533519820449217463'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/761503410559906563/posts/default/7533519820449217463'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alistiba.blogspot.com/2011/11/kisah-palsu-umar-radhiyallahu-anhu.html' title='Kisah Palsu: Umar رَضي الله عنه Menghukum Cambuk Anaknya Hingga Wafat'/><author><name>Abu abdirrahman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05301770063388687354</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/-1rkmfDMbj9g/TtiXyO-Rh_I/AAAAAAAAAoM/iPGpqXo-kow/s220/Ittiba%2527.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-761503410559906563.post-7391944516239282705</id><published>2011-11-15T02:03:00.000-08:00</published><updated>2011-11-30T11:02:47.925-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='AqidaH'/><title type='text'>Kunci Ilmu Gaib, Siapa yang Tahu?</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Berikut kami kutipkan sebuah artikel sebagai bantahan terhadap tulisan yang membuat hati kami agak Resah. &lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;artikel ini kami kutip dari http://buletin.muslim.or.id/&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;mohon disimak dan dihayati karena ini adalah masalah Aqidah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;..............&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Oleh: Amrullah Akadhinta&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Belakangan ini sering kita jumpai di berbagai media adanya orang-orang yang mengaku mengetahui ilmu gaib. Di antara mereka ada yang mengatakan sanggup untuk mengetahui bagaimana karir, rezeki, asmara dan lain sebagainya selama beberapa waktu dengan melihat tanggal lahirnya, bahkan ada di antara orang-orang yang mengklaim bahwa mereka dan beberapa gelintir pengikutnya mengetahui kapan terjadinya hari kiamat dan alhamdulillah kedustaan seperti ini telah terbongkar dengan sendirinya ketika tidak terjadi hari kiamat di hari yang telah mereka ramalkan tersebut.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kaum muslimin rahimakumullah, sebenarnya bagaimanakah menyikapi hal ini, apakah manusia mengetahui ilmu-ilmu gaib tersebut? Pembahasan kali ini insya Allah sedikit mengupas tentang kunci-kunci ilmu gaib yang hanya diketahui oleh Allah semata.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Kunci-Kunci Ilmu Gaib di Tangan Allah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaum muslimin rahimakumullah, Allah ta’ala berfirman &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="arabic"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;وَعِندَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَ ۚ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ‌ وَالْبَحْرِ‌ ۚ وَمَا تَسْقُطُ مِن وَرَ‌قَةٍ إِلَّا يَعْلَمُهَا وَلَا حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الْأَرْ‌ضِ وَلَا رَ‌طْبٍ وَلَا يَابِسٍ إِلَّا فِي كِتَابٍ مُّبِينٍ ﴿٥٩﴾ &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;yang artinya, “Dan hanya di sisi-Nya lah kunci-kunci ilmu gaib, tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia” (QS Al An’aam: 59). Apakah yang dimaksud kunci-kunci ilmu gaib tersebut? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam -manusia yang paling memahami Al Quran- menafsirkan bahwa kunci-kunci ilmu gaib tersebut ada lima macam. Beliau bersabda yang artinya, ”Kunci-kunci ilmu gaib ada lima, hanya Allah yang mengetahuinya: tidak ada yang tahu apa yang terjadi esok hari kecuali Allah, tidak ada yang tahu apa yang dikandung oleh rahim kecuali Allah, tidak ada yang tahu kapan turun hujan kecuali Allah, tidak ada seorang pun yang tahu di bumi mana dia akan meninggal, dan &lt;span style="color: red;"&gt;tidak ada yang tahu kapan terjadi hari kiamat kecuali Allah&lt;/span&gt;.” (HR Bukhori)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah ta’ala juga berfirman yang artinya, “Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dialah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok . Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS Luqman: 34). Para ulama menyebutkan bahwa kelima hal ini disebut dengan kunci ilmu gaib karena kelima hal ini merupakan awal dan pintu gerbang dari hal-hal lain yang mengikutinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun nabi, rasul, dan para malaikat, maka terkadang Allah memberitahukan kepada mereka beberapa perkara yang gaib seperti tanda-tanda kiamat yang banyak disampaikan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dan lain sebagainya. Namun demikian, ilmu gaib yang Allah sampaikan pada utusan-Nya tersebut hanyalah sebatas yang Allah beri tahukan sehingga tidak mencakup seluruh ilmu gaib yang ada. Allah berfirman yang artinya, “(Dia adalah Tuhan) Yang Mengetahui yang gaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorang pun tentang yang gaib itu. Kecuali kepada rasul yang diridhoi-Nya, maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya.” (QS Jin: 26,27)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b style="color: red;"&gt;Kunci Ilmu Gaib Pertama: Hari Kiamat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaum muslimin rahimakumullah, inilah kunci ilmu gaib pertama yang hanya diketahui oleh Allah ta’ala yaitu ilmu tentang hari kiamat. Hari kiamat adalah awal mula dimulainya alam akhirat. Tidak ada seorang makhluk pun yang mengetahui kapan terjadinya hari kiamat. Bahkan ketika Jibril -malaikat yang paling mulia- bertanya kepada Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam -manusia yang paling mulia- tentang kapan terjadinya hari kiamat, Rasulullah hanya menjawab, “Yang ditanya tidaklah lebih tahu dibandingkan yang bertanya” (HR Muslim). Ini menunjukkan bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam dan Jibril ‘alaihis salam keduanya tidaklah mengetahui kapan terjadinya hari kiamat. Oleh karena itu, janganlah kita mudah terbawa arus jika ada yang menyebutkan bahwa hari kiamat akan terjadi pada tanggal sekian atau sekian dan perlu diketahui bahwa klaim seperti itu tidak lebih dari kedustaan yang dihembuskan syaithan dan bala tentaranya untuk memalingkan manusia dari jalan Allah, wal ‘iyadzu billah.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kunci Ilmu Gaib Kedua: Turunnya Hujan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaum muslimin rahimakumullah, kunci ilmu gaib yang kedua adalah ilmu tentang waktu turunnya hujan yang hanya diketahui oleh Allah ta’ala. Turunnya hujan adalah awal tumbuhnya tanaman di permukaan bumi. Allah yang menurunkan hujan dan Dia pula yang tahu kapan hujan akan turun. Namun jika ada orang yang mengatakan, “Bagaimana dengan ramalan hujan yang bisa diprediksi oleh alat canggih di zaman sekarang?” Maka hal ini tidaklah bertentangan sama sekali karena alat secanggih apapun yang dibuat oleh manusia sekarang ini, hanya sebatas memprediksikan dan bukan memastikan. Seringkali prediksi alat tersebut meleset. Maka tidak ada satu orang pun atau sebuah alat secanggih apa pun yang tahu dengan pasti kapan hujan akan turun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kunci Ilmu Gaib Ketiga: Seluk-Beluk Isi Rahim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaum muslimin rahimakumullah, kunci ilmu gaib ketiga adalah pengetahuan tentang janin yang dikandung dalam rahim seorang ibu. Allah lah yang menciptakan janin tersebut dan hanya Allah lah yang mengetahui seluruh hal yang akan terjadi pada janin tersebut. Kehidupan dalam rahim adalah awal mula kehidupan dunia. Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Allah mengetahui apa yang dikandung oleh setiap perempuan, dan kandungan rahim yang kurang sempurna dan yang bertambah. Dan segala sesuatu pada sisi-Nya ada ukurannya” (QS Ar Ra’d: 8 )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian, jika ada yang menanyakan, “Bagaimana dengan USG di zaman sekarang yang bisa mengetahui jenis kelamin janin tersebut?” Maka hal ini tidaklah bertentangan. Karena alat yang dikenal dengan USG tersebut hanya bisa mengetahui jenis kelamin janin, itu pun setelah janin terbentuk selama beberapa waktu dan juga berapa banyak prediksi USG tersebut yang keliru dan berbeda dengan kenyataan setelah janin tersebut lahir. Dan tidak ada satu alat pun yang bisa mengetahui bagaimana nasib janin tersebut di dunia dan akhirat, apakah dia akan menjadi hamba yang soleh atau seorang yang banyak berbuat dosa. Apakah janin tersebut akan berumur singkat atau akan hidup di dunia dalam jangka waktu yang lama? Dan masih banyak lagi hal-hal lain tentang janin tersebut yang hanya diketahui oleh Allah ta’ala saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kunci Ilmu Gaib Keempat: Apa Yang Dilakukan Esok Hari&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaum muslimin rahimakumullah, kunci ilmu gaib yang keempat adalah pengetahuan tentang apa yang akan dilakukan oleh seseorang esok hari. Jika seseorang tidak tahu apa yang akan dilakukan dirinya sendiri esok hari, maka lebih tidak mungkin lagi untuk mengetahui apa yang akan dilakukan oleh orang lain esok hari. Oleh karena itu jelaslah kedustaan dukun, tukang ramal dan manusia yang setipe dengan mereka yang mengklaim bahwa mereka tahu tentang apa yang terjadi di masa yang akan datang. Jika ada yang mengatakan, “Saya tahu apa akan saya lakukan esok hari, bahkan saya telah menyusun jadwal kegiatan saya esok hari”. Maka hal ini tidaklah bertentangan dengan dalil Al Quran. Karena jadwal yang telah disusun tersebut barulah sebatas rencana yang belum tentu terlaksana. Siapa tahu keesokan harinya ada hal yang menghalangi kita sehingga kita tidak bisa melaksanakan jadwal tersebut, karena sakit misalnya. Atau boleh jadi di malam hari kematian menjemput kita sehingga jadwal tersebut tidaklah lagi berguna bagi kita. Maka hal ini sebagaimana yang sering disebutkan oleh orang, “Manusia boleh berencana tapi Allah jualah yang menentukan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kunci Ilmu Gaib Kelima: Tentang Kematian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaum muslimin rahimakumullah, kunci ilmu gaib yang terakhir yang hanya diketahui oleh Allah semata adalah tentang kematian seseorang. Kapan dan di mana dia mati? Bagaimana akhir kehidupannya? Apakah dia akan mati di atas kebaikan atau keburukan? Maka hal ini hanya Allah sajalah yang tahu. Kematian ini merupakan awal mula bagi seseorang untuk memasuki alam akhirat. Jika ada yang mengatakan, “Bagaimana dengan orang yang dihukum mati? Bukankah dia telah tahu kapan dia akan mati dan tempat kematiannya?” Maka kembali kami tegaskan bahwa hal ini tidaklah bertentangan. Karena boleh jadi justru dia mati lebih awal sebelum waktu eksekusi dilakukan, atau bisa jadi tiba-tiba dia mendapatkan pengampunan sehingga tidak jadi dieksekusi. Demikian pula dengan tempat kematiannya, bisa jadi dia mati lebih dahulu di tempat yang tidak dia sangka-sangka sebelumnya. Oleh karena itu janganlah seseorang menunda untuk bertaubat walaupun dia telah divonis dengan hukuman mati karena bisa jadi kematian datang lebih cepat dan dia belum sempat untuk bertaubat, na’udzubillah…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaum muslimin rahimakumullah, demikianlah sekelumit penjelasan tentang kunci-kunci ilmu gaib yang hanya diketahui oleh Allah ta’ala semata. Barang siapa yang mengaku-ngaku bahwa ia tahu tentang salah satu di antara lima hal ini atau orang yang membenarkan pengakuan tersebut, maka orang tersebut telah kafir jika syarat-syaratnya telah terpenuhi dan tidak ada penghalang untuk memberikan vonis kafir. Oleh karena itu, hendaknya kita berhati-hati terutama dengan maraknya fenomena perdukunan dan dunia ramal belakangan ini. Jangan sampai kita menggadaikan dan menjual agama kita demi mendapatkan informasi yang belum jelas kebenarannya dari dukun dan tukang ramal tersebut. Semoga Allah menjauhkan kita dari dosa kesyirikan baik yang nampak maupun yang tersembunyi, yang kita ketahui maupun yang tidak kita ketahui. Amiin ya mujibbassaailiin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Amrullah Akadhinta*]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Penulis adalah alumni Ma’had al-‘Ilmi Yogyakarta, sekarang menjadi direktur Learning Center MEDIU (al-Madinah Internatinonal University) cabang Jogjakarta dan Radio Muslim&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/761503410559906563-7391944516239282705?l=alistiba.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://alistiba.blogspot.com/feeds/7391944516239282705/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://alistiba.blogspot.com/2011/11/kunci-ilmu-gaib-siapa-yang-tahu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/761503410559906563/posts/default/7391944516239282705'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/761503410559906563/posts/default/7391944516239282705'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alistiba.blogspot.com/2011/11/kunci-ilmu-gaib-siapa-yang-tahu.html' title='Kunci Ilmu Gaib, Siapa yang Tahu?'/><author><name>Abu abdirrahman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05301770063388687354</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/-1rkmfDMbj9g/TtiXyO-Rh_I/AAAAAAAAAoM/iPGpqXo-kow/s220/Ittiba%2527.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-761503410559906563.post-5876161932584951214</id><published>2011-11-13T01:38:00.001-08:00</published><updated>2011-11-15T10:50:05.140-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hadits'/><title type='text'>Dzikir Ketika Masuk Pasar</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dari ‘Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,&lt;/div&gt;&lt;div dir="rtl" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="arabic"&gt;&lt;span style="font-size: big;"&gt;مَنْ دَخَلَ السُّوق فَقَالَ : لا إِلَه إِلَّا اللَّه وَحْده لا شَرِيك لَهُ، لَهُ الْمُلْك وَلَهُ الْحَمْد، يُحْيِي وَيُمِيتُ، وَهُوَ حَيّ لا يَمُوت، بِيَدِهِ الْخَيْرُ، وَهُوَ عَلَى كُلّ شَيْء قَدِير، كَتَبَ لَهُ أَلْفَ أَلْفِ حَسَنَةٍ، وَمَحَا عَنْهُ أَلْفَ أَلْفِ سَيِّئَةٍ، وَرَفَعَ لَهُ أَلْفَ أَلْفِ دَرَجَةٍ – وفي رواية: وبنى له بيتاً في الجنة&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;–&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Barangsiapa yang masuk pasar kemudian membaca (zikir): “Laa ilaha illallah wahdahu laa syarika lah, lahul mulku wa lahul hamdu, yuhyii wa yumiit, wa huwa hayyun laa ya yamuut, bi yadihil khoir, wa huwa ‘ala kulli sya-in qodiir” [Tiada sembahan yang benar kecuali Allah semata dan tiada sekutu bagi-Nya, milik-Nyalah segala kerajaan/kekuasaan dan bagi-Nya segala pujian, Dialah yang menghidupkan dan mematikan, Dialah yang maha hidup dan tidak pernah mati, ditangan-Nyalah segala kebaikan, dan Dia maha mampu atas segala sesuatu]”, maka allah akan menuliskan baginya satu juta kebaikan, menghapuskan darinya satu juta kesalahan, dan meninggikannya satu juta derajat – dalam riwayat lain: dan membangunkan untuknya sebuah rumah di surga – ”[1].&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Hadits yang mulia ini menunjukkan sangat besarnya keutamaan dan pahala orang yang membaca zikir ini ketika masuk pasar[2].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam ath-Thiibi berkata, “Barangsiapa yang berzikir kepada Allah (ketika berada) di pasar maka dia termasuk ke dalam golongan orang-orang yang Allah Ta’ala berfirman tentang keutamaan mereka,&lt;br /&gt;&lt;div class="arabic"&gt;{رِجَالٌ لا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ يَخَافُونَ يَوْمًا تَتَقَلَّبُ فِيهِ الْقُلُوبُ وَالأبْصَارُ، لِيَجْزِيَهُمُ اللَّهُ أَحْسَنَ مَا عَمِلُوا وَيَزِيدَهُمْ مِنْ فَضْلِهِ وَاللَّهُ يَرْزُقُ مَنْ يَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ}&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;“Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingat Allah, mendirikan shalat, dan membayarkan zakat. Mereka takut pada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang. (Mereka mengerjakan yang demikian itu) supaya Allah memberi balasan kepada mereka (dengan balasan) yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan, dan supaya Allah menambah karunia-Nya kepada mereka. Dan Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa batas” (QS an-Nuur:37-38)[3].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa faidah penting yang terkandung dalam hadits ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Yang dimaksud dengan pasar adalah semua tempat yang didatangkan dan diperjual-belikan padanya berbagai macam barang dagangan[4], yang ini mencakup pasar tradisional, pasar modern, super market, mall, toko-toko besar dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Pasar adalah tempat berjual-beli dan tempat yang melalaikan orang dari mengingat Allah Ta’ala karena kesibukan mengurus perdagangan, maka di sanalah tempat berkumpulnya setan dan bala tentaranya, sehingga orang yang berzikir di tempat seperti itu berarti dia telah memerangi setan dan tentaranya, maka pantaslah jika dia mendapat pahala dan keutamaan besar yang tersebut dalam hadits di atas[5].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tempat yang paling dicintai Allah adalah mesjid dan yang paling dibenci-Nya adalah pasar”[6].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Seorang muslim yang datang ke pasar untuk mencari rezki yang halal, dengan selalu berzikir (ingat) kepada Allah Ta’ala dan meninggalkan segala sesuatu yang diharamkan-Nya, maka ini adalah termasuk sebaik-baik usaha yang diberkahi oleh Allah Ta’ala, sebagaimana sabda Rasululah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sungguh sebaik-baik rizki yang dimakan oleh seorang laki-laki adalah dari usahanya sendiri (yang halal)” [7].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Zikir ini lebih utama jika diucapkan dengan lisan disertai dengan penghayatan akan kandungan maknanya dalam hati, karena zikir yang dilakukan dengan lisan dan hati adalah lebih sempurna dan utama[8].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Ada hadits lain yang mirip dengan hadits ini, cuma dalam hadits tersebut ada tambahan di akhir zikir tersebut di atas: laa ilaaha illallahu wallahu akbar…, hadits tersebut adalah hadits palsu, sebagaimana keterangan syaikh al-Albani dalam kitab “adh-Dhaa’iifah” (no. 5171).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis: Ustadz Abdullah Taslim, MA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel www.muslim.or.id&lt;br /&gt;[1] HR at-Tirmidzi (no. 3428 dan 3429), Ibnu Majah (no. 2235), ad-Daarimi (no. 2692) dan al-Hakim (no. 1974) dari dua jalur yang saling menguatkan. Dinyatakan hasan oleh imam al-Mundziri (dinukil oleh al-mubarakfuri dalam kitab “’Aunul Ma’bud” 9/273) dan syaikh al-Albani dalam kitab “Shahihul jaami’” (no. 6231).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[2] Lihat kitab “Syarhu shahihil Bukhari Libni Baththaal” (11/256) dan “Tuhfatul ahwadzi” (9/272).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[3] Dinukil oleh al-Mubarakfuri dalam kitab “Tuhfatul ahwadzi” (9/273).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[4] Lihat kitab “Faidhul Qadiir” (1/170).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[5] Lihat kitab “Tuhfatul ahwadzi” (9/272) dan “Faidhul Qadiir” (1/170).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[6] HSR Muslim (no. 671).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[7] HR an-Nasa-i (no. 4452), Abu Dawud (no. 3528), at-Tirmidzi (no. 1358) dan al-Hakim (no. 2295), dinyatakan shahih oleh at-Tirmidzi, al-Hakim, adz-Dzahabi dan al-Albani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[8] Lihat kitab “Taisiirul Kariimir Rahmaan” (hal. 314).Sumber : http://muslim.or.id&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/761503410559906563-5876161932584951214?l=alistiba.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://alistiba.blogspot.com/feeds/5876161932584951214/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://alistiba.blogspot.com/2011/11/dzikir-ketika-masuk-pasar-dari-umar-bin.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/761503410559906563/posts/default/5876161932584951214'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/761503410559906563/posts/default/5876161932584951214'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alistiba.blogspot.com/2011/11/dzikir-ketika-masuk-pasar-dari-umar-bin.html' title='Dzikir Ketika Masuk Pasar'/><author><name>Abu abdirrahman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05301770063388687354</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/-1rkmfDMbj9g/TtiXyO-Rh_I/AAAAAAAAAoM/iPGpqXo-kow/s220/Ittiba%2527.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-761503410559906563.post-2017482114558962975</id><published>2011-11-13T00:58:00.001-08:00</published><updated>2011-11-20T21:27:36.910-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tazkiyatun Nafs'/><title type='text'>Hakikat Kehidupan</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-X0tWnw1SG8U/Tr-GoL7aTEI/AAAAAAAAAh0/Vyg7MhtVo88/s1600/New+Picture.png" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="121" src="http://4.bp.blogspot.com/-X0tWnw1SG8U/Tr-GoL7aTEI/AAAAAAAAAh0/Vyg7MhtVo88/s200/New+Picture.png" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ketika seseorang sudah mulai beranjak dewasa, ketika akalnya mulai sempurna,mulailah ia berpikir tentang hakikat kehidupan, yaitu kehidupan yang sedang ia jalani sebagaimana yang dijalani juga oleh yang lainnya. Bumi ini telah penuh sesak dengan manusia, semuanya silih berganti, ada yang datang dan ada yang pergi, ada yang lahir dan ada yang mati.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Jika hari ini berkuasa seorang raja, besok akan berkuasa lagi raja lainnya.Sekiranya hari ini ada pengangkatan seorang menteri atau seorang jenderal, dahulunya kita juga mendengar bahwa di suatu negeri anu telah diangkat pula seorang menteri atau panglima. Yang tetap itu hanya peran manusia dalam kehidupan ini, sedangkan yang silih berganti adalah para pelaku dan yang memeraninya.&lt;br /&gt;Peran kehidupan itu ada yang baik dan ada yang buruk, hanya saja manusia disuruh untuk memilih peran baik bukan peran buruk!&lt;br /&gt;تِلْكَ أُمَّةٌ قَدْ خَلَتْ ۖ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَلَكُم مَّا كَسَبْتُمْ ۖ وَلَا تُسْأَلُونَ عَمَّا كَانُوا يَعْمَلُونَ /١٤١&lt;br /&gt;“Itu adalah umat yang telah lalu, baginya apa yang diusahakannya dan bagimu apa yang kamu usahakan, dan kamu tidak akan diminta pertanggungan jawab tentang apa yang telah mereka kerjakan”. (QS: al-Ba qarah:141)&lt;br /&gt;Pada masa Nabi Musa عليه السلام orang-orang disibukkan dengan kekuasaan Fir’aun, bahan cerita orang terfokus pada kekayaan Qarun dan decak kagum orang hanya pada arsitektur bangunan yang dirancang oleh Haman. Akan tetapi, mana cerita kehidupan itu sekarang ini? Semuanya sirna dan punah, yang kita temukan hanya cerita pada lembaran kitab-kitab suci. Dan apa yang tersisa dari sejarah kepongahan tersebut? Yang tersisa hanya bekas-bekasnya saja.&lt;br /&gt;Dari sepanjang perjalanan hidup manusia yang beragam ini, baik pada masa kekuasaan orang-orang yang shalih maupun dalam cengkraman orang-orang thalih (lawan Shalih), Allah سبحانه و تعالى tetap menjaga alam ini, memelihara bumi dan dunia sekitarnya, dalam keseimbangan yang berkesinambungan, dalam keindahan yang menakjubkan dan ciptaan yang berjenis dan berpasang-pasangan. Adanya siang dan malam, laki-laki dan perempuan, langit dan bumi, semuanya itu pertanda adanya pencipta.&lt;br /&gt;Salah seorang Badui jahiliah berkata, “Lautan yang berombak dan langit yang berbintang serta bumi yang berlembah, bukankah semua itu menunjukkan adanya Sang Pencipta ?“&lt;br /&gt;Begitu besar penciptaan langit dan bumi beserta isinya, memberi pengertian kepada kita bahwa Allah menciptakannya bukan sekedar bermain-main.&lt;br /&gt;Allah Tabaroka wa Ta’ala berfirman,&lt;br /&gt;“Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main- main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?” (QS. al-Mukminun: 115)&lt;br /&gt;“Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggungjawaban)?” ( QS. al-Qiyamah: 36)&lt;br /&gt;Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui”. ( QS. al-Ankabut: 64)&lt;br /&gt;Sekiranya kehidupan yang penuh keseimbangan ini tidak diciptakan untuk bersenda gurau, lalu untuk apa Allah ciptakan?! Apa tugas manusia ? Apakah mereka hanya sekedar makan, minum, menikah dan memiiki keluarga dan mempererat suku saja? Atau Ia hidup dalam tidak bertujuan sebagaimana Ia mati tidak bertujuan?! tanah terakhir yang diletakkan oleh orang pada kuburannya, itu pula akhir dari cerita kehidupannya?!&lt;br /&gt;Bagaimana yang kaya dengan kezhalimannya, bagaimana yang berkuasa dengan kediktatorannya?! Apakah mereka dibiarkan begitu saja?! Bagaimana pula si miskin dengan kefakirannya atau rakyat jelata dengan penderitaan mereka?! Kapan mereka dapat kebahagiaan pula?! Bagaimana pula dengan para nabi dan rasul, para ulama dan ahli ibadah yang terusir dan belum memperoleh kebahagiaan?!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekiranya dunia ini diciptakan dengan keadilan Sang Pencipta, tentu balasan&lt;br /&gt;baik atau buruk dengan keadilanNya juga?! Sekiranya dunia ini mampu Dia&lt;br /&gt;ciptakan dari asal yang tidak ada, berarti Dia pula mampu untuk membalas&lt;br /&gt;kebaikan dengan kebaikan dan keburukan dengan keburukan.&lt;br /&gt;Allah azza wa Jalla berfirman :&lt;br /&gt;“Dan setiap mereka semuanya akan dikumpukan lagi kepada Kami. Dan suatu&lt;br /&gt;tanda (kekuasaan Allah yang besar) bagi mereka adalah bumi yang mati. Kami&lt;br /&gt;hidupkan bumi itu dan Kami keluarkan daripadanya biji-bijian, maka daripadanya mereka makan. Dan Kami jadikan padanya kebun-kebun kurma dan anggur dan kami pancarkan padanya beberapa mata air, Supaya mereka dapat makan dari buahnya, dan dari apa yang diusahakan oleh tangan mereka. Maka mengapakah mereka tidak bersyukur? Maha Suci Tuhan yang telah menciptakan pasangan- pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui.Dan suatu tanda (kekuasaan Allah yang besar) bagi mereka adalah malam; kami tanggàlkan siang dan malam itu, maka dengan serta merta mereka berada dalam kegelapan. Dan matahari berjalan ditempat peredarannya. Demikianlah ketetapan yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui. Dan telah Kami tetapkan bagi bulan manzilah&lt;br /&gt;manzilah, sehingga (setelah dia sampai ke manzilah yang terakhir) kembalilah&lt;br /&gt;dia seba gai bentuk tandan yang tua. Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang, dan masing-masing beredar pada garis edamya”. (QS. Yasin:32- 40 )&lt;br /&gt;Dan Allah berfirman,&lt;br /&gt;Dan ía membuat perumpamaan bagi Kami; dan dia lupa kepada kejadiannya; Ia&lt;br /&gt;berkata: “Siapakah yang dapat menghidupkan tulang belulang, yang telah hancur Iuluh?”Katakanlah: “Ia akan dihidupkan oleh Tuhan yang menciptakannya kali yang pertama. dan Dia Maha mengetahui tentang segala makhluk. Yaitu Tuhan yang men jadikan untukmu api dari kayu yang hijau, maka tiba-tiba kamu nyalakan (api) dari kayu itu”. Dan tidaklah Tuhan yang menciptakan langit dan bumi itu berkuasa menciptakan yang serupa dengan itu? benar, Dia berkuasa. dan Dialah Maha Pencipta lagi Maha Mengetahui”. (QS. Yasin: 78-81)Bersambung...&lt;br /&gt;Sumber : Artikel ini merupakan kutipan dari Buku “ Untukmu yang berjiwa Hanif “ oleh Ustadz Armen Halim Naro Lc (rohimahullah)yg berisi tentang hal-hal yang mesti seseorang lakukan untuk menggapai Kenikamatan serta Hakikat Hidup yang sebenarnya&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/761503410559906563-2017482114558962975?l=alistiba.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://alistiba.blogspot.com/feeds/2017482114558962975/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://alistiba.blogspot.com/2011/11/tujuan-hidup.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/761503410559906563/posts/default/2017482114558962975'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/761503410559906563/posts/default/2017482114558962975'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alistiba.blogspot.com/2011/11/tujuan-hidup.html' title='Hakikat Kehidupan'/><author><name>Abu abdirrahman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05301770063388687354</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/-1rkmfDMbj9g/TtiXyO-Rh_I/AAAAAAAAAoM/iPGpqXo-kow/s220/Ittiba%2527.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-X0tWnw1SG8U/Tr-GoL7aTEI/AAAAAAAAAh0/Vyg7MhtVo88/s72-c/New+Picture.png' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-761503410559906563.post-5577086741412633844</id><published>2011-11-09T07:21:00.000-08:00</published><updated>2011-11-12T18:25:42.828-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='AqidaH'/><title type='text'>Siapakah Ahlu Sunnah Wal Jama’ah?</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;At Tauhid edisi V/2&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Oleh: Yulian Purnama&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-je5-Uj_7TWY/TrqabRBKqSI/AAAAAAAAAhg/5YTDazs-ZWU/s1600/Islam.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="141" src="http://3.bp.blogspot.com/-je5-Uj_7TWY/TrqabRBKqSI/AAAAAAAAAhg/5YTDazs-ZWU/s200/Islam.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="stylekoran"&gt;S&lt;/span&gt;ungguh sayang sungguh malang, umat Islam di masa ini bak buih di lautan, banyak jumlahnya namun tercerai-berai. Heran bukan kepalang melihat fenomena ini, kita semua tahu bahwa Islam yang dibawa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam hanya 1 macam, sebagaimana firman Allah Ta’ala yang artinya: “Sesungguhnya kalian adalah umat yang satu dan Aku adalah Rabb kalian, maka beribadahlah kepada-Ku” [Al-Anbiyaa : 92]. Namun mengapa hari ini Islam menjadi bermacam-macam? Aneh bukan?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Ternyata Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam sedari dulu telah memperingatkan hal ini: “Telah berpecah kaum Yahudi menjadi tujuh puluh satu golongan ; dan telah berpecah kaum Nashara menjadi tujuh puluh dua golongan; sedang umatku akan berpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan, semuanya akan masuk neraka kecuali satu. Maka kami-pun bertanya, siapakah yang satu itu ya Rasulullah? ; Beliau menjawab: yaitu orang-orang yang berada pada jalanku dan jalannya para sahabatku di hari ini” [HR. Tirmidzi]. Namun lihatlah, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam mengabarkan bahwa ada 1 golongan yang selamat dari perpecahan yaitu orang-orang yang beragama dengan menempuh jalan Islam sebagaimana jalan Islam yang ditempuh oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dan para sahabatnya pada masa itu. Dari sinilah muncul istilah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ahlus Sunnah Wal Jama’ah adalah istilah yang dilekatkan dengan sifat-sifat golongan yang selamat yang disebutkan dalam hadist di atas. Maka tak pelak lagi, istilah Ahlus Sunnah pun menjadi rebutan. Bahkan orang-orang yang menempuh jalan yang salah pun mengaku Ahlus Sunnah. Sehingga masyarakat awam yang sedikit menyentuh ilmu agama pun dibuat bingung karenanya, dan rancu dibuatnya, tentang siapakah sebenarnya Ahlus Sunnah itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makna Ahlus Sunnah Wal Jama’ah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata “Ahlussunnah” terdiri dari dua suku kata yaitu ’ahlu’ yang berarti keluarga, pemilik, pelaku atau seorang yang menguasai suatu permasalahan, dan kata ’sunnah’. Namun bukanlah yang dimaksud di sini sunnah dalam ilmu fiqih, yaitu perbuatan yang mendapat pahala jika dilakukan, dan tidak berdosa jika ditinggalkan. Akan tetapi sunnah adalah apa yang datang dari Nabi baik berupa syariat, agama, petunjuk yang lahir maupun yang bathin, kemudian dilakukan oleh sahabat, tabiin dan pengikutnya sampai hari Kiamat. Dengan demikian definisi Ahlus Sunnah adalah mereka yang mengikuti sunnah Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dan sunnah para shahabatnya. Sehingga Imam Ibnul Jauzi berkata,” Tidak diragukan bahwa orang yang mengikuti atsar (sunnah) Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dan para sahabatnya adalah Ahlus Sunnah” (Lihat Talbisul Iblis hal. 16)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan kata ”Al Jama’ah” artinya bersama atau berkumpul. Dinamakan demikian karena mereka bersama dan berkumpul dalam kebenaran, mengamalkannya dan mereka tidak mengambil teladan kecuali dari para sahabat, tabiin dan ulama–ulama yang mengamalkan sunnah sampai hari kiamat. Karena merekalah orang-orang yang paling memahami agama yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam. Namun yang perlu digaris-bawahi di sini adalah bahwa Al Jama’ah adalah orang-orang yang berada di atas kebenaran, bukan pada jumlahnya. Jumlah yang banyak tidak menjadi patokan kebenaran, bahkan Allah Ta’ala berfirman yang artinya: ”Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang dimuka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah” [Al An’am: 116]. Sehingga benarlah apa yang dikatakan Ibnu Mas’ud radhiallahu’anhu: “Al-Jama’ah adalah yang mengikuti kebenaran walaupun engkau sendirian” (Syarah Usuhul I’tiqaad Al Laalika-i no. 160).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ringkasnya, Ahlus Sunnah Wal Jama’ah adalah orang-orang yang mengikuti sunnah Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dan para sahabatnya, dan dalam memahami dan mengikuti sunnah Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam tersebut mereka meneladani praktek dan pemahaman para sahabat, tabi’in dan orang yang mengikuti mereka. Dan makna ini sesuai dengan apa yang disebutkan oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam tentang satu golongan yang selamat pada hadits di atas: ”yaitu orang-orang yang berada pada jalanku dan jalannya para sahabatku dihari ini”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemahaman Ahlus Sunnah Wal Jama’ah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin setelah dijelaskan makna Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, sebagian orang masih rancu tentang siapakah sebenarnya mereka itu. Karena semua muslim, dari yang paling ’alim hingga yang paling awamnya, dari yang benar hingga yang paling menyimpang akan mengaku bahwa ia berjalan di atas jalannya Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dan para sahabatnya. Maka dalam kitab Ushul Aqidah Ahlis Sunnah, Syaikh Sholeh Al Fauzan hafizhahullah menjelaskan bahwa Ahlus Sunnah Wal Jama’ah dapat dikenal dengan dua indikator umum:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ahlus Sunnah berpegang teguh terhadap sunnah Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam, berbeda dengan golongan lain yang beragama dengan berdasar pada akal, perasaan, hawa nafsu, taqlid buta atau ikut-ikutan saja.&lt;br /&gt;Ahlus Sunnah mencintai Al Jama’ah, yaitu persatuan ummat di atas kebenaran serta membenci perpecahan dan semangat kekelompokan (hizbiyyah). Berbeda dengan golongan lain yang gemar berkelompok-kelompok, membawa bendera-bendera hizbiyyah dan bangga dengan label-label kelompoknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu diketahui juga bahwa istilah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah muncul untuk membedakan ajaran Islam yang masih murni dan lurus dari Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dengan ajaran Islam yang sudah tercampur dengan pemikiran-pemikiran menyimpang seperti pemikiran Jahmiyah, Qodariyah, Syi’ah dan Khawarij. Sehingga orang-orang yang masih berpegang teguh pada ajaran Islam yang masih murni tersebut dinamakan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah. Imam Malik rahimahullah pernah ditanya : “Siapakah Ahlus Sunnah itu? Ia menjawab: Ahlus Sunnah itu mereka yang tidak mempunyai laqb (julukan) yang sudah terkenal. Yakni bukan Jahmiyah, bukan Qadariyah, dan bukan pula Syi’ah”. (Lihat Al-Intiqa fi Fadlailits Tsalatsatil Aimmatil Fuqaha. hal.35 oleh Ibnu Abdil Barr).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun pada kenyataannya orang-orang yang berpemikiran menyimpang tersebut, seperti Jahmiyah, Qodariyah, Syi’ah dan Khawarij juga sebagian mengaku sebagai Ahlus Sunnah. Sehingga hal ini memicu para Imam Ahlus Sunnah untuk menjelaskan poin-poin pemahaman Ahlus Sunnah, agar umat dapat menyaring pemahaman-pemahaman yang tidak sesuai dengan Al Qur’an dan Sunnah. Salah satunya dari Imam Ahlus Sunnah yang merinci poin-poin tersebut adalah Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah dalam kitabnya Ushul As Sunnah. Secara ringkas, poin-poin yang dijelaskan Imam Ahmad tentang pemahaman Ahlus Sunnah Wal Jama’ah diantaranya adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beriman kepada takdir Allah,&lt;br /&gt;Beriman bahwa Al Qur’an adalah Kalamullah (perkataan Allah), bukan makhluk dan bukan perkataan makhluk,&lt;br /&gt;Beriman tentang adanya mizan (timbangan) di hari Kiamat, yang akan menimbang amal manusia,&lt;br /&gt;Beriman bahwa Allah ‘Azza Wa Jalla akan berbicara dengan hamba-Nya di hari Kiamat,&lt;br /&gt;Beriman tentang adanya adzab kubur dan adanya pertanyaan malaikat di dalam kubur,&lt;br /&gt;Beriman tentang adanya syafa’at Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bagi ummat beliau&lt;br /&gt;Beriman bahwa Dajjal akan muncul,&lt;br /&gt;Beriman bahwa iman seseorang itu tidak hanya keyakinan namun juga mencakup perkataan dan perbuatan, dan iman bisa naik dan turun,&lt;br /&gt;Beriman bahwa orang yang meninggalkan shalat dapat terjerumus dalam kekufuran,&lt;br /&gt;Patuh dan taat pada penguasa yang muslim, baik shalih mau fajir (banyak bermaksiat). Selama ia masih menjalankan shalat dan kepatuhan hanya pada hal yang tidak melanggar syariat saja,&lt;br /&gt;Tidak memberontak kepada penguasa muslim,&lt;br /&gt;Beriman bahwa tidak boleh menetapkan seorang muslim pasti masuk surga atau pasti masuk neraka,&lt;br /&gt;Beriman bahwa seorang muslim yang mati dalam keadaan melakukan dosa tetap disholatkan, baik dosanya kecil atau besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan salah membatasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Al Barbahari berkata: ”Ketahuilah bahwa ajaran Islam itu adalah sunnah dan sunnah itu adalah Islam” (Lihat Syarhus Sunnah, no 2). Maka pada hakikatnya pemahaman Ahlus Sunnah Wal Jama’ah adalah Islam itu sendiri dan ajaran Islam yang hakiki adalah pemahaman Ahlus Sunnah Wal Jama’ah. Maka Ahlus Sunnah adalah setiap orang Islam dimana saja berada yang mengikuti sunnah Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dengan pemahaman para sahabatnya. Jika demikian, sungguh keliru sebagian orang yang membatasi Ahlus Sunnah dengan batas-batas yang serampangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telah keliru orang yang membatasi Ahlus Sunnah dengan suatu kelompok atau organisasi tertentu, seperti perkataan: ’Ahlus Sunnah adalah NU’ atau ’Ahlus Sunnah adalah Muhammadiyah’. Telah salah orang yang membatasi Ahlus Sunnah dengan majlis ta’lim atau ustadz tertentu dengan berkata: ’Ahlus Sunnah adalah yang mengaji di masjid A’ atau ’Ahlus Sunnah adalah yang mengaji dengan ustadz B’. Keliru pula orang yang membatasi dengan penampilan tertentu, misalnya dengan berkata ’Ahlus Sunnah adalah yang memakai gamis, celana ngatung dan berjenggot lebat. Yang tidak demikian bukan Ahlus Sunnah’. Tidak benar pula membatasi Ahlus Sunnah dengan fiqih misalnya dengan berkata ’Yang shalat shubuh pakai Qunut bukan Ahlus Sunnah’ atau ’Orang yang shalatnya memakai sutrah (pembatas) dia Ahlus Sunnah, yang tidak pakai bukan Ahlus Sunnah’. Dan banyak lagi kesalah-pahaman tentang Ahlus Sunnah di tengah masyarakat sehingga istilah Ahlus Sunnah mereka tempelkan pada kelompok-kelompok mereka untuk mengunggulkan kelompoknya dan berfanatik buta terhadap kelompoknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun Ahlus Sunnah yang sejati tidak sibuk dengan label dan pengakuan, serta benci dengan semangat kekelompokkan. Sebagaimana perkataan Ibnu Qoyyim Al Jauziyah tentang Ahlus Sunnah: ”Sesuatu yang tidak mempunyai nama kecuali Ahlus Sunnah” (Lihat Madarijus Salikin III/174). Bahkan seorang Ahlus Sunnah menyibukkan diri dengan menerapkan sunnah dalam setiap aspek kehidupannya. Dan tidak ada gunanya seseorang mengaku-ngaku Ahlus Sunnah, sementara ia sibuk dengan melakukan bid’ah dan hal-hal yang bertentangan dengan sunnah. Allah Ta’ala berfirman yang artinya ”Sesungguhnya Rabb-mu lebih mengetahui siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia juga lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk” [An Najm: 30].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga Allah Ta’ala senantiasa menunjukkan kita kepada jalan yang lurus, yaitu jalan yang ditempuh oleh orang-orang yang diberikan ni’mat, bukan jalannya orang-orang yang dimurkai dan orang-orang tersesat. [Yulian Purnama]&lt;br /&gt;Sumber : http://buletin.muslim.or.id&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/761503410559906563-5577086741412633844?l=alistiba.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://alistiba.blogspot.com/feeds/5577086741412633844/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://alistiba.blogspot.com/2011/11/siapakah-ahlu-sunnah-wal-jamaah.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/761503410559906563/posts/default/5577086741412633844'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/761503410559906563/posts/default/5577086741412633844'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alistiba.blogspot.com/2011/11/siapakah-ahlu-sunnah-wal-jamaah.html' title='Siapakah Ahlu Sunnah Wal Jama’ah?'/><author><name>Abu abdirrahman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05301770063388687354</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/-1rkmfDMbj9g/TtiXyO-Rh_I/AAAAAAAAAoM/iPGpqXo-kow/s220/Ittiba%2527.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-je5-Uj_7TWY/TrqabRBKqSI/AAAAAAAAAhg/5YTDazs-ZWU/s72-c/Islam.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-761503410559906563.post-5327326105494787124</id><published>2011-11-07T05:50:00.000-08:00</published><updated>2011-11-12T18:25:42.869-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='AqidaH'/><title type='text'>HAKIKAT IMAN MENURUT AHLUS SUNNAH WAL JAMA’AH DAN MENURUT FIRQAH-FIRQAH YANG SESAT</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Oleh&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="stylekoran"&gt;S&lt;/span&gt;esungguhnya Allah Ta’ala telah mengutus Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan membawa agama yang hak. Allah Ta’ala telah menjelaskan di dalam kitab-Nya tentang pokok-pokok agama dan tingkatantingkatannya, yang agama ini dibangun di atasnya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan, agama ini dibangun di atas tiga pondasi yang agung, dan semua syari’at agama ini bercabang darinya. Ketiga pondasi itu ialah Islam, iman, dan ihsan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalil-dalil dari al-Qur‘an dan as-Sunnah telah menjelaskan tentang hakikat dari setiap tingkatan agama, rukun-rukunnya, kedudukannya dalam agama, dan keterkaitan dengan yang lainnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Kitabullah dan Sunnah Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam mencakup penjelasan tentang:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[a]. Hakikat Islam, rukun-rukun, kewajibankewajibannya, serta hal-hal yang menjadi pembatal dan lawannya, berupa amal perbuatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[b]. Hakikat iman, rukun-rukun, cabang-cabangnya, juga hal yang membuatnya bertambah dan berkurang, dan hal-hal yang dapat menghilangkan pokok-pokok keimanan atau menghilangkan kesempurnaannya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[c]. Pengertian ihsan, serta hakikat dan rukunnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu juga, terdapat sejumlah nash yang menjelaskan nama-nama hukum agama, berdasarkan pelaksanaan manusia terhadap tingkatan-tingkatan ini, yaitu siapa yang dikatakan sebagai muslim, mu’min, muhsin, fasiq, kafir, dan munafik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullahu berkata,”Sesungguhnya mewajibkan dan mengharamkan, memberi ganjaran dan siksa, mengkafirkan dan memfasikkan adalah hak Allah Ta’ala dan Rasul-Nya. Tidak ada hak bagi seorang pun dalam hukum ini. Kewajiban manusia, hanyalah mewajibkan apa yang telah diwajibkan oleh Allah dan Rasul-Nya, serta mengharamkan apa yang telah diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya.”[1]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau juga mengatakan,”Ketahuilah, bahwa permasalahan takfir (mengkafirkan) dan tafsik (memfasikkan orang lain) termasuk permasalahan asma‘ [2] dan ahkam[3] yang berkaitan dengan janji dan ancaman di akhirat. Juga berkaitan dengan wala‘ dan permusuhan, pembunuhan, terlindunginya darah dan hukum-hukum yang lainnya di dunia. Sesungguhnya Allah Ta’ala menjanjikan, bahwa orang-orang yang beriman masuk surga, dan mengharamkan surga bagi orang-orang kafir.”[4]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Rajab al-Hanbali rahimahullahu mengatakan,”Permasalahan ini –maksudnya permasalahan Islam, iman, kekufuran, dan kemunafikan- adalah permasalahan yang besar. Sesungguhnya Allah Ta’ala mengkaitkan namanama ini (Islam, iman, dan sebagainya) dengan kebahagiaan dan kesengsaraan, serta dengan permasalahan masuk surga dan neraka. Dan ikhtilaf (perbedaan pendapat) tentang musamma (penamaan) dari nama-nama itu (yang berhak mendapat namanama tersebut), merupakan ikhtilaf yang pertama kali muncul dalam ummat ini. Yaitu penyelisihan Khawarij terhadap para sahabat. Mereka (Khawarij) mengeluarkan para pelaku maksiat (dari kalangan kaum Muslimin) dari Islam secara keseluruhan, dan memasukkan mereka dalam lingkup kekufuran, serta memperlakukan mereka layaknya orang kafir. Lalu dengan hal itu, mereka menghalalkan darah kaum Muslimin. Setelah ini, muncullah penyelisihan kaum Mu’tazilah.”[5]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya penyimpangan dalam masalah takfir (mengkafirkan) telah ada semenjak awal sejarah ummat ini. Yaitu dengan memberontaknya kaum Khawarij kepada Amirul Mukminin ‘Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu pada tahun 37 H setelah beliau memandatkan tahkim. Yaitu menunjuk dua orang hakim untuk menjadi juru damai dalam memutuskan perkara pada Perang Shiffin. Mereka mengingkari ‘Ali Radhiyallahu ‘anhu tentang hal ini, lalu mereka mengkafirkan ‘Ali, dua orang hakim (‘Amr bin al-‘Ash dan Abu Musa al-Asy’ari Radhiyallahu ‘anhuma , dan orang-orang yang ridha dengan keputusan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Katsir rahimahullahu berkata,”Ketika ‘Ali Radhiyallahu ‘anhu mengutus Abu Musa Radhiyallahu ‘anhu dan sejumlah pasukan bersamanya ke Daumatul Jandal, maka kaum Khawarij semakin menjadi-jadi. Mereka berlebih lebihan dalam mengingkari ‘Ali, dan akhirnya mereka secara terang-terangan mengkafirkannya.”[6]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullahu berkata,”Karena inilah, wajib berhati-hati dalam mengkafirkan kaum Muslimin dengan sebab dosa dan kesalahan (yang dilakukan). Karena hal ini merupakan bid’ah yang pertama kali muncul dalam Islam, sehingga pelakunya mengkafirkan kaum Muslimin dan menghalalkan darah serta harta mereka.”[7]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENJELASAN RINGKAS TENTANG HAKIKAT IMAN MENURUT AHLUS SUNNAH DAN FIRQAH-FIRQAH SESAT&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendapat Ahlus Sunnah wal Jama’ah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ahlus Sunnah meyakini bahwa iman adalah meyakini dengan hati, mengucapkan dengan lisan, dan mengamalkan dengan anggota badan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Ahmad rahimahullahu berkata, “Iman adalah perkataan dan perbuatan, bertambah dan berkurang.”[8]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Abu ‘Utsman Isma’il ash-Shabuni t berkata, “Dan di antara madzhab Ahlul Hadits bahwa iman adalah perkatan, perbuatan, dan pengetahuan. Bertambah dengan melakukan ketaatan dan berkurang dengan melakukan maksiat.”[9]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam al-Ajurri rahimahullah berkata, “Sesungguhnya pendapat ulama kaum Muslimin ialah bahwa iman wajib atas seluruh makhluk; yaitu membenarkan dengan hati, menetapkan dengan lisan, dan mengamalkan dengan anggota badan.”[10]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulannya, iman menurut Ahlus Sunnah terdiri dari tiga pokok, yaitu keyakinan hati, perkataan lisan, dan perbuatan anggota badan. Dari tiga pokok inilah bercabangnya cabangcabang iman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendapat Murji’ah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inti dari pendapat Murji’ah dalam masalah iman ialah, mengeluarkan amal perbuatan dari nama iman, dan bahwasanya iman tidak bercabang-cabang dan tidak terbagi-bagi, tidak menerima tambahan maupun pengurangan, bahkan iman itu sesuatu yang satu, seluruh orang Mukmin sama keimanannya. Inilah pokok pendapat mereka yang telah disepakati oleh seluruh firqah mereka. [11]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendapat Al Wa’iidiyyah (Khawarij dan Mu’tazilah)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khawarij dan Mu’tazilah masing-masing meyakini bahwa, al-iman al-mutlaq (pokok keimanan) mencakup hal melakukan seluruh amalan ketaatan dan meninggalkan seluruh hal yang diharamkan. Bila sebagian dari hal ini hilang pada diri seseorang, maka batallah keimanannya, dan ia berada di dalam neraka, kekal selama-lamanya. Kemudian kedua firqah ini berselisih mengenai penamaan orang fasiq (pelaku dosa besar) di dunia. Khawarij mengatakan, pelaku dosa besar adalah kafir. Sedangkan Mu’tazilah mengatakan, bahwa pelaku dosa besar berada dalam satu kedudukan di antara dua kedudukan (tidak mukmin dan tidak juga kafir).[12]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SUMBER KESALAHAN FIRQAH-FIRQAH SESAT DALAM MASALAH IMAN SERTA KERANCUAN (SYUBHAT) MEREKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber kesalahan firqah-firqah sesat yang menyelisihi Ahlus Sunnah dalam masalah iman, kembali pada satu syubhat, yaitu keyakinan mereka bahwa iman adalah sesuatu yang satu, tidak terbagi-bagi atau bercabang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sisi-Sisi Perbedaan Antara Ahlus Sunnah Dan Ahlul Bid’ah Dalam Masalah Iman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbedaan secara umum antara Ahlus Sunnah dan firqah-firqah sesat dalam masalah iman, terdapat pada tiga masalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah Pertama. Ahlus Sunnah berpendapat bahwasanya iman itu terbagi-bagi dan bercabangcabang. Apabila sebagiannya hilang, maka sebagian lain tetap ada. Berbeda dengan firqah-firqah sesat secara umum, karena mereka tidak berpendapat seperti itu, sebagaimana yang telah dijelaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah Kedua. Iman menurut Ahlus Sunnah dapat bertambah dan berkurang. Dan dalam hal ini, orang yang beriman itu bertingkat-tingkat. Sedangkan kebanyakan ahlul bid’ah tidak berpendapat demikian, karena didasari pokok pendapat mereka, yaitu iman tidak dapat dibagibagi dan tidak bercabang-cabang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah Ketiga. Menurut Ahlus Sunnah, terkadang pada diri seseorang terkumpul antara kufur dan iman, syirik dan tauhid, dan ini sebagaimana yang telah ditunjukkan oleh berbagai nash. Contohnya firman Allah Ta’ala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan tidaklah sebagian besar dari mereka beriman kepada Allah, melainkan (mereka) dalam keadaan mempersekutukan Allah (dengan sembahan-sembahan lain)” [Yusuf :106].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam masalah ini, sebagian besar ahlul bid’ah menyelisihi dan mengingkarinya. Bahkan, Khawarij berpendapat, bahwa tidak mungkin terkumpul keimanan dan maksiat pada diri seseorang. [13]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Ibnul Qayyim rahimahullahu mengatakan,”Dan di sini ada pokok yang lain, yaitu terkadang terkumpul pada diri seseorang kekafiran dan iman, syirik dan tauhid, takwa dan maksiat, nifaq dan iman. Inilah di antara pokok Ahlus Sunnah yang agung. Selain mereka, yaitu dari kalangan ahlul bid’ah menyelisihinya, seperti Khawarij, Mu’tazilah, dan Qadariyyah. Dan permasalahan keluarnya pelaku dosa besar dari neraka dan kekekalan di dalamnya, dibangun di atas pokok ini.”[14]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makna perkataan mereka (Ahlus Sunnah) berkumpul di dalam dirinya kufur dan keimanan, maksudnya, berkumpul di dalamnya cabangcabang kufur dan cabang-cabang iman; karena perbuatan maksiat merupakan cabang dari kekufuran. Adapun perbuatan ketaatan, termasuk cabang keimanan. Setiap cabang dari cabangcabang kekufuran disebut kufur, dan setiap cabang dari cabang-cabang keimanan disebut dengan iman.[15]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbedaan Yang Bersifat Khusus Antara Ahlus Sunnah Dan Murji’ah Dalam Masalah Iman, Terdapat Pada Tiga Masalah Masalah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama. Ahlus Sunnah berpendapat, amal perbuatan masuk ke dalam nama iman. Adapun Murji’ah, mereka, tidak berpendapat demikian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Sufyan ats-Tsauri rahimahullah berkata,”Murji’ah menyelisihi kita dalam tiga hal: (1) kita mengatakan, iman adalah perkataan dan perbuatan; sedangkan mereka mengatakan, iman adalah perkataan tanpa amal. (2) kita mengatakan, iman bertambah dan berkurang; sedangkan mereka mengatakan, iman tidak bertambah dan tidak berkurang. (3) kita mengatakan (iqrar), kami beriman dengan menetapkan iqrar; sedangkan mereka berkata, kami beriman di sisi Allah.”[16]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah mengeluarkan amal dari iman merupakan pegangan pokok pendapat Murji’ah, yang mereka semua sepakat tentang masalah itu. Oleh karena itu, Imam al-Barbahari (wafat 329 H) rahimahullah berkata: “Barangsiapa yang berkata bahwa iman adalah perkataan dan perbuatan, bertambah dan berkurang, maka sungguh ia telah keluar dari irja’ (Murji’ah) dari awal sampai akhir.”[17] Artinya, ia bukan orang Murji’ah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah Kedua. Ahlus Sunnah tidak menetapkan dengan pasti terhadap seseorang dari kaum Muslimin dengan keimanan yang sempurna, dan tidak pula menafikan (meniadakan) pokok iman darinya. Sedangkan Murji’ah, mereka, menjadikan setiap orang yang mewujudkan pokok keimanan sebagai seorang mukmin yang sempurna imannya, bahkan mereka (Murji’ah) menjadikan orang yang fasiq sebagai seorang mukmin yang sempurna imannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini yang dimaksud oleh Imam Sufyan ats-Tsauri rahimahullah pada masalah pertama: “Kami beriman dengan iqrar,” sedangkan mereka (Murji’ah) mengatakan, “Kami beriman di sisi Allah”. [18]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah Ketiga. Ahlus Sunnah membolehkan memberi istitsna’ pada keimanan yang sempurna (maksudnya, mengucapkan, “Saya beriman, insya Allah”) dan melarang hal itu pada pokok keimanan. Mereka tidak memberi kesaksian atas diri mereka dengan keimanan yang sempurna, dan mereka tidak meragukan pokok keimanannya. Adapun Murji’ah, mereka, mengharamkan istitsna’ (mengucapkan insya Allah) dalam iman, karena didasari pendapat mereka bahwa, iman adalah sesuatu yang satu. Yaitu pembenaran hati. Dan mereka menamakan orang yang memberi istitsna’ sebagai orang yang ragu-ragu (dalam keimanan).[19]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbedaan Ahlus Sunnah Dengan Al-Wa’idiyyah (Khawarij dan Mu’tazilah) Terdapat Pada Tiga Masalah Masalah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama. Ahlus Sunnah berkeyakinan bahwa, tetapnya pokok iman bersamaan dengan adanya dosa. Sedangkan Khawarij dan Mu’tazilah meyakini lenyapnya iman secara keseluruhan, bersamaan dengan adanya sebagian dosa. Karena inilah Ahlus Sunnah tidak mengeluarkan pelaku dosa besar dari agama Islam, sedangkan Khawarij dan Mu’tazilah mengeluarkan mereka dari Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah Kedua. Ahlus Sunnah memisahkan antara Islam dan iman ketika (penyebutan) keduanya berkumpul. Adapun Khawarij dan Mu’tazilah tidak memisahkan antara Islam dan iman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata mengenai orang-orang fasiq di kalangan agama ini: “Adapun Khawarij dan Mu’tazilah, mereka mengeluarkan pelaku dosa besar dari nama iman dan Islam, karena menurut mereka, iman dan Islam itu adalah satu”.[20]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah Ketiga. Perbedaan Ahlus Sunnah dengan Khawarij dan Mu’tazilah tentang penamaan orang fasiq (pelaku dosa besar) dan hukumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ahlus Sunnah berkata: “Ia muslim dan hukumnya di akhirat di bawah kehendak Allah. Jika Allah menghendaki, Dia akan mengazabnya, dan jika Dia menghendaki, Dia akan mengampuninya”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khawarij berkata: “Dia (pelaku dosa besar) adalah kafir dan hukumnya di akhirat berada di dalam neraka, dan kekal selama-lamanya”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan Mu’tazilah mengatakan bahwa, dia berada pada satu kedudukan di antara dua kedudukan (manzilah bainal manzilataini), yaitu tidak mukmin dan tidak kafir. Hukumnya di akhirat, ia kekal di dalam neraka.[21]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Dinukil dari Majalah As-Sunnah Edisi 03/Tahun XI/1428H/2007M. Judul Lengkapnya Hakikat Iman, Kufur, Dan Takfir Menurut Ahlus Sunnah Wal Jama'ah &amp;amp; Menurut Firqah-Firqah Yang Sesat. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Almat Jl. Solo – Purwodadi Km. 8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183. telp. 0271-5891016]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;__________&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Foote Note&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[1]. Majmu’ Fatawa’ (V/554-555).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[2]. Maksudnya adalah nama-nama, yaitu seperti iman, kekufuran, fasiq, dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[3]. Maksudnya adalah hukum-hukum yang timbul akibat dari nama-nama itu. Seperti pengkafiran, pernyataan bahwa seseorang yang beriman adalah mukmin, bahwasanya orang yang beriman masuk surga, dan seorang kafir masuk neraka, serta hukumhukum yang lainnya. Sebagaimana lebih jelas lagi pada perkataan Ibnu Taimiyyah selanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[4]. Majmu’ Fatawa’ (XII/468).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[5]. Jami’ul ‘Ulum wal-Hikam (I/114).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[6]. Al Bidayah wan-Nihayah (VII/295).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[7]. Majmu’ Fatawa’ (XIII/31).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[8]. Kitabus Sunnah, Imam ‘Abdullah bin Imam Ahmad (I/307).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[9]. Aqidatus-Salaf Ashabil-Hadits, halaman 82 no. 104.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[10]. Kitabusy-Syari’ah (II/611).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[11]. Majmu’ Fatawa’ (XII/471, XIII/38).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[12]. Majmu’ Fatawa’ (VII/222, XVIII/270-271)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[13]. Majmu’ Fatawa’ (VII/353).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[14]. Ash-Shalah wa Hukmu Tarikhiha, Tahqiq: Bassam ‘Abdul Wahhab al-Jabi, Dar Ibni Hazm, Cetakan I Tahun 1416 H, halaman 78. Lihat juga Majmu’ Fatawa’ (XIII/48).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[15]. Majmu’ Fatawa’ (VII/520) dan kitab ash-Shalah wa Hukmu Tarikhiha, halaman 79.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[16]. Syarhus-Sunnah, Imam al-Baghawi (I/41).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[17]. Syarhus-Sunnah, Tahqiq: Khalid bin Qasim ar-Raddady, halaman 123, no. 161.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[18]. At-Takfir wa Dhawabithuhu, halaman 27.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[19] Majmu’ Fatawa’ (VII/429) dan Syarah ‘Aqidah ath-Thahawiyyah, halaman 494-497.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[20]. Majmu’ Fatawa’ (VII/242).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[21]. Majmu’ Fatawa’ (VII/241-242, XII/470-474, 479). Lihat Syarah ‘Aqidah ath-Thahawiyyah (halaman 442). Sumber : http://almanhaj.or.id&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/761503410559906563-5327326105494787124?l=alistiba.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://alistiba.blogspot.com/feeds/5327326105494787124/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://alistiba.blogspot.com/2011/11/hakikat-iman-menurut-ahlus-sunnah-wal.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/761503410559906563/posts/default/5327326105494787124'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/761503410559906563/posts/default/5327326105494787124'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alistiba.blogspot.com/2011/11/hakikat-iman-menurut-ahlus-sunnah-wal.html' title='HAKIKAT IMAN MENURUT AHLUS SUNNAH WAL JAMA’AH DAN MENURUT FIRQAH-FIRQAH YANG SESAT'/><author><name>Abu abdirrahman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05301770063388687354</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/-1rkmfDMbj9g/TtiXyO-Rh_I/AAAAAAAAAoM/iPGpqXo-kow/s220/Ittiba%2527.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-761503410559906563.post-6435355063618981568</id><published>2011-11-04T09:16:00.000-07:00</published><updated>2011-11-15T22:07:32.708-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='AqidaH'/><title type='text'>Khutbah Iedul Adha 1432 – Membangun Jiwa Kepemimpinan Dengan Sifat Tauhid Dan Semangat Pengorbanan</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;div class="arabic"&gt;إِنَّ الْحَمْدَ لله نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;( يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ )&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;( يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا )&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;( يأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا )&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;أَمَّا بَعْدُ ، فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم وَشَرَّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ &lt;/div&gt;.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, La Ilaha Illallah Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahi al-Hamdu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ma’asyiral Muslimin Hafizhakumullah&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Tiada ungkapan yang paling indah pada pagi hari ini melebihi kesyukuran kepada Allah dengan melantunkan takbir, tahmid dan tahlil. Semangat berkurban yang merasuk ke dalam jiwa kaum mukminin, membangkitkan keimanan untuk senantiasa beramal saleh dan berbuat untuk agama Allah. Semuanya dilakukan atas dasar bakti dan syukur kepada Allah, sehingga berbuah kebahagiaan yang bermuara pada ungkapan Allahu Akbar, Laa Ilaha Illallahu, Walillahi al-Hamdu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyembelihan hewan kurban pada setiap Idul Adha senantiasa mengingatkan umat Islam pada perintah Allah kepada kekasih dan rasul utusanNya, yaitu Nabi Ibrahim untuk menyembelih anak semata wayangnya pada saat itu, yaitu Ismail sebagai ujian terberat dalam kehidupannya. Perintah ini dipatuhi oleh Nabi Ibrahim, namun penyembelihan anak kesayangannya pada akhirnya terganti dengan seekor domba jantan, maka syariat ini dikekalkan hingga akhir zaman. Kepatuhan terhadap perintah Allah mengantar Nabi Ibrahim menjadi sosok pemimpin yang kuat. Keteguhan Nabi Ibrahim dalam menjalankan ketaatan kepada Allah  mengukuhkannya sebagai tokoh yang patut diteladani, sebagaimana firman Allah:&lt;br /&gt;إِنَّ إِبْرَاهِيمَ كَانَ أُمَّةً قَانِتًا لِلَّهِ حَنِيفًا وَلَمْ يَكُ مِنَ الْمُشْرِكِينَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan senantiasa berpegang kepada kebenaran. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah.” (QS. al-Nahl(16): 120)&lt;br /&gt;Jiwa kepemimpinan yang kuat menjadi salah satu pelajaran penting dari sosok Nabi Ibrahim. Sifat ini membuat Nabi Ibrahim sebagai qudwah (teladan) di dalam menjalankan agama secara sempurna. Allah mengisahkan di dalam Alquran sifat utama Nabi Ibrahim ini dalam menyikapi pelanggaran terhadap ajaran agama, khususnya perkara kesyirikan yang dilakukan oleh penguasa, masyarakat atau bahkan hingga oleh ayahnya sekalipun. Dialog antara Nabi Ibrahim as. dengan ayahnya, dan dengan Raja Namruz di dalam Alquran menegaskan jiwa kepemimpinan yang kuat ini, sehingga Allah berfirman:&lt;br /&gt;قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَآءُ مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا&lt;br /&gt;بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَدًا حَتَّى تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia, ketika mereka berkata kepada kaum mereka: Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah semata.” (QS. al-Mumtahanah(60): 4)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahi al-Hamdu&lt;br /&gt;Kaum Muslimin yang berbahagia,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jiwa kepemimpinan yang kuat menjadikan penguasa suatu bangsa sejajar dengan penguasa bangsa lain atau bahkan lebih mulia, sehingga tidak mudah didikte oleh bangsa manapun kecuali jika sejalan dengan keinginan Allah. Kisah Nabi Sulaiman dengan Ratu Balqis yang memiliki kekuasaan agung adalah contoh dari sifat ini, Nabi Sulaiman tanpa ragu dan rasa takut meminta kepada Ratu Balqis untuk datang menjumpainya dan mengikuti ajaran tauhid yang dibawanya, “Janganlah kalian bersikap sombong kepadaku, namun datanglah kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri”. Atau Rasulullah yang berkirim surat kepada para penguasa di negara-negara adidaya pada zamannya dan mengajak mereka untuk memeluk Islam sebagai agamanya, “Saya mengajak anda untuk menganut agama Islam, niscaya anda akan selamat (di dunia dan akhirat) dan kekuasaan anda akan bertahan”, demikian seruan Rasulullah   kepada para penguasa ini, di antaranya adalah Kaisar Romawi dan Persia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jiwa kepemimpinan menjadikan seseorang sebagai qudwah (teladan) bagi sesama umat manusia di dalam kehidupan. Sebagaimana firman Allah  sebagai doa orang-orang beriman:&lt;br /&gt;وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa” (QS. al-Furqan(25): 74)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Ibnu Abbas, yaitu pemimpin yang diteladani dalam kebaikan.&lt;br /&gt;Keteladanan sikap dan perilaku yang sesuai dengan perkataan, merupakan nilai moral yang dibutuhkan oleh suatu bangsa untuk maju dan disegani. Tumbuhnya kepercayaan dalam diri setiap anggota masyarakat terhadap pemimpinnya disebabkan oleh sifat keteladanannya, sehingga menjadi dasar terhadap pelaksanaan segala kebijakan yang bertujuan membangun kesejahteraan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jiwa kepemimpinan juga menjadikan suatu bangsa dapat membangun peradaban yang tinggi dan mampu bertahan dengan peradaban itu. Tidaklah peradaban bangsa-bangsa besar pada zaman dahulu dapat terbangun dan bertahan kecuali karena mereka memiliki jiwa kepemimpinan yang kuat. Kekuasaan masing-masing bangsa terbentuk menjadi suatu kekaisaran (imperium) yang memiliki wilayah begitu luas, demikian pula umat Islam yang memiliki wilayah pemerintahan sangat luas dan pengendalian yang kuat terhadap wilayah-wilayah tersebut, khususnya pada masa pemerintahan khulafa’ rasyidun. Pemerintah Islam pada zaman itu berhasil membangun peradaban dunia yang berlandaskan pada ajaran Alquran, berkat jiwa kepemimpinan para khalifahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahi al-Hamdu&lt;br /&gt;Kaum Muslimin yang berbahagia,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehilangan atau kelemahan jiwa kepemimpinan akan membuat suatu bangsa inferior (merasa rendah diri) di hadapan bangsa lain, sehingga hanya dapat membeo terhadap segala keinginan bangsa tersebut. Kondisi ini juga bisa membuat bangsa ini menggadaikan kedaulatannya kepada bangsa tersebut dengan tidak langsung, seperti mengadopsi sistem politik, atau menjiplak sistem ekonomi dan budaya secara mutlak. Dampaknya berujung pada kesejahteraan masyarakat, mereka tidak memiliki kemerdekaan penuh dalam pengelolaan sumber daya alam, atau dalam sistem berpolitik dan berbudaya yang bersumber pada nilai-nilai kemuliaan, sehingga tingkat kehidupan mereka tidak mengalami pertumbuhan seiring berkurangnya potensi alam yang ada, tetapi tetap berada di bawah garis kesejahteraan pada bidang ekonomi, atau tetap latah dengan gaya hidup orang lain yang tidak menunjukkan kemuliaan sebagai manusia apalagi sebagai seorang muslim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Krisis panutan adalah dampak lain dari hilangnya jiwa kepemimpinan di tengah masyarakat. Tidak mudah mencari orang yang selaras perbuatan dengan perkataannya, atau begitu mahal nilai sebuah kejujuran, sehingga menemukan seorang yang jujur menjadi ibarat oase di tengah luasnya gurun tandus kedustaan. Berita tentang seorang yang jujur menjadi luar biasa, media-media informasi meraup keuntungan besar karena menyebarkannya, seorang pejabat penting masyarakat bahkan hingga harus rela berjalan kaki buat menemui orang yang diberitakan jujur tersebut. Mencari panutan pada saat jiwa kepemimpinan telah hilang, ibarat mencari butiran emas di pasir bebatuan sungai, tidak mudah dan paling sering tidak menemukannya. Harapan yang besar biasanya memberi gambaran fatamorgana yang tidak memiliki kebenaran, sehingga pada saat dibutuhkan, yang terjadi hanyalah segudang kekecewaan karena tertipu dengan gambaran lahiriyah tanpa hakikat. Begitulah kondisi suatu masyarakat yang tidak memiliki orang-orang berjiwa pemimpin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagai kasus di negeri ini menimbulkan kekhawatiran dan keprihatinan akan krisis jiwa kepemimpinan di kalangan anak bangsa. Kasus perusahaan-perusahaan asing yang beroperasi di dalam negeri dan tidak memberikan kontribusi pendapatan yang wajar kepada negara dan bangsa bahkan terhadap masyarakat sekitarnya sekalipun, kasus penanganan terorisme dan korupsi yang terkesan tebang pilih, hingga kasus separatisme yang merebak di tanah Papua dan upaya campur tangan lembaga asing buat penyelesaiannya. Masyarakat tidak mendapatkan teladan yang baik dari para penanggungjawab permasalahan-permasalahan ini, sehingga cenderung bersikap putus asa dan berlepas tangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahi al-Hamdu&lt;br /&gt;Kaum Muslimin yang berbahagia,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi krisis seperti ini tidak dapat dibiarkan, harus ada upaya membangun kembali jiwa kepemimpinan pada diri setiap masyarakat, khususnya kaum muslimin sebagai penduduk mayoritas negeri ini. Upaya yang dilakukan itu sepatutnya bersumber pada sejarah perjuangan Rasulullah dalam membina pribadi para sahabat. Rasulullah merupakan teladan utama dalam pembinaan dan para sahabat adalah teladan terbaik dalam jiwa kepemimpinan, bukan hanya sahabat yang memiliki kekuasaan politik seperti khulafa’ rasyidun, namun secara umum para sahabat yang dibina langsung oleh Rasulullah, masing-masing mereka memiliki sifat ini, sehingga setiap sahabat tersebut menjadi pemimpin di bidangnya. Kondisi ini membuat peradaban kaum muslimin pada masa itu berkembang sangat pesat hingga meruntuhkan peradaban lain yang lebih dulu ada, seperti Persia dan Romawi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah memulai pembinaan pribadi para sahabat pada permasalahan akidah dan tauhid, penegasan terhadap Kemahaesaan Allah untuk disembah dan penolakan terhadap segala bentuk perbuatan kesyirikan. Rasulullah menanamkan ke dalam diri para sahabat butir-butir keimanan kepada hari akhirat dan meluruskan visi hidup setiap mereka, sehingga amal perbuatan para sahabat dapat bertujuan ukhrawi meskipun amal itu bersifat duniawi. Rasulullah juga meniupkan ke dalam jiwa para sahabat ruh kemerdekaan dan kebebasan dari segala bentuk penghambaan kecuali hanya kepada Allah dan bahwa semua manusia dan semua bangsa adalah sama di hadapan Allah kecuali yang bertakwa, maka dialah yang termulia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah selanjutnya membina jiwa kepemimpinan dalam diri para sahabat dengan menanamkam semangat pengorbanan (tadhiyah). Pengorbanan&lt;br /&gt;dengan segala potensi diri yang dimiliki, waktu, harta, perhatian bahkan jiwa, demi menggapai cita-cita termulia yaitu keridaan Allah (mardhatullah). Rasulullah mendidik para sahabat untuk bersabar dalam pengorbanan ini, semuanya buat hasil terindah berupa surga Allah. Sebagaimana ungkapan Rasulullah kepada keluarga Yasir yang disiksa oleh bangsa Quraisy pada zaman awal agama Islam disebarkan:&lt;br /&gt;اصْبِرُوا آلَ يَاسِرٍ مَوْعِدُكُمُ الْجَنَّةُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bersabarlah wahai keluarga Yasir, tempat yang dijanjikan buat kalian adalah surga”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah senantiasa mengingatkan para sahabat bahwa cita-cita yang tinggi tidak dapat diraih kecuali dengan pengorbanan dan kesabaran di dalamnya. Segala ujian, berupa kesempitan dan kelapangan, kesusahan dan kelancaran adalah dinamika kehidupan yang harus dilalui oleh siapapun yang telah memilih keimanan sebagai jalannya menuju Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keyakinan terhadap ajaran tauhid menjadi pondasi dari bangunan jiwa kepemimpinan yang kuat, karena dapat memberikan kepada seorang manusia kemerdekaan dari penghambaan dan ketundukan kepada sesama makhluk, sehingga dia tidak takut kecuali hanya kepada Allah, tidak tunduk kecuali hanya kepada aturan yang datang dari Allah atau yang sesuai dengannya. Sifat pengorbanan di jalan Allah menjadi landasan operasional buat membentuk pemimpin yang kuat, karena sifat ini akan menempa seorang manusia menjadi pribadi yang tegar dan tahan terhadap segala ujian, dan juga menghindarkannya dari sifat kikir dan cinta kepada dunia yang berlebih-lebihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua sifat ini, yaitu keyakinan yang kokoh dan pengorbanan dengan penuh kesabaran adalah jalan untuk membangun jiwa kepemimpinan yang kuat, sebagaimana firman Allah:&lt;br /&gt;وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يُوقِنُونَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami, ketika mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami” (QS. al-Sajdah(32): 24)&lt;br /&gt;Namun, kedua sifat ini juga tidak dapat diwujudkan dan dipelihara kecuali dengan proses tarbiyah (pembinaan) yang dijalankan secara berkesinambungan dan mengacu kepada sunnah Rasulullah bersama para sahabat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahi al-Hamdu&lt;br /&gt;Kepada segenap dai dan ulama, anda sekalian adalah pemimpin sejati bagi umat manusia, Allah telah menjadikan setiap anda sebagai teladan di dalam kehidupan, olehnya itu, jadilah teladan yang baik bagi umat manusia, serukanlah kebenaran dan jangan pernah takut atau ragu untuk menyuarakannya. Sampaikanlah agama, binalah umat ini dengan nilai-nilai kemuliaan yang berdasarkan ajaran tauhid (keesaan Allah) dan dakwahkanlah Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam semesta dengan penuh amanah dan kesantunan, semoga dengan itu kesadaran umat untuk menjalankan agama semakin membaik.&lt;br /&gt;Kepada segenap pengelola negara, kami tidak pernah berhenti menyerukan untuk menegakkan keadilan dengan ajaran Islam. Agama Islam diturunkan oleh Allah untuk dilaksanakan dan memberikan kesejahteraan kepada umat manusia, olehnya itu jalankanlah tuntunan agama ini dengan penuh keyakinan dan kejujuran, raihlah kemuliaan dan kebanggaan sebagai pemimpin bangsa dengan menjadikan agama sebagai panduan, tegakkanlah kewibawaan bangsa ini karena agama adalah identitasnya, niscaya kewibawaan itu disegani oleh bangsa lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepada segenap orang tua dan kaum pendidik, kami mengingatkan besarnya tanggungjawab terhadap generasi muda, olehnya itu didiklah anak-anak anda sekalian untuk cinta kepada Allah, kepada Rasulullah dan kepada agamanya. Tanamkanlah sejak dini ke dalam diri mereka jiwa kepemimpinan yang kuat, dengan memperkokoh akidah tauhid dan memotivasi semangat mereka untuk melakukan ketaatan terhadap perintah-perintah Allah, hindarkanlah mereka dari perkara-perkara yang dapat merusak agama, semoga Allah mengaruniakan anda sekalian generasi yang saleh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepada segenap kaum wanita, kami menyerukan untuk memelihara kemuliaan dengan berjilbab yang benar, berbusana yang sopan dan jauh dari kesan menjadi fitnah bagi kaum laki-laki, jagalah sikap dan pergaulan agar tetap menunjukkan identitas sebagai wanita muslimah. Janganlah tertipu dengan gemerlap kehidupan dunia seperti yang ditampilkan oleh para artis atau selebritis, karena kadang hal itu tidak sesuai dengan keadaan sebenarnya. Jadilah diri sendiri dan lakukanlah kebaikan untuk kemaslahatan diri dan keluarga, semoga anda diberkati menjadi muslimah yang salehah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepada segenap generasi muda Islam, tuntutlah ilmu yang bermanfaat setinggi-tingginya dan berbuatlah yang terbaik bukan hanya untuk diri sendiri, tapi juga buat bangsa, negara dan umat Islam. Manfaatkanlah waktu sebaik-baiknya dengan beribadah kepada Allah dan jangan disia-siakan dengan bersenda gurau tanpa manfaat atau dihabiskan dengan begadang malam di tempat-tempat maksiat. Bersiaplah menjadi pemimpin di masa depan dengan menjadi muslim sejati, semoga Allah memberkati hari-hari anda sekalian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahi al-Hamdu&lt;br /&gt;Kaum Muslimin yang Berbahagia,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari berkurban sesuai tuntunan Rasulullah, hewan yang dapat dikurbankan adalah domba yang genap berusia 6 bulan, kambing yang genap setahun, sapi yang genap 2 tahun. Syaratnya, hewan kurban tidak boleh memiliki cacat atau penyakit yang bisa berpengaruh pada dagingnya, jumlah maupun rasanya, misalnya: kepicakan pada mata, kepincangan pada kaki dan penyakit pada kulit, kuku atau mulut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seekor domba atau kambing hanya mencukupi untuk kurban satu orang saja, sedangkan seekor sapi boleh berserikat untuk tujuh orang, kecuali berserikat pahala maka boleh pada semua jenis tanpa batas. Sebaiknya pemilik kurban yang menyembelih sendiri hewan kurbannya, tetapi dia bisa mewakilkannya kepada penjagal, dengan syarat seorang muslim yang menjaga shalatnya, mengetahui hukum-hukum menyembelih dan upahnya tidak diambilkan dari salah satu bagian hewan kurban itu sendiri, kulit atau daging, meskipun dia juga bisa mendapat bagian dari hewan kurban sebagai sedekah atau hadiah. Waktu penyembelihan hewan kurban adalah seusai pelaksanaan shalat Idul Adha hingga tiga hari tasyriq setelahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembagian hewan kurban yang telah disembelih dapat dibagi tiga bagian, sepertiga buat pemiliknya, sepertiga buat hadiah dan sepertiga buat sedekah kepada fakir miskin. Nilai pahala hewan kurban seseorang di sisi Allah tidak hanya diukur dengan banyaknya daging yang dihasilkan atau banyaknya darah yang dikucurkan, tetapi sifat keikhlasan pemiliknya, olehnya itu luruskanlah niat hanya mengharap balasan dariNya semata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, pada hari yang mulia ini, marilah kita sekali lagi memuji dan bersyukur kepada Allah seraya menundukkan hati, pandangan dan wajah kita, berdo’a dan bermunajat kepada Allah,&lt;br /&gt;الحمد لله رب العالمين والصلاة والسلام على رسوله الأمين و على آله وصحبه والتابعين،&lt;br /&gt;اللَّهُمَّ إِنَّا نَحْمَدُكَ بِأَنَّكَ أَهْلٌ أَنْ تُحْمَد وَنَشْكُرُكَ بِأَنَّكَ أَهْلٌ أَنْ تُشْكَر وَنُثْنِيْ عَلَيْكَ الْخَيْرَ كُلَّهُ فَإِنَّكَ أَنْتَ أَهْلُ الْمَجْدِ&lt;br /&gt;وَالثَّناَءِ ، رَبَّناَ ظَلَمْناَ أَنْفُسَناَ ظُلْماً كَثِيْراَ وَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ فَاغْفِرْ لَناَ مَغْفِرَةً مِنْ عِنْدِكَ وَارْحَمْناَ إِنَّكَ أَنْتَ&lt;br /&gt;الْغَفُوْرُ الرَحِيْم&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah, Engakulah Penguasa langit dan bumi, Penguasa dunia dan akhirat, kami datang kepadaMu pada hari yang penuh berkah ini mengadukan beratnya dosa yang telah kami lakukan. Kami sadar bahwa nikmat pemberianMu belumlah dapat kami syukuri dengan sebenarnya, kami mengaku kesalahan kami lebih banyak dari kebaikan kami, namun kami yakin bahwa Engkau adalah Zat Yang Maha Pengampun, Maha Pengasih dan Penyayang, maka kami berharap kepada-Mu, Ya Allah ampunkanlah segala dosa dan kesalahan kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah, kedua ayah dan ibu kami adalah orang yang pertama kali berjasa kepada kami, memperkenalkan kami kepada-Mu, merawat, mendidik dan membimbing kami dengan penuh kesabaran, tak jarang airmata mereka tumpah karena ulah kami, Ya Allah tak ada yang mampu kami berikan kepada mereka kecuali seuntai doa kepada-Mu untuk mengampunkan kekhilafan dan kesalahan mereka, melimpahkan kasih sayang dan rahmat kepada mereka, ampunkan mereka yang telah wafat, bimbing dan tunjukilah mereka yang masih bersama kami dan jadikanlah kami orang yang mampu berbakti kepada mereka sesuai tuntunan-Mu, Engkaulah Zat Yang Maha Mendengar dan Maha Mengabulkan Doa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah berkahilah negeri kami ini dan seluruh negeri kaum muslimin dengan ketaatan kepada-Mu, yang akan mengundang curahan rahmat-Mu. Lindungilah negeri kami ini dan seluruh negeri kaum muslimin dari busuknya dosa dan pengingkaran atas syariat-Mu. Ya Allah janganlah Engkau timpakan azab atas kami karena kezaliman sebagian orang di antara kami. Berikankanlah pemimpin-pemimpin kami keyakinan dan kemampuan untuk menjalankan syariat-Mu, yang dengannya mereka membimbing kami menuju keselamatan di dunia dan di akhirat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah, Zat Yang Maha Mengabulkan doa kabulkanlah doa kami, penuhilah permintaan kami, kamilah hamba-Mu yang lemah, harapan kami hanya kepadaMu, Engkau Maha Mendengar, Engkaulah Penguasa satu-satunya Yang Haq, Engkaulah sebaik-baik Pemberi yang diharap.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; رَبَّناَ لاَ تُزِغْ  قُلُوْبَناَ بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَناَ وَهَبْ لَناَ مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ ،&lt;br /&gt;رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ، سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَسَلاَمٌ عَلَى&lt;br /&gt;اْلمُرْسَلِيْنَ وَاْلحَمْدُ للهِ رَبِّ اْلعَالَمِيْنَ ، وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ . &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Sumber : http://www.belajarislam.com/&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/761503410559906563-6435355063618981568?l=alistiba.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://alistiba.blogspot.com/feeds/6435355063618981568/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://alistiba.blogspot.com/2011/11/khutbah-iedul-adha-1432-membangun-jiwa.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/761503410559906563/posts/default/6435355063618981568'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/761503410559906563/posts/default/6435355063618981568'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alistiba.blogspot.com/2011/11/khutbah-iedul-adha-1432-membangun-jiwa.html' title='Khutbah Iedul Adha 1432 – Membangun Jiwa Kepemimpinan Dengan Sifat Tauhid Dan Semangat Pengorbanan'/><author><name>Abu abdirrahman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05301770063388687354</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/-1rkmfDMbj9g/TtiXyO-Rh_I/AAAAAAAAAoM/iPGpqXo-kow/s220/Ittiba%2527.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-761503410559906563.post-6193286257214722521</id><published>2011-11-02T10:48:00.000-07:00</published><updated>2011-11-15T21:52:38.002-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='AqidaH'/><title type='text'>“Qadha’ Dan Qadhar”</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pertanyaan :&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Apa perbedaan antara Qadha’ dan Qadhar ?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jawab :&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ulama berbeda pendapat mengenai perbedaan antara keduanya. Di antara mereka ada yang mengatakan bahwa qadar adalah taqdir Allah sejak zaman azali, sedangkan qadha’ adalah hukum Allah mengenai sesuatu ketika sesuatu itu terjadi . Jika Allah menetapkan terjadinya sesuatu pada waktu yang ditentukan, maka itulah yang dinamakan qadar. Dan ketika telah datang waktunya terjadinya sesuatu yang telah ditetapkan sebelumnya itu, maka itulah yang dinamakan qadha’.&lt;span class="fullpost"&gt; Semacam ini banyak sekali kita dapatkan dalam Al-Qur’an, seperti firman Allah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Artinya : Telah diputuskan perkara yang kamu berdua menanyakannya kepadaku”. .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga Allah berfirman :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Artinya : Dan Allah melaksanakan hukum dengan adil”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan masih banyak lagi ayat-ayat yang semisal. Jadi, qadar adalah ketentuan Allah mengenai segala sesuatu pada zaman azali, sedangkan qadha’ adalah pelaksanaan dari qadar itu pada saat terjadinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada juga ulama yang mengatakan bahwa kedua istilah itu memiliki satu makna atau satu pengertian. Namun yang kuat adalah jika keduanya disandingkan, maka keduanya memiliki perbedaan arti seperti bisa kita lihat di atas, dan jika dipisahkan atau berdiri sendiri, maka kedua istilah itu memiliki satu makna . Wallahu a’lam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan :&lt;br /&gt;Bagaimana pengaruh Qadha’ dan Qadar terhadap bertambahnya iman ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawab :&lt;br /&gt;Qadha’ dan Qadar akan membantu seorang muslim dalam mengatasi urusan agama dan dunianya, karena dia beriman bahwa qudrah Allah ‘Azza wa Jalla di atas segala qudrah, dan jika Allah Ta’ala menghendaki sesuatu tidak ada yang bisa menghalanginya. Jika seorang mukmin tidak percaya ini semua, ia akan berusaha dan mencari sarana untuk kesampaian maksudnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita semua telah tahu dari sejarah masa lalu dimana kaum muslimin mampu meraih kemenangan yang luar biasa meskipun jumlah mereka sedikit. Itu semua karena keimanan mereka dengan janji Allah ‘Azza wa Jalla serta keimanan mereka dengan qadha’ dan qadar, dan mereka yakin bahwa segala urusan ada di tangan Allah ‘Azza wa Jalla.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan :&lt;br /&gt;Adakah sesuatu yang buruk dalam qadar Allah ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawab :&lt;br /&gt;Dalam qadar Allah tidak ada sesuatu yang buruk, akan tetapi keburukan itu terdapat pada yang ditakdirkan. Kita tahu bahwa ada orang yang mendapatkan musibah dan ada juga yang mendapatkan untung. Musibah merupakan sesuatu yang buruk, akan tetapi keburukan itu tidaklah perbuatan Allah Ta’ala, yakni perbuatan dan takdir Allah itu bukan merupakan keburukan. Keburukan ada pada yang diperbuat oleh-Nya, bukan pada perbuatan-Nya. Allah tidaklah mentakdirkan keburukan ini melainkan untuk sesuatu kebaikan. Allah Ta’ala berfirman :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Artinya : Telah tampak kerusakan di daratan dan di lautan disebabkan ulah tangan manusia”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini merupakan penjelasan penyebab kerusakan di muka bumi. Adapun mengenai hikmahnya seperti difirmankan oleh-Nya :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Artinya : Supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari perbuatan mereka agar mereka kembali “. .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, musibah ini pada akhirnya merupakan kebaikan. Dengan demikian keburukan itu tidak disandarkan kepada Tuhan, akan tetapi disandarkan sesuatu yang diperbuat dan kepada mahluk. Ini bisa diartikan suatu keburukan dari satu sisi dan merupakan kebaikan di sisi yang lain. Kalau dilihat bencananya yang terjadi, maka itu suatu keburukan, namun jika dilihat dari akibatnya, maka itu suatu kebaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Agar Allah merasakan kepada mereka sebagian dari perbuatan mereka, agar mereka kembali “.   &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/761503410559906563-6193286257214722521?l=alistiba.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://alistiba.blogspot.com/feeds/6193286257214722521/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://alistiba.blogspot.com/2011/11/qadha-dan-qadhar-ketegori-muslim-qadha.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/761503410559906563/posts/default/6193286257214722521'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/761503410559906563/posts/default/6193286257214722521'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alistiba.blogspot.com/2011/11/qadha-dan-qadhar-ketegori-muslim-qadha.html' title='“Qadha’ Dan Qadhar”'/><author><name>Abu abdirrahman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05301770063388687354</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/-1rkmfDMbj9g/TtiXyO-Rh_I/AAAAAAAAAoM/iPGpqXo-kow/s220/Ittiba%2527.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-761503410559906563.post-3348556980580518507</id><published>2011-10-27T06:16:00.000-07:00</published><updated>2011-11-12T18:25:43.072-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fiqhi'/><title type='text'>Kota Jeddah Bukan Miqat Jama'ah Haji Indonesia</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-XeRQFPo0uSs/TqlZuUaAnAI/AAAAAAAAAg0/ElAnoqPsas8/s1600/jeddah.gif" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="130" src="http://1.bp.blogspot.com/-XeRQFPo0uSs/TqlZuUaAnAI/AAAAAAAAAg0/ElAnoqPsas8/s320/jeddah.gif" width="253" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana lazimnya, jama'ah haji Indonesia yang berangkat ke tanah Suci untuk menjalankan ibadah haji, dibagi menjadi dua gelombang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gelombang pertama yaitu para jama'ah haji yang langsung menuju ke Madinah, dan gelombang kedua biasanya langsung menuju Makkah, dengan mendarat di bandara "Malik Faishal"- Jeddah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk gelombang pertama insya Allah tidak bermasalah, karena miqat mereka adalah miqat penduduk Madinah, yaitu Dzul Hulai-fah/Bir 'Ali, berdasarkan pada hadits Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam .&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;"(Miqat-miqat) itu adalah (tempat berihram bagi penduduknya) dan orang-orang yang datang kepadanya yang bukan dari pen-duduknya, bagi mereka yang ingin menger-jakan ibadah haji dan umrah." (HR. Al-Bukhari dan Muslim).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan jama'ah haji gelombang kedua yang bertolak dari Indonesia dengan tujuan langsung ke Makkah, maka mereka harus berihram di atas pesawat dengan bantuan informasi dari awak pesawat. Biasanya awak pesawat mengumumkannya satu jam atau setengan jam sebelum tiba di atas miqat atau di tempat yang sejajar dengan miqat, agar jama'ah haji mempersiapkan diri untuk ber-ihram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun menjadikan kota Jeddah sebagai miqat jama'ah haji Indonesia adalah sebuah kesalahan besar yang menyelisihi al-Qur-an atau Sunnah Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam .&lt;br /&gt;Berikut ini penyusun menukil fatwa Majelis Ulama Besar Saudi Arabia No. 5730 tertanggal 21/10/1399 H dalam bantahan mereka ter-hadap fatwa yang dikeluarkan oleh Syaikh 'Abdullah bin Zaid Alu Mahmud, Ketua Mah-kamah Syar'iyyah dan Urusan Agama Negeri Qatar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam fatwa tersebut Syaikh 'Abdullah bin Zaid Alu Mahmud membolehkan untuk menjadikan kota Jeddah sebagai miqat bagi para jama'ah haji yang menggunakan pesawat terbang dan kapal laut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka setelah mempelajari fatwa beliau dengan seksama, para anggota Majelis Ulama Besar Saudi Arabia memandang bahwasanya dasar-dasar yang dijadikan sandaran adalah tertolak dan terbantah oleh nash-nash syari'at (al-Qur-an dan Sunnah Rasulullah  yang shahihah-Pent), serta ijma' Salaful ummah. Se-telah merujuk kepada dalil-dalil dan perkataan-perkataan ulama muslimin perihal miqat makani dan setelah melakukan dialog tentang permasalahan ini dari segala segi. Majelis me-ngeluarkan ketetapan sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Bahwa sesungguhnya fatwa yang dikeluar-kan oleh Syaikh 'Abdullah bin Zaid Alu Mahmud –Ketua Mahkamah Syar'iyyah dan Urusan Agama Negeri Qatar- yang membolehkan untuk menjadikan Jeddah sebagai miqat bagi para jama'ah haji yang menggunakan pesawat terbang dan kapal laut adalah fatwa yang bathil, karena tidak bersandar pada ayat al-Qur-an atau hadits Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam dan ijma' (kesepakatan) para Salaf umat ini, serta tidak pernah ada seorang pun di antara ulama muslimin yang mendahuluinya (dalam fatwa terse-but).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Tidak dibolehkan bagi mereka yang melewati atau melintas salah satu dari miqat-miqat makani atau yang melintasi tempat yang sejajar dengan miqat-miqat tersebut, baik melalui udara maupun lautan, (tidak dibolehkan bagi mereka) untuk melewati miqat-miqat tersebut tanpa berihram, sebagaimana hal tersebut disaksikan/diko-kohkan oleh dalil-dalil dan ditetapkan oleh para ulama kaum muslimin ÑÍãåã Çááå.&lt;br /&gt;Demikian (fatwa ini ditetapkan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, dibawah ini kami menukil dua fatwa, masing-masing dari ulama besar abad ini yang tidak diragukan lagi keilmuan dan ketakwaan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang pertama yaitu fatwa Syaikh 'Abdul 'Aziz bin 'Abdullah bin Baaz , mantan Mufti Kerjaan Saudi Arabia, ketika beliau ditanya tentang masalah ini, sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan :&lt;br /&gt;Sebagian orang berfatwa bahwa jama'ah haji yang datang dengan menggunakan pesawat udara, berihram dari Jeddah, sebagian lagi mengingkari hal itu, Nah, bagaimanakah sebenarnya dalam masalah ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawaban :&lt;br /&gt;Bagi semua jama'ah haji baik yang datang melalui udara atau darat atau laut, wajib berihram dari miqat yang mereka lewat di darat atau miqat yang mereka melintasinya, jika kedatangan mereka melalui udara atau laut, hal ini berdasarkan pada sabda beliau Shalallaahu alaihi wasalam :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"(Miqat-miqat) itu adalah (tempat berihram bagi penduduknya) dan orang-orang yang datang kepadanya yang bukan dari penduduknya, bagi mereka yang ingin mengerjakan ibadah haji dan umrah."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun Jeddah bukanlah sebagi miqat bagi para rombo-ngan jamaa'ah haji dan umrah, akan tetapi dia (Jeddah) adalah miqat bagi penduduknya dan bagi mereka yang datang ke-sana, yang tidak berkeinginan untuk haji dan umrah (ketika pertama kali mereka datang,-Pent), kemudian setelah mereka ber-ada disana, timbul niat untuk mengerjakan haji dan umrah.&lt;br /&gt;(Syaikh 'Abdul 'Aziz bin 'Ab-dullah bin Baaz t).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang kedua, yaitu fatwa Syaikh Muham-mad bin Shalih al-'Utsaimin-seorang Ulama Besar dan Ahli Fiqih abad ini- ketika beliau ditanya tentang cara berihram di atas pesawat, sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan :&lt;br /&gt;Tolong dijelaskan kepada kami bagaimana cara berihram seseorang yang datang ke Makkah melalui pesawat udara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawaban :&lt;br /&gt;Seorang yang datang ke Makkah melalui pesawat udara, wajib mengucapkan ihramnya apa-bila berada diatas miqat atau sejajar dengan miqat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atas dasar ini, seyogianya bagi seseorang mempersiapkan diri dengan mandi dirumahnya lalu memakai pakaian ihram sebelum tiba di miqat. Dan apabila telah tiba di miqat, dia niat untuk masuk ke dalam ibadah serta tidak boleh terlambat, sebab jalannya pesawat itu cepat. Dalam waktu satu menit bisa jadi telah menempuh jarak yang cukup jauh. Hal ini dilakukan oleh sebahagian orang, mereka tidak bersiap-siap sebelumnya, jika telah diumumkan oleh awak pesawat, bahwasanya telah sampai di miqat, barulah mereka tergesa-gesa menanggalkan pakaian mereka lalu memakai pakaian ihram. Ini adalah sikap yang sangat meremehkan, padahal para awak pesawat tampaknya telah mengingatkan para penumpang sejak seperempat jam sebelum melintasi miqat, ini adalah suatu perbuatan yang patut disyukuri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian mereka telah memberi kesempatan untuk mengganti pakaian dan persiapan lainnya. Namun dalam kondisi seperti ini sepatutnya atau bahkan wajib bagi setiap orang yang akan berihram untuk senantiasa memperhatikan waktu. Jika awak pesawat telah mengumumkan 15 menit sebelum melewati miqat, maka ia harus melihat jamnya, hingga waktu yang 15 menit tersebut berlalu atau 2–3 menit sebelumnya, lalu dia-pun mengucapkan "Talbiyah" untuk ibadah yang dikehendakinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Muhammad bin Shalih al-'Utsa-imin ).&lt;br /&gt;Sumber : http://www.alquran-sunnah.com&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/761503410559906563-3348556980580518507?l=alistiba.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://alistiba.blogspot.com/feeds/3348556980580518507/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://alistiba.blogspot.com/2011/10/kota-jeddah-bukan-miqat-jama-haji.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/761503410559906563/posts/default/3348556980580518507'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/761503410559906563/posts/default/3348556980580518507'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alistiba.blogspot.com/2011/10/kota-jeddah-bukan-miqat-jama-haji.html' title='Kota Jeddah Bukan Miqat Jama&amp;#39;ah Haji Indonesia'/><author><name>Abu abdirrahman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05301770063388687354</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/-1rkmfDMbj9g/TtiXyO-Rh_I/AAAAAAAAAoM/iPGpqXo-kow/s220/Ittiba%2527.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-XeRQFPo0uSs/TqlZuUaAnAI/AAAAAAAAAg0/ElAnoqPsas8/s72-c/jeddah.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-761503410559906563.post-3337357494645624278</id><published>2011-10-25T09:50:00.000-07:00</published><updated>2011-11-12T18:25:43.109-08:00</updated><title type='text'>al Wahn</title><content type='html'>Salah satu penyakit manusia yang paling menonjol akhir-akhir ini adalah “Al Wahan” (cinta dunia, takut mati). Istilah wahan ini merupakan ungkapan Nabi SAW tatkala menjelaskan kondisi umat manusia di masa yang akan datang. Sabda Nabi SAW: “Akan datang suatu masa, di mana bangsa-bangsa akan mengeroyok kalian seperti orang-orang rakus memperebutkan makanan di atas meja. ‘Apakah karena pada saat itu jumlah kami sedikit ya Rasulul-lah?’ Rasulullah SAW menjawab: ‘Tidak, bahkan kamu pada saat itu mayoritas, akan tetapi kamu seperti buih di atas permukaan air laut. Sesungguhnya Allah telah mencabut rasa takut dari musuh-musuh kalian, dan telah mencampakkan nilai penyakit al-wahan pada diri dan perasaan kamu’. Sahabat bertanya: ‘Apakah penyakit al-wahan itu ya Rasulullah?’ Nabi SAW menjawab: ‘Al Wahan adalah penyakit cinta dunia dan takut mati’ “.&lt;span class="fullpost"&gt; Sebab-Sebab Al-Wahan Penyakit al-wahan ini disebabkan telah merasuknya cinta kepada benda, harta, tahta (jabatan), wanita di hati manusia. Manusia pada dasamya ingin kaya, pangkat tinggj, memiliki pangaruh yang besar, terkenal di mana-mana, dan mempunyai istri yang cantik. Manakala seseorang telah mencapai keinginannya sementara aturan-aturan Allah tidak dipergunakan dalam mengatur dan mengendalikan kekayaan dunianya, maka inilah yang disebut materialistis, alias cinta dunia. Faham materilisme ini sama sekali tidak dibolehkan dalam ajaran Islam, bahkan adalah merupakan musuh Islam yang tergolong utama. Faham ini merupakan warisan dari Iblis la’natullahi’alaihi, yang memang kehadiran dan keberadaanya didalam diri hanya untuk menggoda agar manusia rusak, sehingga (pada akhirnya kelak) menjadi penghuni neraka bersama iblis. Kepada iblis Allah SWT bertanya: “Apakah yang menghalangimu sujud kepada Adam?” Iblis menjawab: “Aku lebih baik daripada Adam. Engkau ciptakan aku dari api dan Engkau menciptakannya dari tanah ?” (QS.A1 A’raf: 12). Setidaknya ada empat hal yang menyebabkan timbulnya penyakit wahan di masyarakat muslim, yakni:1. Kaum muslimin banyak yang belum memahami karakteristik ajaran Islam itu sendiri. Sehingga dengan mudah mereka menerima faham-faham yang tidak sesuai ajaran Islam. Mereka hanya menerima hal-hal yang sesuai dengan tuntutan hawa nafsunya. Sedangkan hal-hal yang jelas berdasaikan prinsip-prinsip ajaran Islam dilihat dan disikapinya sebagai sesuatu beban dan menyusahkan kehidupan. Mereka merasa ragu dan telah phobi terhadap Islam.2. Pengaruh racun berpikir yang diminumkan sejak lama oleh musuh-musuh Islam terhadap kaum muslimin. Proses pencekokan tersebut berlangsung dengan demikian halus dan terorganisir, sehingga umat Islam menjadi lemah dan terpecah-pecah. Hal itu sesungguhnya amat kita lihat dan rasakan (QS.A1 Baqarah: 120). 3. Kekuasaan politik dan pemerintahan tidak berada ditangan kaurn muslim. Urusan umat Islam diserahkan kepada orang-orang kafir lagi fujur, fasik dan munafik. Mereka mengangkangi kaum muslimin dalam berbagai bidang. 4. untuk mewujudkan cita-citanya musuh-musuh Islam (Yahudi dan Nasrani) merancang taktik strategi untuk menghadapi umat Islam. Mereka memanfaatkan kekayaan, ilmu pangetahuan, dan teknologi yang mereka miliki untuk menghadapi dan memperdaya umat Islam. Sehingga situasi dan kondisi dunia lslam benar-benar dalam keadaan lemah, terbelakang, terpecah-pecah, dan malah sesama umat Islam itu sendiri saling beradu dan bermusuhan. Membasmi Penyakit Wahan Penyakit wahan ini bisa diatasi dengan jalan bertaubat kepada Allah SWT. Mereka yang merasa bahwa penyakit ini telah menghinggapi dirinya hendaklah melakukan langkah-langkah berikut : 1. Meningkatkan keimanan kepadaAllahSWTdanhariakhir, sampai pada derajat yakin. Dengan keyakinan ini penyakit cinta dunia atau takut mati akan hilang (QS. Al Hadid:20). 2.   Selalu mengkaji dan memahami ajaran Islam, terutama bidang akidah, yang merupakan inti ajaran Islam. (QS.Mubammad: 19).3. Menghayati maksud pandangan Islatn terhadap urusan duniawi, serta mampu mengamalkannya. Sesungguhnya Islam tidak mengharamkan dunia dan perhiasannya, akan tetapi menjadikannya sebagai alat untuk mencapai kehidupandan kebahagjaan akhirat.4.   Meningkatkan dan memantapkan ibadah dan pendekatan diri kepada Allah SWT. Dengan demikian maka sifat qana’ahnya muncul dan menjadi citra diri dan kehidupannya. Rasa syukurnya semakin meningkat, dan tawadhu (rendah hati) akan menjadi benteng dan sekaligus penghias dirinya. (QS An-Nahl:96). 5.  Berjihad di jalan Allah dengan segenap kemampuannya yang ada. Di antara jihad yang harus dikedepankan adalah mempersiapkan generasi yang beraqidah yang kuat, mantap dalatn ibadah, terpuji akhlaknya. (QS.A1 Furqaan :52) &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/761503410559906563-3337357494645624278?l=alistiba.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://alistiba.blogspot.com/feeds/3337357494645624278/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://alistiba.blogspot.com/2011/10/al-wahn.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/761503410559906563/posts/default/3337357494645624278'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/761503410559906563/posts/default/3337357494645624278'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alistiba.blogspot.com/2011/10/al-wahn.html' title='al Wahn'/><author><name>Abu abdirrahman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05301770063388687354</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/-1rkmfDMbj9g/TtiXyO-Rh_I/AAAAAAAAAoM/iPGpqXo-kow/s220/Ittiba%2527.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-761503410559906563.post-8365341111781636824</id><published>2011-10-14T00:20:00.000-07:00</published><updated>2011-11-12T18:25:43.133-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tips'/><title type='text'>Mari Menata Ulang Pola Kehidupan Kita!</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-LEVDgYX4sbw/TpfivBG3eoI/AAAAAAAAAgc/mfZ9Nd6iihA/s1600/waktu.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="153" src="http://1.bp.blogspot.com/-LEVDgYX4sbw/TpfivBG3eoI/AAAAAAAAAgc/mfZ9Nd6iihA/s400/waktu.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Shalih Hasyim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BERAPAKA usia Anda hari ini? Rasulullah pernah mengatakan, rata-rata umur ummat nya hanya seputar 60-70 tahun saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أَعْماَرُ أُمَّتِي بَيْنَ سِتِّيْنَ وَ سَبْعِيْنَ وَأَقَلُّهُمْ مَنَ يُجاَوِزُ عَلَى ذَلِكَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Umur ummatku antara 60-70 tahun. Sangat sedikit di antara mereka yang umurnya melampaui kisaran itu.” (HR. At Tirmidzi 3550, Ibnu Hibban 7/246, Ibnu Majah 4236).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, sekarang, marilah kita hitung dengan matematika sederhana saja. Bisa jadi, kita diberi Allah usia sampai 70 tahun. Tetapi bisa saja tidak. Marilah kita pilih di tengah, anggap saja, kita diberita kemudahan untuk hidup pada usia 50 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;50 tahun telah menghabiskan sekitar 18.250 hari atau setara dengan 458.000 jam. Itu andakan kita menggunakannya 24 jam sehari semalam penuh melakukan aktivitas. Faktanya, kebanyakan manusia membutuhkan istirahat, tidur, nonton, jalan-jalan, berbelanja, bergurau dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anggap saja waktu tidur kita adalah 8 jam/hari. Maka, dalam masa 50 tahun, waktu yang telah kita habiskan untuk tidur memakan waktu 146.000 jam atau sama dengan 16 tahun 7 bulan (dibulatkan 17 tahun). Betapa sia-sianya kita menghabiskan waktu selama 17 tahun hanya untuk tidur.&lt;span class="fullpost"&gt;  Selain tidur, umumnya kegiatan manusia di siang hari adalah; bekerja, belajar, mengajar makan, jalan-jalan, istirahat atau ngerumpi. Jika semua waktu itu memakan waktu 4 jam rata-rata. Maka, dalam 50 tahun waktu yang dipakai untuk istirahat,ngerumpi, jalan-jalan dll membutuhkan (18.250 hari x 4 jam) atau 73.000 jam. Ini setara dengan 8 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, selama 50 tahun itu pula kegiatan kita untuk tidur, jalan-jalan, ngerumpi, nonton, istirahat memakan waktu 17 tahun + 8 tahun atau menghabiskan waktu 25 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika usia Anda hari ini masih 20-25 tahun, maka tinggal mengurangi 10 tahun “angka sia-sianya”. Maka, hasilnya tetaplah sama, hampir separuh masa kita telah hilang dengan sia-sia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaannya sekarang, berapa sisa waktu yang dipergunakan untuk beribadah dan sebagai bekal menghadap yang Khalik?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alkisah, suatu ketika ada seorang tabi’in bernama Tsabit bin Amir bin Abdullah bin Zubair jatuh sakit. Saat mendengar panggilan azan shalat Maghrib, ia berkata kepada anak-anaknya, Bawalah aku ke masjid ! Anak-anaknya menjawab : Engkau sedang sakit ! Allah memaafkanmu. Ia kembali berkata, Laa ilaaha illallah ! Aku mendengar seruan hayya ‘ala ash-shalah hayya ‘ala al-falah ! dan aku tidak menjawab seruan itu? Demi Allah, Bawalah aku ke masjid. Mereka pun akhirnya membawa ayahnya ke masjid. Ketika sampai pada sujud terakhir dalam shalat maghrib itu, Allah mencabut nyawanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian ulama ada yang menceritakan bahwa lelaki tersebut ketika melakukan shalat shubuh selalu berdoa, Ya Allah, aku memohon kematian yang baik pada-MU. Lalu ia ditanya apa maksud dari kematian yang baik yang ia mohon dalam potongan doanya itu adalah kematian saat bersujud.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kematian menjemput siapa saja tanpa memandang bulu, masa ajal tiba adalah rahasia dari-Nya, agar manusia siap menghadapinya setiap saat. Siapapun tidak bisa menjamin selamat dalam mabuk kematian (sakaratul maut). Kematian yang indah adalah ketika bersujud, baca al-quran, berjihad di jalan Allah SWT, di majlis ta’lim, majlis zikir dan majlis shalat jamaah. Orang akan mengakhiri kehidupannya berbanding lurus dengan hobinya di dunia. Maka, kita perlu selektif dalam memilih hobi (man syabba, syaaba ‘alaih).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalahnya, apakah benar semua kegiatan kita –bekerja, kuliah, istirahat, makan-makan, jalan-jalan kita-- digunakan untuk tujuan puncak, yakni hanya mengabdikan diri kepada Allah SWT. Andakan persepsi ibadah kita hanya 5 x sehari semalam, berarti semua itu masih memenuhi tujuan penciptaan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berapa lama shalat yang kita lakukan selama 50 tahun? Atau berapa lama waktu shalat yang telah kita lakukan selama 20-25 tahun usia kita ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk sekali shalat , orang menghabiskan waktu 10 menit. Ini berarti dalam 5x shalat (menghabislan waktu sekitar 1 jam). Maka, dalam 50 tahun waktu yang kita digunakan untuk shalat = 18.250 hari x 1 jam = 18.250 jam. Setara dengan 2 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masa 50 tahun di dunia hanya 2 tahun untuk shalat? Ini, bagi yang shalat memakan waktu 10 menit. Kalau cara shalat ekspres (super cepat), lalu bagaimana?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benarkah shalat kita itu mencukupi untuk diterima dan pantas untuk menghadap Allah? Mengapa Anda begitu yakin?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal Allah SWT berfirman dalam suratnya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ&lt;br /&gt;مَا أُرِيدُ مِنْهُم مِّن رِّزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَن يُطْعِمُونِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. Aku tidak menghendaki rezki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi-Ku makan.” (QS. Adz Dzariyat (51) : 56-57).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2 tahun dari 50 tahun kesempatan…itupun belum dapat dipastikan shalat kita memberikan efek pada perubahan pola pikir dan pembentukan akhlak yang mulia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepertinya pahala shalat selama 2 tahun tidak sebanding dengan perbuatan dosa-dosa selama 50 tahun, dalam percakapan yang terkadang dusta, baik direncanakan atau tidak disengaja, ucapan yang menyinggung, memakan harta yang bukan milik kita, menggelapkan dan memalsukan angka-angka dll. Bukankah kita tidak berdaya dalam mengendalikan dosa panca indra kita?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menata Ulang Pola Hidup&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu yang paling mahal dalam kehidupan kita adalah kesadaran tentang misi kehidupan di dunia ini. Tiada kata terlambat, sekalipun waktu demikian cepat, yang berlalu tidak akan kembali. Jangan kita biarkan kehidupan kita ini sia-sia belaka. Hanya memburu dunia, memarginalkan kehidupan akhirat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernahkah kita membayangkan, berapa lamakah umat akhir zaman ini menikmati kehidupannya yang fana ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehidupan di dunia ini bagaikan berteduh di bawah pohon (halte) untuk menghilangkan kepenatan dalam menempuh perjalanan kehidupan yang jauh. Atau bagaikan mampir untuk membasahi kerongkongan yang sedang kering, karena dahaga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam ayat di atas disebutkan 1 hari menurut perhitungan Allah SWT adalah 1000 tahun menurut perhitungan kita. Berarti kita hidup tidak lebih dari 1/10 hari menurut perhitungan-Nya. Sekarang kita mencoba untuk mengkalkulasi. Dengan cara ini semoga muncul kesadaran baru untuk tajdidul iman, tajdidul ‘ibadah dan tajdidul akhlaq, tajdidul jihad wal ijtihad wal mujahadah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sebuah firmannya, Allah bertanya: "Berapa tahunkah lamanya kamu tinggal di bumi?" Mereka menjawab: "Kami tinggal (di bumi) sehari atau setengah hari, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang menghitung." Allah berfirman : "Kamu tidak tinggal (di bumi) melainkan sebentar saja, kalau kamu sesungguhnya mengetahui." (QS. Al-Mukminun (23) : 112-114).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulannya, sesungguhnya kehidupan di dunia ini --yang seolah kita persepsikan panjang-- hakikatnya sangat singkat. Alangkah sia-sianya jika kita gunakan hanya untuk hal-hal yang tak ada hubungannya dengan ibadah di jalan Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meminjam istilah Hasan Al Banna, barangsiapa yang mengisi waktunya hanya untuk bersenda gurau berarti melupakan misi kehidupannya. Mudah-mudakan, kita bisa memanfaatkan kesempatan hidup ini jauh lebih baik lagi.*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis adalah kolumnis hidayatullah.com, tinggal di Kudus, Jawa Tengah&lt;br /&gt;Sumber : http://www.hidayatullah.com &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/761503410559906563-8365341111781636824?l=alistiba.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://alistiba.blogspot.com/feeds/8365341111781636824/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://alistiba.blogspot.com/2011/10/mari-menata-ulang-pola-kehidupan-kita.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/761503410559906563/posts/default/8365341111781636824'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/761503410559906563/posts/default/8365341111781636824'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alistiba.blogspot.com/2011/10/mari-menata-ulang-pola-kehidupan-kita.html' title='Mari Menata Ulang Pola Kehidupan Kita!'/><author><name>Abu abdirrahman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05301770063388687354</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/-1rkmfDMbj9g/TtiXyO-Rh_I/AAAAAAAAAoM/iPGpqXo-kow/s220/Ittiba%2527.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-LEVDgYX4sbw/TpfivBG3eoI/AAAAAAAAAgc/mfZ9Nd6iihA/s72-c/waktu.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-761503410559906563.post-2767530746312425861</id><published>2011-07-19T07:29:00.000-07:00</published><updated>2011-11-12T18:25:43.181-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tips'/><title type='text'>Ramadhan Sudah di Depan Mata (Tips Menyambut Ramadhan)</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-auz5dQF3jTg/TiWV2QJwroI/AAAAAAAAAgU/hBdE4tLCIO8/s1600/ramadhan2.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="148" src="http://1.bp.blogspot.com/-auz5dQF3jTg/TiWV2QJwroI/AAAAAAAAAgU/hBdE4tLCIO8/s200/ramadhan2.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;Ramadhan Sudah di Depan Mata&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Tips Menyambut Ramadhan) &lt;br /&gt;Tidak lama lagi kita akan kedatangan  tamu yang mulia lagi terhormat, bulan Ramadhan (Prediksi,1 Ramadhan jatuh tanggal 1 Agustus 2011) yang senantiasa dirindukan kedatangannya dan disayangkan kepergiannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulan yang datang dengan berjuta berkah dan magfirah yang akan membersihkan noda-noda dalam jiwa sang pendosa. Ramadhan adalah kekasih hati, ia bagaikan darah segar yang membangkitkan kembali semangat yang mulai mengendor,ia ibarat oase di tengah padang sahara pelepas dahaga bagi sang pengembara di bawah teriknya sang mentari. Hanya orang fasik dan zhalim yang mengabaikan kehadiran bulan Ramadhan,bahkan mereka mencela,membenci, dan menganggapnya sebagai penjara jiwa yang mengekang hawa nafsu yang senentiasa diperturutkannya.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;  &lt;br /&gt;Namun demikian kita tetap bersyukur, masih banyak kaum muslimin yang melaksanakan puasa, meski harus kita akui dengan jujur bahwa masih banyak pula diantara mereka yang menyambut dan mengisi hari-harinya di bulan Ramadhan dengan penyimpangan-penyimpangan dari apa yang disyariatkan oleh Allah سبحانه وتعلى, diantaranya ada yang menyambutnya dengan pesta, pawai-pawai, bahkan di-antara mereka ada yang mempersiapkan acara begadang yang diisi dengan hal-hal yang tidak bermanfaat bahkan menjurus kepada kemaksiatan. Sehingga benarlah apa yang disinyalir oleh Rasulullah صلى الله عليه وسلم dalam sabda beliau :&lt;br /&gt;رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الْجُوعُ وَالْعَطَشُ  رواه أحمد و ابن ماجه&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Betapa banyak orang yang berpuasa bagian yang ia dapatkan (hanyalah) lapar dan dahaga” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu sebagai seorang muslim hendaklah mengetahui hal-hal yang perlu dilakukan di dalam menyambut bulan suci Ramadhan serta amalan-amalan yang disyariatkan oleh Allah  dan Rasul-Nya.&lt;br /&gt;Bagaimana Kita Menyambut Bulan Ramadhan&lt;br /&gt;1. Memperbanyak do’a kepada Allah&lt;br /&gt;Adalah merupakan kebiasaan bagi para generasi yang shalih pendahulu kita dengan memperbanyak do’a sebelum masuknya bulan Ramad-han, sehingga diriwayatkan diantara me-reka ada yang memohon kepada Allah  agar dipertemukan kembali dengan bulan Ramadhan sejak 6 bulan sebelumnya. Mereka juga memohon kepada Allah  agar diberikan kekuatan dan pertolongan di dalam melaksanakan ibadah-ibadah di dalamnya seperti puasa, qiyamul lail, sedekah dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Bersuci dan membersihkan diri&lt;br /&gt;Yaitu kebersihan yang bersifat maknawi seperti taubat nasuha dari segala dosa dan maksiat. Pantaskah kita me-nyambut tamu yang agung dan mulia dengan keadaan yang kotor?, Pantaskah kita menyambut bulan Ramadhan yang dicintai oleh Allah  dan Rasul-Nya dengan gelimangan dosa?, Bagaimana kita ber-puasa sedangkan shalat masih sering kita lalaikan ? yang mana meninggalkannya merupakan sebuah kekufuran. Bagaima-na kita menahan diri dari segala yang mubah (makan dan minum) kemudian berbuka dengan sesuatu yang haram ? yang merupakan hasil riba, suap dan harta haram lainnya. Bagaimana kita ber-harap puasa kita dapat diterima sedang-kan kita dalam keadaan seperti ini. Renungilah sabda Rasulullah صلى الله عليه وسلم&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّوْرِ وَ الْعَمَلَ بِهِ فَلَْيْسَ ِللهِ حَاجَةٌ فِيْ أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ  رواه البخاري&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Barangsiapa yang tidak meninggal-kan perkataan dusta dan beramal dengannya maka tidak ada bagi Allah  kepentingan terhadap puasa (yang sekedar meninggalkan makan dan minum)” (HR. Bukhari)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu sebelum pintu taubat tertutup, sebelum matahai terbit dari sebelah barat, sebelum nyawa sampai di tenggorokan maka bersegeralah bertau-bat dengan taubat yang sebenar-benarnya. Allah سبحانه وتعلى berfirman :&lt;br /&gt;يَآيُهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا تُوْبُوْا إِلَى اللهِ تَوْبَةً نَصُوْحًا .... التحريم :8&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hai orang-orang yang beriman bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya...” (QS. At Tahrim:8)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Mempersiapkan jiwa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yaitu dengan memperbanyak amal-amal shalih pada bulan Sya’ban karena pada bulan ini bulan diangkatnya amalan-amalan pada Allah. Sebagaimana hadits Usamah bin Zaid t yang diriwa-yatkan oleh Imam An Nasa’i dan Ibnu Khuzaimah yang dihasankan oleh Syaikh Al Albani bahwasanya Rasulullah صلى الله عليه وسلم berpuasa sepanjang bulan Sya’ban atau beliau memperbanyak puasa di dalamnya kecuali hanya beberapa hari saja beliau tidak melakukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Bertafaqquh (mempelajari) hukum-hukum puasa dan mengenal petunjuk Nabi  صلى الله عليه وسلم&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sebelum memasuki puasa seperti mempelajari syarat-syarat diterimanya puasa, hal-hal yang mem-batalkannya, hukum berpuasa di hari syak (meragukan), perbuatan-perbuatan yang dibolehkan dan dilarang bagi yang berpuasa, adab-adab dan sunnah-sunnah berpuasa, hukum-hukum shalat tarawih, hukum-hukum yang berkaitan dengan orang yang memiliki udzur seperti me-ngadakan perjalanan, sakit, hukum-hukum yang berkaitan dengan zakat fitri dan lain-lain. Maka hendaknya kita ber-ilmu sebelum memahami dan mengamal-kannya. Sebagaimana firman Allah سبحانه وتعلى :&lt;br /&gt;فَاعْلَمْ أَنــَّهُ  لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مُتَقَلَّبَكُمْ وَمَثْوَاكُمْ     محمد : 19&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maka ketahuilah, bahwa sesungguh-nya tidak ada sesembahan yang berhak untuk disembah melainkan Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mu’min, laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan termpat tinggalmu” (QS. Muhammad :19) Didalam ayat ini Allah سبحانه وتعلى mendahu-lukan perintah berilmu sebelum berkata dan berbuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Mengatur sebaik-baiknya program di bulan Ramadhan.&lt;br /&gt;Bila seorang tamu yang agung datang berkunjung ke rumah kita kemudian kita menyambutnya dengan baik tentu kita akan mendapatkan pujian serta balasan dari tamu tersebut, begitu pula dengan bulan Ramadhan yang datang dengan membawa berbagai macam keutamaan. Jika kita menyambutnya dengan persia-pan serta program-program untuk tamu agung ini tentu kita akan mendapatkan keutamaan-keutamaan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka dari itu hendaklah kita mengisi bulan suci ini dengan memperbanyak iba-dah shalat sunnat, membaca Al Qur’an, memperbanyak tasbih, tahmid, takbir dan istighfar dan lebih peduli kepada nasib orang fakir dan miskin, berbakti kepada kedua orang tua, menyambung tali silaturrahmi, memuliakan tamu, men-jenguk orang sakit dan ibadah-ibadah lain yang semisal dengan itu guna meraih gelaran mulia dari Allah, yaitu “Taqwa” dimana ia merupakan simbol sejati bagi hamba-hamba Allah yang senantiasa mengikhlaskan hati dan memurnikan iman yang terpatri lewat amalan ibadah yang relevan dengan hukum syar’i.&lt;br /&gt;Keutamaan Puasa Ramadhan&lt;br /&gt;Berpuasa di bulan Ramadhan selain ia suatu kewajiban individu bagi yang memenuhi syarat, namun ia juga me-nyimpan banyak keutamaan di balik semua itu, diantaranya :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Puasa adalah rahasia antara hamba dengan Tuhannya. Dan Allah-lah yang akan memberikan balasannya. Dalam hadits qudsi Allah سبحانه وتعلى berfirman :&lt;br /&gt;نْ حَسَنَةٍ عَمِلَهَا ابْنُ آدَمَ إِلاَّ كُتِبَ لَهُ عَشْرُ حَسَنَاتٍ إِلَى سَبْعِ مِائَةِ ضِعْفٍ قَالَ اللهُ U إِلاَّ الصِّيَامَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ  رواه النسائي&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidaklah seorang anak Adam mela-kukan suatu amalan kebaikan, kecuali akan dituliskan baginya sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat (pahala) kebaikan. Allah  سبحانه وتعلى berfirman : “Kecuali puasa maka sungguh puasa adalah untuk-Ku dan Aku yang me-nentukan ganjaran (pahala)nya” (HR. An Nasaa’i)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam An Nawawi berkata:&lt;br /&gt;“Dikatakan (bahwasanya Allah sendiri yang akan memberikan pahala orang berpuasa) karena puasa adalah bentuk ibadah yang tersembunyi yang jauh dari perbuatan riya’, hal ini berbeda dengan ibadah shalat, hajji, berjihad, shadaqah dan amalan-amalan ibadah yang zhahir (tampak) lainnya” (Lihat Syarh Shahih Muslim 8:271)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Bagi orang-orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kegembira-an, kegembiraan ketika ia berbuka dan kegembiraan ketika ia menemui Rabb-nya, Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لِلصَّــائِمِ فَرْحَــتَانِ يَفْرَحُهُمَا إِذَا أَفْطَرَ فَرِحَ وَإِذَا لَقِيَ رَبـــَّــهُ  رواه البخاري و مسلم&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagi orang yang berpuasa dua kegembiraan, kegembiraan ketika ia berbuka serta kegembiraan ketika ia menemui Rabbnya” (HR. Bukhari dan Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Pengampunan dosa&lt;br /&gt;Seorang hamba yang berpuasa dan melakukan amal ibadah lainnya karena iman dan mengharap ridha Allah maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diam-puni oleh Allah  سبحانه وتعلى . Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersab-da :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابــًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ  رواه البخاري و مسلم&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Barang siapa yang berpuasa Ramad-han karena iman dan mengharap ridha Allah, diampuni dosa-dosa nya yang telah lalu” (HR. Bukhari dan Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Bau mulut orang  yang berpuasa lebih harum di sisi Allah dari pada aroma misk (minyak wangi). Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لَخُلُوفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْــيَبُ عِنْدَ اللهِ تَعَالَى مِنْ رِيـْـحِ الْمِسْكِ  رواه البخاري و مسلم&lt;br /&gt;“Dan bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah dari pada aroma misk (minyak wangi)” (HR. Bukhari dan Muslim)&lt;br /&gt;5. Terdapat waktu yang mustajab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi yang berpuasa ada waktu, yang mana apabila ia berdo’a pada waktu tersebut, maka do’a itu tidak tertolak, sebagaimana sabda Rasulullah صلى الله عليه وسلم :&lt;br /&gt;إِنَّ لِلصَّائِمِ عِنْدَ فِطْرِهِ لَدَعْوَةً  مَا تُرَدُّ  رواه ابن ماجه&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya orang-orang yang ber-puasa pada saat berbuka mempunyai waktu dimana do’anya tidak tertolak” (HR. Ibnu Majah)    &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah kami rindu dengan bulan Ramadhan, maka pertemukanlah kami dengannya dan berilah kami kekuatan untuk beribadah didalamnya sebagai-mana yang Engkau cintai dan ridhai.(Al Fikrah)&lt;br /&gt;-Ust. Harman Tajang -&lt;br /&gt;sumber: wimakassar.org&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/761503410559906563-2767530746312425861?l=alistiba.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://alistiba.blogspot.com/feeds/2767530746312425861/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://alistiba.blogspot.com/2011/07/ramadhan-sudah-di-depan-mata-tips.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/761503410559906563/posts/default/2767530746312425861'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/761503410559906563/posts/default/2767530746312425861'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alistiba.blogspot.com/2011/07/ramadhan-sudah-di-depan-mata-tips.html' title='Ramadhan Sudah di Depan Mata (Tips Menyambut Ramadhan)'/><author><name>Abu abdirrahman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05301770063388687354</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/-1rkmfDMbj9g/TtiXyO-Rh_I/AAAAAAAAAoM/iPGpqXo-kow/s220/Ittiba%2527.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-auz5dQF3jTg/TiWV2QJwroI/AAAAAAAAAgU/hBdE4tLCIO8/s72-c/ramadhan2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-761503410559906563.post-7038628920689745529</id><published>2011-07-18T08:00:00.000-07:00</published><updated>2011-11-12T18:25:43.225-08:00</updated><title type='text'>Persiapan Ramadhan</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-baYJwJMSxuY/TiRKnZDEKLI/AAAAAAAAAgM/q8z12uq1Qg4/s1600/ramadhan.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="151" src="http://4.bp.blogspot.com/-baYJwJMSxuY/TiRKnZDEKLI/AAAAAAAAAgM/q8z12uq1Qg4/s320/ramadhan.jpg" width="172" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Tidak Berpuasa menjelang Ramadhan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لَا يَتَقَدَّمَنَّ أَحَدُكُمْ رَمَضَانَ بِصَوْمِ يَوْمٍ أَوْ يَوْمَيْنِ إِلَّا أَنْ يَكُونَ رَجُلٌ كَانَ يَصُومُ صَوْمَهُ فَلْيَصُمْ ذَلِكَ الْيَوْمَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Janganlah ada salah seorang di antara kalian yang melakukan puasa sehari atau dua hari menjelang Ramadhan kecuali bagi orang yang memiliki kebiasaan puasa (sunnah) maka boleh baginya untuk puasa pada hari itu.” (HR. Bukhari [1914] dan Muslim [1082] dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, ini lafazh Bukhari).&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;an-Nawawi menjelaskan bahwa di dalam hadits ini terdapat penegasan hukum terlarangnya mendahului Ramadhan dengan berpuasa sehari atau dua hari sebelumnya bagi orang yang tidak berbenturan hari itu dengan kebiasaannya untuk berpuasa (sunnah) atau dia tidak menyambungnya dengan hari-hari sebelumnya. Maka apabila dia berpuasa tanpa disambung dengan hari sebelumnya atau bukan menjadi kebiasaannya maka hukumnya haram puasa pada hari itu. Inilah pendapat yang benar dalam pandangan beliau berdasarkan hadits ini, dan juga berdasarkan hadits lain yang diriwayatkan dalam Sunan Abu Dawud dan yang lainnya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِذَا اِنْتَصَفَ شَعْبَان فَلَا صِيَام حَتَّى يَكُون رَمَضَان&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apabila bulan Sya’ban sudah mencapai pertengahan maka tidak ada puasa sampai datang bulan Ramadhan.” …” (HR. Abu Dawud [1990] dengan lafazh ‘janganlah berpuasa’, al-Minhaj, 4/418-419).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits yang disebutkan oleh an-Nawawi di atas bersumber dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu’anhu dan diriwayatkan oleh As-habu as-Sunan dan disahihkan oleh Ibnu Hiban dan yang lainnya (Fath al-Bari, 4/152). Hadits tersebut juga disahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Takhrij Misykat al-Mashabih [1974] dengan lafazh ‘janganlah berpuasa’, Shahih wa Dha’if Sunan Abi Dawud [2337] dan Shahih al-Jami’ [397].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, Imam Ahmad mengatakan tentang derajat hadits ini sebagaimana yang dinukil oleh Abu Dawud, “Ini adalah hadits yang mungkar. Abdurrahman bin Mahdi tidak menuturkan hadits melalui dia (anaknya, yaitu Al-’Alla’, pen)” (Disebutkan oleh al-Baihaqi dalam Ma’rifat as-Sunan wa al-Atsar [2589]).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh sebab itu Syaikh Ibnu Utsaimin mengatakan bahwa hadits tentang larangan berpuasa setelah pertengahan bulan Sya’ban adalah lemah. Beliau menyandarkan pendapatnya itu kepada Imam Ahmad yang melemahkan hadits ini. Kalaupun haditsnya sahih, maka larangan itu hanya sebatas makruh saja sebagaimana yang dianut oleh sebagian ulama, kecuali bagi orang yang sudah terbiasa mengerjakan puasa (sunnah) maka dia boleh berpuasa meskipun sudah melewati pertengahan Sya’ban, wallahu a’lam (lihat Syarh Riyadhush Shalihin, 3/394).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila ada orang yang sudah terbiasa mengerjakan puasa sunnah pada akhir bulan maka tidak mengapa dia mengerjakan puasa itu di akhir bulan Sya’ban. Kalaupun dia sengaja meninggalkan kebiasaannya -karena khawatir terkena larangan berpuasa sehari atau dua hari menjelang Ramadhan- maka hendaknya dia menggantinya sesudah bulan Ramadhan berakhir. Kompromi hadits seperti ini dikemukakan oleh Ibnu al-Munayyir dan al-Qurthubi, sebagaimana dinukil oleh al-Hafizh Ibnu Hajar (Fath al-Bari, 4/269-270). Kompromi serupa juga disampaikan oleh an-Nawawi dari al-Mazari (al-Minhaj, 4/502).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal itu berdasarkan hadits sahabat Imran bin Hushain radhiyallahu’anhuma berikut ini,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِرَجُلٍ هَلْ صُمْتَ مِنْ سُرَرِ هَذَا الشَّهْرِ شَيْئًا يَعْنِي شَعْبَانَ قَالَ لَا قَالَ فَقَالَ لَهُ إِذَا أَفْطَرْتَ رَمَضَانَ فَصُمْ يَوْمًا أَوْ يَوْمَيْنِ شُعْبَةُ الَّذِي شَكَّ فِيهِ قَالَ وَأَظُنُّهُ قَالَ يَوْمَيْنِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada seorang lelaki, “Apakah kamu berpuasa pada akhir-akhir bulan ini?” Yaitu bulan Sya’ban. Maka dia menjawab, “Tidak.” Maka Nabi berkata kepadanya, “Apabila kamu sudah selesai mengerjakan puasa Ramadhan nanti berpuasalah sehari atau dua hari.” Keragu-raguan itu berasal dari ucapan Syu’bah. Namun dia mengatakan, “Aku kira beliau mengatakan dua hari.” (HR. Bukhari [1983] dan Muslim [1161] ini adalah lafazh Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu Bukhari menyebutkan hadits di atas di bawah bab yang beliau beri judul ‘ash-Shaum min aakhiri syahr’ (Berpuasa di akhir bulan). az-Zain bin al-Munayyir mengatakan : Bukhari menyebutkan kata ‘bulan’ tanpa menyertakan namanya. Meskipun yang terdapat dalam riwayat menunjukkan bahwa bulan yang dimaksud dalam hadits adalah bulan tertentu yaitu Sya’ban. Ini merupakan isyarat darinya bahwa puasa tersebut tidak khusus berlaku di bulan Sya’ban saja. Bahkan, dari hadits ini bisa dipetik pelajaran yaitu disunnahkannya mengerjakan puasa di setiap akhir-akhir bulan agar hal itu menjadi kebiasaan bagi seorang mukallaf (orang yang dibebani syari’at). Sehingga tidaklah terdapat pertentangan antara kandungan hadits ini dengan larangan mendahului Ramadhan dengan puasa sehari atau dua hari, sebab dalam hadits itu Nabi bersabda, “Kecuali bagi orang yang sudah biasa puasa (sunnah) maka silakan dia berpuasa.” (sebagaimana dikutip oleh Ibnu Hajar dalam Fath al-Bari, 4/268).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memperbanyak Puasa Sunnah di Bulan Sya’ban&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aisyah radhiyallahu’anha mengatakan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ حَتَّى نَقُولَ لَا يُفْطِرُ وَيُفْطِرُ حَتَّى نَقُولَ لَا يَصُومُ فَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلَّا رَمَضَانَ وَمَا رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِي شَعْبَانَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa sampai-sampai kami mengira beliau tidak akan berbuka. Dan beliau juga pernah tidak berpuasa sampai-sampai kami kami mengira beliau tidak akan berpuasa. Tidaklah aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyempurnakan puasa dalam waktu sebulan penuh kecuali di bulan Ramadhan. Dan aku tidak pernah melihat beliau lebih banyak berpuasa -di luar bulan Ramadhan- melainkan ketika bulan Sya’ban.” (HR. Bukhari [1969, 1970, dan 6465] dan Muslim [1156]).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;al-Hafizh Ibnu Hajar menerangkan bahwa maksudnya dahulu Nabi biasa berpuasa (sunnah) di bulan Sya’ban maupun bulan yang lainnya, namun puasa sunnah yang beliau lakukan di bulan Sya’ban lebih banyak daripada di luar bulan itu (Fath al-Bari, 4/249). Beliau juga mengatakan bahwa di dalam hadits tersebut terdapat dalil tentang keutamaan berpuasa di bulan Sya’ban (Fath al-Bari, 4/250).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits ini tidak bertentangan dengan hadits sebelumnya yang menyebutkan larangan mendahului puasa Ramadhan dengan puasa sehari atau dua hari. Keduanya dapat dikompromikan, yakni larangan itu ditujukan kepada orang yang tidak biasa melakukan puasa (sunnah) pada hari-hari tersebut (Fath al-Bari, 4/250). Para ulama mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak berpuasa sebulan penuh selain di bulan Ramadhan agar hal itu (puasa sunnah di setiap bulan) tidak dikira sebagai sebuah kewajiban (al-Minhaj, 4/489).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh sebab itu, ketika ditanya tentang puasa di bulan Sya’ban Syaikh Ibnu Utsaimin menjawab bahwa hal itu adalah sunnah, dan memperbanyak puasa di bulan itu sangat dianjurkan. Bahkan para ulama mengatakan bahwa perumpamaan puasa Sya’ban itu seperti halnya shalat sunnah rawatib yang menyempurnakan shalat-shalat wajib (Fatawa Arkan al-Islam, hal. 491).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berpuasa Bersama Pemerintah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الصوم يوم تصومون، و الفطر يوم تفطرون، و الأضحى يوم تضحون&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Puasa adalah hari ketika kalian berpuasa bersama. Hari raya idul fitri juga di hari ketika kalian berhari raya bersama. Kurban juga di hari ketika kalian berkurban bersama.” (HR. Tirmidzi [693] dan Ibnu Majah [1660] dinyatakan sanadnya jayyid oleh al-Albani dalam Silsilah ash-Shahihah [hadits ke-224], Sahih wa Dha’if Sunan at-Tirmidzi [697], dan Shahih al-Jami’ [3869] dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;at-Tirmidzi mengatakan setelah membawakan hadits di atas,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وفسر بعض أهل العلم هذا الحديث فقال: إنما معنى هذا، الصوم والفطر مع الجماعة وعظم الناس&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sebagian ulama menafsirkan hadits ini dengan mengatakan : sesungguhnya makna dari ungkapan tersebut adalah berpuasa dan berhari raya (hendaknya) bersama dengan masyarakat (jama’ah) dan kebanyakan orang.” (Sunan At-Tirmidzi, Bab ma jaa’a annal fithra yauma tufthiruun wal adh-ha yauma tudhahhuun).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abul Hasan as-Sindi mengatakan setelah menyebutkan hadits Abu Hurairah yang diriwayatkan oleh Tirmidzi di atas, “Yang tampak ialah bahwa maksudnya perkara-perkara ini bukan wewenang setiap orang. Mereka tidak boleh menyendiri dalam melakukannya (hari raya, puasa, dan kurban, pen). Akan tetapi urusan itu harus dikembalikan kepada imam (pemimpin/pemerintah) dan jama’ah (masyarakat Islam di sekitarnya). Sehingga wajib bagi setiap individu untuk mengikuti ketetapan pemerintah dan masyarakat. Berdasarkan hal ini, apabila ada seorang saksi yang melihat hilal dan pemerintah menolak persaksiannya maka dia tidak boleh menetapkan perkara-perkara tersebut untuk dirinya sendiri. Dia wajib untuk mengikuti masyarakat dalam melaksanakan itu semua.” (Hasyiyah as-Sindi ‘ala Ibni Majah, hadits 1650. asy-Syamilah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Ibnu Utsaimin mengatakan, “Apabila pemerintah sudah mengumumkan melalui radio atau media yang lainnya mengenai ditetapkannya (masuknya) bulan (hijriyah) maka wajib beramal dengannya untuk menetapkan waktu masuknya bulan dan keluarnya, baik ketika Ramadhan atau bulan yang lain. Karena pengumuman dari pemerintah adalah hujjah syar’iyyah yang harus diamalkan. Oleh sebab itulah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu memerintahkan Bilal untuk mengumumkan kepada masyarakat penetapan (awal) bulan agar mereka semua berpuasa karena ketika itu masuknya bulan telah terbukti di sisi beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan beliau menjadikan pengumuman itu sebagai ketetapan yang harus mereka ikuti untuk melakukan puasa.” (Majalis Syahri Ramadhan, hal. 16).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah yang disebutkan oleh Syaikh Ibnu Utsaimin terdapat di dalam Sunan at-Tirmidzi dengan lafazh,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عن ابن عباس قال: “جاء أعرابي إلى النبي صلى الله عليه وسلم فقال: إني رأيت الهلال، فقال: أتشهد أن لا إله إلا الله؟ أتشهد أن محمدا رسول الله؟ قال: نعم، قال: يا بلال أذن في الناس أن يصوموا غدا”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Ibnu Abbas, dia berkata : Seorang arab Badui datang menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu mengatakan, “Saya telah melihat hilal.” Nabi pun mengatakan, “Apakah kamu bersaksi bahwa tidak ada ilah (yang haq) selain Allah? Apakah kamu bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah?”. Dia menjawab, “Iya”. Nabi lantas berkata, “Hai Bilal, umumkanlah kepada orang-orang agar mereka berpuasa besok.” (HR. Abu Dawud [1993], Tirmidzi [627], Al-Hakim dalam Mustadrak [1491] dan lain-lain). Namun hadits ini lemah sebagaimana dinyatakan oleh Syaikh al-Albani di dalam Shahih wa Dha’if Sunan at-Tirmidzi [691], Dha’if Sunan Ibnu Majah [364], al-Irwa’ [907], Dha’if Sunan an-Nasa’i [121/2112], Dha’if Sunan Abu Dawud [507/2340, 508/2341]. asy-Syamilah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun demikian, terdapat hadits lain yang sahih serta menunjukkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan hal yang serupa (yaitu menerima persaksian satu orang saksi dalam menetapkan masuknya bulan puasa dan mengumumkan kepada umat bahwa hari berikutnya puasa). Ibnu Umar radhiyallahu’anhuma mengatakan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;تراءى الناس الهلال فأخبرت النبي صلى الله عليه وسلم أني رأيته فصام وأمر الناس بصيامه&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Orang-orang berusaha untuk melihat hilal, aku pun memberitahukan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa aku telah melihatnya. Maka beliau pun berpuasa dan memerintahkan orang-orang untuk mengerjakan puasa pada hari itu.” (HR. Abu Dawud [2342] dan lain-lain. al-Hakim menyatakan hadits ini sahih sesuai dengan kriteria Muslim, hal itu juga disepakati oleh adz-Dzahabi. Disahihkan al-Albani dalam Irwa’ al-Ghalil, 4/16. Hadits 908).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kapan mulai puasa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Umar radhiyallahu’anhuma berkata : Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَصُومُوا وَإِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَأَفْطِرُوا فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَاقْدُرُوا لَهُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apabila kalian telah melihatnya (hilal Ramadhan) maka puasalah. Dan apabila kalian telah melihatnya (hilal Syawal) maka berhari rayalah. Kalau langit tertutup (mendung atau yang lain) maka genapkanlah bilangannya.” (HR. Bukhari [1900] dan Muslim [1080]).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau juga menegaskan di dalam hadits lain,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لَا تَصُومُوا حَتَّى تَرَوْا الْهِلَالَ وَلَا تُفْطِرُوا حَتَّى تَرَوْهُ فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَاقْدُرُوا لَهُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Janganlah kalian berpuasa hingga kalian melihat hilal. Dan janganlah kalian berhari raya hingga kalian melihatnya. Kalau langit tertutup dari pandangan kalian maka genapkanlah.” (HR. Bukhari [1906] dan Muslim [1080] dari sahabat Abdullah bin Umar radhiyallahu’anhuma).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan ‘genapkanlah’ adalah sebagaimana disebutkan di dalam riwayat Muslim dan yang lainnya yaitu maknanya genapkanlah bilangan (bulan Sya’ban) menjadi tiga puluh hari (Fath al-Bari, 4/141-142).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini juga dipertegas oleh Nabi dalam hadits Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ فَإِنْ غُبِّيَ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوا عِدَّةَ شَعْبَانَ ثَلَاثِينَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Berpuasalah karena melihatnya, dan berhari rayalah karenanya. Dan kalau ia tersamar dari pandanganmu maka genapkanlah bilangan Sya’ban menjadi tiga puluh hari.” (HR. Bukhari [1909]).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh sebab itu an-Nawawi menegaskan bahwa makna ‘genapkanlah’ di dalam hadits tersebut adalah menggenapkan bilangan bulan menjadi tiga puluh hari. itulah pendapat Imam Malik, Syafi’i, Abu Hanifah dan mayoritas ulama Salaf (terdahulu) dan Khalaf (belakangan). Bahkan mereka mengatakan, “Tidak boleh menafsirkannya dengan perhitungan para ahli perbintangan. Sebab kalau segenap umat manusia dibebani untuk melaksanakannya niscaya akan menyempitkan mereka, karena tidak ada yang memahaminya kecuali segelintir orang saja. Padahal ajaran syari’at hanya diterangkan dengan hal-hal yang bisa dipahami oleh kebanyakan di antara mereka.” (al-Minhaj, 4/415).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian ada 2 cara yang bisa ditempuh untuk menetapkan masuknya bulan Ramadhan :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan melihat hilal. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam ayat (yang artinya), “Maka barangsiapa di antara kalian yang melihatnya hendaklah dia berpuasa.” (QS. al-Baqarah [2] : 185). Syarat diteimanya persaksian melihat hilal adalah : saksi tersebut sudah baligh, berakal, muslim, terpercaya beritanya berdasarkan sifat amanahnya dan keahlian yang dia miliki, adapun anak kecil maka kesaksiannya belum bisa diterima&lt;br /&gt;Dengan menggenapkan jumlah bilangan hari di bulan sebelumnya (Sya’ban) menjadi tiga puluh hari, karena bulan Qamariyah tidak akan lebih dari 30 hari dan tidak mungkin kurang dari 29 hari (lihat Majalis Syahri Ramadhan, hal. 15-17).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang dimaksud ‘jangan berpuasa kecuali setelah melihatnya’ bukan berarti semua orang harus melihat hilal, namun yang dimaksud adalah ada sebagian di antara mereka yang telah melihatnya, minimal 1 orang menurut jumhur dan minimal 2 orang menurut pendapat ulama yang lain. an-Nawawi menyatakan bahwa pendapat yang benar satu orang saksi sudah cukup untuk menetapkan masuknya bulan Ramadhan (Fath al-Bari, 4/144, lihat juga Al-Minhaj, 4/416).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga risalah singkat ini bermanfaat. Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.&lt;br /&gt;Sumber : abuthalhah.wordpress.com &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/761503410559906563-7038628920689745529?l=alistiba.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://alistiba.blogspot.com/feeds/7038628920689745529/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://alistiba.blogspot.com/2011/07/persiapan-ramadhan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/761503410559906563/posts/default/7038628920689745529'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/761503410559906563/posts/default/7038628920689745529'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alistiba.blogspot.com/2011/07/persiapan-ramadhan.html' title='Persiapan Ramadhan'/><author><name>Abu abdirrahman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05301770063388687354</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/-1rkmfDMbj9g/TtiXyO-Rh_I/AAAAAAAAAoM/iPGpqXo-kow/s220/Ittiba%2527.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-baYJwJMSxuY/TiRKnZDEKLI/AAAAAAAAAgM/q8z12uq1Qg4/s72-c/ramadhan.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-761503410559906563.post-5928676342311974053</id><published>2011-07-14T07:01:00.000-07:00</published><updated>2011-12-17T05:06:21.772-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Info'/><title type='text'>Zuckerberg, Facebook, dan Yahudi</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: justify;" trbidi="on"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-TqBwN-sscCg/Th72d0oHW2I/AAAAAAAAAf8/vJVmIluZh1s/s1600/fb.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="239" src="http://3.bp.blogspot.com/-TqBwN-sscCg/Th72d0oHW2I/AAAAAAAAAf8/vJVmIluZh1s/s320/fb.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Tak ada yang kebetulan dalam dunia dan kamus Yahudi. Ketika Barack Obama, presiden AS mengunjungi dunia Islam (setidaknya itulah angapan yang disematkan sekarang ini) pada awal Juni 2009 kemarin, pemilihan tiga tempat pidato Obama yang menyihir umat Islam secara umum yaitu Arab Saudi, Turki, dan Mesir bukannya tanpa alasan sama sekali.&lt;br /&gt;Arab Saudi adalah lambang Islam saat ini yang paling kuat, karena di negara ini setiap tahun, umat Islam bergerak ke arah sana untuk melaksanakan ibadah haji. Di Riyadh, masih belum boleh ada gereja, dan orang kafir setidaknya masih tidak bebas berkeliaran di Mekkah. Turki, kita tahu, di sinilah pertama kali khilafah Islam tumbang pada 1924, dan Mesir adalah jalan darimana Palestina ditaklukan.&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Begitu juga Facebook. Situs jejaring sosial yang kepopulerannya luar biasa ini bukan sesuatu yang lahir begitu saja, atau murni karena pertimbangan bisnis semata.&lt;br /&gt;Pendiri Facebook, Mark Zuckerberg, seorang Yahudi yang lahir di New York pada 14 Mei 1984. Tahun 1984 adalah tahun dimana George Orwell menulis dalam bukunya, sebagai deklarasi tahun peperangan untuk menguasai dunia. Nama lain dari New York adalah Little Israel (Israel Kecil), karena kota ini menjadi tempat tumbuh subur dan berkembang para Yahudi di AS. Zuckerberg mengoperasikan Facebook di seluruh dunia di sebuah kamar kecil di Harvard, sebuah institusi pendidikan yang dipegang oleh Yahudi. Dan nama Facebook berakar kata dengan Faceit, sebuah kata yang terkenal sebagai jargon Yahudi dalam menguasai dunia. Jadi, Facebook bukanlah sebuah kebetulan.&lt;br /&gt;Saat ini, jutaan orang hinggap di Facebook. Anda akan dianggap mahluk aneh ketika hidup di kota namun tidak mempunyai account Facebook. Facebook yang memungkinkan pertama kali orang mengakses jaringan maya selama 24 jam karena kemudahan GPRS di telefon genggam. Hingga, dengan mudah, semua orang bisa diketahui keberadaannya. Dengan mempunyai account Facebook, itu artinya, Anda membiarkan isi hati Anda bicara di depan publik.&lt;br /&gt;Orang Palestina melaporkan bahwa keberadaan mereka di Facebook beberapa kali dihapus oleh administrator. Ini karena kebanyakan orang Palestina selalu mengup-date status mereka dengan kondisi Palestina sesungguhnya. Hal itu juga berlaku untuk grup-grup forum atau diskusi Islam di Facebook yang dianggap ekstrem atau dapat menggerakkan orang banyak. &lt;br /&gt;sumbeer : eramuslim.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fenomena facebook begitu gempar di Indonesia ,sampai-sampai ada facebook dalam bahasa indonesia . Saya heran bukan main, satu per satu teman saya mendaftar di facebook. Tidak heran kalau di tahun 2008 facebook meraup keuntungan 300 juta dollar amerika karena lebih dari 140 juta user aktif di seluruh dunia dan 8,5 juta foto dimuat tiap harinya. Bagi yang belum tahu apa itu facebook bisa baca artikel ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Facebook memberikan banyak kemudahan bagi kita, dari mulai menjalin relasi sampai cari uang dari facebook, baca juga artikel ini dan&lt;br /&gt;artikel ini. Tapi keuntungan yang sebanyak itu digunakan untuk membiayai perang di Gaza . Benarkah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya saya juga tidak sengaja reseach tentang facebook. Dari awal saya sangat tidak setuju dengan adanya agresi Israel di Gaza. Untuk membantu warga Gaza , saya hanya bisa berdoa dan berniat untuk memboikot produk-produk Israel . Dari artikel yang saya publish beberapa waktu lalu tentang pemboikotan produk-produk Amerika, ada&lt;br /&gt;komentar yang mengatakan bahwa facebook dan wordpress adalah milik amerika dan menyarankan untuk tidak memakainya lagi. Dari sini awal  mulanya saya melakukan research tentang facebook dan wordpress.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fakta – fakta :&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote class="tr_bq"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;span style="background-color: #cccccc;"&gt;Facebook adalah milik Mark Zuckerberg, jika kita membaca artikel Mark Zuckerberg dalam bahasa indonesia tidak diketahui secara lengkap siapakah dia. Kalau kita membaca artikel tentang Mark Zuckerberg dalam bahasa inggris terdapat lengkap data diri si pembuat facebook ini.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: #cccccc;" /&gt;&lt;span class="fullpost" style="background-color: #cccccc;"&gt; Siapakah sebenarnya si pendiri sekaligus CEO facebook ini? Dia adalah mahasiswa harvard university dan aktif sebagai anggota Alpha Epsilon Pi. What is Alpha Epsilon Pi? baca artikel ini.&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: #cccccc;" /&gt;&lt;span class="fullpost" style="background-color: #cccccc;"&gt; Alpha Epsilon Pi adalah seperti perkumpulan mahasiswa yahudi diamerika utara, yang mempunyai misi sebagai berikut,  Alpha Epsilon Pi, the Jewish Fraternity of North America, was founded college and fraternity experience. We have maintained the integrity of our purpose by strengthening our ties to the Jewish community and serving as a link between high school and career. Alpha Epsilon Pi develops leadership for the North American Jewish community to provide opportunities for Jewish men seeking the best possible at a critical time in a young man’s life. Alpha Epsilon Pi’s role is to encourage the Jewish student to remain dedicated to Jewish ideals, values, and ethics and to prepare the student to be one of tomorrow’s leaders so that he may help himself, his family, hi community, and his people. Yang intinya adalah sebagai tempat pengkaderan dan tempatmencari pemimpin baru bagi kaumnya, yaitu Yahudi.&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: #cccccc;" /&gt;&lt;span class="fullpost" style="background-color: #cccccc;"&gt; Fakta ke-empat sampai artikel ini ditulis serangan Israel di Gaza telah menewaskan lebih dari 600 palestinians.&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: #cccccc;" /&gt;&lt;span class="fullpost" style="background-color: #cccccc;"&gt; Facebook mendapatkan keuntungan dari iklan yang dipasang, semakin banyak user dan pengunjung facebook senakin banyak pula penghasilnya.&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;sumber : http://pormadi.wordpress.com&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/761503410559906563-5928676342311974053?l=alistiba.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://alistiba.blogspot.com/feeds/5928676342311974053/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://alistiba.blogspot.com/2011/07/zuckerberg-facebook-dan-yahudi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/761503410559906563/posts/default/5928676342311974053'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/761503410559906563/posts/default/5928676342311974053'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alistiba.blogspot.com/2011/07/zuckerberg-facebook-dan-yahudi.html' title='Zuckerberg, Facebook, dan Yahudi'/><author><name>Abu abdirrahman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05301770063388687354</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/-1rkmfDMbj9g/TtiXyO-Rh_I/AAAAAAAAAoM/iPGpqXo-kow/s220/Ittiba%2527.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-TqBwN-sscCg/Th72d0oHW2I/AAAAAAAAAf8/vJVmIluZh1s/s72-c/fb.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-761503410559906563.post-5684078943385422839</id><published>2011-07-01T00:05:00.000-07:00</published><updated>2011-11-12T18:25:43.269-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='AqidaH'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tsaqafoh'/><title type='text'>Dunia Jin Dan Dunia Syaitan</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-yL558D5_l5M/Tg1x5YNQteI/AAAAAAAAAfw/fnUisGgxVOs/s1600/hakikat%2Bjin.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="116" src="http://1.bp.blogspot.com/-yL558D5_l5M/Tg1x5YNQteI/AAAAAAAAAfw/fnUisGgxVOs/s320/hakikat%2Bjin.jpg" width="77" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Dunia jin bukan dunia manusia, bukan pula dunia malaikat. Tapi di antara mereka ada unsur persamaannya, yaitu akal, pengetahuan, dan kemampuan memilih jalan kebaikan dan kejelekan. Mereka berbeda dengan manusia dalam beberapa hal. Yang paling penting adalah asal kejadian jin tidak seperti manusia.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Dunia jin disebut jin, karena dunia mereka tersembunyi dan tertutup dari pandangan mata manusia. Ibnu ‘Aqil berkata: “Jin disebut jin, karena mereka bersembunyi dan tertutup dari pandangan mata”. Seperti itu pula janin. Disebut “janin”, karena bayi itu masih di dalam rahim. Juga kata-kata “Mijann-perisai atau pelindung perajurit dari senjata musuh”.Kata-kata itu disebut “Mijann”,karena menutupi perajurit dan melindunginya dari senjata musuh di dalam pertempuran [begitu pula jannah karena ia akan terlihat oleh pandangan di alam dunia ini dan asal dari جن adalah sesuatu yg tertutup]. Di dalam Al-Qur’an ditegaskan: ”Sesungguhnya ia (syaitan) dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. (QS. Al-A’raaf: 27).&lt;br /&gt;Allah juga memberitahu kita bahwa jin tersebuat dari api, sebagaimana dalam firman-Nya: “Dan Kami telah menciptakan jin sebelumnya (sebelum menciptakan manusia) dari api yang sangat panas”.(QS. Al-Hijr: 27). Juga dalam firman-Nya yang lain: “dan Dia menciptakan jin dari nyala api”. (QS. Ar-Rahman: 15). Ibnu ‘Abbas,’Ikrimah, Mujahid, Al-Hasan dan banyak lagi lainnya berkata tentang penafsiran kata-kata “maarijin min Naar” maksudnya adalah “Ujung nyala api”.Di dalam riwayat lain disebutkan, makksudnya adalah: “Murninya dan paling bagusnya api”. An-Nawawi di dalam Syarah Muslim berkata: “Al-Maarij” artinya: Nyala api yang kehitam-hitaman. Di dalam hadits yang dikeluarkan oleh Muslim dari ‘Aisyah ra berkata, Rasulullah Saw bersabda:&lt;br /&gt;“Malaikat diciptakan dari nur. Jin diciptakan dari nyala api yang kehitam-hitaman. Dan Adam diciptakan dari sesuatu yang telah diterangkan kepadamu”. (HR. Muslim).&lt;br /&gt;Jelasnya, jin diciptakan sebelum manusia. Allah Swt berfirman: “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari tanah liat kering dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Dan Kami telah menciptakan jin sebelumnya (sebelum menciptakan manusia) dari api yang sangat panas”.(QS. Al-Hijr: 26-27). &lt;br /&gt;Teks ayat ini menjelaskan dengan tegas, bahwa jin diciptakan sebelum manusia. Menurut sebagian orang dahulu, mereka diciptakan dua ribu tahun sebelum manusia. Tapi keterangan ini tidak berdasarkan dalil, baik dari Al-Kitab atau As-Sunnah.&lt;br /&gt;Kita tidak mengetahui naluri, bentuk dan indra mereka, kecuali sebatas apa yang diberitahu Allah kepada kita. Kita tahu dari Allah bahwa mereka mempunyai hati, sebagaimana ditegaskan di dalam firman-Nya: “Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk Jahannam, kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami dan mereka mempunyai mata tidak dipergunakannya untuk melihat , dan mereka mempunyai telinga tidak dipergunakannya untuk mendengar . Mereka itu bagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai. (QS.Al-A’raaf: 179). Allah tabaraka wa ta’ala menjelaskan, bahwa jin mempunyai hati, mata dan telinga, sedangkan syaitan mempunyai suara. Allah berfirman: “Dan hasunglah siapa yang kamu sanggupi di antara mereka dengan ajakanmu”. (QS. Al-Israa’:64). Dengan tegas di dalam hadits-hadits, bahwa syaitan mempunyai mulut, jin makan, minum, tertawa dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama-nama jin di dalam bahasa Arab:&lt;br /&gt;Ibn ‘Abdil Barr berkata: Jin menurut ahli Ilmu Kalam dan ahli Ilmu Bahasa ada beberapa tingkat, yaitu:&lt;br /&gt;Kalau mereka menyebutkan jin murni, mereka berkata: Jinni&lt;br /&gt;Apabila yang dimaksudkan mereka jin yang tinggal bersama manusia, mereka sebut: ‘Aamir jamakya ‘Ummar.&lt;br /&gt;Apabila yang dimaksud jin yang sering datang kepada anak-anak, mereka katakan: Arwaah&lt;br /&gt;Jika jahat dan suka menghalang-halangi, mereka sebut: Syaitan.&lt;br /&gt;Kalau lebih jahat lagi, mereka sebut: Maarid.&lt;br /&gt;Kalau lebih jahat lagi dan keras, mereka sebut: ‘Ifriit. Jamaknya :’Afaariit.&lt;br /&gt;Rasulullah Saw memberi tahu kita, beliau bersabda: “Jin ada tiga golongan. 1. Bersayap berterbangan di udara. 2. Berupa ular dan anjing. Dan 3. Mereka bertempat tinggal dan berjalan, pergi berkelana. (HR. Ath-Thabrani, Al-Hakim dan Al-Bayhaqi dari Abu Tsa’labah Al-Khusyani ra) Hadits Shahih.&lt;br /&gt;Ada sebagian kecil orang yang menolak seutuhnya akan eksistensi jin.&lt;br /&gt;Sebagian orang musyrik berkata, kalau jin itu adalah bintang-bintang.&lt;br /&gt;Sekelompok ahli filsafat berkata kalau yang dimaksud jin adalah keinginan dan kemampuan untuk melakukan kejahatan di dalam jiwa seseorang. Sedangkan malaikat adalah keinginan dan kemampuan untuk melakukan kebaikan di dalamnya.&lt;br /&gt;Berbeda dengan sekelompok kaum intelek kontemporer yang berkata, bahwa jin adalah kuman dan microba yang ditemukan melalui ilmu-ilmu modern.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lain lagi dengan Dr Muhammad Al-Bahi. Dengan beraninya dia menyeberangi nash-nash Al-Qur’an. Dia berkata: “Jin itu malaikat. Jin dan malaikat sama, tak ada bedanya. Alasannya, bahwa malaikat tidak terlihat oleh manusia (juga). Tapi, dia menganggap kalau orang yang menyembunyikan iman, kekufuran, kebaikan dan kejelekannya adalah jin juga.&lt;br /&gt;Pada prinsipnya, bahwa mereka yang tidak mempercayai adanya jin itu karena mereka tidak mengetahui eksistensi jin itu sendiri. Ketidaktahuan mereka itu bukanlah merupakan suatu dalil kebenaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amatlah jelek akal seseorang yang menafikan sesuatu karena akal itu sendiri tidak tahu. Allah menegaskan di dalam Al-Qur’an: “Bahkan yang sebenarnya, mereka mendustakan apa yang mereka belum mengetahuinya dengan sempurna padahal belum datang kepada mereka penjelasannya. Demikianlah orang-orang yang sebelum mereka telah mendustakan . Maka perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang zhalim itu”.(QS.Yunus:39). Demikianlah pemikiran-pemikiran modern yang tidak dapat dibantah oleh siapapun. Tapi, bisakah seseorang yang hidup ratusan tahun lamanya menolak kemungkinan terealisasinya keterangan-keterangan ini, kalau yang memberitahukannya seorang yang benar dan jujur? Juga, adakah berita-berita hangat yang mencuat di seluruh penjuru dunia, hanya karena kita tidak mendengarnya, lalu menunjukkan bahwa berita itu tidak ada? Bahkan, kalau kita buat radio yang mampu menangkap berita yang tidak kita dengar sendiri, apakah dapat kita benarkan?&lt;br /&gt;Manusia tidak kuasa melebihi hakikat yang telah ditetapkan Allah secara pasti. Hanya saja, kita berusaha untuk menjelaskannya sesuai imajinasi manusiawi. Dunia yang indah di sekeliling kita penuh misteri dan kekuatan. Begitu pula makhluk-makhluk yang inti, sifat dan bekasnya tidak kita ketahui. Kita hidup dalam pelukan misteri dan kekuatan ini, tapi sedikit yang kita ketahui, banyak sekali yang tidak kita ketahui. Hanya, hari demi hari, baru dapat terungkap sebagian misteri, dan kita ketahui kekuatan ini. Maka tahulah kita sebagian makhluk. Terkadang melalui dzatnya, terkadang sifatnya bahkan hanya tinggal bekas yang ada di sekitar kita. Begitupun, kita baru melangkah di awal perjalanan untuk mengetahui dunia ini. Pada hal areal tempat kita hidup, juga ayah dan kakek-kakek, anak-anak dan anak-anak cucu kita baru sebagian kecil dari dunia yang begitu meraksasa ini dari pada kita yang hanya sebanding atom ketimbang dengan alam ini. Begitu besarnya planet bumi ini dan betapa berat pula timbangannya(ketimbang sosok kita sendiri).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbandingan pengetahuan kita kini sejak awal kita berangkat meneliti kehidupan dunia, tak ubahnya dengan pengetahuan umat lima abad sebelum ini saja yang telah mengetahui betapa besar keanehan dunia jin. Kalau sebelum lima abad silam ada orang menjelaskan sedikit tentang misteri atom yang kita bicarakan di masa kini, tentu mereka di masa itu orang tersebut dikatakan gila, atau mengira kalau hal itu jauh lebih aneh dari pada membicarakan masalah dunia jin. Begitupun, pengetahuan dan penemuan kita dalam hal ini hanya sebatas kemampuan manusiawi selaku makhluk yang diperuntukkan menjadi khalifah di bumi, dan sesuai tuntutan jabatan khalifah dan areal yang telah dipersiapkan Allah untuk diungkap kita, agar bumi menjadi mudah bagi kita dan kita mudah menjalankan tugas-tugas sebagai khalifah di bumi. Pengetahuan dan penemuan yang kita capai tidak akan lebih dari ketentuan asli dan jenjangnya walaupun telah memakan waktu panjang. Walaupun kekuatan dan misteri dunia ini telah dipermudah untuk kita, maka bekal yang dibutuhkan jabatan khalifah di bumi ini tidak akan melebihi arealnya, sesuai dengan hikmah dan takdir Allah Swt.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah kita terus melakukan penelitian demi penelitian, lalu akan banyak yang kita temukan dan kita ketahui. Dan akan terungkaplah keajaiban-keajaiban yang terkandung di dalam misteri dan kekuatan dunia ini termasuk pula misteri atom. Semuanya itu kalau dibandingkan dengan yang ada dan yang dapat dicapai manusia, tak ubahnya dengan sebuah permainan anak-anak saja. Tapi kita tetap berada di dalam batas-batas areal ketentuan pengetahuan manusiawi dan dalam batasan firman Allah Swt: “dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit". (QS. Al-Israa’: 85). Maksudnya, hanya sedikit ketimbang misteri-misteri dan hal-hal gaib yang ada, yang hanya diketahui Allah Swt Penciptanya. Sedikit karena ilmu makhluk terbatas, dari pada ilmu Allah yang tidak terbatas. Sebagaimana firman Allah: “Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut , ditambahkan kepadanya tujuh laut sesudahnya (sebagai tintanya), niscaya tidak akan habis-habisnya    kalimat Allah . Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. (QS. Luqman: 27). Maka dalam situasi dan kondisi seperti ini, kita tidak boleh memastikan eksistensi sesuatu dalam dunia gaib dan yang tidak kita ketahui. Tidak boleh pula menafikannya, membayangkan atau tidak membayangkannya. Sebagaimana pula misteri-misteri dunia dan kekuatannya, hanya karena alasan di luar areal kemampuan akal, atau eksperimen-eksperimen kongkret, sedang kita belum mengetahui misteri-misteri tubuh kita sendiri, perlengkapan-perlengkapan dan kemampuannya. Lebih-lebih untuk mengetahui misteri-msteri akal dan ruh kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila Allah mengungkapkan kepada kita misteri-misteri dan kekuatan ini sesuai dengan ukuran bagian dan jatah untuk kita melalui firman-Nya, bukan melalui teori eksperimen dan pengetahuan produk kemampuan kita yang diberikan Allah, maka dalam hal ini caranya, kita harus menerima anugerah ini dengan penuh syukur dan pasrah sesuai apa adanya, tidak boleh menambah dan tidak boleh mengurangi. Pendapat yang benar tentang jin adalah, jin alam ketiga setelah malaikat dan manusia. Mereka makhluk berakal, sadar dan tahu. Mereka bukan benda dan bukan pula kuman. Mereka mendapatkan beban syari’at, perintah dan larangan, sebagaimana difirmankan Allah Pencipta mereka Yang Maha Agung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walhamdu lil Laahi Robbil ‘aalamien.&lt;br /&gt;Sumber: Majalah Qiblati edisi 1 th I&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/761503410559906563-5684078943385422839?l=alistiba.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://alistiba.blogspot.com/feeds/5684078943385422839/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://alistiba.blogspot.com/2011/07/dunia-jin-dan-dunia-syaitan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/761503410559906563/posts/default/5684078943385422839'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/761503410559906563/posts/default/5684078943385422839'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alistiba.blogspot.com/2011/07/dunia-jin-dan-dunia-syaitan.html' title='Dunia Jin Dan Dunia Syaitan'/><author><name>Abu abdirrahman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05301770063388687354</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/-1rkmfDMbj9g/TtiXyO-Rh_I/AAAAAAAAAoM/iPGpqXo-kow/s220/Ittiba%2527.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-yL558D5_l5M/Tg1x5YNQteI/AAAAAAAAAfw/fnUisGgxVOs/s72-c/hakikat%2Bjin.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-761503410559906563.post-5246235650887289294</id><published>2011-06-30T02:34:00.000-07:00</published><updated>2011-11-12T18:25:43.290-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='AqidaH'/><title type='text'>Penyimpangan dalam Nama dan Sifat Allah di Masyarakat (2)</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-VJMAGLxDWy4/Tg1ya9uasTI/AAAAAAAAAf0/97LWB9uZq60/s1600/%25D8%25B0%25D9%2583%25D8%25B1+%25D8%25A7%25D9%2584%25D9%2584%25D9%2587.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="149" src="http://2.bp.blogspot.com/-VJMAGLxDWy4/Tg1ya9uasTI/AAAAAAAAAf0/97LWB9uZq60/s200/%25D8%25B0%25D9%2583%25D8%25B1+%25D8%25A7%25D9%2584%25D9%2584%25D9%2587.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Tulisan kali ini adalah lanjutan dari tulisan sebelumnya “Penyimpangan dalam Nama dan Sifat Allah”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh-contoh penyimpangan dalam nama dan sifat Allah yang tersebar di masyarakat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak contoh perbuatan ini yang terjadi di masyarakat, karena ketidakpahaman mereka terhadap urusan agama mereka, terutama masalah yang berhubungan dengan keyakinan dasar dan keimanan mereka, meskipun kebanyakan penyimpangan-penyimpangan tersebut tidak separah dan tidak sampai pada tingkat kekafiran seperti bentuk-bentuk penyimpangan di atas. Tapi meskipun demikian, tentu semua ini harus dijauhi karena sedikit banyak akan merusak keimanan dan mendangkalkan keyakinan seorang muslim terhadap Allah Ta’ala.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Beberapa contoh penyimpangan tersebut di antaranya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Keyakinan sebagian dari orang-orang yang tidak paham agama bahwa masing-masing dari al-Asma-ul husna (nama-nama Allah yang maha indah) mempunyai khasiat khusus untuk mengobati penyakit tertentu, misalnya penyakit mata bisa disembuhkan dengan membaca nama Allah yang khusus untuk menyembuhkan penyakit mata, nama ini dibaca berulang-ulang dalam jumlah tertentu. Demikian pula penyakit hidung, kepala, tulang dan anggota badan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbuatan ini jelas merusak keyakinan, bahkan mengandung pelecehan terhadap nama-nama Allah yang maha indah, di samping itu juga merupakan perbuatan bid’ah[1] yang sesat serta memalingkan manusia dari zikir dan ruqyah[2] yang bersumber dari al-Qur’an dan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang shahih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Menjadikan nama-nama Allah sebagai jimat dengan menulisnya pada kertas atau manik-manik kemudian digantung pada kendaraan atau rumah, dengan tujuan untuk penjagaan dan perlindungan dari pandangan mata jahat, kedengkian, gangguan setan dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbuatan ini jelas diharamkan dalam Islam, berdasarkan keumuman sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Barangsiapa yang menggantungkan jimat maka sungguh dia telah berbuat syirik”[3].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Menulis nama-nama Allah Ta’ala pada pigura yang indah dengan tulisan yang dihiasi (kaligrafi) untuk dijadikan sebagai hiasan dinding, sehingga orang yang melihatnya akan kagum dengan keindahan tulisan dan hiasannya, bukan pada keindahan nama-nama-Nya apalagi untuk meningkatkan keimanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbuatan ini jelas tidak disyariatkan, karena perbuatan ini tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat beliau radhiyallahu ‘anhum, juga karena nama-nama Allah Ta’ala terlalu agung dan mulia untuk dijadikan sebagai hiasan dinding dan rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Menjadikan al-Asma-ul husna (nama-nama Allah yang maha indah) sebagai zikir sehari-hari dengan membaca semua nama tersebut, ada yang membacanya di waktu pagi dan sore, atau setelah shalat lima waktu, bahkan terkadang ada yang membacanya berulang-ulang sampai ratusan kali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun makna “berdoa dengan nama-nama Allah” seperti yang diperintahkan oleh Allah Ta’ala dalam ayat di atas, juga sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sesungguhnya Allah memiliki sembilan puluh sembilan nama, yang barangsiapa menghafal (dan memahami kandungan)nya maka dia akan masuk surga”[4], artinya adalah menghafal nama-nama tersebut, memahami kandungan maknanya, dan mengamalkannya serta berdoa kepada Allah Ta’ala dengan menyebut nama-Nya yang sesuai dengan permintaan yang kita sampaikan kepada-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Termasuk kesalahan besar dalam masalah ini adalah memberi nama seorang dengan nama yang berarti penghambaan kepada selain Allah Ta’ala, seperi ‘abdun nabi (hambanya Nabi) atau ‘abdul ka’bah (hambanya ka’bah) dan yang semisalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbuatan ini diharamkan dalam Islam berdasarkan konsensus para ulama Ahlus sunnah wal jama’ah, karena manghambakan diri kepada selain Allah Ta’ala adalah perbuatan syirik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Juga termasuk kesalahan dalam masalah ini adalah membuang kertas, buku ataupun majalah yang bertulisakan nama-nama Allah disembarang tempat ataupun di tempat sampah yang bercampur dengan kotoran dan barang-barang buangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbuatan ini diharamkan dalam Islam, karena menunjukkan sikap tidak memuliakan dan mengagungkan nama-nama-Nya, padahal Rasululah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah tidak menjawab salam seorang sahabat ketika beliau sedang berada di WC[5], dalam rangka memuliakan nama Allah Ta’ala dengan tidak menyebutkannya sewaktu berada di tempat yang kotor dan najis[6].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara untuk menyelamatkan diri dari penyimpangan dan dosa besar ini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu-satunya cara untuk selamat dari penyimpangan besar ini adalah dengan berdoa memohon taufik kepada Allah Ta’ala agar kita terhindar dari semua bentuk penyimpangan dan kesesatan dalam memahami dan mengamalkan agama ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian dengan berusaha mengikuti metode yang benar dalam memahami dan mengamalkan agama Islam, yaitu metode para ulama salaf, Ahlus sunnah wal jama’ah, yang telah direkomendasikan kebenaran pemahaman dan pengamalam Islam mereka oleh Allah Ta’ala dalam firman-Nya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;{وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَداً ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ}&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari (kalangan) orang-orang muhajirin dan anshar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada-Nya, dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar” (QS. At Taubah:100).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itulah metode Ahlus sunnah wal jama’ah digambarkan oleh para ulama sebagai metode berislam yang a’lam wa ahkam wa aslam[7] (yang paling sesuai dengan ilmu yang bersumber dari al-Qur’an dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang paling bijaksana dan sesuai dengan hikmah yang agung, serta paling selamat dari kemungkinan menyimpang dan tersesat dari kebenaran)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah – semoga Allah merahmati beliau – menggambarkan agungnya metode ini secara ringkas dalam ucapan beliau, “Ini adalah ideologi golongan yang selamat dan selalu mendapatkan pertolongan dari Allah Ta’ala sampai hari kiamat, (yang mereka adalah) Ahlus Sunnah wal jama’ah (orang-orang yang mengikuti manhaj salaf), yaitu beriman kepada Allah, Malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, Rasul-rasul-Nya, (hari) kebangkitan setelah kematian, dan beriman kepada takdir Allah yang baik maupun yang buruk. Termasuk iman kepada Allah (yang diyakini Ahlus Sunnah wal jama’ah) adalah mengimani sifat-sifat Allah Ta’ala yang Dia tetapkan bagi diri-Nya dalam Al Qur-an dan yang ditetapkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (dalam hadits-hadits yang shahih), tanpa tahriif (menyelewengkan maknanya), tanpa ta’thiil (menolaknya), tanpa takyiif (membagaimanakan/menanyakan bentuknya), dan tanpa tamtsiil (meyerupakannya dengan sifat-sifat makhluk). Ahlus Sunnah wal jama’ah mengimani bahwa Allah Ta’ala,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;{لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ}&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat” (QS Asy Syuura:11).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka Ahlus Sunnah wal jama’ah tidak menolak sifat-sifat yang Allah tetapkan bagi diri-Nya, tidak menyelewengkan makna firman Allah dari arti yang sebenarnya, tidak menyimpang (dari kebenaran) dalam (menetapkan) nama-nama Allah (yang maha indah) dan dalam (memahami) ayat-ayat-Nya. Mereka tidak membagaimanakan/menanyakan bentuk sifat Allah dan tidak meyerupakan sifat-Nya dengan sifat makhluk. Karena Allah Ta’ala tiada yang serupa, setara dan sebanding dengan-Nya, Dia Ta’ala tidak boleh dianalogikan dengan makhluk-Nya, dan Dia-lah yang paling mengetahui tentang diri-Nya dan tentang makhluk-Nya, serta Dia-lah yang paling benar dan baik perkataan-Nya dibanding (semua) makhluk-Nya. Kemudian (setelah itu) para Rasul-Nya shallahu ‘alaihi wa sallam orang-orang yang benar (ucapannya) dan dibenarkan, berbeda dengan orang-orang yang berkata tentang Allah I tanpa pengetahuan. Oleh karena itulah Allah Ta’ala Berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;{سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ، وَسَلامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ}&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maha Suci Rabbmu Yang mempunyai kemuliaan dari apa yang mereka katakan, Dan keselamatan dilimpahkan kepada para Rasul, Dan segala puji bagi Allah Rabb seru sekalian alam. (QS Ash Shaaffaat: 180-182).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka (dalam ayat ini) Allah mansucikan diri-Nya dari apa yang disifatkan orang-orang yang menyelisihi (petunjuk) para Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian Allah menyampaikan salam (keselamatan) kepada para Rasul r karena selamat (suci)nya ucapan yang mereka sampaikan dari kekurangan dan celaan. Allah Ta’ala telah menghimpun antara an nafyu (meniadakan sifat-sifat buruk) dan al itsbat (menetapkan sifat-sifat yang maha baik dan sempurna) dalam semua nama dan sifat yang Dia tetapkan bagi diri-Nya, maka Ahlus Sunnah wal jama’ah sama sekali tidak menyimpang dari petunjuk yang dibawa oleh para Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena itulah jalan yang lurus; jalannya orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah Ta’ala, yaitu para Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, para shiddiqiin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang yang shaleh”[8].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga Allah senantiasa melimpahkan taufik-Nya kepada kita untuk selalu berpegang teguh dengan metode Ahlus sunnah wal jama’ah dalam berislam agar kita terhindar dari segala bentuk kesesatan dan penyimpangan dalam memahami dan mengamalkan agama ini. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi maha Mengabulkan permohonan hamba-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kota Kendari, 11 Jumadal Awal 1431 H&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis: Ustadz Abdullah bin Taslim al-Buthoni, MA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel www.muslim.or.id&lt;br /&gt;[1] Semua perbuatan yang diada-adakan dengan tujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah,  yang tidak dicontohkan oleh Rasulullah r.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[2] Bacaan yang dibacakan kepada orang yang sakit untuk menyembuhkan penyakitnya dengan izin Allah U.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[3] HR Ahmad (4/156) dan al-Hakim (no. 7513) , dinyatakan shahih oleh syaikh al-Albani dalam “Silsilatul ahaaditsish shahiihah” (no. 492).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[4] HSR al-Bukhari (no. 2585) dan Muslim (no. 2677).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[5] HR Abu Dawud (no. 16) dan at-Tirmidzi (no.90), dinyatakan hasan shahih oleh at-Tirmidzi dan al-Albani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[6] Keterangan syaikh ‘Abdurrazzak bin ‘Abdul Muhsin al-Badr dalam kitab “Fiqhul asma-il husna” (hal. 66-69) dengan ringkas dan penyesuaian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[7] Lihat keterangan imam Ibnu Taimiyah dalam kitab “Dar-u ta’aarudhil ‘aqli wan naqli” (3/95) dan imam Ibnul Qayyim dalam kitab “ash-Shawaa’iqul mursalah” (3/1134).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[8] Kitab “Al ‘Aqiidatul waasithiyyah” (hal. 6-8).&lt;br /&gt;sumber: muslim.or.id&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/761503410559906563-5246235650887289294?l=alistiba.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://alistiba.blogspot.com/feeds/5246235650887289294/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://alistiba.blogspot.com/2011/06/penyimpangan-dalam-nama-dan-sifat-allah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/761503410559906563/posts/default/5246235650887289294'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/761503410559906563/posts/default/5246235650887289294'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alistiba.blogspot.com/2011/06/penyimpangan-dalam-nama-dan-sifat-allah.html' title='Penyimpangan dalam Nama dan Sifat Allah di Masyarakat (2)'/><author><name>Abu abdirrahman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05301770063388687354</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/-1rkmfDMbj9g/TtiXyO-Rh_I/AAAAAAAAAoM/iPGpqXo-kow/s220/Ittiba%2527.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-VJMAGLxDWy4/Tg1ya9uasTI/AAAAAAAAAf0/97LWB9uZq60/s72-c/%25D8%25B0%25D9%2583%25D8%25B1+%25D8%25A7%25D9%2584%25D9%2584%25D9%2587.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-761503410559906563.post-3850107521050147006</id><published>2011-06-28T16:58:00.000-07:00</published><updated>2011-12-19T05:32:31.513-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Syiah'/><title type='text'>Sekilas Data Syiah Di Indonesia</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-Uwf3u1I2JxQ/TgxErLP28-I/AAAAAAAAAeY/YMbP5R3UAhg/s1600/hakikat+syiah.jpeg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="83" src="http://1.bp.blogspot.com/-Uwf3u1I2JxQ/TgxErLP28-I/AAAAAAAAAeY/YMbP5R3UAhg/s320/hakikat+syiah.jpeg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Perkembangan Syiah di Indonesia&lt;br /&gt;Perkembangan Iranian Corner di Indonesia khususnya Perguruan Tinggi cukup marak, Hidayatullah ketika April 2009 menurunkan berita tentang perguruan-perguruan tinggi tersebut yaitu: UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Universitas Muhammadiyah Jakarta, Universitas Muhammadiyah Malang, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta, dan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Bisa dibayangkan, Yogyakarta, satu kota saja ada 3 Iranian Corner; yang satu UIN, yang dua Muhammadiyah (?).&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Di Indonesia Iran memiliki lembaga pusat kebudayaan Republik Iran, ICC (Islamic Cultural Center), berdiri sejak 2003 di bilangan Pejaten, Jakarta Selatan. Dari ICC itulah didirikannya Iranian Corner di 12 tempat tersebut, bahkan ada orang-orang yang aktif mengajar di ICC itu. Menurut Majalah Hidayatullah yang mewawancarai pihak ICC, di antara orang-orang yang mengajar di ICC itu adalah kakak beradik: Umar Shihab ( salah seorang Ketua MUI -Majelis Ulama Indonesia Pusat-?) dan Prof Quraish Shihab (mantan rector IAIN Jakarta dan Menteri Agama zaman Soeharto selama 70 hari, pengarang tafsir Misbah), Dr Jalaluddin Rakhmat, Haidar Bagir, dan O. Hashem penulis produktif yang meninggal akhir Januari 2009. Begitu juga sejumlah keturunan alawiyin atau habaib, seperti Agus Abu Bakar al-Habsyi dan Hasan Daliel al-Idrus.&lt;br /&gt;Di samping itu banyak tokoh Islam Indonesia yang diundang untuk berkunjung ke Iran, kemudian ngomongnya sudah pelo, ada yang menganggap perbedaan Syi’ah dengan Sunni bukan perbedaan principal dan sebagainya. Tanpa malu-malu mereka telah menjilat Iran, padahal negeri itu adalah pembantai Ulama-ulama Sunni, bahkan penghancur masjid-masjid dan kitab-kitab rujukan Sunni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syi’ah di Iran yang memusnahkan Ahlis Sunnah itu di Indonesia berpenampilan seakan lemah lembut. Hingga banyak kaum ibu yang tertarik ikut ke pengajian-pengajian mereka. Bahkan Syi’ah merekrut para pemuda untuk diberi bea siswa untuk dibelajarkan ke Iran. Kini ada 300-an mahasiswa Indonesia yang dibelajarkan di Iran, disamping sudah ada 200-an yang pulang ke Indonesia dengan mengadakan pengajian ataupun mendirikan yayasan dan sebagainya. Di antaranya seperti ditulis MajalahHidayatullah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekembalinya ke tanah air, para lulusan Iran ini aktif menyebarkan faham Syi’ah dengan membuka majelis taklim, yayasan, sekolah, hingga pesantren. Di antaranya Ahmad Baraqbah yang mendirikan Pesantren al-Hadi di Pekalongan (sudah hangus dibakar massa), ada juga Husein al-Kaff yang mendirikan Yayasan Al-Jawwad di Bandung, dan masih puluhan yayasan Syi’ah lainnya yang tersebar di Sumatera, Jawa, Kalimantan, dan Sulawesi.&lt;br /&gt;Menurut pusat data lembaga penelitian Syi’ah di Yogyakarta, Rausyan Fikr, seperti disampaikan dalam makalah yang ditulis oleh Pengurus wilayah Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia (IJABI) Yogyakarta, AM Safwan, pada tahun 2001, terdapat 36 yayasan Syi’ah di Indonesia dengan 43 kelompok pengajian. Sebanyak 21 yayasan/ kelompok pengajian di tingkat provinsi, dan 33 yayasan/ kelompok pengajian di tingkat kabupaten. Kota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak hanya melalui pengajian, upaya penyebaran paham Syi’ah juga gencar dilakukan melalui penerbitan buku. Menurut hasil hitungan Rausyan Fikr, hingga Februari 2001 saja, tidak kurang 373 judul buku mengenai Syi’ah telah diterbitkan oleh 59 penerbit yang ada di Indonesia. (Majalah Hidayatullah, Rabi’ul Tsani 1430H/ April 2009, halaman 29).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka dari itu Syiah merupakan ancaman yang sama besarnya seperti ancaman zionis bagi umat islam, oleh karena itu, perlu bagi kita untuk mengetahui sejauh mana peran dan penyebaran mereka di tengah-tengah kita, agar kita selalu waspada dan berhati-hati terhadap bahaya dan makar yang kelak senantiasa mereka lakukan terhadap umat islam.Berikut data-data syiah di indonesia yang untuk saat ini bisa kami himpun&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;YAYASAN-YAYASAN MILIK SYI’AH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.    Yayasan Fatimah, Condet, Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.    Yayasan Al-Muntazhar, Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.    Yayasan Al-Aqilah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.    Yayasan Ar-Radhiyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.    Yayasan Mulla Shadra, Bogor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.    Yayasan An-Naqi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7.    Yayasan Al-Kurba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8.    YAPI,  Bangil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9.    Yayasan Al-Itrah, Jember.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10. Yayasan Rausyan Fikr, Jogya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11.  Yayasan BabIIm, Jember.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12.  Yayasan Muthahhari, Bandung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;13.  YPI Al-Jawad, Bandung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;14.  Yayasan Muhibbin, Probolinggo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;15.  Yayasan Al-Mahdi, Jakarta Utara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;16.  Yayasan Madina Ilmu, Bogor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;17.  Yayasan Insan Cita Prakarsa, Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;18.  Yayasan Asshodiq, Jakarta Timur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;19.  Yayasan Babul Ilmi, Pondok Gede.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;20. Yayasan Azzahra  Cawang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;21.  Yayasan Al-Kadzim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;22. Yayasan Al-Baro’ah, Tasikmalaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;23. Yayasan 10 Muharrom, Bandung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;24. Yayasan As Shodiq, Bandung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;25. Yayasan As Salam, Majalengka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;26. Yayasan Al Mukarromah, Bandung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;27. Yayayasan Al-Mujataba, Purwakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;28. Yayasan Saifik, Bandung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;29. Yayasan Al Ishlah, Cirebon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;30. Yayasan Al-Aqilah, Tangerang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;31.  Yayasan Dar Taqrib, Jepara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;32. Yayasan Al-Amin, Semarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;33. Yayasan Al-Khoirat, Jepara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;34. Yayasan Al-Wahdah, Solo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;35. Yayasan Al-Mawaddah, Kendal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;36. Yayasan Al-Mujtaba, Wonosobo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;37. Yayasan Safinatunnajah, Wonosobo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;38. Yayasan Al-Mahdi, Jember.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;39. Yayasan Al-Muhibbiin, Probolinggo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;40. Yayasan Attaqi, Pasuruan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;41.  Yayasan Azzhra, Malang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;42.  Yayasan Ja’far As-Shadiq, Bondowoso.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;43.  Yayasan Al-Yasin, Surabaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;44.  Yapisma, Malang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;45.  Yayasan Al-Hujjah, Jember.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;46.  Yayasan Al-Kautsar, Malang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;47.  Yayasan Al-Hasyim, Surabaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;48.  Yayasan Al-Qoim, Probolinggo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;49.  Yayasan Al-Kisa’, Denpasar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;50.  Yayasan Al-Islah, Makasar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;51.  Yayasan Paradigma, Makasar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;52.  Yayasan Fikratul Hikmah, Jl Makasar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;53.  Yayasan Sadra, Makasar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;54.  Yayasan Pinisi, Makassar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;55.  Yayasan LSII, Makasar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;56.  Yayasan Lentera, Makassar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;57.  Yayasan Nurtsaqolain, Sulawesi Selatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;58.  Yas Shibtain, Tanjung Pinang, Kepulauan Riau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;59.  Yayasan Al-Hakim, Lampung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;60.  Yayasan Pintu Ilmu, Palembang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;61.  Yayasan Al-Bayan, Palembang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;62.  Yayasan Ulul Albab, Aceh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;63.  Yayasan Amali, Medan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;64.  Yayasan Al-Muntadzar, Samarinda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;65.  Yayasan Arridho, Banjarmasin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;66.  Yayasan Al-Itrah, Bangil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a.    Berdiri    : 1996.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b.    Latar belakang: Keikhlasan tekad untuk mengenalkan Ahlulbait Nabi saw  kepada para pecintanya, serta fenomena   fakumnya kajian nonformal yang membahas ilmu-ilmu Ahlulbait di kota Bangil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c.    Pengurus&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketua: Ali Ridho Assegaf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wakil Ketua: M. Baqir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekertaris I: Zaid Alaydrus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekertaris II: Husein Al-Haddad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MAJLIS TAKLIM&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.    MT. Ar-Riyahi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.    Pengajian Ummu Abiha, Pondok Indah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.    Pengajian Al-Bathul, Cililitan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.    Pengajian Haurah, Sawangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.    Majlis Taklim Al-Idrus, Purwakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.    Majlis Ta’lim An-Nur, Tangerang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7.    MT Al Jawad, Tasikmalaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8.    Majlis Ta’lim Al-Alawi, Probolinggo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;IKATAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.    Ikatan Jamaah Ahlulbait Indonesia (IJABI).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.    Ikatan Pemuda Ahlulbait Indonesia (IPABI), Bogor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.    HPI – Himpunan Pelajar Indonesia-Iran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.    Shaf Muslimin Indonesia, Cawang .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.    MMPII, Condet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.    FAHMI (Forum Alumni HMI), Depok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7.    Himpunan Pelajar Indonesia di Republik Iran (ISLAT).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8.    Badan Kerja Sama Persatuan Pelajar Indonesia Se-Timur Tengah dan Sekitarnya (BKPPI).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. Komunitas Ahlul Bait Indonesia (TAUBAT).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LEMBAGA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.    Islamic Cultural Center (ICC), Pejaten.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.    Tazkia Sejati, Kuningan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.    Al Hadi, Pekalongan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.    Al-Iffah, Jember.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.    Lembaga Komunikasi Ahlul  Bait (LKAB), wadah alumni Qom, di motori oleh ICC Jakarta yang merupakan     perpanjangan tangan pemerintah Republik Islam Iran (RII). LKAB membawai Yayasan AI-Munthazar, Fathimah Aqilah, Ar-Radiyah, Mulla Sadra, An-Naqi, Al-Kubra, AI-Washilah, MT Ar-Riyahi dan gerakan dakwah Al-Husainy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SEKOLAH/PESANTREN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.    SMA PLUS MUTHAHARI di Bandung dan Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.    Pendidikan Islam Al-Jawad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.    Icas (Islamic College for Advanced  Studies) – Jakarta Cabang London.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.    Sekolah Lazuardi dari Pra TK sampai SMP,  Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.    Sekolah Tinggi Madina Ilmu, Depok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.    Madrasah Nurul Iman, Sorong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7.    Pesantren Al-Hadi Pekalongan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8.    Pesantren YAPI,  Bangil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENERBIT&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lentera.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pustaka Hidayah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MIZAN.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;YAPI JAKARTA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;YAPI Bangil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rosdakarya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Hadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;CV Firdaus .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pustaka Firdaus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Risalah Masa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Jawad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Islamic Center Al-Huda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muthahhari Press/Muthahhari Papaerbacks.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mahdi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ihsan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Baqir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Bayan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;As-Sajjad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Basrie Press.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pintu Ilmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ulsa Press.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shalahuddin Press.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Muntazhar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulla Shadra .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENULIS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alwi Husein, Lc.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muhammad Taqi Misbah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;O.Hashem.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalaluddin Rakhmat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Husein al-Habsyi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muhsin Labib.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Riza Sihbudi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Husein Al-Kaff.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sulaiman Marzuqi Ridwan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimitri Mahayana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;VCD CERAMAH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihat di http://www.duapusaka.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MAHASISWA QOM&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.    Muhammad Taqi Misbah Yazdi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.    Euis Daryati, Mahasiswi S2 Jurusan Tafsir Al-Quran, Sekolah Tinggi Bintul Huda Qom. Ketua Fathimiah HPI 2006-2007.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.    Nasir Dimyati, S2 Jurusan Ulumul Quran Universitas Imam Khomeini Qom. Saat ini aktif di BKPPI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.    Usman Al-Hadi, Mahasiswa S1 Jurusan Ulumul Quran Univ. Imam Khomeini Qom.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.    Abdurrahman Arfan, S1 Jurusan Ushul Fiqh di Jamiatul Ulum Qom, Republik Islam Iran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.    M. Turkan, S1 Jurusan Filsafat &amp;amp; Irfan di Universitas Imam Khomeini Qom, Republik Islam Iran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7.    Siti Rabiah Aidiah, Mahasiswi di Jamiah Bintul Huda, Qom, Jurusan Ulumul Qur’an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8.    Muchtar Luthfi, Ketua Umum Himpunan Pelajar Indonesia (HPI) di Republik Islam Iran periode 2006-2007,  Sekjen Badan Kerjasama Perhimpunan Pelajar Indonesia (BKPPI) se-Timur Tengah dan Sekitarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9.    Herry Supryono, Mahasiswa S1 Fiqh dan Maarif Islamiyah di Madrasah Hujjatiyah Qom, Republik Islam Iran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10.    Saleh Lapadi, asal Sorong, alumni YAPI Bangil, Sekarang menempuh S2 di Qom Iran, pimred islat (islam alternatif).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11.    Afifah Ahmad, Mahasiswi S1, Jurusan Maarif Islam di Jamiatul Bintul Huda, Qom Republik Islam Iran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12.    Emi Nur Hayati Ma’sum Said, Mahasiswi S2 Jurusan Tarbiyah Islamiyah &amp;amp; Akhlak di Universitas Jamiah Azzahra, Qom-Iran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;13.    A. Luqman Vichaksana S1 Jurusan Filsafat &amp;amp; Irfan di Universitas Imam Khomeini Qom, Republik Islam Iran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;14.    Ammar Fauzi Heryadi, mahasiswa Jurusan Filsafat &amp;amp; Irfan di Universitas Imam Khomeini Qom, Republik Islam Iran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ALUMNI QOM&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.    DR. Abdurrahman Bima, Alumni dari Hawzah Ilmiah Qom, judul desertasi “Pengaruh Filsafat dalam Konsep Politik Khomeni”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.    DR. Khalid Al-Walid, Alumnus dari Hawzah Ilmiah Qom, judul desertasi “Pandangan Eskatologi Mulla Shadra”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.    Muhsin Labib, Alumnus Hauzah Ilmiah Qom, Republik Islam Iran. Kandidat Doktor Filsafat Islam di IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.    Ali Ridho Al-Habsy cucu dari Habib Ali Kwitang, tahun 1974.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.    Umar Shahab, tahun 1976.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.    Syamsuri Ali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7.    Jalaludin Rahmat .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8.    Ahmad  Barakbah .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TENTANG QOM&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.    Tahun 1990 ada 50 orang belajar di Qom.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.    Tahun 1999 jumlah alumni sudah lebih dari 100 orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.    Tahun 2001, 50 mahasiswa indonesia melanjutkan studi di Qom.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.    Tahun 2004,  90 mahasiswa Indonesia melanjutkan studi di Qom.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MAJALAH/JURNAL&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.    Majalah Syi’ar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.    Jurnal Al-Huda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.    Jurnal Al-Hikmah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.    Majalah Al-Musthafa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.    Majalah Al-Hikmah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.    Majalah Al-Mawaddah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7.    Majalah Yaum Al-Quds.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8.    Buletin Al-Tanwir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9.    Buletin Al-Jawwad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10.    Buletin Al-Ghadir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11.    Buletin BabIIm.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;RADIO/TV&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.    IRIB (Radio Iran siaran bahasa Indonesia).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.    Hadi TV, tv satelite (haditv.com).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.    TV Al-Manar, Libanon, dpt diakses sejak April 2008, bekerja sama dengan INDOSAT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.    Myshiatv.com.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.    Shiatv.net.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;WEBSITE&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.    http://abatasya.net&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.    www.jalal-center.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.    www.fatimah.org&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.    www.icc-jakarta.org&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.    www. babilm.4t.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.    http://www.ahl-ul-bait.org&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7.    http://www.islammuhammadi.com/id/&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8.    http://ahmadsamantho.wordpress.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9.    www.islamalternatif.net&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10.    ICAS (icas-indonesia.org)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11.    Islamfeminis.wordpress.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12.    http://www.wisdoms4all.com/ind/&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;13.    Yapibangil.org&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;14.    Alitrah.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BLOGROLL&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Ahmad Samontho http://ahmadsamantho.wordpress.com/&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Anak bangsa http://umfat.wordpress.com/&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. blog Ahlul Ba
