Sabtu, 22 April 2017

Islam, Iman, dan Ihsan



Hadits kedua .

عن عمر رضي الله عنه أيضاً ، قال : بينما نحن جلوس عند رسول الله صلى الله عليه وسلم ذات يوم إذ طلع علينا رجل شديد بياض الثياب شديد سواد الشعر ، لا يرى عليه أثر السفر ، ولا يعرفه منا أحد ، حتى جلس إلى النبي صلى الله عليه وسلم فأسند ركبتيه إلى ركبتيه ووضع كفيه على فخذيه ، وقال : يا محمد أخبرني عن الإسلام ؟ فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم { أن تشهد أن لا إله إلا الله وأن محمداً رسول الله ، وتقيم الصلاة ، وتؤتي الزكاة ، وتصوم رمضان ، وتحج البيت إن استطعت إليه سبيلاً } قال : صدقت ، فعجبنا له ، يسأله ويصدقه ، قال فأخبرني عن الإيمان ؟ قال : { أن تؤمن بالله وملائكته وكتبه ورسله واليوم الآخر وتؤمن بالقدر خيره وشره } قال : صدقت . قال : فأخبرني عن الإحسان ؟ قال : { أن تعبد الله كأنك تراه ، فإن لم تكن تراه فإنه يراك } قال : صدقت قال فأخبرني عن الساعة ؟ قال : { ما المسؤول عنها بأعلم من السائل } قال : فأخبرني عن أماراتها ؟ قال : { أن تلد الأمة ربتها ، وأن ترى الحفاة العراة العالة رعاء الشاء يتطاولون في البنيان } . ثم انطلق ، فلبثت ملياً ، ثم قال : يا عمر أتدري من السائل : قلت الله ورسوله أعلم . قال : { إنه جبريل أتاكم يعلمكم دينكم } .

  1. Tingginya kedudukan Hadits ini karena Rasulullah Sallallahu alaihi wa sallam menyebutkan tingkatan Addin, dan di akhir hadits beliau menegaskan hal itu: “Jibril yang datang kepada kalian tuk mengajarkan Addin kalian”.
  2. Diantara metode pebelajaran adalah metode tanya jawab.
  3. Adab menuntut ilmu mesti didahulukan dari proses menuntut ilmu itu sendiri. Demikianlah Jibril yang memperbaiki adabnya sebelum ia bertanya kepada Rasulullah  Sallallahu alaihi wa sallam.
  4. Hadits ini menunjukkan pentingnya adab seorang murid di hadapan gurunya. Dan tentu itu sangat berperan dalam mengambil faidah dari gurunya.
  5. Pakaian putih dan memperhatikan kerapian rambut bukanlah bagian dari kesombongan sedikit pun.
  6. Bertanya adalah kunci ilmu, sehingga orang yang malu bertanya atau sombong maka ia tidak akan mendapatkan Ilmu.
  7. Hadits ini juga menunjukkan pentingnya menghadiri Majelis ilmu dan bersemangat dengannya karena banyak faidah yang bisa diambil darinya.
  8. Memperhatikan pelajaran dalam Majelis Ilmu akan membantu kita dalam menghafalkan ilmu dan menyebarkannya. Hal ini bisa kita liat bagaimana Umar bin Khattab Radhiallhi ‘anhu mampu menghafalkan pertanyaan dan jawaban dalam hadits ini.
  9. Jika ada pertanyaan yang sangat umum, maka seharusnya dijawab dengan kalimat singkat, jawaban yang paling penting diketahui, seperti pertanyaan tentang Islam dan cabang-cabangnya adalah pertanyaan yang menyangkut seluruh amalan. Namun, lihatlah bagaimana Rasulullah Sallallahu alaihi wa sallam menjawab dengan jawaban yang singkat yang paling penting dalam islam yaitu rukun-rukunnya.
  10. Jika kalimat Islam dan Iman berkumpul dalam satu redaksi kalimat, maka islam dimaknai dengan amalan zahir, dan Iman dengan amalan batin, sebagaimana disebutkan dalam hadist ini.
  11. Din itu tidaklah satu tingkatan, akan tetapi bertingkat-tingkat. Islam, Iman ,kemudian Ihsan.
  12. Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam menanamkan jiwa saling berlomba, dan  memotivasi untuk senantiasa memiliki semangat yang tinggi, obsesi yang besar, ketika beliau menyebutkan bahwa derajat tertinggi dalam agama ini yaitu Ihsan, ia memiliki dua tingkatan. Yang satu lebih sempurna dari yang lainnya.
  13. Dari hadits ini bisa kita memahami bahwa jika Iman betul-betul tertanam dalam hati, maka seluruh anggota tubuh kita akan merespon dengan amalan. Oleh karena itu para ulama Muhaqqiq mengatakan, “setiap mukmin adalah muslim”. Dan mukmin yang dimaksud adalah setiap orang yang betul-betul merealisasasikan makna Iman dalam dirinya, sehingga anggota tubuhnya mudah merespon dengan amalan zahir.
  14. Merasa diawasi oleh Allah ketika beribadah adalah tingkatan tertinggi sifat ihsan, dimana seorang manusia menyembah Tuhannya seakan-akan melihat-Nya, dan ini akan menyebabkan kekhusyu’an, kejujuran serta keikhlasan yang sangat agung.
  15. Jika seseorang belum bisa mencapai derajat tersebut, maka cukup ia merasakan penglihatan Allah kepadanya, melihat dan mengawasi apa yang ia lakukan.
  16. Luasnya Rahmat Allah, hal ini bisa lihat bentuk variasi wahyu Allah kepada Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam yang dengannya manusia mendapat petunjuk. Terkadang wahyu langsung kepada Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam  tanpa perantara, terkadang melalui malaikat Jibril, yang itu pun dalam beberapa macam keadaan, terkadang dalam wujud seorang arab badui, terkadang dalam bentuk seorang Shahabat Dihya al-Kalbi Radhilallahu anhu, dan seterusnya.
  17. Dalil-dalil tentang wajibnya Shalat lima waktu selalu datang dengan lafadz “Tegakkanlah”, bukan dengan lafadz yang lain seperti “tunaikanlah”, dan ini adalah penekanan bahwa shalat ditunaikan tanpa ada kebengkokan, kepincangan. Ia ditegakkan dengan seluruh rukun-rukunnya, wajib-wajibnya, dan sunnah-sunnahnya, sehingga shalat itu akan memberikan hasilnya.
  18. Perkataan sesorang “saya tidak tahu”, tidakah mengurangi kedudukannya.
  19. Jika sesorang ditanya dengan pertanyaan yang tidak ia ketahui, maka mesti tegaskan bahwa memang ia tidak tahu, meskipun di majlis yang banyak dihadiri manusia, sebagaimana dalam hadits ini terjadi kepada Umar bin Khattab Radhiallahu ‘anhu yang ditanya di majlis yang banyak dihadiri oleh shahabat senior lainnya, tidak menghalangi nya untuk mengatakan “Saya tidak tahu”.
  20. Ahlusunnah wal jama’ah mencintai Jibril alahissalam jauh dibandingkan dengan para Malaikat lainya, dengan beberapa sebab:
  • Malaikat Jibril lah mediator wahyu kepada Rasulullah (asy-Syu’ara’: 193)
  • Pujian Allah kepadanya, إِنَّهُ لَقَوْلُ رَسُولٍ كَرِيمٍ . ذِي قُوَّةٍ عِندَ ذِي الْعَرْشِ مَكِينٍ . مُطَاعٍ ثَمَّ أَمِين
  • Kehadirannya dalam peperangan melawan kaum kuffar
  • Semangat beliau alaihissalam mengajarkan kaum muslimin urusan agama mereka, ( أتاكم جبريل يعلمكم أمور دينكم)
21.  Nabi Muhammad Sallallahu alaihi wasalam dengan kedudukannya yang sangat mulia, namun Allah tidak membukakan baginya tabir ghaib yang menjadi kekhususan Allah Subhana wa ta’ala seperti ilmu tentang hari kiamat مالمسؤل عنها بأعلم من السائل. Maka barangsiapa yang menganggap bahwa Nabi mengetahui seluruh persoalan ghaib, bahkan menganggap bahwa beliau bisa melakukan hal-hal yang hanya bisa dilakukan oleh Allah, maka ia telah berdusta.
Sumber: تعليقات تربوية على أحاديث الأربعين النووية


0 komentar:

Posting Komentar